The Love Story' Of Single Parents

The Love Story' Of Single Parents
Bab 88. Menyingkap yang Terselubung


__ADS_3

Bab 88.Menyingkap yang Terselubung


.


.


.


...šŸšŸšŸ...


...


Tubuh Bu Kartika mendadak menegang. Tak pernah sekalipun dalam pikirannya, hari ini akan terjadi.


Ucapan Pak Joko barusan tak pelak membuat dirinya seperti Dejavu. Kembali ke masa , dimana ia masih berusia 18 an tahun. Masa dimana ia terlibat dengan pria yang menjadi mantan besannya itu, dalam urusan asmara.


"Aku menyesal karena tak mencari tahu siapa orang tua dari wanita, yang dengan segala kerendahan hatinya mau menjadi istri dari anakku yang bajingan ini!" ucap pak Joko tenang. Membuat kesemua yang disana diam.


Indra tertunduk layu, ucapan ayahnya telak. Ia memang bajingan.


Sementara Dhira terlihat menyusut air matanya. Hari ini ia merasa sakit, ditambah dengan pernyataan mantan mertuanya itu. Membuat ia merasa pusing sekali.


.


.


Abimanyu dan Wisang, rupanya baru datang. Ia sengaja tak memarkirkan mobilnya di depan ruko Dhira. Ia yang ingin membuat kejutan pagi itu, malah mejadi terkejut karena ruang samping yang dijadikan ruang tamu oleh Dhira itu, terlihat penuh.


Mau apa mereka? batinnya berbicara. Ia melihat Indra dan juga seorang pria berumur lebih dari setengah abad berdiri di ruangan sempit itu.


"Bim, kayaknya kita datang disaat yang tidak tepat deh!" tukas Wisang, turut berjalan seraya masih melempar tatapan ke arah gerombolan orang yang berdiri.


Ruko Dhira punya dua sisi jalan, yang bisa dilewati. ketegangan yang terjadi di dalam ruangan Dhira, membuat mereka tak menyadari kedatangan Wisang dan Abimanyu.


Abimanyu memilih berjalan agak jauh ke barat, dan berniat akan masuk lewat pintu belakang. Pintu dimana ia lewat tempo hari, saat adegan panas pertama kali ia lakukan bersama Dhira. Ia buru-buru menepis pikiran kotornya itu. Sebelum Wisang menyadari senyum bodohnya.


"Eh, mau kemana kita?" ucap Wisang yang bingung, mengapa Abimanyu malah melewati pintu utama ruko yang terlihat tertutup itu.


"Berisik, udah diam aja. Ikut dan diam!" Abimanyu meneruskan langkahnya, ia kini sampai di pintu belakang. Ia membuka pintu itu.


"Eh gila lu, b'rasa kayak maling aku!" Wisang menengok ke kanan, kiri, belakang dan atas. Benar-benar mirip pencuri.


Abimanyu tak menggubris ocehan Wisang, ia membuka pintu berkaca gelap itu. Ia tersenyum memandang Raka yang tengah duduk di meja makan.


"Sssssst!" Abimanyu meletakkan telunjuknya di bibir, memberikan kode kepada Raka untuk diam.


Raka mengangguk sembari tersenyum senang, bocah itu tak menyadari bila telah terjadi ketegangan di depan ruang tamu mamanya. Ketegangan yang melibatkan semua orang dewasa, dalam hidup bocah itu.


Sekar yang baru kembali dari atas karena menjemur pakaian, hampir berteriak karena kaget. Mengapa ada dua pria yang tiba-tiba nongol dari pintu belakang.


"Mbak , gapapa!" ucap Raka memberikan komando , seraya mengagguk mantap.


Sekar memandang satu persatu wajah dua pria tampan namun terlihat sudah berusia dewasa itu. Satu orang pria berwajah ganteng yang bercambang, memiliki lesung pipi, dan pernah ia lihat tempo hari. Itu kan Pak Abimanyu. Batinnya.


Dan ia memindai tampilan pria satunya lagi, pria tampan bermata sipit namun berkulit lebih gelap dari Abimanyu, ya bisa dibilang. Sawo matang lah. Tapi wajah pria itu, benar-benar tak seramah wajah Abimanyu.


"Raka!" ucap Abimanyu lirih, ia tahu orang-orang di depan tengah terlibat obrolan serius. Abimanyu tak peduli, ia ingin mengutarakan isi hatinya setelah ini. Bahkan aksinya saat ini, cenderung seperti sebuah layangan protes kepada Bu Kartika.


"Ya Om?"

__ADS_1


"Dengar, om tidak tahu siapa saja yang di depan. Tapi bisa om minta akses tempat agar kita bisa mendengar pembicaraan mereka?"


"Om tadi melihat ada papa kamu!"


Rak mengangguk mantap. Meski ia tak tahu pasti apa yang bakal di lakukan Abimanyu. Namun mengabulkan permintaan sepele Abimanyu, tentu bisa segera ia wujudkan.


Sekar masih diam, ia ikut deg-degan. Sementara Wisang lebih ke mengamati desain dapur Andhira, yang menurutnya lebih mirip gudang setelah Abimanyu dan Raka pergi.


"Jika janda itu bisa kembali ke pelukanmu, sepertinya kau harus merobohkan tempat ini" gumam Wisang lirih, namun Sekar masih bisa mendengar.


"Hey apa maksud anda Tuan?" tentu saja Sekar meradang.


Wisang sampai lupa menyadari, bila masih ada satu orang manusia dari golongan Hawa di sana. "Oh. Tidak ada. Memangnya aku bilang apa?" ia menatap Sekar, dengan tatapan biasa. Namun gadis manis itu, menatapnya tajam.


.


.


Bu Kartika tak bisa berkata-kata, ia hanya menangis. " Buk, ada apa sebenarnya ini?" Dhira menjadi bingung. Namun tak mendapat jawaban dari ibunya barang sedikitpun.


"Aku tidak pernah mengira hatimu sebegitu dangkalnya Tik." Pak Joko menatap datar ke arah Bu Kartika yang terlihat menahan buncahan rasa tak tenang.


Bastian bahkan sudah sangat geram, ia yang dari dulu tak menyukai Indra turut tak terima dengan ucapan pria tua yang berdiri di samping mantan kakak iparnya itu, ia mengenal pak Joko. Tapi tentu saja, sebagi seorang anak ia tak akan rela bila ibunya di sakiti oleh orang lain.


"Maaf pak, apa maksud ucapan anda?" sahut Bastian.


"Kau diamlah. Biar aku menyelesaikan tugasku!" ucap pak Joko tenang.


Indra bahkan terus menautkan alisnya, selama ia menjadi audience disana. Ia benar-benar tak mengerti apapun.


"Jikalau kau ada tidak terima dengan masa lalu kita, maka harusnya kau juga tak pantas membuat hidup anakmu sama seperti dirimu!" ucap pak Joko.


"Kau tidak perlu iku campur!" jawab ku Kartika. Menatap tajam kepada Pak Joko.


"Tentu saja aku ikut campur, ada cucu ku yang terluka disana. Melihat mamanya yang tak memiliki daya, karena diperbudak rasa bersalahnya kepada orangtuanya!" sindir pak Joko.


Bu Kartika menoleh kepada Dhira yang masih berwajah bingung, seolah anaknya itu ingin meminta penjelasan.


"Aku juga bodoh, kenapa aku tidak mencari tahu siapa orang tua dari wanita baik seperti Dhira."


"Aku yang bodoh, kenapa tidak mencari tahu mengapa masih ada ibu yang seegois itu, bahkan untuk sekedar memberikan restu yang menang sudah harus menjadi tugasnya sebagai orang tua!"


Bu Kartika menggeleng lemah. Ia tak percaya bila pria di hadapannya itu kembali. Bahkan luka lama seolah terbuka kembali.


"Kartika adalah wanita yang ku tolak saat hendak di jodohkan denganku, saat aku masih muda dulu!" ucap pak Joko dengan wajah sendu, menatap ketiga manusia bingung di depannya.


Jeduuuuaaaaarrrr


Wajah bingung dari Indra , Dhira dan Bastian kini bertambah dengan aksen mata bulat, karena semakin terkejut.


"Ayah!" Indra menoleh kepada pak Joko.


"Sekarang ayah tahu, mengapa dulu saat Dhira nekat menikah denganmu. Ia tak mendapati restu dari ibunya"


Ya, kebenarannya adalah Pak Joko merupakan kepingan masa lalu dari hidup Bu Kartika. Sebelum ia menikah dengan ayah Dhira dan Bastian, ia sempat di jodohkan dengan pria bernama Joko. Pria dari anak orang yang kaya waktu itu. Dan Bu Kartika sangat menyukai Joko waktu itu.


Namun Pak Joko waktu itu sudah menambatkan hatinya kepada Bu Novi, wanita sederhana yang bisa menetralkan sifat emosional yang dimiliki oleh Pak Joko.


Pak Joko saat itu lebih memilih tak mendapat warisan, asal bisa bersama Bu Novi. Membuat hati Bu Kartika terluka. Ia merasa dirinya terhina karena penolakan yang dilayangkan oleh Pak Joko.

__ADS_1


Selama itu pula, Bu Kartika membenci pria itu. Sampai suatu saat, ia mengetahui bila anaknya dekat dengan Indra. Ia tahu bila Indra adalah anak dari Joko. Namun Pak Joko tidak tahu siapa keluarga Dhira. Takdir memang kadang selucu itu.


Bu Kartika mewanti-wanti agar Dhira tak bersama Indra. Ia ingin menjodohkan anaknya dengan orang lain. Ia merasa ia tak boleh membiarkan anaknya untuk memilih sendiri, karena baginya ia memposisikan dirinya itu adalah seorang ibu yang hanya ingin melindungi putrinya.


Lagipula, ia bahkan sempat protes kepada Tuhan . Mengapa lingkaran kehidupannya harus di pertemukan lagi dengan Pak Joko.


Dan puncaknya, hasrat untuk selalu menjodohkan anaknya guna kepuasan diri sendiri , masih gencar di lakukan. Apalagi saat bertemu Bu Hana, ia yang merasa cocok satu sama lain dengan temannya itu , langsung memutuskan untuk memperkenalkan anak anak mereka.


Ia juga merasa, ia dan Bu Hana memiliki nasib yang sama. Menjadi seorang janda. Apalagi Arya tak menolak ajang perjodohan mereka. Kini rasa hatinya terpuaskan, karena keinginannya bisa terselenggara. Begitu pikir Bu Kartika.


"Kau sungguh egois!!! Jika ada ibu yang baik, tentu ia akan memprioritaskan kebahagiaan anaknya. Bukan kebahagiaannya sendiri, dengan dalih ingin membuat hidup anaknya lebih baik!!"


.


.


Abimanyu dan Raka berada di sebuah ruangan yang berada di samping ruang tamu. Terdapat pintu konektor yang bisa dengan jelas digunakan untuk mendengarkan percakapan mereka.


Raka tak begitu mengerti arti percakapan para orang dewasa itu, namun ia bisa menarik kesimpulan dari membaca raut muka Abimanyu yang terlihat mengeraskan rahangnya. Jika mereka terlibat masalah besar.


Abimanyu menduga benang kusut itu akan terurai. Tapi itu masih sebatas dugaan, bukan putusan. Ia juga penasaran, siapa sosok pemikir suara berat yang mendominasi pembicaraan itu sedari tadi.


Raka mengamati wajah Abimanyu, yang tengah serius mendengar obrolannya lima orang di ruang samping itu. Pria di depannya itu sampai mengeluarkan keringat sebesar jagung , di bagian dahinya. Raka bisa melihat wajah Abimanyu dari dekat, pria itu memang tampan batinnya.


Sementara Sekar dan Wisang berada di balik pintu penyambung antara ruang tamu dan dapur, mereka berdiri di balik tumpukan kardus. Guna menghalau pandangan, agar mereka tak ketahuan saat sedang menguping.


Sekar tak tahu bila Wisang turut mengekor di belakangnya. Gadis itu tengah asyik melihat perdebatan yang menegangkan. Sementara Wisang, turut memanjangkan lehernya agar bisa melihat siapa saja peserta debat disana.


Namun saat Sekar ingat bila dirinya tengah menggiling baju di mesin cuci, ia membalikkan badannya. Ia ingin melihat proses cuciannya di mesin cuci, dan tiba-tiba...


Cup


Bibir Sekar tak sengaja menempel tepat ke bibir Wisang. Dengan kata lain, ia tak sengaja mencium Wisang yang sedikit mencondongkan tubuhnya, karena ingin melihat kejadian di depannya. Tingginya yang mencapai 185 cm, sangat kesulitan untuk mengintip celah ambang pintu bila tak merendahkan tubuhnya.


Sekar membelalakkan matanya, sementara Wisang tercekat.


Mereka berdua saling menatap dengan bibir masih menempel selama beberapa detik, saat kesadarannya mulai muncul Sekar mendorong tubuh Wisang.


"Kurang ajar!"


Plaaaak


Sekar menampar pipi Wisang," dasar mesum!!" kemudian ia pergi seraya mengusap bibirnya dengan wajah malu.


Sementara Wisang kini berkacak pinggang usai meraba pipinya yang panas akibat dihadiahi tamparan oleh Sekar.," Dia yang menciumku, dia juga yang menamparku!" Wisang geleng- geleng keheranan.


"Beraninya dia menampar seorang Wisanggeni. Aku bahkan belum tahu siapa nama wanita itu!"


Sejurus kemudian Wisang meraba bibirnya dengan wajah tersenyum.


.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2