
Bab 243. Tepat Waktu
.
.
.
...ššš...
" Jika diberi pilihan, aku ingin memilih mencintaimu seratus ribu tahun!"
.
.
Rania merasa berada diantara batas kesadaran dan merasa Dejavu. Pria yang bertelanjang dada di depannya itu, mengapa mendadak menjadi sosok seorang Bastian.
Rasa yang menjalar ke seluruh tubuhnya itu, adalah rasa yang jelas ia pahami. Rasa tuntutan untuk memasuki arus kenikmatan. Rasa yang berhasil membuat Jodhi ada di dunia ini.
" Bas...!" ucapnya dengan suara parau.
Fredy yang sudah mengungkung tubuhnya seketika terhenyak. Mengapa Rania menyebut nama pria lain.
" Bas!" Rania menyusuri otot lengan Fredy dengan wajah sendu. Tubuhnya terus menggeliat seiring dengan dorongan panas yang kian menggila.
Fredy meneguk ludahnya saat tangan Rania meraba dadanya yang tak terbebat apapun itu. Membuatnya kian tersuluh gairah.
" Maafkan aku Ran!" Fredy seketika merasa menjadi pecundang. Tapi, ia benar-benar tergoda dengan Rania.
Fredy suka kepada Rania sejak dulu. Dan entah mengapa, perbuatan tak sengaja Rania yang menggamit lengannya dengan manja tadi justru ia salah artikan.
Fredy mendekatkan wajahnya ke bibir Rania, ia sudah kehilangan kewarasannya saat dua benda di dada Rania yang terlihat menyembul tadi mengusik pikirannya.
Brak
Suara pintu yang terbanting itu membuat Fredy mengurungkan aksinya dan memandang ke arah pintu. Pintu itu terjeblak dan menampilkan Bastian yang mengeraskan rahangnya.
" Kurang ajar!"
.
.
Bastian
Riuh rendah suara pemotor kian membuat jalannya terhambat. Kehilangan jejak seakan membuat otak Bastian makin stres.
" Minggir brengsek!" ia bahkan mengumpat kepada sekumpulan anak-anak muda yang mendadak mengkudeta jalanan. Membuat dirinya mendapat sumpah serapah dari anak-anak muda yang nyaris ia tabrak itu.
" Gila tu orang!"
" Anjing!!"
Bayangan wajah Rania yang seperti orang mabuk jelas mengusik pikirannya. Kegelisahannya bertambah saat jalanan di depannya sudah tak menampakkan mobil yang di kendarai Fredy.
" Sial, kemana dia pergi!" seketika menjadi gusar.
Mau tak mau, ia terus berjalan degan hanya bermodalkan insting. Matanya terus awas mengawasi rumah-rumah warga yang berjejer di sepanjang jalan itu.
Mendadak otaknya dipenuhi dengan pikiran menuduh. "Jangan-jangan Rania ..."
__ADS_1
Ia buru-buru menggelengkan kepalanya, agar pikiran buruknya gugur. Jelas menandakan bila Bastian sebenarnya tengah panik.
Pucuk di cita ulam tiba, rupanya Dewi Fortuna masih berpihak kepadanya. Ia menemukan mobil Fredy yang terparkir di sebuah rumah dengan keadaan pintu mobil yang masih terbuka.
" Rumah siapa itu?"
Tanpa menunggu Bastian langsung masuk kerumah itu. Rumah itu gerbangnya tak di kunci, Bastian mengintip keadaan di dalam melalui kaca. Merasa tak ada orang, ia kemudian langsung ngeloyor masuk dengan sengaja, guna mencari tahu hal apa yang di lakukan oleh Rania bersama Fredy.
Rumah berdesain kuno dengan perabot yang tertata rapih, juga sebuah kipas besar diatas langit-langit yang terlihat mahal, jelas menandakan bila rumah ini adalah rumah orang tua.
Jika ini kenyataan pahit, maka biarlah Bastian melihat dengan mata kepalanya sendiri. Ya, Bastian malah mengira bila Rania ada main di belakangnya.
" Bas!"
Ia menajamkan pendengarannya saat telinganya menangkap suara Rania yang menyebut namanya. Membuatnya menjadi ambigu.
" Bas!"
Telinganya telah dua kali menangkap gelombang suara yang lirih menyebut namanya.
"Maafkan aku Ran!" matanya membulat demi mendengar suara Fredy yang mengucapkan hal itu. Jelas terjadi sesuatu di dalam.
Brak
Pintu yang terkunci itu nyatanya terjeblak dalam sekali tendangan. Ya, tendangan yang di layangkan Bastian memang sangat keras. Tak terbayangkan seberapa kekuatan kaki pria yang memiliki mata tajam itu.
" Kurang ajar!" umpatnya dengan rahang mengeras.
.
.
Bug
Menyisakan Rania yang masih terus saja menggeliat kesana-kemari.
" Bangun Lo bajingan!" Mata Bastian memerah, tangannya terkepal keras, siap melayangkan tinju kembali.
Bug
Pukulan kedua mengenai rahang kiri Fredy. Membuat wajah pria itu terlempar ke kanan dan membuat sudut bibir pria itu kini mengeluarkan cairan kental yang terasa asin.
Wajahnya dalam sekejap terasa pedih dan berdenyut akibat pukulan dari Bastian.
" Lo siapa anjing! Brengsek!" Fredy tentu saja berang. Tak terima dengan serangan mendadak. Ia masih bisa mampu bangkit dan membalas.
Dug
Fredy menendang perut Bastian. Membuat pria itu terjengkang persis di bawah kasur. Ia sempat melihat Rania yang terus menggeliat dengan wajah kacau.
Dari hal itu, bisa Bastian simpulkan jika Rania sedang di jebak.
" Brengsek, binatang emang Lo...!" Bastian benar-benar ingin membunuh pria itu sekarang juga.
Dengan gerakan cepat, Bastian beringsut bangun dan langsung menubruk Fredy.
Bug
Perkelahian itupun tak terelakkan. Bastian menunggangi tubuh Fredy Dan langsung melayangkan pukulan membabi buta. Buku-buku tangannya bahkan memerah.
Hidung dan mulut Fredy mengeluarkan cairan merah yang lebih banyak. Kali ini ia merasa kepalanya pusing.
__ADS_1
Namun sejurus kemudian, Fredy mencekal tangan Bastian dan membalikkan tubuh pria itu. Bersiap membalas pukulan menyakitkan pria itu.
" Elu siapa heh...!" Fredy geram, pria itu langsung memukul wajah Bastian.
Bug
Bug
Kini sudut bibir Bastian terlihat memar dan terasa berdenyut. Kilasan ingatannya kembali saat Fredy berada diatas tubuh Rania. Dan kesemuanya itu, menyulut emosi terdalam pria itu.
" Diam lo Anjing!" Bastian berucap seraya melawan. Ia menendang punggung Fredy dengan lututnya. Membuat pria itu mengerang kesakitan. Merasa memiliki kesempatan untuk menghindar, Bastian langsung menendang kepala Fredy dengan keras.
Bug
Membuat pria itu seketika terdiam karena matanya mendadak berkunang-kunang, dan ia merasa banyak bintang yang memutari kepalanya.
Bastian terengah-engah seraya memandang Fredy yang mulai limbung. Sejurus kemudian,
Bruk
Pria itu ambruk karena pingsan. Tendangan Bastian yang tepat mengenai tengkuk leher bagian belakang pria itu, jelas membuat syaraf pria itu mengalami trauma.
Alhasil, Fredy ambruk dengan keadaan hanya mengenakan boxer.
" Oh sial!" Bastian melihat Rania yang makin kacau sebab wanita itu mulai membuka pakaiannya sendiri. Kini, Bastian dibuat belingsatan karena melihat dada Rania yang hanya mengenakan penyangga warna hitam itu.
Terlihat menggiurkan.
Bastian menggeleng-gelengkan kepalanya, agar pikiran kotor itu gugur dari otaknya. Dengan cepat ia memakaikan kembali pakaian Rania yang sudah mosat- masit ( kacau balau).
Dengan gerakan terburu-buru, Bastian berniat membopong tubuh Rania, " Bertahanlah!" ucap Bastian panik.
" Emmmmm hhh!" Rania meraba dada Bastian, wanita itu mulai menggelinjang tidak jelas. Bastian bahkan kaget dengan tindakan Rania.
" Ran..Ran!" Pria itu menepuk pipi Rania namun sia-sia.
Rania langsung menyambar bibir Bastian kala itu. Membuat Bastian membelalakkan matanya karena terkejut. " CK, sial!"
Ia langsung melepas ciuman paksa yang sebenarnya menyenangkan itu. Ia harus tau diri, bukan disini tempatnya untuk enak-enak pikirnya. Dan, belum waktunya juga. Tapi, ah entahlah. Semua ini terlalu rumit.
Dalam waktu cepat, Bastian di tuntut harus membawa Rania pergi sebelum dia juga terkena getah dari pengaruh obat brengsek itu.
Dengan bersusah payah lantaran Rania yang terus-menerus menggerayangi tubuh Bastian, ia akhirnya berhasil memasukkan Rania ke dalam mobilnya.
Sejurus kemudian ia berlari dan mengambil koper Rania yang berada di dalam mobil Fredy. Sejenak ia teringat dengan Fredy yang kini mungkin masih pingsan.
Ah, persetan dengan pria itu. Begitu pikirnya.
" Huft!" ia mengembuskan napas yang terasa berat usai berlari. Tubuhnya bersimbah keringat, detak jantungnya juga mendadak bertempo cepat.
Bastian terpaksa mengikat tubuh Rania dengan tali yang ada di mobilnya, karena wanita itu terus saja hendak melucuti pakaiannya sendiri.
" Maafkan aku Ran!" Ucapnya seraya menatap Rania yang kini mirip korban penculikan.
Dengan terburu-buru, Bastian tancap gas dan langsung membawa Rania pergi dari tempat itu. Kini, ia bingung harus membawa Rania kemana. Mustahil ia membawa Rania pulang dengan keadaan kacau seperti itu.
Dalam keadaan yang masih terasa tegang, ia di tuntut untuk berpikir taktis soal kemana ia harus membawa Rania saat ini.
.
.
__ADS_1
.
.