
Bab 166. Ucapan Menyakitkan
.
.
.
...ššš...
" Di dalam tawa tampaknya hati dapat merana. Dan kesukaan, bisa saja berakhir dengan kedukaan"
.
.
Pak Ali Ruchi
Saat sudah berhasil menginjakkan kaki di lantai dasar rumah sakit swasta terbesar di kota itu, beliau tak bisa menahan laju istrinya yang nampak tak sabar ingin segera bertanya ke meja resepsionis.
" Mbak pasien atas nama Rangga Pambudi ada di mana ya. Emmm pasien yang baru kecelakaan!" tutur Bu Nisa yang benar-benar gugup cenderung tergesa-gesa.
Wanita dengan seragam putih dan memiliki name tag 'Megawati' itu, seketika mengalihkan pandangannya ke arah layar monitornya di depannya. Mengecek dan mencari nama pasien yang disebutkan tadi.
" Korban kecelakaan suami istri ya Bu?" ucap Megawati memverifikasi.
" Ya mbak, betul!" sahutnya Pak Ali cepat. Ayah Rangga itu mendadak turut tercekat.
" Beliau ada di kamar VIP di lantai sepuluh, ruang Melati 11 ya pak. Anda bisa menggunakan lift di sebelah sana!"
Megawati menerangkan dengan nada ramah dan santun. Sepertinya pelajaran service excellent benar-benar diterapkan wanita berhijab itu.
Setelah mengucapkan terimakasih, ia menggeret istrinya menuju lift yang berada beberapa meter dari tempatnya berdiri.
Ia menekan tombol ke angka yang diucapkan oleh Megawati tadi. " Mama tolong tahan diri Mama!" ia memperingati istrinya. Sementara yang diperingati sibuk memijat keningnya yang terasa pusing.
Pak Ali masih setia menggeret koper hardcase nya, menuju koridor selanjutnya, saat lift sudah terbuka. Pria berumur itu kini mengamati setiap nama yang tertera di depan ruang-ruang yang berbaris rapi dan indah itu.
Satu demi satu tulisan Melati 01 hingga angka terakhir yang berada di deretan lainnya, mereka pandangi. Dan saat sebuah tulisan yang ia cari kini bisa jelas mereka baca , Bu Nisa langsung menyerobot masuk tanpa mengetuk pintu.
Membuatnya menjadi takut bila istrinya terlalu berlebihan. Apalagi, istrinya itu selalu over protective kepada Rangga sedari dulu.
"Mana anak saya????!!!!" ucap Istrinya dengan memekik.
Dan ketakutannya kini terbukti sudah.
.
.
Bu Nisa terlihat mencampakkan koper dan tas yang ia bawa tadi di depan pintu masuk kamar Shinta dan Rangga.
__ADS_1
Hati Bu Nisa benar-benar tak bisa lagi di definisikan. Wanita itu takut, cemas, panik, ingin marah sekaligus berfikiran negatif kepada Shinta.
Namun, saat ia melihat Shinta yang turut di pasangi selang infus, dan memar juga turut terpahat di wajah cantik menantunya itu, beliau sedikit menurunkan tensi kegeramannya.
" Mah...!" Pak Ali mencoba memperingati istrinya.
" Kenapa bisa begini? Rangga dimana?" Bu Nisa mendadak bernada pelan kepada Shinta. Namun, ia masih memperlihatkan kecemasan yang lebih kepada putranya.
" Ada di sebelah ma, mas Rang...!" ucapan Shinta menggantung karena lebih dulu tersambar ucapan mama mertuanya.
" Ayo Pa kita temui Rangga?" Bu Nisa menggeret lengan suaminya dengan gerakan cepat . Tiga pria disana bahkan kini turut saling berdebar. Meski mereka tidak tahu apa-apa.
" Sebentar ya nak!" pak Ali menepuk pelan lengan mantunya yang duduk seraya di dampingi dua orang yang ia sendiri belum kenal siapakah kelima orang disana.
Shinta mengangguk seraya tersenyum kearah Pak Ali yang kian menjauh karena langkahnya di geret oleh istrinya.
Hati Shinta nyeri. Bukankah ia juga patut untuk di khawatirkan. Atau bahkan di tanyai sebentar saja. Mengapa ibu mertuanya selalu egois seperti itu. Mendadak Shinta menjadi melankolis.
Dhira yang melihat perubahan raut wajah Shinta kini mengusap punggung Shinta dengan pelan.
" Sabar...!" bisik Dhira pelan.
Ruangan Shinta itu sangat luas. Terdapat satu sofa di dekat pintu keluar, dan satu set sofa lagi di sebelah kiri ranjang Shinta. Kamar kelas terbaik yang disediakan, lantaran nama Abimanyu yang turut andil disana.
" Itu tadi mertuanya Shinta?" bisik Wisang.
" sepertinya!" sahut Abimanyu. Sementara Danan masih setia menatap raut wajah Shinta yang terlihat murung.
" Masa' masuk main ngeloyor aja. Kita gak di anggap, memangnya kita apa? angin?" Wisang menggerutu. Lebih tepatnya protes akan sikap Bu Nisa.
" CK...lu bisa diem gak? wajar beliau begitu. Namanya orang tua ke anak. Aku aja yang bukan siapa-siapanya Rangga prihatin banget!" tukas Danan yang mulai sebal dengan Wisang.
Sejenak Wisang terdiam. Ya benar, apalagi ia sendiri sudah melihat keadaan Rangga yang begitu memprihatinkan.
" Dhir..bantu aku buat turun, aku mau nemuin papa mertuaku!" ucap Shinta memaksa. Kakinya masih nyeri saat digunakan buat berjalan. Luka di betisnya juga masih belum mengering.
" Tapi Shin..." Dhira tentu saja menolak, sahabatnya itu masih sangat lemah.
" Please ...!" Shinta menatap Dhira dengan wajah memohon.
Dhira yang melihat Sekar juga memunculkan raut muram itu, akhirnya tak memiliki pilihan lain.
.
.
Diruangan sebelah
Bu Novi dan pak Ali sangat terkejut dengan keadaan putranya. Mengapa bisa sampai begitu. Wajah pucat, muka lecet sana-sini, kepala yang di bebat perban, dan dengan banyak sekali peralatan medis yang menempel di tubuh anaknya , yang mereka sendiri tidak tahu nama nama alat itu.
Bu Nisa menangis dan menciumi wajah putranya yang tak sadarkan diri itu. Pak Ali nampak menghela nafasnya dan mencoba menguatkan diri. Berulang kali purnawirawan TNI itu menelan ludahnya. Mengeraskan rahang guna menghalau buncahan kesedihan.
__ADS_1
Ia yang mantan seorang prajurit itu, sudah biasa dengan pemandangan memilukan seperti saat ini. Namun, rasa lain timbul lantaran yang terkapar tak berdaya itu adalah putranya. Darah dagingnya.
Dan saat mereka berdua masih meratap dalam tangis, pintu konektor itu terlihat mengayun. Pandangan mereka bertumbuk pada Shinta dan dua orang wanita yang membantu mendorong Shinta, terlihat datang menuju tempat dimana mereka berada.
" Pa maafin Shinta!" ucapnya dengan suara bergetar saat ia sudah sampai di hadapan papa mertuanya.
Sekar yang mendorong Shinta mendadak turut merasakan sesak. Dhira yang memegangi ampul infus itu menghela nafas pendek. Ia turut larut dalam kesedihan.
" Apa yang terjadi nak, kenapa bisa sampai begini?" pak Ali dengan suara pelan menatap menantunya. Pria itu lebih memanusiakan Shinta dari pada istrinya.
Oh andai Rangga sadar, bisa di pastikan ia akan marah kepada mamanya.
" Harusnya dari dulu Rangga memang gak menikah sama kamu. Wanita mandul, yang sekarang malah terus buat anak saya celaka. Kamu ini hanya bikin anak saya sial terus!!" Bu Nisa mendadak seperti orang kesetanan.
" Ma!!" Pak Ali meninggikan suaranya karena istrinya itu sudah berucap dengan begitu kelewatan.
Sekar dan Dhira seketika membulatkan matanya. Dua wanita itu tak percaya bila wanita dengan banyak uban itu, melontarkan kata-kata pedas untuk Shinta.
Shinta memejamkan matanya saat ini, ia meresapi perkataan Bu Nisa dalam- dalam. Ia mencoba menguatkan hatinya dengan serangan verbal yang bertubi-tubi itu.
Mertuanya memakinya dengan kata-kata yang begitu kejam dan menyakitkan. Apakah semua ini dibawah kendalinya? jika boleh memilih, ia ingin menjadi wanita sempurna di dunia ini.
" Mama stop jangan seperti ini!" Pak Ali mulai kehilangan kesabaran.
" Biar pa, biar dia tahu. Dengar kalau sampai anak saya kenapa-kenapa nanti. Kamu orang yang paling saya salahkan!" Bu Nisa sudah kehilangan kewarasannya. Ia terus menyalahkan Shinta atas tragedi yang menimpa anaknya.
" Mama sudah, ini rumah sakit. Tolong mama jaga ucapan ma!". Pak Ali mulai berang. Istrinya itu benar-benar susah diatur.
" Papa masih terus belain dia Pa? lihat anak kita Pa? Bu Nisa malah bertengkar dengan suaminya di depan raga anaknya yang masih koma.
" Anak kita sendiri disini, sementara dia di kerubungi banyak orang di sana!" Bu Nisa nampak ngos-ngosan saat berucap.
" Istri macam apa kamu yang membiarkan suaminya yang tak sadar seorang diri!!" Ibu mertuanya itu terus menyerangnya dengan ucapan yang menghujam hatinya bertubi-tubi.
Apakah mertuanya itu buta, sehingga tak bisa melihat kenyataan bahwa Shinta juga tengah mengalami cedera yang agak parah. Kakinya bahkan masih sangat sakit dan sulit di gerakan. Ia juga mengalami gegar otak ringan, sekujur tubuhnya juga remuk redam, secara keseluruhan ia juga sakit.
" Emmm maaf Bu tapi Shita...!" merasa ucapan mama Rangga itu kelewatan, Dhira lantas angkat bicara.
" Diam kamu, saya gak ngomong sama kamu!" Bu Nisa membentak Dhira. Membuat wanita itu terlonjak.
Namun sejurus kemudian...
" Siapa anda berani membentak istri saya?
Suara berat yang begitu mengintimidasi terdengar menyahut disana.
.
.
.
__ADS_1