The Love Story' Of Single Parents

The Love Story' Of Single Parents
Bab 80. Tanpamu Aku Lemah, dan tiada berarti


__ADS_3

Bab 80.Tanpamu Aku Lemah, dan tiada berarti


.


.


.


...šŸšŸšŸ...


Disarankan mendengarkan lagu Padi ~ Semua tak sama , saat membaca bab ini.


Dalam benakku lama tertanam


Sejuta bayangan dirimu


Redup terasa cahaya hati


Mengingat apa yang telah kau berikan


Waktu berjalan lambat mengiring


Dalam titian takdir hidupku


Cukup sudah aku tertahan


Dalam persimpangan masa silamku


Coba 'tuk melawan


Getir yang terus kukecap


Meresap ke dalam relung sukmaku


Coba 'tuk singkirkan


Aroma nafas tubuhmu


Mengalir mengisi laju darahku


Semua tak sama, tak pernah sama


Apa yang kusentuh, apa yang kukecup


Sehangat pelukmu, selembut belaimu


Tak ada satu pun yang mampu menjadi sepertimu


( Padi ~ Semua Tak Sama)


.


.


.


Raka sore itu baru saja bangun tidur, ia mencari mamanya karena ingin dibuatkan makanan.


"Mbak Sekar, mama mana?" tanya Raka dengan wajah masih mengantuk, hanya mengenakan celana pendek dan kaos oblong.


"Di depan Ka, mau mbak panggilkan?" jawab Sekar, yang terlihat mencuci beberapa perabot.


" Nggak usah Mbak, aku aja sendiri?" Raka menuju depan, mungkin mamanya sedang duduk di meja kasir pikirnya. Dan saat menjengukkan tubuhnya ke depan, ia melihat mamanya berucap dengan seroang laki- laki asing.


"Ma!"


Panggilannya nampak menginterupsi percakapan mama dan tamunya.


"Sebentar mas!" ucap Dhira kepada Arya.


"Ada apa nak, kamu baru bangun ya, hm? tanya Dhira.


"Emm gak jadi deh ma, Raka minta tolong sama mbak Sekar aja. Mama ada tamu" ucap Raka.


"Enggak kok, bilang ada apa?" Dhira sebisa mungkin memprioritaskan anaknya diatas segalanya.


"Gak jadi ma, cuman pingin nasi goreng buatan mama. Laper banget aku!"


"Tapi biar sama mbak Sekar aja, mbak mbak Sekar?, buatin nasi goreng!" Raka membalikkan badannya, menuju dapur.


Dhira mengehela nafasnya, sejurus kemudian ia membalikkan tubuhnya keluar kembali.


"Jam berapa mas memangnya?" tanya Dhira. Jam 7 , kalau kamu bisa nanti aku jemput ya" ucap Arya.


"Iya udah, sampai nanti!" ucap Dhira. Ia memaksakan dirinya untuk bersikap baik, meski ia sebenarnya tak memiliki rasa kepada Arya.


Ia hanya teringat ucapan ibunya jika mereka harus segera bertunangan, untuk itu ibunya juga meminta Dhira agar selalu bersikap baik kepada Arya, mengingat selama ini Arya merawat Bu Kartika dengan baik.


.


.


"Mama mau kemana?" pukul enam Dhira lekas bersiap- siap, Raka datang ke kamar mamanya.


"Ada apa nak?" Dhira tersenyum ke arah putranya.


"Mama mau pergi?" tanya Raka yang duduk di ranjang Dhira, menatap ibunya dari belakang tengah berdandan.


"Iya !"


"Kemana?"

__ADS_1


Dhira terdiam sejenak.


"Ke acara nikahan Om!"


"Om Abimanyu?" tanya Raka memastikan.


"Bukan, mama gak akan melanggar janji kalau Raka gak suka!" Dhira tersenyum memandang Raka, sejurus kemudian ia kembali menyapukan bedak ke wajahnya menghadap ke cermin.


Raka terdiam, obrolannya bersama Kakung Joko tempo hari, sedikit membuka sikap kedewasaannya dalam berpikir. "Aku gapapa kok ma kalau om Abimanyu nikah sama mama!"


Dhira langsung mengentikan kegiatannya, ia menatap putranya yang berwajah muram cenderung merasa bersalah.


"Ada apa?, kenapa tiba-tiba begitu?" tanya Dhira dengan tatapan intens.


Raka menghembuskan nafasnya," maafin Raka ma selama ini egois, Raka sayang mama. Tapi mungkin caranya salah. Rasanya gak adil kalau tahu papa mau menikah dan mama gak boleh menikah. Mungkin udah nasibnya Raka begini"


Hati Dhira seperti tertusuk, sungguh ia berada dalam titik tersendu dalam hidupnya saat ini.


Ia menghampiri Raka dan memeluk bocah itu, lama dan erat. Dhira menangis saat itu.


"Harusnya kamu cuma berfikir untuk sekolahmu saja nak, bukan untuk memikirkan mama seperti ini!" Dhira menangis', bahkan bedaknya yang baru ia sapukan turut tergerus derasnya air mata.


"Raka sudah egois sama mama!" ucap Raka yang juga menangis, Raka cuman gak mau kalau kasih sayang mama nanti berbagi ke yang lain, Raka takut itu aja ma!" Raka menyusut air matanya dengan punggung tangannya.


Dhira menahan air matanya dengan menggigit bibir bawahnya," Terimakasih nak!" Dhira memeluk Raka.


"Mama sayang sama Raka, ....sayang sekali" Dhira kembali memeluk anaknya.


"Om Abimanyu jam berapa jemput mama?" tanya Raka.


Dhira menggeleng," Bukan Om Abimanyu!"


Raka terlonjak kaget, lantas dengan siapa mamanya akan pergi. Apa dengan pria yang ia temui tadi.


"Mama minta apapun yang terjadi, Raka harus percaya bahwa mama sayang sama Raka. Ya nak?"


Raka terdiam, apa yang sebenarnya terjadi. Apakah mamanya akan menikah dengan orang yang belum ia kenal.


.


.


"Sekar, kamu kunci aja rukonya. Tutup aja sudah, saya mau pergi dulu." Ya, Sekar malam ini menginap karena Dhira akan pergi, dan dengan senang hati gadis itu menjalankan tugasnya. Raka adalah anak yang baik dan tidak rewel pikirnya.


"Baik Bu!"


Dhira sudah bersiap, ia mengenakan dress hitam dengan rambut Curly , sepatu heels warna senanda, juga make up tipis yang membuat tampilannya begitu elegan.


Tak berselang lama, mobil Arya sudah datang. Arya mengenakan pakaian formal yang fit di tubuhnya Terlihat manis.


Arya terpesona dengan penampilan Dhira yang sama sekali tak terlihat bila ia adalah seorang janda beranak satu, ia menyunggingkan senyum " Udah siap?" tanya Arya.


Dhir menganggu, tersenyum penuh keterpaksaan. Meskipun Arya mengetahui, namun ia mencoba menepis hal itu. Ia yakin seiring berjalannya waktu Dhira akan menerima dirinya.


"Kamu cantik banget Dhir!" ucap Arya tanpa menoleh, serta memasukan perseneling mobilnya.


Dhira hanya tersenyum, sejujurnya ia tak nyaman.


"Acaranya siapa?" Dhira bertanya, guna mengalihkan perhatiannya.


"Rekan sejawat, namanya Farel!"


Mereka menghadiri pernikahan Dokter Farel, Farel adalah adik dari dokter Richard. Dokter yang menjadi langganan keluarga Aryasatya. Dan tanpa di ketahui oleh Dhira, mereka akan bertemu disana nanti.


Pesta diri di selenggarakan di hotel," orang kaya pestanya selalu di hotel ya mas!" ucap Dhira, ia tak jaim meski belum sepenuhnya mengenal Arya.


"Bukan orang kaya saja, tapi untuk orang yang gak punya pekarangan luas lebih tepatnya!" Arya sengaja berkelakar. Ia merasa Dhira sangat cantik dan menawan hatinya malam ini.


"Makasih ya Dhir, kamu udah mau nemenin aku!" ucap Arya memandang Dhira.


Dhira tersenyum seraya mengagguk, benar - benar canggung.


Mobil tiba di hotel sekitar jam 18.50, mereka lalu masuk setelah menunjukkan undagan kepada petugas. " Silahkan pak!" ucap petugas itu, membungkuk hormat kepada Dhira dan Arya.


Tanpa meminta ijin, Arya menggandeng tangan Dhira, membuat Dhira menatap tangan yang saling bertaut. Sementara Arya terlihat santai.


Dhira terpaksa membiarkan tangannya di genggam oleh Arya, ia malu jika harus mendebat di saat yang seperti ini.


Tanpa mereka sadari, saat mereka sudah masuk ke ballroom hotel itu , ada sepasang mata yang memandang tajam ke arah merekam.


.


.


Wisang dan Abimanyu memenuhi undagan dari rekan mereka, Farel.


"Hey, kalian masih sendiri saja!" sapa Richard yang menggendong anak pertamanya.


"Enak sendiri, free mau kemana-mana!" tukas Wisang.


Abimanyu masih diam memandang dua orang yang menjadi perhatiannya sejak mereka masuk. Dadanya sesak, pikirannya tak karuan demi melihat Arya yang rupanya datang menggandeng tangan Andhira. Ingin sekali Abimanyu mematahkan tangan kurang ajar itu.


Apalagi, malam itu Andhira terlihat begitu cantik dengan balutan dress hitam yang memperlihatkan punggung mulusnya separuh.


"Bukan begitu Bim!" Ucap Wisang.


"Bim?"


"Oh iya, aku juga setuju!" ucap Abimanyu asal, Wisang memandang kearah pandangan Abimanyu.


"CK, si anjing rupanya terbakar! gumam Wisang dalam hati.

__ADS_1


Wisang mengalihkan pandangan Ricard sebelum pria itu mengetahui apa yang dilihat oleh Abimanyu. Namun terlambat, Arya rupanya datang menghampiri mereka.


"Selamat malam dokter Richard!" sapa Arya.


"Oh, halo dokter Arya. Apa kabar?, terimakasih Terimakasih sudah datang" Ricardo menjabat tangan Arya penuh hormat, hangat dan bersahabat.


.


.


Andhira


Ia menyunggingkan senyum terbaik selama Arya menggandeng tangannya, tak ada yang ia kenali disana. Semua rekan sepekerjaan dengan Arya pikirannya.


"Kita bertemu seniorku dulu ya!" ajak Arya.


Selamat malam dokter Richard!" sapa Arya.


Namun mata dan telinga Dhira tak fokus dengan pria yang diajak Arya bersalaman, ia malah tercengang dengan sosok Abimanyu yang menatapnya tajam. Menyiratkan aura kemarahan yang bisa ia rasakan.


Tak menyangka bila ia akan bertemu dengan sosok yang ingin dia hindari. Perasaan bersalahnya kini kembali menyelinap, merasuk ke relung hatinya.


"Dhir, kenalkan ini dokter Ricard. Dia kakak dari sahabatku, Farel!" Arya memperkenalkan Dhira kepada Richard. Begitu sebaliknya.


"Andhira!"


"Richard!"


Arya tersenyum sepanjang memperkenalkan Dhira kepada dokter Richard, namun tak dengan Andhira. Pikirannya terbagi antara Arya, dan tatapan mengintimidasi dari Abimanyu.


"Oh, anda bukannya yang kemaren mengantar Tuan Danan ke rumah sakit?" sapa Arya kepada Wisang dan Abimanyu.


Andhira menatap Abimanyu dan Wisang seolah tak saling kenal . " Ya benar, senang bertemu dengan anda kembali?" Wisang selain solutif, dia juga jago memanipulasi keadaan.


"Ini sahabat Farel Wis, sejak kuliah dulu!" terang Richard. Abimanyu memasang wajah tak ramah, menatap Dhira lekat.


"Enjoy party ya. Aku mau nemuin keluarga dulu!" Richard pamit kepada mereka semua.


"Aku ke toilet dulu mas!" ucap Dhira kepada Arya.


"Mau aku antar?" ucap Arya, Abimanyu langsung melirik Arya.


" Ga usah mas, sebentar aja!"


Mau apa kau bangsat! ucap Abimanyu dalam hati. Ia benar-benar terbakar api cemburu.


"Oh Wis, aku angkat telepon dulu?" Abimanyu berniat mengejar Dhira, Wisang yang paham dengan kode mata Abimanyu langsung menjalankan aksinya.


"Oh ya dokter emmm...." Wisang mulai mengajar Arya ngobrol, memburu waktu.


Jangan lama-lama njing, aku tak bisa menahannya terlalu lama


Wisang mengetikkan pesan kepada Abimanyu.


Di toilet...


Dhira merasa dada dan hatinya sesak. Ia tahu ini tak mudah. Berada diantara pria yang tak bisa ia hindari.


Saat Dhira hendak membuka pintu itu, sebuah tangan kekar menarik lengannya untuk masuk ke sebuah ruangan. Entah ruangan apa itu.


"Mas!!" Dhira terlonjak, Abimanyu mengunci ruangan itu sesat setelah ia menutup pintunya.


Dhira menekan ludahnya, " mas apa yang kamu lakukan!" Dhira mencoba untuk keluar namun tubuhnya di hadang oleh Abimanyu. Tubuh Dhira tak mampu mengimbangi lengan kekar nan berotot Abimanyu. Ia bahkan bis merasakan jiwa pria itu tengah berapi-api, ia meraba otot tangan Abimanyu yang menyembul diantara kulinya.


"Mas, aku mau kelu..."


Abimanyu mencium bibir Dhira, agar wanita itu berhenti berbicara. Abimanyu menekan tubuh Dhira hingga mentok ke tembok, ia melahap habis bibir Dhira. Ia merasa marah dan tidak terima, Abimanyu hatinya benar-benar terbakar.


Abimanyu menekan tengkuk Dhira menggunakan tangan kirinya, sementara tangan kanannya mencengkram paham Dhira yang tak sengaja' tersibak akibat dorongan Abimanyu yang tergesa-gesa.


Abimanyu sejenak ingin memberitahukan ketidakterimaannya saat Dhira bergandengan tangan dengan pria itu. Dhira merasa ingin berontak, namun jujur ia rindu ciuman pria yang ia cintai itu.


Dhira mendorong tubuh berat Abimanyu sebelum dirinya terlenakan kembali dengan sentuhan Abimanyu, membuat ciuman mereka terlepas. Dengan terengah-engah ia mencoba menetralisir perasaannya.


"Mas tolong jangan ganggu aku lagi, kalau mas begini terus aku semak..."


"Semakin apa Dhir?" Abimanyu berusaha mengatur nafasnya, menahan buncahan emosi yang membara, membakar kewarasannya.


"Aku ngelihat kamu bergandengan tangan aja udah bikin aku gila Dhir, aku gak bisa, aku gak sanggup!!"


"Aku udah bilang sama mas, kenapa mas gak mau ngerti!!!" Dhira menitikan air matanya. Sungguh ia stress bila harus begini terus.


Dhira memijat keningnya, ia merasa kepalanya serasa mau pecah.


"Kamu jangan-jangan suka sama dia?" ucap Abimanyu kini putus asa.


Dhira mendongak menatap tajam Abimanyu," Ya, aku suka sama mas Arya. Aku mulai suka sama diam jadi jangan ganggu aku lagi. Semoga mas ngerti!!"


Dhira langsung berbalik dan memutar anak kunci itu, sejurus kemudian ia membanting pintu itu.


Braaaaaak


"Arrrrggghhh brengsek!!!" Abimanyu benar- benar frustasi, tak mampu menahan kenyataan menyakitkan malam ini.


Sementara Dhira keluar dengan menutup mulutnya, ia menuju toilet dengan tergesa-gesa. Ia menumpahkan air matanya disana , menangis dalam diam. Ia sesegukan, namun tertutup oleh sapu tangan yang ia balut ke mulutnya. Ia tak ingin membuat pengunjung lain curiga.


Hatinya sakit saat berkata kasar kepada Abimanyu, tapi harus bagaimana lagi. Bila ia mengijinkan Abimanyu untuk dekat dengannya, sama saja membuat ibunya terluka.


Sungguh ia ingin ditelan bumi saja saat itu, tak mampu barang sedetikpun untuk menatap bola mata Abimanyu. Ia merasa bersalah, sangat merasa bersalah.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2