The Love Story' Of Single Parents

The Love Story' Of Single Parents
Bab 225. A Friend's Hug


__ADS_3

Bab 225. A Friend's Hug


.


.


.


...šŸšŸšŸ...


" Sahabat yang lebih karib daripada seorang saudara, jauh lebih menentramkan. Karena di jaman sekarang, banyak saudara yang bahkan menjadi seperti orang lain, hanya karena persoalan harta. Benar-benar perdagangan yang tiada pernah merugi!"


.


.


Sukoco


Dentang bel dari luar pagar membuatnya tergopoh-gopoh saat membukakan pintu rumah Shinta. Tertegun melihat seorang pria yang terus menekan bel luar yang juga terus berbunyi, dari celah pagar beraksen kayu itu.


" Loh Pak Danan belum berangkat ternyata, mobilnya disini tapi orangnya gak ada!" ia malah bermonolog seraya menuju gerbang saat melihat sedan hitam mengkilat itu masih terparkir di depan.


Seorang pemuda dengan mengenakan helm bertuliskan nama salah satu perusahaan ekspedisi, tengah berdiri seraya membawa sebuah box.


Kuat dugaan ,jelas itu adalah kurir.


Dengan sekuat tenaga, Wanita paruh baya itu menggeser gerbang dengan aksen kayu papan itu.


" Kediaman Bu Shinta Tribuana?" ucap pria itu.


" Benar!"


" Silahkan tanda tangan disini!"


Usai kurir itu berlalu, Suko melihat deskripsi di Airwaybill yang tercetak di paket tersebut.


" From Ali Ruchi!" Suko membaca nama pengirim itu sembari berpikir. Merasa mungkin itu penting, ia lantas berlari dan menuju kamar Shinta tanpa berpikir lagi.


Ia mengetuk pintu kamar Shinta dengan gencarnya.


" Bu!"


" Bu Shinta ada paket!"


Namun feeling-nya mendadak tak enak. Karena mengapa tidak ada sahutan dari dalam." Jangan-jangan!" ia kini takut bila bos-nya itu tengah berada di dalam kamar Shinta.


" Apa Pak Danan ada di dalam?"


" Astaga, kenapa aku bodoh sekali!"


Seketika tubuh Suko merinding.


.


.


Danan mendengus di hadapan Suko yang tertunduk. Pria itu ingin menatar ART yang menginterupsi kegiatan asoy geboy- nya tadi.


" Kamu ini benar-benar!" dengusnya kesal.


Ya, walau sebenarnya mbak Suko gak salah-salah amat sih.


" Dari siapa?" ucapnya datar seraya menatap kotak paket itu.


" Ini Pak!" wanita itu menyerahkan sebuah paket kepada Danan.


Pria itu mengambil kotak persegi itu dengan alis terangkat sebelah. " Ali Ruchi?" batinnya berbicara.


" Simpan saja, dan berikan itu nanti. Aku mau pergi sama Shinta!"


.

__ADS_1


.


Keheningan mendominasi atmosfer di dalam mobil itu. Tak seorangpun berminat untuk angkat bicara.


Danan sibuk dengan isi paket dari ayah mendiang suami Shinta itu. Sementara Shinta, lebih ke malu karena perlakuan Danan.


" Kira- kira apa ya isinya?"


Sejurus kemudian Danan melirik leher jenjang Shinta yang terlihat menggoda. Ingin rasanya ia mengecup dan menyesap kulit bersih itu, leher yang terlihat karena wanita itu menguncir rambutnya tinggi. Membuat otak Danan berkelana dengan nakalnya.


Shinta memilih mengenakan Jeans dan sweater tipis warna abu. Membuatnya terlihat lebih muda, ia juga hanya memoleskan liptin rasa Cherry yang membuat tampilannya segar.


Sementara yang di tatap hanya diam santai, tanpa menaruh kecurigaan apalagi ketakutan. Ia tengah asyik memandangi barisan bangunan yang seolah berjalan.


" Ehem!" Danan berdehem, tidak tahan tertelan kebisuan.


" Shin!"


" Kenapa mas?" ucap Shinta menoleh sekilas.


" Kamu kok diem?" ucap Danan masih fokus di setir bundarnya.


" Mas kan juga diem!" tak mau kalah.


Oh ****!!!


That's my bad!


Danan menghela napas. Ia terlalu sibuk menebak apa yang di kirimkan oleh pak Ali tadi, sampai-sampai ia mendiamkan Shinta.


" Kamu cantik banget kalau begini!" ucap Danan tersenyum. Membuat wanita di sampingnya itu kepalang malu.


" Makasih ya udah gak lari lagi dari aku!" Danan meraih tangan kanan Shinta, lalu mengecupnya berkali-kali seolah tiada jemu dan tiada cukup.


" Gombal!" Shinta membuang wajahnya lagi ke arah jendela. Wanita mana yang tidak grogi jika mendapat pujian dan perlakuan seperti itu. Oh my God!


" Shin!" mobil itu berhenti mendadak.


"Maaf!" ucapnya sendu.


Usai mengatakan maaf, Danan yang tak tahan dengan bibir lembab nan menggoda milik Shinta langsung menarik tuas handbreak, lalu mencium bibir Shinta, yang rupanya saat ini seperti rasa Cherry.


Pria itu menarik kepala Shinta dalam sekali rengkuhan. Bibir keduanya kini saling menempel sempurna. Mereka berciuman di bawah gempuran sinar pagi yang kian meninggi. Dan di iringi dengan suara lalu lintas mobil di jalan.


"I like it" batinnya berbicara.


Pria itu melu*mat serta menyesap bibir yang sedari tadi seoalah merayunya. Ia juga menekan leher jenjang Shinta yang sedari tadi membuatnya gelisah.


Shinta benar-benar selalu dibuat terkejut oleh aksi Danan yang tanpa mitigasi itu.


...šŸšŸšŸ...


Dhira


Senin pagi ini ia terlihat lebih sibuk dari biasanya. Seperti biasa, usai Nanang berangkat mengantar Raka dan Abimanyu juga udah berangkat, ia kini berjalan memutari rumah dengan bertelanjang kaki.


Kehamilannya yang menginjak trimester ketiga membuatnya harus sedikit melatih pergerakan.


Namun, tak di nyana. Deru mobil yang asing mendadak terdengar. Detik itu juga terlihat Sugeng membukakan pintu dengan mengangguk hormat.


" Siapa yang datang?" gumamanya seraya berjalan menuju arah datangnya mobil.


Ia menyipitkan matanya guna melihat manusia di dalam mobil itu, dan saat mengetahui siapa yang datang.


" Shinta!" ucapnya disertai rekahan senyum yang kentara.


.


.


" Jadi kamu udah sedekat ini sama mas Danan?" Dhira kini tengah mengobrol asik dengan Shinta di ruang tengah.

__ADS_1


Shinta menggigit bibir bawahnya " Aku masih bingung dengan diriku Dhir. Semua yang terjadi rasanya kayak tiba-tiba!"


Dhira memandangi sahabatnya iba namun juga bahagia. Iba karena semua hal buruk yang menimpanya, bahagia karena ia merasa saat ini sahabatnya tengah bersama orang yang tepat.


" Kamu dulu pernah bilang ke aku, life must go on!"


Shinta terpekur menatap sofa hitam dengan desain modern. Pikirannya melayang kepada wajah Rangga dan wajah Danan secara bergantian.


" Shin!" Dhira mengusap punggung sahabatnya itu " Mungkin aku gak tau rasanya jadi kamu. Aku pernah jadi janda dengan nasibku sendiri, kamu pun juga begitu!" Dhira menatap Shinta yang masih tercenung itu.


" Aku hanya..." Shinta ragu, bahkan belum genap setahun kepergian suaminya. Apakah ini tidak terburu-buru?


" Aku bahkan sekarang bingung Dhir. Jujur, aku suka sama semua perlakuan pria nekat itu!" Shinta tersenyum demi mengingat perlakuan Danan kepada dirinya.


Dhira juga turut menyunggingkan senyum " Jangan lupa, dia adalah sahabat karib suamiku. Aku yakin, jika Sekar ada disini dia pasti kita mendiskripsikan hal yang sama" sahutnya sembari terkekeh kecil.


Sejurus kemudian mereka berdua tergelak.


Beberapa detik kemudian mereka berdua kembali terdiam, Dhira memang belum tahu rasanya kehilangan seseorang yang amat di cintai untuk selamanya itu seperti apa.


" Pria itu datang bahkan saat mas Rangga masih ada Dhir, apakah aku ini bisa di sebut wanita enggak bener?" ucap Shinta tersenyum kecut.


" Hey!" Dhira meraih tangan sahabatnya.


" Stop talking like that, semua yang terjadi enggak ada yang salah Shin!"


" Kamu lihat aku, aku dulu kayak apa?" Mereka berdua saling menatap.


" Baik aku maupun kamu memiliki pertempuran kehidupan masing-masing. Berhenti menyalahkan diri sendiri ataupun orang lain, coba ganti mindset kamu dengan percaya jika semua ini adalah cara yang kuasa untuk membuat kita lebih bahagia!"


" Aku mendapat kebahagiaan seperti saat ini, juga gak datang begitu aja kan? aku juga pernah ngelewatin hal gak enak dulu kan?"


Shinta merenungi setiap ucapan Dhira yang agaknya mengandung kadar kebenaran.


" Kamu tahu, mas Indra bahkan juga sudah bersama orang yang tepat. Gak ada hal di dunia ini yang terjadi ,tanpa seijin pemilik kehidupan Shin!"


Mata Shinta memanas, ia benar-benar merasa beruntung memiliki sahabat seperti Dhira. Sahabat yang mau mendengar keluh dan kesahnya.


" Makasih Dhir?" Shinta memeluk Dhira degan tubuh agak mencondong, karena perut dari sahabatnya itu yang sudah semakin besar.


" Berhenti untuk memusingkan ucapan orang lain yang kurang perlu. Bahagia itu kita sendiri yang ciptakan!" Dhira menahan laju air matanya seraya mengusap punggung Shinta penuh kasih persahabatan.


Mereka berdua menangis dengan posisi saling memeluk. Melupakan segala beban. Berbagi kesedihan.


Usai buncahan rasa haru itu habis tersalurkan, mereka berdua memungkasi acara peluk memeluk yang sarat rasa kelegaan itu dengan menyusut sisa air mata di sudut netranya.


" Doakan juga aku bisa seperti kamu ya Dhir?" ucap Shinta mengusap lembut perut besar Dhira.


" Pasti, tapi...." Ucap Dhira menyipitkan matanya.


" Tapi apa?" Shinta menautkan kedua alisnya.


"Tapi nikah dulu sama aku!" sahut seorang pria.


Mereka berdua terperanjat saat melihat Danan yang berdiri tersenyum bersama Abimanyu dengan wajah sok cool.


" Astaga Shin, sejak kapan mereka disana?" bisik Dhira dengan wajah masih tak percaya.


" Apa mereka mendengar semua pembicaraan kita?" dengan wajah kikuk Shinta menyahut tanpa menatap Dhira.


Dua wanita itu kebingungan cenderung keheranan, saat melihat dua orang pria yang tadi pamit hendak rapat, namu kini malah nongol dengan sok kerennya.


Hamsyonggg sekali!


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2