The Love Story' Of Single Parents

The Love Story' Of Single Parents
Bab 24. Di Tribun


__ADS_3

Bab 24. Di Tribun


.


.


.


...šŸšŸšŸ...


"Negatif thinking ,dapat menyebabkan penyesalan seumur hidup".


Semenjak ia tahu bila Andhira adalah seorang janda, ia menjadi kembali menemukan kehidupan.


Bak oase di padang pasir.


Sikap lembut, masakan yang lezat, kue yang enak, pribadi sederhana, jelas menambah poin plus dari sosok tersebut.


Ia berpapasan dengan Bastian, sewaktu ingin menemui adiknya.


"Hey, kamu" ucap Abimanyu.


"Saya pak?" jawab Bastian menunjuk dirinya.


"Kamu bukannya Om nya Raka"


"Benar pak" jawab Bastian yang masih diliputi tanda tanya.


"Kamu kemana semalam, orang rumah pada sibuk nyariin kamu"


.


.


Bastian


Ia sangat terkejut saat bos nya itu tiba tiba memanggil namanya.


Lebih terkejut lagi, dia menanyakan keberadaan dirinya yang pulang telat, lantaran berkunjung ke rumah pak Darmono untuk membicarakan proses pembangunan.


"Dari mana bosnya itu tahu"


"Saya ada kepentingan pak, dan saya lupa mengabari kak Dhira, juga ibu" ucapnya menunduk.


"Lain kali jangan membuat orang rumah khawatir!!"


"Dan maaf atas sikap saya tempo hari" ucap Abimanyu langsung melenggang pergi.


Bastian terbengong-bengong, saat mendengar ucapan bosnya itu.


Sejak kapan dia menjadi peduli dengan urusan keluarganya???


Dan satu lagi, dia minta maaf???


...šŸšŸšŸ...


.


.


Raka


Hari ini adalah Minggu pertama di bulan Desember, jelas menandakan pertandingan tingakat provinsi itu sudah akan di gelar Senin besok.


Raka yang tergabung dalam tim besutan pak Kemal dan pak Renaldi, tentu saja sudah siap untuk pertandingan itu.


Latihan serius yang ia jalani selama dua bulan terakhir, mereka harapkan bisa memberikan hasil optimal.


Juara.


Ia dan timnya hari itu sudah berangkat lebih dulu, menuju gelanggang olahraga terbesar di kota itu.


Ia bahkan meminta Dhira beserta keluarganya untuk hadir, serta memberikan semangat.


Namun tak dinyana, pertandingan bergengsi antar sekolah itu rupanya terdengar ke telinga Indra.


Ayahnya itu terlihat datang bersama gundik yang selalu memakai baju bak lontong itu, membuatnya sungguh risih.

__ADS_1


"Raka" panggil Indra.


Raka menoleh, berusaha tersenyum. Meski sebenarnya, ia ingin mengumpat.


"Semangat, ayah mendukungmu" ucapnya mengepalkan tangan.


Raka tersenyum penuh keterpaksaan," terimakasih" sejurus kemudian ia meninggalkan dua orang itu.


Melesat dan bergabung bersama timnya.


"Harusnya tidak perlu datang, bila bersama wanita itu" ia membatin dengan pikiran kosong.


Hatinya mendadak tak memiliki semangat, apalagi ia tahu bila mamanya pasti akan hadir pula di tempat ini.


.


.


Andhira


Ia tengah bingung mencari pintu masuk gedung olahraga besar itu.


"Nanti tanya aja petugas aja ma kalau bingung" ia teringat ucapan anaknya itu.


Ia datang sendirian, ibunya tak bisa menemani. Lantaran terlanjur menerima orderan nasi gurih untuk orang selamatan.


Sementara Bastian, hari senin ini pasti dia akan berjibaku dengan segala perintah Rania, yang terbilang kompleks dan perfeksionis.


Dia melangkahkan kakinya lurus, terlihat banyak sekali orang orang yang berbondong-bondong untuk turut menyaksikan laga ini.


"Mas, pertandingan SMP TUNAS BANGSA" ucapnya kepada seorang petugas berkaos kuning.


"Tiketnya Bu"


Ia menyerahkan selembar tiket yang diberikan Raka untuk dirinya.


"Silahkan"


Ia memasuki ruangan itu, menampakkan lapangan bila voli yang sudah bertabur anak anak yang tengah melakukan pemanasan.


Ia lalu duduk di tribun penonton, sesuai dengan nomer tiketnya.


Mungkin mendukung anak anak mereka juga.


Namun hal yang tak terduga, ia melihat Indra yang berada sekitar 2 meter dari tempat duduknya. Bersama wanita itu lagi


Demi Tuhan, ia sungguh tak siap.


Raka terlihat melambaikan tangannya kepadanya, ia pun membalas.


Wanita berambut jagung itu, menatap tak suka ke arahnya. Membuat Dhira segera mengalihkan pandangannya.


.


.


Abimanyu


Ia bahkan membatalkan semua rapat penting, hanya demi turut serta bersama Jodhi, untuk menyaksikan pertandingan sekolah keponakannya itu.


Sambil menyelam, minum air.


Tujuan utamanya selain mengantar Jodhi, adalah agar bisa bertemu dengan Dhira.


Sungguh aneh.


Rania tentu saja tak bisa ikut, wanita itu benar benar pekerja keras.


"Ayo yah, udah mau mulai ini" rengek Jodhi.


Semacam tak sabar, juga terburu buru.


Mereka setelah berlari menuju tribun penonton, memiliki anak sungguh repot.


Pikirnya.


"Tante Dhira" keponakannya itu melambaikan tangan, begitu melihat Dhira.

__ADS_1


Entah mengapa, ia merasa senang. Mendapat tempat duduk yang pas.


"Hai, kita ketemu lagi"


Lagi lagi perkataan itu yang pertama kali terucap.


Dhira hanya tersenyum, tanpa membalas sapaannya.


"Tante, itu Raka ya" ucap Jodhi.


"Iya, ganteng ya" ucap Dhira, kali ini ia menjawab Jodhi.


"Ganteng lah, mamanya aja cantik" Jodhi berucap sambil terus menatap arah lapangan.


Dhira menjadi salah tingkah dengan ucapan Jodhi, apalagi di sampingnya ada seorang pria.


Abimanyu begitu terkesima dengan penampilan Dhira, makin hari selalu saja makin cantik.


Balutan pakaian sederhana nan sopan itu, selalu saja membuat gelenyar di hatinya yang telah lama sirna, kini muncul kembali.


Pria fakir cinta itu menjelma menjadi ABG yang tertarik dalam pusaran indahnya jatuh cinta.


Berapi-api.


Bahkan bayangan Gwen, tak lagi hinggap di pikirannya.


...šŸšŸšŸ...


Pertandingan itu terlihat tengah mulai, Raka juga terlihat bermain dengan semangat yang membara.


Berkali-kali spike keras mampu membuahkan poin untuk tim-nya.


Sorak Sorai, juga tepuk tangan selalu mengiringi tiap poin itu tercetak.


Jauh diatas tim lawan, dari SMP lain


"Yeee, wuuuuuu" ucap semua pendukung tim bola voli TUNAS BANGSA.


Rupanya tribun penonton yang awalnya kosong, kini terlihat padat.


Saat Raka menghasilkan net poin dari 24 menjadi 25, semua pendukung TUNAS BANGSA bersorak. Bahkan Dhira juga turut berdiri, seraya bersorak.


Menandakan set pertama di menangkan oleh TUNAS BANGSA.


Namun saat dia berdiri, ponsel di pangkuannya terjatuh. Ia bahkan melupakan benda yang baru saja ia buat untuk memotret putranya itu, untuk di jadikan story' di jejaring sosialnya.


Abimanyu yang melihat hal itu, dengan gerakan cepat meriah ponsel yang tergeletak di lantai itu.


Tak di sangka, disaat bersamaan Dhira juga mengambil benda itu.


Dan


Deg,


Tangan mereka saling bersentuhan, secara tak sengaja.


Mereka saling bertatapan, di antara riuhan penonton lain yang masih berdiri.


"Maaf" ucap Abimanyu, yang melihat ketidaknyamanan di wajah Dhira.


"Terimakasih" ucapnya saat mengambil ponsel itu, dengan wajah malu.


"Kenapa dengan jantungku" batinnya.


"Oh, tidak. Jantung bodoh ini kenapa begini" ucap Abimanyu dalam hati


.


.


.


.


.


Please like and komen.

__ADS_1


Biar author makin semangat


__ADS_2