The Love Story' Of Single Parents

The Love Story' Of Single Parents
Bab 183. Unexplained Jealousy


__ADS_3

Bab 183. Unexplained Jealousy


.


.


.


...šŸšŸšŸ...


" Yang dinamakan cinta, yang dilihat rupa, yang dirasakan gelora!"


.


.


Asam di gunung garam di laut, bertemunya di belanga. Serumit apapun kisah, dan sejauh apapun bentangan jarak yang tercipta. Yang namanya jodoh, pasti akan segera berbaur bersama.


Dan nampaknya, usai hatinya merana lantaran kisahnya dengan Dhira yang kandas di tengah jalan harus ia telan dengan ikhlas. Arya yang sedari dulu mengenal Septa semenjak mengenyam pendidikan di fakultas kedokteran di universitas yang sama itu, baru menyadari bila perempuan yang menyandang gelar sebagai Dokter Obgyn itu, memiliki perasaan yang lebih untuk dirinya.


Arya yang saat itu baru saja patah hati dan merasa hancur karena mengetahui Dhira yang mengandung benih dari Abimanyu saat mereka akan melangsungkan pernikahan itu, menjadikan Septa sebagai pelarian.


Sedikit jahat, tapi itulah kenyataannya.


Namun tak di nyana, Septa yang tulus dan memiliki sikap periang justru memenangkan hati Arya yang sebenarnya belum terlalu memiliki rasa terhadap Septa.


Arya yang awalnya hanya mencari pelampiasan, kini malah tak mau kehilangan Septa seperti dia kehilangan Dhira.


" Mas Arya!" Dhira spontan menyebut nama pria yang tengah sibuk menggulir ponselnya.


Arya sebenarnya agak terkejut saat melihat Dhira. Tak mengira bila mereka akan bertemu lagi, usai beberapa bulan yang lalu mereka sempat berputar di pusaran kisah rumit.


" Oh, Dhira..apa kabar?" Arya bersikap biasa saja. Pria itu sejurus kemudian menatap Abimanyu yang terlihat berwajah masam.


" Aku....baik!" Dhira mendadak merasa canggung. Ia menyadari, kesan terkahir mereka putus komunikasi sangat tidak baik. Tapi, ada Septa disana. Membuatnya harus bersikap B aja.


" Mas Arya gimana?" Dhira mengulurkan tangannya kepada Arya. Pria itu sejenak menatap tangan Dhira yang menggantung selama beberapa detik, lalu sejurus kemudian menjabat tangan itu.


" Aku juga baik!" Arya tersenyum saat tangan mereka saling menjabat.


Kini ia sudah tak memiliki perasaan apapun terhadap Dhira, waktu memang sebaik-baiknya penyembuh luka. Ia menatap Abimanyu yang menatapnya tak ramah. Suami Dhira itu nampaknya masih membangun dinding tebal dan tinggi terhadap Arya.


" Kalian sudah saling kenal?" Septa menatap Arya, Dhira dan Abimanyu secara bergantian.


" Kami..." ucapan Dhira menguap ke udara.


" Ehem, dokter maaf. Anda akan ada acara, dan kami lebih baik pulang sekarang!" Abimanyu mendadak merasa tak nyaman.


" Oh, baik Pak Abimanyu. Saya mohon maaf tidak bisa menemani ngobrol seperti biasanya!" Septa yang memang belum tahu rekam jejak mereka bertiga, bersiap wajar.


Dhira mendadak merasa suaminya bersikap tak seperti biasanya.

__ADS_1


" Dokter kami pamit dulu!"


.


.


Dhira merasa suaminya itu mendadak aneh. Pria yang menjadi ayah dari janin yang tengah ia kandung itu, diam membisu sedari ia bermanuver kasar di tempat praktik dokter Septa.


" Mas kenapa?" tanya Dhira yang tak tahan di diamkan.


" Gak kenapa- kenapa!" jawabnya singkat dengan fokus kepada kemudinya.


" Mas kamu kenapa sih, aku ada salah?" Dhira merasa Abimanyu merajuk.


Abimanyu tak menanggapi istrinya. Ia memilih melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Dan dalam waktu tak lama, mereka sudah berada di rumah.


Abimanyu melesat menuju kamarnya, dan Dhira turut menyusul dengan langkah tergesa. Abimanyu terlihat menambah suhu temperatur AC di kamarnya. Ia merasa gerah.


Mas Abi kenapa sih?


Batin Dhira dalam hati, seraya ingin mengganti bajunya.


Pakaian yang di kenakan Abimanyu , ia campakkan begitu saja ke lantai. Sejurus kemudian ia membalikkan tubuh Dhira yang sibuk hendak menggantung baju.


Abimanyu dengan tergesa-gesa mencium bibir Dhira. Kasar dan menggebu.


Dhira yang mendapat serangan seperti itu membulatkan matanya. Ada apa dengan suaminya pikiran.


Abimanyu tak memperdulikan protes dari Dhira. Ia melucuti pakaian istrinya dengan cepat. Membuat Dhira kini hanya mengenakan pakaian dalamnya saja.


Dhira pasrah dan kini mencoba menuruti apa mau dari suaminya itu.


Abimanyu menidurkan istrinya keatas ranjang dengan pelan,.lembut dan menuntut. Pria itu melepaskan celananya dengan cepat. Melemparkannya ke sembarang arah.


Dhira dengan hati bertanya- tanya menatap tubuh liat suaminya yang kini sudah setengah telanjang. Tanpa menunggu lama, Abimanyu kini merayap ke atas tubuh sintal istrinya. Abimanyu melu*mat bibir Dhira dengan cepat. Decakan suara pagutan mereka bahkan terdengar jelas di ruangan itu.


Abimanyu menjejaki tubuh istrinya dengan liar. Seolah menandakan bila itu adalah miliknya, hanya miliknya. Stempel kepemilikan berwarna merah itu, kini tercetak dengan jelas di sana sini.


Dhira yang merasa tubuhnya dialiri arus listrik, seketika menggelinjang. Foreplay itu terasa terburu-buru.


Abimanyu mencampakkan penutup dada Dhira dengan cepat. Sejurus kemudian ia mengecup puncak dada Dhira, melu*mat dan menyesap dengan penuh gairah. Abimanyu bak orang kesurupan.


Tak berhenti sampai disitu, ciuman yang terus terjadi itu kian menyulut panas kedua insan itu, pria itu terlihat menunduk menatap istrinya, membuat Dhira mendamba, dan menginginkan hal lebih akibat serangan mendadak yang di lakukan Abimanyu.


Kecupan itu terus berlanjut, seolah tak cukup hanya berpelukan dan saling berpagut. Puncak dada Dhira kini mengeras. Menandakan bila wanita itu juga menginginkan sentuhan lebih dari Abimanyu.


" Kau hanya milikku!" bisik Abimanyu di telinga Dhira dengan suara berat dan parau.


Dhira merapatkan tubuhnya, melingkarkan kedua tangannya ke punggung kekar dan berotot suaminya. Dhira kini tahu, suaminya itu tersulut api cemburu.


Abimanyu memastikan bagian bawah istrinya telah lembab dan siap untuk di masuki. Pria itu memposisikan bagian bawahnya yang sudah mengeras dan menegang itu, tepat di depan pangkal paha istrinya.

__ADS_1


Kedua kaki Dhira kini terangkat di depan dada Abimanyu, Dhira memejamkan matanya saat ia merasakan benda besar dan keras perlahan memasuki dirinya. Gerakan masuk perlahan dari Abimanyu membuat Dhira menghela napas.


Besar dan sesak yang membuat Dhira bak melayang saat itu juga. Nikmat dan penuh cinta.


Suaminya telah mencumbuinya saat ini. Sangat menggairahkan dan terkesan penuh emosi serta buncahan kecemburuan yang kentara.


Abimanyu meletakkan kedua tangannya di bawah kepala Dhira. Otot lengan dan otot paha pria itu terlihat mengeras dan mengetat dalam waktu bersamaan, saat tubuhnya mulai menghentak dengan kecepatan pelan menuju cepat.


Tubuh Dhira menempel erat dengan Abimanyu. Puncak dada mereka saling bersentuhan, menimbulkan percikan api panas yang menyulut gelombang menggairahkan serta memabukkan.


" Kau hanya akan menjadi milikku!" Abimanyu masih sempat memproklamirkan diri kepada istrinya itu di sela-sela adegan panas mereka. Ia ingin Dhira tahu, bila ia tengah dirundung kecemburuan hebat.


Dhira menyusuri otot lengan kekar suaminya yang bertumpu kuat seraya menopang kepalanya. Pria itu menghentakkan tubuhnya dengan gerakan cepat.


Gelombang kenikmatan itu bisa Dhira nikmati dan rasakan dengan begitu utuh. Dhira benar-benar tak bisa lari lagi dari suaminya itu.


Gerakan Abimanyu makin cepat, terus membuat Dhira meringis nyeri bercampur rasa nikmat yang membuat tubuhnya berguncang karena hentakan dari tubuh besar nan kekar itu.


Kasur ukuran king size itu bahkan kini turut berguncang. Selaras dengan gerakan Abimanyu yang menghujam tubuh istrinya dengan tempo cepat dan kuat.


Tenaga yang seolah tiada habisnya itu, kini membuat Dhira berada pada puncak tertinggi kenikmatan duniawi yang pernah ada. Bersamaan pula dengan Abimanyu yang melepaskan cairan kasih penuh kecemburuan itu kepada Dhira.


Abimanyu menyambar bibir Dhira dengan cepat saat ia mencapai puncak dari aksinya baru saja. Sesuatu yang banyak dan lembab kini Dhira rasakan berdenyut dan meledak di pangkal pahanya.


Membuat kedua tubuh polos itu berkeringat di jam sepagi itu. Dengan terengah-engah, mereka saling memeluk, perasaan saling mencintai dan mendamba yang kian terpupuk usai aksi cumbu pagi mereka.


Abimanyu merapikan anak rambut Dhira yang berantakan karena ulahnya barusan. Ia tak bisa melihat Dhira yang menjabat tangan Arya.


" Jangan kamu lakukan hal seperti tadi. Apalagi dengan Arya!" Abimanyu kini mengungkung Dhira dari atas seraya mengucapkan Kejujuran perihal kecemburuannya.


" Jadi mas cemburu?" tanya Dhira menatap lekat wajah suaminya yang kini tak berjarak.


" Sangat!!!!!! Aku gak mau lihat kamu pegang- pegang tangan Arya lagi kayak tadi. Aku bisa mematahkan tangannya jika itu terjadi!"


" Mas!!! kita harus happy dong. Ternyata Dokter Septa sama mas Ar...."


" Abimanyu menyumpal mulut istrinya dengan bibirnya saat hendak menyebut nama pria yang membuatnya cemburu itu!"


" Mmmmmm!" Dhira memukul- mukul punggung telanjang suaminya, karena ia tak bisa bernapas.


" Sudah aku bilang jangan sebut nama pria lain saat kita bercumbu. Aku gak suka!"


Dhira menghela napas panjang, lalu dia harus bagaimana?


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2