
Bab 53.Ambigu
.
.
.
...๐๐๐...
"Mengapa berat ungkap cinta, padahal dia ada"
( Diambil dari lirik lagu Acha Septriasa )
Andhira
Dhira malu lantaran seolah menjadi maling yang tertangkap basah oleh Danan, namun kedatangan pria berwajah agak bule itu nampaknya sedikit membawa rasa penasaran di hatinya.
"Gwen datang sama anak elo itu!!" pria itu berkata demikian, ia bukan wanita bodoh. Jelas yang dimaksud mungkin adalah istrinya yang satu dekade ini telah Hiatus.
"Apa???" mata Abimanyu membulat tak percaya, bahkan dirinya.
Ia bahkan mengikuti langkah panjang dua orang di depannya, mengabaikan perasaan ambigu yang muncul karena niat yang di kukuhkan oleh Abimanyu. Sungguh, ia masih bisa merasa terselamatkan.
.
.
Abimanyu
Ucapan Dananjaya barusaja membuat dia nampak seperti orang bodoh, kosakata Danan jelas, namun agaknya ia pasti bermimpi kali ini. Masih tak percaya.
Ia bahkan masih sempat memandang wajah pias mama Raka , sesaat sebelum mereka pergi menuju ruang utama tempat di adakan pesta disana. Ada dua kemungkinan, mungkin karena saat diajak ngobrol atau karena mendengar ucapan Danan.
Dan demi apapun yang ada di dunia ini, Abimanyu benar-benar membelalakkan matanya demi melihat istrinya yang sudah ia kira musnah di negeri antah berantah saat ini berada tepat di depannya. Ia beralih memandang bocah perempuan berusia di bawah Jodhi dan Raka. Bocah itu masih bergelayut manja di lengan Gwen.
"Mas!" satu kata yang sudah satu dekade tidak ia dengar, kini muncul kembali dari bibir wanita yang bak hantu kemunculannya.
Ia masih tercekat diantara para pengunjung pesta, wanita itu nampak tak berubah. Hanya saja rambut yang dulu sering pirang, kini menjadi hitam berkilau, dan baju yang sering tampil sexy kini menjadi lebih tertutup.
.
.
Nyonya Regina
Dia yang awalnya sudah bahagia dan bisa berdiri kini kembali terduduk di kursi rodanya, lantaran kaget saat melihat Gwen yang tiba-tiba muncul bersama seorang anak kecil. Ia terlihat memijat keningnya, mungkin saja tekanan darahnya langsung naik seketika.
Rania bahkan tak mampu berucap, ia dulu yang paling gencar menanyakan kabar Gwen, tapi entah mengapa malam ini ia nampak tak terlalu gembira dengan kedatangan kakak iparnya yang Hiatus itu.
.
__ADS_1
.
Negeri Jiran 10 Tahun silam
Gwen
Dia terpaksa meninggalkan Abimanyu karena sebenarnya dia tak memiliki rasa kepada pria itu, perjodohan yang dilakukan oleh keluarganya dengan Oma Regina agaknya sedikit membuat jalan hidupnya tak sesuai dengan isi hati. Ia sudah belajar mencintai, namun hati tak bisa di paksakan.
Saat itu dia mengira bila dengan menikah bersama Abimanyu, ia akan bahagia karena banyak uang dan jelas hidupnya akan makin terjamin. Namun hatinya tak bisa di bohongi, ia memilih meninggalkan mereka tanpa pamit demi cintanya.
Adalah Senopati, pria yang lebih dulu menjalin cinta dengan dirinya. Pria itu tak sekaya Abimanyu, namun dihari dimana ia tahu bila Gwen pergi liburan bersama Abimanyu membuat hatinya mendidih.
"Ikutlah denganku, kita akan bersama-sama. Akan ku urus semuanya!"
Mereka berdua sepakat untuk menghilang dan menjalani hidup di tempat baru, kesalahan mereka adalah tidak jujur kepada semuanya. Dengan uang yang ada, merek mengganti status kependudukan dan menghilangkan identitas dengan menyogok beberapa pegawai.
Dengan kekuatan uang, apapun bisa mereka dapatkan. Kecuali sejumput kebahagiaan yang menguap bersamaan datangnya petaka. Bahwa Senopati meninggal saat kecelakaan. Ya, takdir selalu mengajak kita untuk bermain-main dengan kesedihan juga kebahagiaan.
Malang tak dapat di tolak, untung tak dapat di raih. Hasil pernikahan siri mereka membuahkan seroang anak perempuan berusia Tahun. Ya, pasca dia kabur dia langsung Enak-enak bersama Senopati. Namun, ia tak bisa memastikan anak perempuannya itu bibit dari siapa. Lantaran ia juga tak absen untuk melayani Abimanyu beberapa hari sebelum mereka memutuskan untuk minggat.
Kesulitan uang dan keadaan terdesak membuat pikirannya menjadi berubah, ia melirik anaknya yang tengah bermain di apartemen miliknya yang di beli bersama Senopati, sekelebat rencana licik muncul.
Puncaknya adalah ia berniat kembali ke tanah air, untuk bisa mendapatkan kembali kehidupan yang bisa memberikan dirinya jaminan bagi kelangsungan hidup anaknya. Ia juga tak tahu, kapan ia akan selamat disana selama menggunakan identitas palsu.
Ia mencari info terkait suaminya itu, dan seperti harapannya Abimanyu belum menikah. Ia segera mengurus kepulangannya. Menyiapkan ini- itu dengan teliti, baginya yang terpenting adalah anaknya, Calista. Ia sudah mengesampingkan rasa malunya, ia masih bisa mencari alasan lain nantinya, saat semua orang memberondong dirinya dengan pertanyaan.
...๐๐๐...
Ruangan yang ramai berangsur sepi, hanya tinggal beberapa pelayan juga petugas keamanan yang menyisir tempat itu. Mengantisipasi kalau- kalau ada benda yang mencurigakan.
Ya, Rania meminta bantuan kepada Rania untuk membantunya mengurusi Oma sebentar.
Sementara Andhira lebih memilih di dapur untuk membuatkan minuman hangat untuk Nyonya Regina . Ia masih merasa aneh saat melihat Gwen dan Abimanyu yang berjalan bersama menuju lantai dua.
Abimanyu di temani dua sahabatnya tengah berada di meja kerjanya, duduk berhadapan dengan Gwen. Membisu selama beberapa detik.
"Aku akan tunggu diluar, kalian bicaralah!" Wisanggeni adalah pria paling solutif disana, ia tahu harus ada yang dibicarakan diantara mereka berdua.
"Kau tahu apa yang harus kau lakukan!" Danan menepuk bahu Abimanyu.
Menyisakan tiga manusia disana, Abimanyu, Gwen dan Calista yang nampak berwajah sendu.
Ditatapnya bocah itu," kau pasti lelah. Istirahat dulu!" Abimanyu mengusap puncak rambut hitam gadis itu. Abimanyu kasihan melihat bocah itu, meski ia belum tahu siapa dia.
Diruang kerja itu ada sebuah kamar, Calista yang memang sudah lelah sehabis dari perjalanan itupun hanya menurut meski ia tak kenal dengan pria di depannya.
Suasana menjadi hening selepas Calista sudah menenggelamkan dirinya di dalam mimpi, menyisakan dua manusia yang diliputi perasaan tak seirama. Gwen terlihat memainkan ujung jarinya.
"Jelaskan apa yang harusnya aku dengar!" ucap Abimanyu memejamkan matanya, menahan emosi, kekecewaan dan kemarahan yang masih bisa ia tahankan.
"Maaf!" satu kata yang terlontar dari mulut wanita itu. Dengan raut wajah penuh sesal dan mata yang merah.
__ADS_1
"Oh ayolah Gwen!, apa sekian tahun kita tak bertemu dan hanya kata maaf yang aku dengar?, kau sudah meninggalkan aku, meninggalkan Oma, meninggalkan pernikahan kita!!!" Abimanyu nampak menggebu-gebu saat berbicara, nafasnya memburu, urat syarafnya tegang.
Gwen menangis, entah air mata asli atau air mata buaya. Ia masih terisak, sesal menelusup hatinya namun jelas sudah tiada berguna.
"Aku- Aku!!" ucap Gwen di sela-sela tangisnya.
"Bicara yang jelas!" Ya, Abimanyu berhak bahkan berhak sekali untuk melupakan semua rasa tak menyenangkan yang selama ini bersarang di hatinya.
"Keluargamu mengancamku karena aku tidak segera memiliki anak darimu, aku wanita normal Bim. Yang juga ingin bisa memberikan kebahagiaan!"
Abimanyu terdiam.
Memang benar dua tahun setelah menikah Gwen masih belum juga mengandung, ia sempat bercumbu dengan Abimanyu saat mereka liburan, dan setelah dua hari minggat bersama Senopati dia juga bercumbu dengan pria itu. Entahlah, yang jelas perbuatannya di hari itu cukup menguntungkan dirinya, lantaran Abimanyu pasti percaya jika Calista adalah anaknya.
"Dan saat aku mengasingkan diri, aku baru tahu jika aku hamil. Namanya Calista, usianya hampir 11 kurang 5 bulan!" ucap Gwen, ia mendapat ide ini secara mendadak. Ia sendiri sampai saat ini tak bisa memastikan itu anak Abimanyu atau Senopati. Karena satu liangnya dalam kurun waktu tak kurang dari satu Minggu, sudah di masuki oleh dua benda penting dari pria yang berbeda.
Abimanyu menatap intens kearah Gwen, ia bingung. Entahlah otaknya tak bisa bekerja saat ini. Dan selama Gwen pergi, Abimanyu bahkan tak sekalipun menjatuhkan talak untuk Gwen. Itu artinya mereka masih sah suami istri.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Keterangan : Dilansir dari Theasiaparents.com
Mengutip situs Konsultasi Syariah, perceraian hanya bisa terjadi apabila suami menjatuhkan talak kepada sang istri. Menurut Fatawa at-Talak Ibnu Baz, ada tiga kondisi yang membuat perempuan dalam status talak, yaitu:
Suami menjatuhkan talak kepadanya.
Ketika menjatuhkan talak, suami dalam kondisi sehat akal, tidak dipaksa, tidak gila, tidak mabuk, atau semacamnya.
Istrinya tidak sedang haid dan belum digauli, atau sedang hamil, atau sudah menopause
Maka untuk kasus perpisahan yang cukup lama, status pernikahan mereka masih sah apabila belum menjalani proses perceraian atau tidak sesuai dengan kondisi di atas. Meski telah lama berpisah, dua orang masih berstatus suami istri apabila belum ada ucapan talak dari sang suami. Hal ini sesuai dengan Fatawa Syabakah Islamiyah:
__ADS_1
ู ุฌุฑุฏ ุบูุงุจ ุงูุฒูุฌ ุนู ุฒูุฌุชู ูุง ูุญุตู ุจู ุงูุทูุงู ู ูู ุง ุทุงูุช ุงูู ุฏูุฉ
Yang artinya: โSemata-mata berpisah antara suami dan istri, belum terjadi talak, meskipun waktunya lama.โ (Fatawa Syabakah Islamiyah)