The Love Story' Of Single Parents

The Love Story' Of Single Parents
Bab 113. Pelukan yang dirindukan


__ADS_3

Bab 113.Pelukan yang dirindukan


.


.


.


...šŸšŸšŸ...


"Titian takdir seakan tak berpihak kepada siapapun, ia hanya berjalan dan menggilas yang lamban bertindak!"


.


.


Mobil Wisang dan Abimanyu rupanya tiba secara secara bersamaan. Detik yang sama pula, mereka turun berbarengan. Abimanyu dan Dhira mengira mereka sudah pulang. Kemana saja mereka bisa selama itu, muncul banyak pertanyaan di benak mereka.


Sekar menjadi manusia yang paling tak enak hati, dia merasa melampaui batasan sebagai seorang babu. Sungguh dia sungkan bukan main.


"Bu Dhira maaf ya, tadi..." Sekar benar-benar tak enak hati dengan bosnya yang baik itu. Wajahnya sudah sangat ketakutan dan menunjukkan raut kesungkanan.


"Sudah ga apa-apa!" Dhira sudah tahu bila assistennya itu merasa tak enak hati.


"Kamu apain anak orang sampek ketakutan begitu!" Abimanyu mengangkat wajahnya kepada Wisang.


"Ih mulut mu, badannya aja masih sehat walafiat begitu, lu itu ya...punya mulut lemes banget!" sergah Wisang.


"Sudah-sudah! malah pada ribut. Sekar buka pintunya sekarang!" Dhira pusing dengan keributan dua pria disana.


Dengan membawa serta sekantong belanjaannya, Sekar menuju pintu samping. Ia tak enak hati dengan Dhira.


Andai ia tahu bila Dhira sempat balik jalan karena tak mendapat pintu, ia pasti malah tak akan memiliki muka lagi untuk berhadapan dengan Dhira. Lebih tepatnya ia jelas akan berang kepada Wisang yang telah berbohong kepadanya.


"Masuk mas Wisang, banyak nyamuk disana!" ucap Dhira mempersilahkan untuk masuk ke ruang tamu mini di samping rukonya.


" Kok dia aja Dhir yang di suruh masuk, aku gak kamu suruh?" rewel dan rewel, perkara sepele saja Abimanyu mengajukan banding terhadap Dhira.


Dhira pasrah, mengapa pria gagah itu menjadi sangat rempong begini dalam kurun waktu singkat.


"Astaga, lu itu emang bener- bener bukan sekutu gue sekarang Bim. Bener- bener butuh Danan gue kalau begini!" Wisang menggelengkan kepalanya melihat sahabatnya yang manja kepada Dhira.


"Jijik gue lihatnya!" tukas Wisang kepada Abimanyu.


Mereka berdua duduk di sofa dengan posisi agak berjauhan. Sekar mungkin tengah berganti baju saat ini. Karena sejak masuk, gadis itu kini tak terlihat.


"Aku ganti baju dulu mas, gerah banget!" ucap Dhira. Menyisakan dua orang manusia yang saling melempar tatapan penuh selidik disana.


"Lu jangan apa-apain anak orang tanpa status yang jelas sialan!!!. Ingat pesan gue, dia itu udah di anggep keluarga sama calon istri gue!"


"Kalau ada apa-apa, elu habis sama gue!"

__ADS_1


"Siapa yang elo bilang gak punya status jelas? Gue?" Tunjuk Wisang pada dirinya sendiri.


" CK, Belagu amat, mentang-mentang udah mau kawin. Eh salah nikah, elu mah kawinnya udah duluan!" ucap Wisang tergelak.


"Matamu Wis!" Abimanyu melempar bantal ke wajah Wisang. Mereka berdua terbahak-bahak.


"Tunggu saat yang tepat, kayaknya aku akan melakukan serangan fajar!" Wisang terkikik.


"Elu rada gila Sekarang Wis, dulu elu paling irit bicara diantara kita bertiga!" tukas Abimanyu menyulut rokok.


"Dia diem, nah kalau aku diem jadi apa. Satu konsonan satu vokal dong!, gue sengaja secara gerilya. Biar dia penasaran sama keperkasaan gue nanti" ucap Wisang jumawa.


Abimanyu hanya mencibir, ia menyebikkan bibirnya menanggapi Wisang yang terlihat bodoh saat jatuh cinta.


" Lu jadi nikahnya kapan?" tanya Wisang kembali.


"Baru ngajuin berkas, pokonya paling lambat akhir bulan ini lah!" jawab Abimanyu.


"Ibunya Dhira yang ngitung weton- weton- begitu, musti nyari hari baik katanya. Aku ngikut aja!" sahut Abimanyu.


"Memangnya masih ada begituan?"


"Gak tahu, aku baiknya aja gimana Wis. Orang tua itu perlu di ikuti sekali- kali, mengingat sikap ingin di akui kesakralannya itu patut kita hargai!"


Wisang hanya manggut-manggut, tak mengerti birokrasi perwetonan dan lain sebagainya.


Obrolan mereka terhenti saat Sekar datang membawa dua cangkir kopi. " Ini pak kopinya!" ucap Sekar saat menghidangkan kopi kepada Abimanyu dengan sopan. Namun ia tak mengucapkan sepatah katapun saat menghidangkan kopi kepada Wisang.


Sekar mengembuskan napasnya, nampaknya dia dan Dhira menghadapi dua pria yang sama. Sama-sama rewel.


Sepasang mata yang mengikuti Sekar dan Wisang berhenti di depan Ruko. Suasana gelap dan waktu malam hari, membuat dia tak terlalu kentara saat mengawasi para penghuni Dapur Isun itu. Sejurus kemudian orang itu melajukan mobilnya dengan seringai di bibirnya.


...šŸšŸšŸ...


Minggu pagi Dhira tak membuka rukonya. Sampai sekarang ia ingin menerapkan aturan itu agar Shinta dan Sekar bisa memiliki hari libur" Aku mau ke rumah ibu, bajunya udah aku giling. Nanti minta tolong jemur ya?" Dhira berucap saat ia sudah bersiap akan kerumah Bu Kartika.


"Siap Bu!"


"Emm tapi kalau kamu mau jalan sama mas Wisang juga ga apa apa!" Dhira tertawa kecil, ia menggoda Sekar.


Sekar hanya tertunduk malu.


"Pak Abimanyu bilang, dia pria yang baik kok. Dia pria dewasa . Bagus kalau kamu mau, dia pasti bisa ngemong!" ucap Dhira.


Sekar tertegun, ia selama ini jarang dekat dengan seorang teman. Sudah biasa baginya untuk memecahkan persolan sendiri. Tapi Dhira merupakan wanita luar biasa pikirnya, selain baik wanita di depannya itu menjelma seperti seorang ibu baginya. Sekar menitikkan air matanya. Ia rindu ibunya.


"Saya minta maaf Bu, saya gak akan keluar - keluar lagi tanpa ijin Bu Dhira. Saya..."


"Loh, kamu kok nangis?" Dhira cemas.


"Saya gak marahin kamu. Saya gak apa-apa , kemaren saya diajak balik ke tempatnya pak Abimanyu kok. Udah, kamu jangan merasa gak enak sama saya. Sekar, kita ini sama-sama perempuan. Kalau ada yang ingin kamu bagi ke saya atau Shinta, kamu cerita aja. Kan saya sudah bilang kalau kamu sudah saya anggap saudara. Saya pernah ada di posisi kamu, tidak memiliki siapapun untuk sekedar bercerita!" Dhira turut larut dalam nuansa haru.

__ADS_1


Ia ingat saat menjalani hidup bak di neraka bersama Indra, dengan posisi masih di diamkan ibunya.


"Kamu bisa anggap saya sebagai kakak kamu!" Dhira memeluk Sekar, mengusap punggungnya.


Sekar merasa kehangatan menjalari tubuhnya kala Dhira memeluknya. Pelukan seorang ibu yang ia rindukan.


.


.


"Kamu gak keluar Bas? tumben?" ini adalah kali pertamanya, setelah sekian lama Dhira tak mengobrol dengan Bastian.


" Enggak kak, males!" Bastian pagi itu hanya mengenakan celana pendek dan kaos oblong warna navy. Masih terlihat tampan meski hanya dengan balutan pakaian rumahan.


"Raka belum balik?"


"Sore biasanya!" jawab Dhira.


"Aku salut banget sama Raka Kak. Ia bisa bagi waktu buat kalian . Bakal calon orang bener dia itu!" tukas Bastian.


"Amin, kakak sering kasihan Bas sebenarnya sama dia. Belum pernah kakak bahagiakan sampai sekarang!" Dhira menerawang, ia ingat akan kilasan masa lalunya.


"Kakak kan sebentar lagi jadi istri direktur, soal kesenangan kecil itu mah!" Bastian terkekeh.


"Kamu kok mikirnya gitu?" Dhira cemberut, sungguh ia menikah dengan Abimanyu bukan perkara dia berada. Tapi lebih ke perhatian dan sikap lelaki sejati yang pria itu berikan. Meski ia tak menampik, bila Abimanyu memang terlihat sangat berwibawa dengan statusnya yang menyandang sebagai Direktur.


"Bercanda!" sahut Bastian tertawa.


Mereka berdua diam dengan pandangan sama-sama menerawang. " Kamu gak ada pingin cerita ke kakak?" Dhira tahu bila adiknya itu tengah gundah gulana.


Bastian diam, selama ini ia memang tak pernah membagi kisahnya dengan Andhira. Bagaimana mau berbagi, selama ini Dhira juga terbelenggu persoalan pelik.


"Ga ada kak, soal apa?"


"Nah, kok malah balik nanya. Muka kamu itu gak bisa bohong. Jelas kamu itu ada ada sekarang. Ayo cerita ke kakak. Siapa tahu bisa bantu. Masa kamu terus yang bantuin kakak"


Bastian masih tertegun, ia tak yakin akan menceritakan hal ini kepada kakaknya. Ia malu.


"Kakak sebentar lagi jadi seorang istri lagi Bas. Bakal jarang bisa ngobrol begini sama kamu. Kakak juga pingin kamu bisa segera nyusul nemuin jodohmu. Hidup bahagia sama anak- anak, melihat para orang tua kita bahagia bersama cucunya. Itu salah satu impian kakak Bas. Andai bapak masih hidup, pasti dia juga kasih tahu kamu hal ini!"


Pembicaraan serius antara kedua saudara itu terjalin sendu. Bastian menyukai Rania. Tapi dia minder akan statusnya. Ia mengurungkan niatnya untu bercerita kepada Dhira. Belum saatnya pikirnya.


Namun belum juga Bastian menjawab Dhira, terdengar suara dari bocah bengal yang akrab di telinga Bastian.


"Ommmm!!!"


"Jodhiii!!!!"


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2