The Love Story' Of Single Parents

The Love Story' Of Single Parents
Bab 37. Pingsan


__ADS_3

Bab 37. Pingsan


.


.


.


...šŸšŸšŸ...


"Sering kita di pertemukan dengan orang yang salah, sebelum kita di pertemukan dengan orang yang tepat"


Abimanyu mengantar Raka menuju rumah sakit menggunakan mobilnya, tentu saja ini atas permintaan Andhira. jelas ini lebih baik dari pada harus bersama Indra. Begitu pikir Dhira. Ia bahkan mengesampingkan rasa malunya, tak apa. Lebih baik malu, daripada harus satu mobil dengan mantan suaminya yang tak tahu diri itu. Sementara Devan diperintahkan untuk kembali ke perusahaan, lantaran sudah tak di perlukan lagi. Benar- benar apes.


Indra mengendarai mobilnya sendiri, sementara Pak Renaldi masih harus mengurusi pertandingan. Beliau memohon maaf karena tak bisa menunggui Raka, namun berjanji akan menemui mereka selepas pertandingan usai nanti.


Andhira merasa dirinya berkunang-kunang, tubuhnya gemetar dan keringat dingin bermunculan di dahinya saat ia sampai di Rumah Sakit. Tapi ia harus menguatkan diri, menunggu Raka selesai menjalani serangkaian pemeriksaan dulu.


"Astaga, aku kenapa ya. Kok rasanya pingin muntah!" ia membatin, saat dirinya mendudukkan tubuhnya ke kursi Rumah Sakit.


Padatnya aktivitas, membuatnya kekurangan untuk mengistirahatkan tubuhnya. Ia acap kali tak mendapat rest hour minimun, atau waktu istirahat minimal. Idealnya manusia harus bisa tidur 7-8 jam setiap harinya, sementara dirinya jelas di bawah itu.


Menjadi orang tua tunggal membuat dirinya harus bekerja keras, demi menghidupi dirinya sendiri dan membiayai sang putra. Tak ayal, ia kerap kurang istirahat. Apalagi usahanya yang baru berjalan, membuatnya harus benar-benar gigih.


Memang Bu Kartika membantu membuatkan beberapa kue dan makanan, tapi dia sebagai owner tentu saja akan menjadi yang paking sibuk. Sementara Shinta, ia sudah bersuami. Tentu saja ia akan pulang setelah bekerja, tak bisa 24 jam membantunya.


Indra mendorong Raka menggunakan wheelchair. Memasuki ruangan untuk Rontgen. Sejurus kemudian Andhira dan Indra terlihat menunggui putranya di luar. Saling berdiam diri tak ada yang berniat membuka obrolan.


Sementara Abimanyu terlihat tengah berbincang dengan seseorang dari Rumah Sakit itu, sepertinya orang penting. Terlihat dari pakaian formal yang digunakan.


Si sela sela lamunannya, terdengar suara lagu Aveanged Sevenfold yang keluar dari ponsel milik Indra. Menandakan jika sebuah panggilan telah masuk.


šŸŽ¶ Dear God the only thing I ask of you is


To hold her when I'm not around


"Halo!"


"....."


"Aku di Rumah Sakit!" jawab Indra.


"......."


"Oh ayolah, tadi kamu menolak. Aku gak bisa jemput kamu!"


"........"


"Rena, dengar!!!....."


Tut


"Oh Sh it!!!!"


Dhira melirik Indra yang mengumpat berada agak jauh darinya, menggunakan ekor matanya. Sepertinya mantan suaminya itu tengah bertengkar dengan gundiknya.


Tapi Dhira enggan bahkan cenderung tak mau tahu, jelas sudah bukan urusannya. Ia lebih memilih untuk mengirim chat kepada adiknya Bastian. Menginformasikan bila putranya mengalami cedera.


Selain itu, ia merasa dirinya sedang tak sehat. Entah mengapa, tubuh ya tiba tiba tidak bisa diajak kompromi.


Dari jauh terlihat Jodhi yang berjalan bersama dua orang, langkahnya cepat.


"Tante!" sapa Jodhi riang.


Andhira tersenyum ke arah mereka, menyembunyikan rasa tak nyaman dalam dirinya. Entahlah, sepertinya ia merasa sakit mendadak.

__ADS_1


"Mbak Dhira!" Sapa Rania, yang terlihat panik.


"Mama Jodhi!" balas Dhira, sambil berdiri. Membuat Indra yang sibuk dengan ponselnya , turut menoleh kepada mereka berdua.


"Gimana?"


"Masih nunggu, baru aja masuk!" Dhira menatap ke arah pria di samping Rania, pria yang belum pernah ia jumpai sebelumnya.


" Oh kenalkan ini Fredy Mbak, temanku!" ucap Rania memperkenalkan.


"Fredy" pria itu menggantungkan tangan.


"Saya Dhira!" ucap Dhira menjabat tangan pria itu.


"Mbak kok pucat sih?"


"Sakit?" tanya Rania kembali.


"Oh, enggak. Mungkin karena tadi sempat panik aja lihat Raka begitu!" jawabnya, ia sebenarnya merasakan rasa tak enak dalam tubuhnya. Kepalanya agak pusing.


Rania masih menatap Andhira, wanita di depannya itu terlihat tidak seperti biasanya.


.


.


Dari kejauhan Abimanyu tak fokus dengan obrolannya dengan salah satu Direksi Rumah Sakit tersebut, pandangannya tertuju kepada Dhira yang tengah menjabat tangan seorang pria.


"Siapa dia?, dan kenapa bersama Rania?"


"Jadi bagiamana?" tanya seorang rekan Abimanyu.


"Tuan!!"


"Ah iya" Abimanyu terhenyak.


"Nanti aku hubungi lagi!" Abimanyu menepuk lengan atas rekannya itu, sejurus kemudian ia melenggang pergi. Menemui adiknya juga mamanya Raka. Ahay!


Abimanyu berjalan dengan santai, memasukkan dua tangannya ke saku celananya. Pria tampan itu sukses membuat semua yang berjalan di lobi Rumah Sakit itu menatap kagum kepadanya.


"Itu ayah!" ucap Jodhi, memberitahu Rania.


"Dari mana aja Kak?" tanya Rania, namun yang di tanya justru menatap Andhira.


" Oh itu, tadi ketemu Andreas!" ucapnya seraya menatap ke arah pria yang berada di samping adiknya itu. Memindai tampilannya.


"Kak, kenakalan ini Fredy. Teman sekolah aku dulu!" ucap Rania.


"Fred, ini kakakku yang paling ganteng sedunia!!" Rania memperkenalkan kakaknya, mereka akhirnya terlihat saling berjabat tangan.


Sementara Rania hanya mengangguk sopan kepada Indra, yang berdiri agak jauh dari mereka. Begitupun dengan Fredy. Dibalas dengan perlakuan yang sama oleh Indra.


Namun sejurus kemudian,


Bruuk


Andhira tak kuat lagi menahan tubuhnya sendiri, ia beringsut ke lantai tak sadarkan diri. Membuat semua yang disana terperanjat.


"Mbak!!" teriak Rania.


"Tante!!" Jodhi turut panik


Indra kaget, tapi tubuhnya tercekat. Tak tahu harus berbuat apa.


Tanpa bicara lagi, Abimanyu mengangkat tubuh Dhira. " Tolong panggilkan dokter!" titah Abimanyu kepada Fredy, yang di balas anggukan cepat oleh teman Rania itu.

__ADS_1


Membuat Indra menatap nanar kepergian Direkturnya itu, yang dengan wajah panik membopong mantan istrinya.


"Sebenarnya ada hubungan apa mereka?" Indra bermonolog dalam hatinya.


Abimanyu membawa tubuh wanita itu ala bridal style, dengan mata yang terpejam Andhira berada dalam rengkuhannya. Ia benar-benar tak sadarkan diri. Mereka berjalan menuju ruangan lain, melewati Indra yang mematung ,menatap mereka bingung.


...šŸšŸšŸ...


"Bagaimana?" tanya Abimanyu saat seseorang berjas putih , dengan wajah rupawan yang keluar dari ruang tindakan itu.


Membuat Rania, Jodhi dan Fredy turut beranjak dari tempat duduknya.


"Pasien mengalami dehidrasi, kelelahan dan sepertinya syok!" terang Dokter Rio, yang rupanya adalah salah satu teman dari Abimanyu.


"Dia siapa?" tanya Dokter Rio.


"Bukan siapa-siapa!" jawab Abimanyu datar.


Dokter Rio mengernyitkan dahinya, " Buka siapa -siapa, tapi membuatmu panik. Cih!"


"Apa dia harus rawat inap?" Abimanyu kembali bertanya. Tentu saja dengan raut penuh kecemasan.


"Oh ayolah, kenapa begitu mencemaskan. Dia hanya pingsan karena kelelahan. Istirahat yang cukup akan membuat dia fit lagi"


"Setelah sadar kalian bisa membawanya pulang, akan aku beri multivitamin nanti!" ucap dokter Rio, yang menangkap wajah khawatir dari temannya itu.


.


.


Jodhi merengek ingin bertemu Raka, membuat Fredy dan Rania menuruti kemauan bocah itu.


"Kak, aku kesana dulu. Tapi mbak Dhira gimana?" tanya Rania.


"Pergilah, secepatnya kembali kemari, dan jangan bilang dulu kepada Raka"


Abimanyu membuka pintu ruangan itu, ia sengaja tetap membuka pintu itu lebar-lebar agar tak terjadi fitnah. Ia menatap wajah cantik andhira yang masih terlelap, wajah teduh yang membuat dirinya menarik seulas senyum.


"Apa yang sebenarnya membuatmu seperti ini" batin Abimanyu, ia begitu merasa iba dengan kondisi Andhira. Tatapannya masih tak berpaling kepada Dhira yang masih tak sadarkan diri.


"Seberapa sulit hidup yang kamu jalani?" lagi batinnya berkata.


Ia kembali teringat degan perlakuan kasar Indra beberapa waktu silam, jelas menunjukkan bila wanita di depannya ini memiliki masalah yang pelik. Begitu juga dengan dirinya.


Hey bung, kau mengasihani orang lain?, sementara kau sendiri?. Damned!!!


Abimanyu menghembuskan nafasnya kasar, berada di dekat Andhira sungguh membuat jantungnya tak baik. Berdetak tidak sesuai ritme.


Ia menatap kembali wajah lelap itu, tak bosan-bosannya.


"Cantik sekali"


Batinnya berbicara, ia menatap wajah Dhira agak lama, memindai wajah yang kerap kali hadir di ingatannya tanpa sungkan. Ia menatap bibir Dhira yang terlihat lembab, terlihat menggoda.


"Astaga!!!, aku pasti sudah gila!" ia memaki dirinya sendiri.


Jelas dia memang gila, jika tidak untuk apa dia tengah berada di sebuah ruangan, menunggui seorang janda yang tegah pingsan.


Guna menghalau pikiran kotornya, ia mendudukkan dirinya di sofa yang agak jauh dari ranjang, siang itu dirinya merasa ngantuk. Ia tertidur dengan posisi masih menyilangkan kedua tangannya, dan posisinya masih terduduk di sofa berwarna hitam itu.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2