
Bab 191. Titah Bu Bos
.
.
.
...ššš...
" Biarkan aku menjaga perasaan ini oh..., menjaga segenap cinta yang telah kau beri..!"
( Diambil dari lirik lagu Yovie and Nuno ~ Menjaga Hati)
.
.
"Maaf bolehkan saya bergabung disini!" Seorang wanita cantik yang tak asing nampak tersenyum ke arah Abimanyu.
" Emmm!" Abimanyu bingung, ia merasa tak kenal dengan wanita itu, tapi wajahnya juga tak asing. Semacam pernah bertemu.
" Saya terlambat, dan semua meja sepertinya sudah penuh!" ucap wanita itu lagi tersenyum.
Membuat Abimanyu melirik Devan malas.
"Silahkan" Abimanyu mengangguk penuh keraguan, karena rupanya jawaban Devan barusan membuatnya memiliki hak prerogatif.
" Terimakasih" wanita itu terlihat menarik kursi di sebelah Abimanyu dan lngsung mendaratkan bokongnya dengan anggun.
" Saya Melinda dari Caterpillar Group!" Melinda menjulurkan tangannya memulai perkenalan.
Entah mengapa, ia menjadi tidak tertarik dengan wanita manapun saat sudah mengenal Dhira. Dan keramahan yang ia berikan, hanyalah sebatas kewajaran saat bersua dengan rekan bisnis.
" Abimanyu dari Delta Group!" Abimanyu merasa tak asing dengan wanita itu, tapi dimana mereka bertemu. Pria itu menjabat tangan Melinda dengan wajar.
" Conveyor Bussines Class!" ucap Melinda seperti menerangkan sesuatu. Wanita itu tersenyum anggun.
" Ah...iya, pantas saya tadi merasa seperti pernah melihat anda!" Abimanyu terlihat bersikap wajar. Ia menduga Melinda pasti juga salah satu Direktur di perusahaan yang sama.
" Saya sangat minta maaf karena ponsel anda jatuh karena saya!" Abimanyu menyuguhkan raut penyesalan.
" It's Ok, saya juga kurang hati-hati" Melinda tersenyum.
" Jajaran Direksi atau...?" Dalam hal bisnis, ingin mengetahui jabatan sudah hal wajar.
" Yap, saya Dirut Caterpillar company!"
Devan merasa wanita di depan bosnya itu menatap Abimanyu tak bisa. Namun Melinda tak menyadari bila Devan mengamatinya.
Acara yang menurut Abimanyu membosankan itu makin terasa memburuk karena Dhira tak kunjung membalas pesannya.
" Selamat makan!" Melinda wanita berkelas. Tentu saja, ia adalah seorang Direktur. Semua itu nyata dalam sikap dan tutur katanya.
Saat Abimanyu tengah menyuapkan nasi ke mulutnya, ponselnya mendadak bergetar. Dhira melakukan video call kepada suaminya itu.
Dengan terburu-buru Abimanyu meraih tissue di depan mejanya, lalu mengelap sisa minyak di sudut bibirnya.
Disaat bersamaan ponsel Devan berbunyi, membuat pria itu undur diri sementara untuk menjawab panggilan.
" Pak ini dulu!" Devan memperlihatkan ponselnya yang berkedip tanda panggilan masuk.
Ketergesaan Abimanyu, rupanya membuat Melinda memperhatikan wajah Abimanyu yang nampak sumringah dan antusias. Namun ada hal yang membuat Melinda menatap Abimanyu tak jemu.
Bos dari Devan itu menggeser tombol hijau saat itu juga.
" Dari mana aja sih, lama banget?" Abimanyu kini menatap layar ponselnya dengan berengut.
Namun Melinda nampaknya melihat serpihan tissue yang tak sengaja tertinggal di pipi Abimanyu, dengan reflek mengambil benda itu.
__ADS_1
Terlalu fokus dengan noda tissue di wajah ganteng Abimanyu, membuat wanita itu tak terlalu mengetahui bahwa Abimanyu tengah terlibat panggilan video dengan istri tercintanya.
" Maaf tissuenya tertinggal!" Melinda menunjukkan serpihan tissue yang ukurannya nyaris tak terlihat itu dengan meringis.
Mas..
Suara Dhira bertanya membuat Abimanyu kini kembali fokus ke layar.
.
.
Andhira
Malam itu ia baru saja memanggil anak- anak yakni Jodhi dan Raka untuk makan malam. Namun saat ia kembali ke kamar, ia melihat ponselnya yang lupa ia charge. Berniat akan mengisi daya batre benda pipihnya itu.
Namun saat menggeser benda pipih itu, ia terkejut ada banyak sekali pesan dan panggilan tak terjawab dari suaminya itu.
Takut terjadi sesuatu atau ada hal penting yang ingin ditanyakan suaminya itu, Dhira menelepon balik Abimanyu. Dalam waktu kurang dari satu menit, panggilan darinya sudah di jalan oleh suaminya itu.
"Dari mana aja sih, lama banget?" seperti biasanya, Abimanyu tanpa sambutan langsung mencecar pertanyaan kepadanya.
Namun matanya membulat demi melihat tangan putih dan mulus seseorang, yang terlihat mengenakan cincin di jari manisnya, yang ia yakini itu adalah seorang perempuan.
" Mas?" ia ingin mengingatkan suaminya jika mereka masih terhubung pada sambungan video call.
Dan di saat bersamaan, sambungan telepon darinya tiba-tiba terputus.
" Kok mati, tadi itu siapa?" Dhira bermonolog dengan wajah penasaran.
Maaf, aku matiin bentar. Habis ini aku telpon lagi, ternyata sekarang giliran ku untuk sesi perkenalan.
Pesan dari Abimanyu benar-benar membuatnya gundah.
.
.
Ia terpaksa mematikan sambungan teleponnya, saat keterkejutannya akan sentuhan Melinda yang mendadak itu, masih belum bisa ia cerna, bersaman dengan seseorang yang tiba-tiba mengarahkan microfon ke arahnya.
Pria itu mengumpat kepada dirinya sendiri, mengapa sedari tadi ia malah tak memperhatikan jalannya acara, karena meladeni Melinda.
"Baik, silahkan Tuan, anda perkenalkan diri anda, dan dari perusahaan mana anda berasal!"
Ucap pemandu acara bersuara lugas itu. Mau tidak mau ia harus fokus dulu ke acara itu, dan berniat akan menghubungi istrinya kembali nanti.
" Saya Abimanyu Aryasatya, dari Delta Group kota J....."
Dan selama Abimanyu berdiri seraya memperkenalkan namanya itu, Melinda Menatapnya tak lekang.
.
.
Menjelang jam sembilan malam, acara itu baru berakhir. Banyak sekali ratusan orang yang menjabat sebagai Direktur yang tersebar di seluruh wilayah tanah air.
Membuat Abimanyu berdecak kesal.
" Van, apa besok masih banyak kegiatan?" Abimanyu yang berjalan beriringan dengan Devan terasa malas sekali.
" Saya lupa membaca rundown acaranya Pak!" Devan meringis seraya menggaruk kepalanya. Pria itu sangat sibuk membalas chat wanita misterius yang ia sebut dengan ' tutup'.
" CK, kamu ini!"
Dalam dua kali nada sambung, panggilannya bari di jawab oleh istrinya. Dari suaranya, Abimanyu menebak bila istrinya itu telah tertidur.
" Kamu sudah tidur sayang" Abimanyu merebahkan tubuhnya di atas kasur pegas hotel itu. Ia kini telah bertelanjang dada karena kegerahan. Padahal ruangan itu full AC, tapi mengapa bisa masih kegerahan?
Namun baru saja ia merasakan kenyamanan, seseorang datang menginterupsi.
__ADS_1
Pintu kamar Abimanyu di ketuk dalam tempo lama. Merasa hal itu sangat mengganggu, membuat sang pemilik kamar akhirnya mau tak mau membuka pintu tersebut.
Dengan langkah malas pria itu menuju pintu itu. Abimanyu mendecak kesal karena mengira itu pasti Devan.
Namun sejenak ia merasa bersalah karena rupanya bukan Devan yang berada di bibir pintu itu. Melainkan seorang wanita yang tadi turut bergabung duduk di mejanya.
" Mas Abimanyu, bolehkah saya masuk?" Melinda yang terlihat baru mengganti bajunya dengan piyama satin itu memasang wajah muram, dengan riasan yang masih tebal. Sepertinya wanita itu juga belum mandi.
" Sayang sebentar aku ada tamu!"
" Kenapa Bu, dan tolong panggil saya Pak saja!" Abimanyu merasa benar-benar tak nyaman.
Sejenak Melinda tertegun dengan otot dada dan perut sixpack milik Abimanyu yang terekspose jelas itu. Pria itu tak sempat memakai baju karena mengira jika yang menggangu itu adalah Devan.
" Maaf.." Abimanyu membuyarkan lamunan Melinda.
" Oh saya mau pinjam ekstensi, telepon ekstensi di kamar saya tidak bisa digunakan. Dan maaf , saya disini hanya mengenal anda, jadi...... "
Entah tau dari mana wanita itu soal kamar yang ia tinggali. Tapi persetan dengan itu semua, Abimanyu tak memiliki pilihan.
" Silahkan!"
Sejurus kemudian Abimanyu menghubungi istrinya kembali melalui video call, karena menurutnya Melinda tidaklah penting. Abimanyu sangat rindu sekali dengan pulang hangat istrinya.
" Kok mati-mati terus sih mas. Mas sama siapa sih?" Dhira benar-benar kesal. Apa maunya suaminya itu.
" Maaf ya sayang, aku sendirian kok, tadi ada..."
" Terimakasih banyak Mas...emmm Pak Abimanyu!" Melinda berucap lalu pergi dari sana.
Suara dan rupa Melinda terdengar jelas di telinga dan mata Dhira.
" Siapa itu mas?" tanya Dhira.
" Emmm bukan siapa-siapa, itu...."
Dhira langsung mematikan sambungan teleponnya. Membuat Abimanyu bingung.
" Astaga, bagaimana ini!"
" Apa dia marah?"
.
.
Devan baru saja mandi dengan air hangat, pria itu bersiul di malam hari. Ia mematut dirinya di layar kaca besar kamar hotel yang ia huni.
" Tampan namun mengapa selalu di khianati perempuan?" Devan mengasihani bayangan dirinya sendiri di cermin dengan bermonolog.
Sejurus kemudian.
+6285790124xxx calling
" Siapa ini?" Devan mengernyitkan dahinya, sebuah nomer baru menghubunginya. Tanpa curiga ia langsung mengangkat panggilan itu, siapa tahu itu adalah panitia acara.
" Hal..."
" Saya Bu Dhira, siapkan penerbangan saya ke BL besok pagi, dan jangan beritahu suami saya jika saya akan menyusul kesana!"
Tut.
Devan menelan ludahnya dengan susah payah, apa yang sebenarnya terjadi?
.
.
.
__ADS_1