
Bab 76.Petuah Kakung
.
.
.
...ššš...
"Seharusnya dunia ini begitu indah, seharusnya hidupku ini penuh bermakna, seharusnya dunia ini punya kita berdua"
( Diambil dari lirik lagu Naff ~ Seharusnya)
Wisang yang sudah melihat Abimanyu berjalan ke arahnya segera menyuruh seorang pelayan mendekat.
"Ambil ini, katakan saja jika pintunya memang rusak dan sering bermasalah!" Wisang memberikan upeti kepada seroang pelayan pria disana.
"Ingat jika sampai hal ini bocor, aku akan mencarimu meski kau bersembunyi di lobang semut!" mendengar ancaman Wisang, pria itu bergidik.
Wisang pergi meninggalkan pelayan itu, nasib baik tidak ada pengunjung lain yang bertandang ke toilet itu.
"Hey siapa saja tolong!!" Arya terdengar berteriak dari dalam meminta bantuan.
Pria berseragam mustard itu segera membukakan pintu toilet," anda tidak apa-apa tuan?, pelayan itu nampak memulai aktingnya.
"Terimakasih?" ucap Arya menepuk pundak pelayan itu.
"Saya akan lapor ke manager saya, pintu ini memang sering macet!" tukas pelayan itu, luar biasa . Wisang bahkan dengan cepat bisa mengintimidasi pelayan itu.
Tanpa curiga Arya kembali menuju meja dimana ia meninggalkan Dhira disana, ia agak terkejut lantaran meja itu kosong. Kemana Dhira.
Namun sepersekian detik berikutnya, ia melihat Dhira yang berjalan dari arah luar. " Mas kita pulang saja ya!" mata dan hidung Dhira merah, khas orang menangis. Arya yang menyadari itu tanpa banyak bertanya langsung mengiyakan permintaan Dhira. Ia menyuruh seorang pelayan wanita untuk membungkus pesanan yang sudah terlanjur tadi .
.
.
Abimanyu
Bagian terdalamnya lebur tak bersisa, hati yang awalnya penuh dengan taman bunga kini seolah penuh dengan duri tajam. " jadi gimana?" ucap Wisang.
"Gue gak tahu Wis, Dhira bilang pria itu adalah tunangannya. Bagaimana bisa dia bertunangan dengan pria lain, sedangkan aku dirinya beberapa waktu yang lalu berkeringat bersama!" Abimanyu nampak menahan emosinya. Ia kembali teringat dengan rasa Dhira yang melenakan, delapan hangat yang mampu membuat Abimanyu tenang.
"Kau jangan terpancing dulu, aku akan mencari tahu hal ini. Tapi kalau dilihat, dia tampan juga dan sepertinya lebih muda darimu. "Wisang terkekeh.
"Matamu wis!!!" Abimanyu kesal dengan sahabatnya itu, bisa-bisanya mengajak berkelakar di saat yang tidak tepat.
"Jangan berkata apapun disaat engkau emosi, dan jangan pula berjanji apapun saat hatimu diliputi kebahagiaan. Karena keduanya sama-sama mendatangkan penyesalan!"
Mendengar ucapan sahabatnya itu Abimanyu terdiam, itu memang benar adanya. Karena saat orang tengah emosi ia cenderung tidak memikirkan konsekuensi dari ucapannya, dan saat tensi amarahnya sudah melandai, timbullah penyesalan.
Abimanyu menjadi menyesal karena berkata setelah itu terserah kamu!.
...ššš...
Dinginnya malam beranjak menjadi pagi yang hangat, namun tidak dengan hati dua anak manusia yang dirundung Kegalauan. Dhira dan Abimanyu.
Bu Hana dan Bu Kartika nampak senang semalam anak-anak mereka pergi berdua. Arya memiliki pribadi yang baik, ia juga tak mau menanyakan penyebab Dhira menangis tadi malam. Lebih memilih untuk bertanya di lain waktu.
Dhira hari Minggu ini berdalih akan keluar karena ada urusan sebentar. Ia berniat akan menemui Abimanyu seorang diri. Ia ingin menjelaskan dengan keadaan normal.
__ADS_1
Pagi itu Dhira membawakan beberapa makanan untuk Abimanyu, ia merasa mungkin ini adalah terakhir kalinya dia akan bertemu. Dengan mengenakan jeans juga kemeja yang ia gulung sampai siku, Dhira berangkat menuju apartemen Abimanyu menggunakan taksi.
Ini gila, tapi Dhira berfikir mereka sudah terlampau dewasa jika hanya untuk bertengkar kecil. Ia harus segera menyelesaikan semua ini dengan waras.
Dengan dada berdebar ,Dhira mengetuk pintu apartemen itu. Sudah lima kali ketukan tapi tak ada tanda-tanda pintu akan dibuka. Sejenak Dhira merutuki kebodohannya, bisa saja Abimanyu tak disini. Bodoh mengapa dia tersugesti dengan ucapan Abimanyu semalam.
Detik itu juga Dhira membalikkan badannya, namun tiba-tiba pintu unit itu terbuka." Maaf aku tertidur!" suara parau Abimanyu turut terdengar, ia menoleh memandang Abimanyu yang terlihat kacau.
Dengan menelan salivanya, Dhira memantapkan hati untuk masuk dan berniat akan berbicara baik-baik. Dhira menyapukan pandangannya ada dua botol minuman beralkohol dengan merk ternama yang sudah kosong disana, mungkinkah Abimanyu mabuk?
Dhira langsung menuju pantry dan meletakkan makanan yang dia bawa ke meja makan dari kaca itu. Abimanyu tak mengenakan atasan, hanya celana panjang yang Dhira pastikan jika itu adalah celananya semalam. Pria itu benar-benar baru saja terbangun dari tidurnya pikir Dhira.
Sejenak Dhira tertegun melihat tubuh yang pernah membuatnya menggelinjang berkali-kali itu. Ia merasa gelenyar aneh selalu timbul tiap bersama Abimanyu.
"Aku mandi dulu sebentar!" ucap Abimanyu.
Dhira mengangguk, kecanggungan mendominasi disana. Dhira bergegas menuju meja di ruang tamu tadi, ia membereskan sisa gelas juga botol bekas pakai. Ia juga mengelap meja dan menyapu bersih sisa puntung rokok yang berhamburan ke lantai marmer ruangan itu.
Usai membereskan ruangan depan, Dhira menata beberapa makanan ke atas piring, ia kemudian mencuri beberapa piring kotor yang entah digunakan untuk apa oleh Abimanyu.
Sepasang tangan melingkar di perutnya saat ia masih sibuk mencuci piring, jelas itu adalah Abimanyu. Rupanya pria itu sudah selesai mandi, aroma parfum yang biasa Dhira hirup kini bisa ia rasakan kembali. Ia membiarkan Abimanyu melakukan apapun semaunya barang sejenak, sebelum mereka benar-benar akan menjadi asing satu sama lain.
Abimanyu menciumi ceruk leher Dhira dari belakang, Dhira menahan air matanya yang hendak meluncur. Hatinya perih, ia tahu bila dirinya sudah mencintai pria itu, sentuhannya, kasih sayangnya, perbuatan nekatnya semua Dhira sukai, Dhira juga butuh itu semua. Namun apa yang bisa ia lakukan saat ini selain pasrah?
Usai meniriskan piring ke rak, ia menyambar tissue di sebelah meja kitchen set untuk mengeringkan tangannya, posisi Abimanyu masih memeluk Dhira posesif dari belakang.
"Mas sarapan dulu!" ucap Dhira mencoba biasa saja.
"Dhir!"
Abimanyu membalikkan tubuh Dhira, menekan tengkuk wanita di depannya dengan tangan kiri sementara tangan kanannya meraba punggung hingga bokong Dhira. Kali ini lebih lembut tak seperti semalam, Abimanyu menggigit bibir Dhira pelan, sesapan demi sesapan terus gencar di lakukan Abimanyu.
Dhira menerima ciuman itu dengan terbuka, ia ingin membiarkan Abimanyu melakukan apa yang dia mau sebelum mereka benar-benar menjadi orang lain.
Dengan terengah-engah mereka saling melepaskan tautan, ciuman kerinduan, ciuman yang selama ini ditahan, ciuman yang selalu membuat Dhira melayang.
"Mas sarapan dulu!" ucap Dhira menatap sendu wajah Abimanyu.
.
.
Di kediaman Pak Joko
"Kung ayo sarapan!" Raka terlihat antusias tiap Utinya sudah mempersiapkan lauk di atas meja makan, ada rawon yang paling di gemari bocah itu.
Tiwi juga terlihat begitu menyayangi Raka, Dea juga semakin manja saja tiap masnya datang kesana. " Mas, mas disini saja sama Dea. Mas sekolah sini aja, biar bobo bareng Dea terus!" bocah itu masih gencar mengeluarkan jurus rayuan mautnya.
Semua yang disana tertawa," kita kapan - kapan gantian nginep di rumah Pakde ya, biar Dea tahu rumah Pakde!" ucap Tiwi mengelus rambut anaknya.
"Iya, nanti mas ajak jalan-jalan ke mall yang banyak mainannya?" tukas Raka.
"Kapan Bun, eemmm aku mau sekarang!" Dea mengguncang tangan bundanya.
Indra sekarang tengah merintis usaha yang juga di geluti papanya, rupanya setelah Tuhan mengganjar Indra, kini sedikit demi sedikit ia melihat kebaikan Tuhan yang lain.
"Kalau tempatnya cocok, kamu langsung aja ndra. Berapa duit kamu sikat aja, kalau bisa yang strategis tempatnya!" pak Joko tengah mengarahkan Indra untuk segera membuka lokasi usahanya.
Usai sarapan pagi, Raka yang duduk di kursi belakang rumah Utinya memandang hamparan tanaman hias yang banyak dan rimbun, hijau menyegarkan matanya.
"Mama sehat sehat kan?" Pak Joko mendekati cucunya itu. Sementara Indra tengah menemani bundanya untuk belanja, Tiwi dan Dea tengah menghadiri acara ulang tahun teman sekelasnya di gang sebelah.
__ADS_1
"Sehat Kung!" ucap Raka senyum. Mereka duduk di kursi berdampingan.
"Kakung bangga sama kamu, bisa bijaksana dalam menyikapi keadaan Papa sama Mama."
Raka masih terdiam, siap mendengar ucapan Kakungnya " Mama pernah ada teman pria gak setelah pisah sama papa?" pak Joko ingin mengetahui apakah Dhira bisa move on dari putranya atau belum, mengingat besarnya rasa cinta Dhira dulu kepada Indra.
" Ada tapi Raka sekarang gak suka!"
Ia Joko mengernyitkan dahinya" Sekarang gak suka, berarti dulu suka dong?"
Rak mengangguk," namanya om Abimanyu!"
Abimanyu, batin pak Joko. "Dia juga yang buat papa gak kerja kung, dia pernah berkelahi juga sama papa, aku gak nyalahin waktu itu. Papa yang salah!" Raka masih mengingat kembali kepingin kejadian beberapa bulan yang lalu.
"Dia bis di tempat kerja papa!"
Jadi benar kalau dia Abimanyu Aryasatya batin pak Joko.
"Dia sering bantuin kami kung!"
"Kalau sering bantu kenapa gak suka, bagus dong berarti ada yang suka sama mama!"
Raka terdiam, ia ingat saat mamanya nangis di kata-katai oleh seorang ibu-ibu , ia juga teringat dengan istri 'Abimanyu sat itu yang mengatakan mamanya adalah lon*te.
Raka akhirnya menceritakan hal itu kepada Kakungnya, cerita versi dirinya lebih tepatnya. yang tidak rela bila mamanya harus mendapatkan penghinaan. Juga ia yang meminta mamanya untuk tak dekat dengan Abimanyu.
Pak Joko menarik nafas, cucunya ini memang anak yang baik pikirannya namun masih belum bisa melihat segala sesuatu dari dua sisi.
"Nak, dengar! mama kamu adalah wanita yang baik, dan kalau Kakung dengar dari cerita kamu mama kamu gak salah. Pria bernama Abimanyu itu wajar jika mencari orang lain, istrinya saja sudah pergi selama itu. Kamu belum paham memang dengan hal rumit macam ini. Kalau kamu dewasa nanti kamu bakal tahu"
"Tapi satu yang Kakung minta, jika mama ingin melanjutkan hidupnya lagi Raka harus support, kalau Raka sudah besar nanti Raka gak akan selalu bisa jaga mama, Raka pasti juga akan bersama dengan pilihannya Raka nanti" meskipun terlalu dini untuk membahas hal ini, namun melihat kedewasaan Raka yang belum waktu itu, pak Joko akhirnya ingin berbicara dari hati ke hati.
"Kalau Raka sayang sama Mama, Raka juga pasti memikirkan kebahagiaan mama?"
"Dengar nak, untuk kami para orang tua memiliki pasangan itu tidak hanya membuat hidup kita menjadi seimbang. Tapi juga memiliki teman di hari tua itu membuat hidup kita menjadi tak sepi"
Sejenak Raka teringat dengan Uti dari pihak mama. Bu Kartika. Ia teringat bila Utinya juga sering sendiri, karena om Bastian sibuk bekerja dan kadang sibuk keluar bersama teman- temannya. Juga ia dan mamanya yang harus hidup berpisah sekarang.
"Tapi apa mama mikir kebahagiaan Raka?" Raka menyela.
"Kalau mama gak mikir kebahagiaan Raka, untuk apa mama kamu bekerja tiada henti, HM? mama kamu berjuang agar kamu terus bisa sekolah di TUNAS BANGSA, apa mama pernah marah ke Raka?"
"Dengan menuruti ucapan Raka itu saja adalah bukti nyata jika mama kamu sayang sekali sama Raka, tapi Raka? pak Joko sengaja menggantung ucapannya.
Raka menggelengkan kepalanya, sejurus kemudian ia menghembuskan nafasnya ia menyadari bila mamanya selalu berlaku lembut. Justru dia lah yang kadang merajuk, berniat untuk menjaga mamanya namun sedikit saja marah, ia merasa menjadi egois dengan melarang mamanya untuk tak dekat dengan Abimanyu.
"Laki-laki sejati tidak akan menyakiti hati wanita yang dia sayangi, jangan seperti papa mu!
.
.
.
( Wajah Abimanyu sewaktu galau)
.
.
__ADS_1
.