
From Author : Mohon untuk membedakan karya ini adalah fantasi atau kenyataan. Semua cerita hanyalah imajinasi author sendiri, apa yang menjadi alur cerita semata-mata hanya sebagai hiburan. Jika terasa kurang match di hati pembaca boleh skip, karena kisah dalam novel tak terbatas hanya cerita kenal, suka lalu menikah.
Jangan lupa tap jempol dolo sebelom baca.
Matur Nuwun
Jadilah pembaca yang bijak yang readers.
ššš
Bab 71. Benang Kusut
.
.
.
...ššš...
"Ini begitu salah, tapi ini juga begitu benar untuk aku yang dilanda cinta!"
( Diambil dari lirik lagu Dewi- Dewi Begitu salah begitu benar)
.
.
Kediaman Keluarga Wiguna
Bu Hana nampak menyukai Dhira, sempat mencicipi aneka kue dan juga makan di kedai dengan nama Dapur Isun itu, membuat Dhira mendapatkan nilai plus. Menantu idaman pikirnya, ia heran mengapa wanita seperti Dhira ada yang tega mengkhianati.
"Arya, bagaimana Dhira menurutmu? Bu Hana yang tengah sarapan pagi itu mengawali obrolan mereka dengan teman Dhira.
"Cantik!" jawab Arya dengan wajah biasa.
"CK, selain itu?" Bu Hana nampak mendecak sebal pada putranya itu.
Ary hanya mengendikkan bahunya.
"CK Arya?!"
"Aku tidak tahu ma, yang aku tahu dia cantik udah" jawaban Arya memang ada benarnya, saat mereka bertandang ke Dapur Isun memang belum terjadi interaksi apa-apa dari mereka.
Dhira hanya sebatas menanggapi obrolan dalam batas wajar orang yang baru pertama kali bertemu.
"Mama ingin kamu segera cari istri Ya!"
"CK, ma. Tolong yang dibahas jangan itu-itu trus ma!" Arya cukup jengah, sebagai pria dewasa ia masih belum bisa sepenuhnya melupakan rasa sakit akibat di campakkan oleh mantan tunangannya.
"Arya, selama ini Mama gak pernah minta kamu aneh aneh. Si Diandra juga kamu kenal lewat cara kamu sendiri, tapi yang kami dapat apa?. Pengkhianatan!!! mama cuma ingin kamu segera menikah dan bahagia. Lihat teman-teman kamu, mereka sudah punya anak semuanya. Kali ini mama minta kamu nurut sama mama. Dhira memang janda, tapi dia wanita baik- baik, mama juga kenal dengan mamanya, sama sama korban pengkhianatan kayak kamu!" Tukas Bu Hana panjang kali lebar kali tinggi dibagi dua, udah kayak rumus luas suatu bangunan saja.
"Apa?" Arya tak menyangka, bila wanita yang ia temui kemaren memiliki nasib yang sama dengan dirinya.
Bu Hana menatap ke arah putranya," Mama dengan mamanya Dhira berharap kalian bisa saling kenal dulu. Cinta bisa tumbuh karena terbiasa. Ingat umur kamu, keburu gak mempan senjata kamu nanti!"
"Mama!" Arya terhenyak, tak menyangka bila mamanya akan berkomentar seperti itu.
Arya memiliki usia yang sama dengan Dhira, ia pergi dengan keadaan lesu ke rumah sakit pagi ini. Diam termangu di belakang kemudinya, wanita itu cantik hanya saja sedikit kurang komunikatif pikirnya.
Entahalah, tak bisa dipungkiri ia melejit dalam presentasi dan karir namun selalu siap dalam urusan asmara. Damned!!!
__ADS_1
...ššš...
"Shin, ini udah orang kedelapan yang mau aku interview!" ucap Dhira sedikit hopeless pagi ini. Ia mulai letih karena dengan keterbatasan kemampuan untuk mewawancarai orang lain, ia harus dengan cepat menemukan orang yang dapat membantunya.
"Yakin aja, dia lebih muda kayaknya. Tapi, usia gak menjamin kedewasaan seseorang" tukas Shinta yang membawa sebuah nampan berisi donat montok dengan aneka topping Glaze.
"Suruh dia masuk deh Shin" Dhira meminta Shinta untuk menyuruh seorang wanita muda itu masuk ke pintu samping rukonya. Interview sederhana yang lebih mirip seperti acara talk show, karena duduk di sofa dan tak ada pertanyaan resmi.
Dhira hanya perlu orang yang free dalam waktu panjang, serta kadang mau untuk menginap disana. Mengingat mereka akan buka kedai hingga malam.
"Selamat pagi Bu!" sapa wanita itu saat membuka pintu , terlihat ramah namun Dhira bisa menebak jika wanita muda itu tengah mempraktekkan ilmu saat akan interview, yang marak di posting di internet.
"Pagi, silahkan duduk!" ucap Dhira.
Wanita itu duduk, Dhira memindai tampilannya. Ia seorang wanita muda dengan rambut sebahu, berwajah manis. Kulitnya eksotik, mengenakan kemeja resmi dengan jeans gelap juga flatshoes warna hitam.
"Perkenalkan diri kamu!" ucap Dhira ramah.
"Selamat pagi Bu, perkenalan nama saya Sekar Dwi Pangesti, biasa di panggil Sekar..."
Wanita itu berbicara dengan penuh percaya diri, Dhira bisa menyimpulkan wanita itu memang terlihat seperti seorang yang menghafalkan teks. Terlalu mandatori dan saklek. Jelas menandakan jika dia seminat itu, hanya untuk bekerja di sebuah kedai. Dhira yakin pasti wanita itu sudah belajar bicara semalaman dengan menghadap ke kaca.
Dhira masih menyimak saat wanita itu memperkenalkan dirinya," Kalau saya menerima kamu, kamu bisa gak kerjanya full day terus kadang nginep disini?" tanya Dhira. Pertanyaan pamungkas, yang beberapa waktu ini selalu berakhir dengan keputusan asaan, karena kebanyakan mereka tak menyanggupi.
Suasana mendadak senyap.
"Saya bersedia Bu, kebetulan saya cuma ngekost disini?"
Sekar bercerita bila dia datang ke kota ini karena merantau, ia tahu informasi pembukaan pekerjaan ini dari temannya yang pernah beli kue di Dapur Isun, yang tak sengaja membaca papan pengumuman yang tertempel di depan tembok ruko Dhira, kemudian menginformasikan berita itu kepadanya.
Dia juga bercerita bila dia adalah yatim piatu, baru saja di PHK dari pekerjaannya karena pengurangan karyawan efek pandemi.
"Baiklah Sekar, saya terima kamu!"
...ššš...
"Ibu sakit apa Bas?" Dhira agak panik, ia tengah bersiap menuju rumah Bu Kartika.
"Gak tau, ibuk sulit kalau disuruh periksa. Palingan cuma bilang jemput mbakmu kesini, ibu pingin dipijat sama dia!" Bastian mempraktekkan gaya bicara Bu Kartika yang terlihat ringkih sewaktu sakit.
"Bas!" Dhira menatap tajam adiknya yang malah membuat ibunya sebagai guyonan.
Bastian terkekeh, karena ibunya itu jika sakit bisa dengan cepat bermetamorfosal menjadi pribadi yang kontas.
Mas jangan telpon dulu atau Wa, aku mau kerumah ibuk. Ibuk sakit, Raka sering bawa ponselku kalau dirumah.
Dhira terpaksa memberikan warning, ia hanya ingin semua terkendali untuk sementara waktu.
Mereka tiba dirumah Bu Kartika lewat magrib, Dhira langsung menuju kamar ibunya.
"Buk, ibuk kenapa?" Dhira menempelkan punggung tangannya ke dahi ibunya.
"Badan ibu panas?" ucap Dhira khawatir.
"Ibuk cuma kecapekan aja Dhir, nanti kamu kerok juga udah sembuh!" suara parau terdengar dari mulut Bu Kartika.
"Ibuk udah makan?"
Bu Kartika menggelengkan kepalanya, membuat Dhira mengehela nafas lesu.
"Ibuk bangun bentar, ayok aku suapin setelah ini!"
__ADS_1
Dhira menuju dapur dan mengambil nasi serta lauk yang ada. Tak lupa Dhira mengambil segelas air hangat untuk ibunya.
"Raka temui dulu mbah Uti!" ucap Dhira kepada anaknya.
Raka terlihat mencium punggung tangan neneknya," Kamu istirahat sana le. Kasihan kamu pasti capek?" ucap Bu Kartika mengusap lengan Raka.
Dhira menyuapi ibunya. Itulah yang membuat Bu Kartika lebih senang dengan anak perempuannya. Dhira begitu telaten, dan juga gerak cepat dalam hal apapun.
"Makan yang banyak, kita periksa setelah ini!" ucap Dhira masih sibuk dengan nasi dan lauk di piring yang ia sangga .
"Dhir!" ucap Bu Kartika.
"Ibuk kepingin kamu kenal sama anaknya Bu Hana!"
Deg
Dhira menggigit bibir bawahnya, bersiap menunggu kalimat selanjutnya dari mulut ibunya.
"Kamu gak baik kalau terus-terusan sendiri begini!" Dhira masih terdiam, sambil terus menyuapi ibunya.
"Mereka keluarga baik- baik. Ibu ingin jika ibu nanti sudah meninggal, kamu sudah dalam keadaan bahagia!"
"Buk!" ucap Dhira dengan wajah tak suka bila ibunya membahas soal kematian.
"Kalau kamu ingin ibukmu ini tenang, tolong kali ini turuti permintaan ibukmu!"
Hati mana yang tak sedih bila harus dilibatkan dalam obrolan mengenai kematian, yang siapapun tidak tahu kapan akan mendapatkan giliran, apalagi orang tuanya sendiri yang mengajaknya berbicara.
Dhira harus bagaimana, apa dia berterus-terang saja soal kedekatannya dengan Abimanyu. Tapi bagiamana jika Raka mendengar. Ia sampai memanjangkan lehernya guna memastikan Raka sudah tidak ada diruang tengah itu, ruangan yang terletak paling dekat dengan kamar Bu Kartika.
"Buk, maaf tapi Dhira sudah terlanjur dekat dengan mas Abimanyu buk!"
Bu Kartika diam, tak melanjutkan kunyahan yang tengah ia lakukan.
"Apa maksud kamu?" dia bahkan masih menunggu proses sidang!" Bu Kartika tahu, karena Nyonya Regina masih saling kasih kabar dengan menelpon Bu Kartika, sekedar menanyakan kesehatan wanita tua itu.
" Dhira, coba kamu pikir. Apa kata orang-orang jika kamu langsung menikah dengan Abimanyu!"
"Kamu akan disangka menjadi orang ketiga dalam pernikahan mereka, sekalipun mantan istrinya itu pernah meninggalkan Abimanyu!"
Dhira masih tertegun, bagaimana caranya agar ibunya itu mengerti bila mereka saling mencintai, dan sudah terlalu jauh dalam melangkah.
"Ibuk lebih suka kamu dengan Arya, dia pria yang baik. Bukan maksud ibuk menilai Abimanyu tak baik, dia juga baik bahkan terlampau baik kepada keluarga kita. Tapi Dhir, jarak kasta kita dengan mereka itu terlampau jauh!"
"Pikirkan stigma masyarakat, kamu akan di cap wanita yang silau harta setelah berhasil menyingkirkan mantan istri Abimanyu!"
Mata Dhira memanas, padahal bukan itu yang sebenarnya terjadi. Tapi mengapa stigma janda yang melekat pada dirinya selalu membuat dirinya sulit.
"Kamu pikirkan ucapan ibuk, ibuk mohon sama kamu, tolong dengar ibuk. Ibuk hanya ingin kamu bahagia. Itu saja!".
Apa yang harus dilakukan Dhira kalau sudah seperti ini, rupanya dengan jujur kepada ibunya pun masih tak bisa menjebol pertahanan ibunya yang kekeh menjodohkan dirinya dengan anak temannya itu.
Apa yang harus dia lakukan?, sementara Abimanyu dan dirinya sudah terlampau jauh dalam melangkah. Bagaimana caranya dia menjelaskan kepada Abimanyu, dan jika dia menolak permintaan ibunya ia tak bisa membayangkan petaka apa yang akan terjadi lagi nanti.
Sungguh, ia merasa lelah dengan hidupnya.
.
.
.
__ADS_1
.