The Love Story' Of Single Parents

The Love Story' Of Single Parents
Bab 77. Seringai Licik


__ADS_3

Bab 77. Seringai Licik


.


.


.


From Author : Sekali lagi ini adalah Adult Romance Novel ( Novel Romantis Dewasa), jika like lanjut baca jika tidak bisa skip. Berhenti untuk komen yang tidak pada tempatnya.


Mommy love semuanya 😘😘😘


.


.


...šŸšŸšŸ...


Disarankan mendengarkan lagu Naff ~ Kenanglah aku, saat membaca part ini


Karamnya cinta ini


Tenggelamkanku di duka yang terdalam


Hampa hati terasa


Kau tinggalkanku meski 'ku 'tak rela


Salahkah diriku hingga saat ini?


'Ku masih mengharap kau 'tuk kembali


Mungkin suatu saat nanti


Kau temukan bahagia meski 'tak bersamaku


Bila nanti kau 'tak kembali


Kenanglah aku sepanjang hidupmu


.


.


.


Abimanyu


Abimanyu makan dalam diam, begitu juga Dhira. " Makan yang banyak mas, kau terlihat agak kurus!" Dhira mencoba menguatkan hatinya saat mengatakan hal itu.


Dia memang terlihat tak mengurus dirinya, lagi-lagi hidupnya di hujan kepahitan kenyataan soal perempuan. Bertanya dalam hati, apa kesalahan di masa silam sehingga takdir begitu menghajarnya saat ini, atau memang dirinya yang tak becus untuk sekedar membuat kepastian kepada wanita yang ia cintai. Sejenak ia mengasihani diri sendiri.


Ia makan dalam diam, lekat memperhatikan wajah Dhira yang terlihat sembab, mungkin wanita itu menangis setiap hari pikirnya. Ia masih belum mau membuka suara untuk sekedar menanyakan soal pria yang ia bawa saat berada di Patrick Star kemaren.

__ADS_1


"Aku sudah selesai, aku tunggu di dalam!" ucap Abimanyu mendorong pelan piring putih yang telah licin tandas.


Dhira mengangguk, ia setengah mati menahan gejolak kesedihan di hatinya. Mengapa ia begitu lemah saat di hadapan Andhira


Ia menghisap rokok di ruangan terbuka yang berada di kamarnya, pandangannya nanar menghadap hamparan bangunan perkotaan disana. Menggeliat mencari peruntungan.


"Mas!" wanita itu rupanya sudah selesai.


Abimanyu menepuk sofa di dekatnya, seolah mengatakan kepadanya Dhira untuk turut mendaratkan tubuhnya di samping Abimanyu. Dhira menurut, ia mendudukkan dirinya di samping Abimanyu.


.


.


Andhira


Kebungkaman Abimanyu tentu saja membuat hatinya nyeri, pria atraktif itu seperti bukan menjadi dirinya. Dhira seperti seolah berada di tempat orang asing. Padahal baru saja mereka saling berciuman.


"Mas!" ia memanggil Abimanyu yang terlihat menikmati hisapan rokok itu. Seluruh ruangan itu penuh dengan kepulan asap putih yang membumbung ke atas.


Saat Abimanyu memintanya untuk duduk dia menurut, mungkin ini saatnya untuk berbicara.


Dhira turut memandang hamparan gedung-gedung pencakar langit yang menjadi view kamar Abimanyu. " Pria itu namanya Arya!" ucap Dhira.


Abimanyu masih terlihat menghisap rokoknya dalam, tak mengalihkan pandangannya. " Kesehatan ibu memburuk belakang ini, maaf mas kita memang hanya bisa sampai disini!" Dhira menahan dirinya untuk tak menangis meski matanya sudah memanas, ia menggigit bibirnya guna mengurangi sesak.


"Sejak kapan?" Abimanyu menggerus batang rokok yang masih panjang, menandakan bila dirinya juga gusar.


"Tiga Minggu dan ibumu langsung menyetujui, sementara aku yang sudah ...." Abimanyu menggeleng kecewa seraya tersenyum getir.


"Dia anak teman ibu mas!" Dhira masih menatap Abimanyu yang sepertinya juga menahan amarah.


"Dan kamu suka sama dia?" kini Abimanyu memberanikan diri menatap Dhira.


"Ayolah Dhira, kamu aku bukan bocah yang musti semua diatur ini itu!" Abimanyu geram.


Dhira tahu apa yang dikatakan Abimanyu itu benar adanya, tapi bagaimana dengan ibunya. Dulu ia sudah mengecewakan ibunya. Apalagi melihat ibunya sakit tiap memikirkan dirinya, rasanya ia merasa begitu berdosa kembali.


"Maaf mas, aku gak bisa. Mas boleh benci sama aku, karena aku memang pantas buat mas benci!" pertahanan Dhira ambrol, dia sudah tak tahan lagi. Bisa apa dia kalau sudah begini. Bagaimanapun orang tua adalah junjungan utama.


Abimanyu mengeraskan rahangnya, hatinya hancur. Impian yang sudah ia renda robek dengan tak tersisa, angannya seketika berhamburan, luluh lantak tak berbentuk.


"Kamu cinta sama aku?" Abimanyu menatap Dhira yang sudah berlinang air mata.


Dhira masih terdiam.


"Jawab Dhira?" Abimanyu menaikan suaranya.


Dhira mengangguk," aku sayang sama mas!" suara Dhira bergetar bercanda dengan tangis.


Sejenak Dhira bahkan berfikir jika dia adalah penganut paham kuno, bila cinta tak harus memiliki.


"Kalau begitu aku akan membawamu pergi dari sini!" Dhira membulatkan matanya, ia sadar jika pria di depannya itu punya kuasa dan tentu saja...Nekat.

__ADS_1


Dhira menggeleng," Aku pamit mas!" ucap Dhira lirih.


.


.


Abimanyu rupanya juga sudah berlinang air mata, sedari dari berusaha menahan dirinya pada pertahanan yang kokoh, namun wanita di depannya itu adalah titik lemahnya. Ia Menarik wanita itu sat hendak pergi dari sana.


Dalam derasnya air mata yang mengucur, ia mencium bibir Dhira, dalam kesedihan mereka meluapkan rasa, Dhira memejamkan matanya yang masih basah karena cairan kristal itu, ia ingin benar-benar mengingat rasa yang di berikan oleh Abimanyu. Rasa yang setelah ini tak akan pernah membaut hatinya meledak kembali.


Abimanyu seolah tak ingin melepaskan Dhira, ia merengkuh tubuh wanita itu kedalam dekapannya, mencium dengan begitu dalam. Seolah menyiratkan jika ia tak ingin berpisah, sungguh tak ingin.


Tangan Abimanyu mulai bergerilya menyusuri pinggang Dhira, ia membenamkan wajahnya di dada Dhira. Mengecup lembut leher jenjang wanita itu, Dhira melenguh mendesah menikmati sentuhan Abimanyu yang luar biasa.


Abimanyu mencium Dhira, seraya menggiring wanita itu untuk menuju ranjang, Abimanyu berfikir sofa itu tak akan mampu untuk menopang bobot mereka berdua jika Meraka sudah saling menghentakkan tubuh pikirnya.


Dhira sudah mendarat di kasur pegas itu, Abimanyu mencampakkan pakaiannya ke sembarang arah, ia bahkan merobek baju Dhira membuat kancing baju wanita itu berhamburan. Abimanyu menatap sendu Dhira yang kini hanya mengenakan pakaian dalamnya.


Dhira yang tak bisa melakukan perlawanan itu, juga memandang wajah tampan yang sebentar lagi hanya akan bisa ia lihat sebagai orang lain. " Mas ini..." Dhira merasa mereka terlalu jauh. Abimanyu tak menjawab Dhira, seolah mengatakan bila Dhira adalah miliknya, mengisyaratkan bila Abimanyu tak rela untuk sebuah perpisahan.


Kecupan dan sesapan di tubuh Dhira sudah nyaris merata, Abimanyu mencium puncak benda kenyal milik Dhira, membuat Dhira mendesah di pagi itu. Ia tak sanggup menolak tawaran gila yang menyenangkan itu.


Ia meraba pangkal paha yang sudah lembab, rupanya Dhira juga merindukan dirinya. Abimanyu berpindah menyambar bibir itu kembali, tangannya membuka pangkal paha Dhira, kejantanan yang menegang tak sengaja menyenggol paha Dhira. Membuat wanita itu meremang dan seperti tersengat arus listrik.


Besar dan liat, menandaskan keperkasaan seorang Abimanyu. Abimanyu menghujam Dhira menggunakan benda penting yang selalu ia banggakan itu, Dhira mendesah seiring dengan ritme dan tempo yang di percepat oleh Abimanyu. Rasa yang sama, rasa yang tak berubah semenjak Abimanyu menjejaki tubuh wanita itu. Berniat dalam hati tak akan pernah melepaskan wanita itu, tanpa harus membuat Dhira merasa bersalah kepada ibunya.


Hentakan dalam tempo cepat masih terjadi, Dhira bahkan bisa melihat Abimanyu yang ingin mengkudeta dirinya , semakin cepat ia merasa tubuhnya tak bertulang. Abimanyu membenamkan serta meledakkan benihnya dengan begitu banyak, tubuhnya menegang, sesaat mengeratkan pelukannya kepada Dhira. Dhira terlonjak ini tidak seperti rencana mereka. Dhira yang kaget segera mendorong Abimanyu, karena biasanya Abimanyu tak menabur benihnya di dalam rahimnya. Ia selalu menyebar benih ya diatas perut Dhira yang rata.


Abimanyu tersenyum menyeringai, jangan sebut dia Abimanyu bila tak bisa memenangkan perlombaan ini.


"Mas!!!" Dhira menjadi cemas.


"Mari kita lihat siapa yang akan menang!" Bisik Abimanyu membuat Dhira mengernyit.


.


.


.


.


.


.


.


.



Abimanyu memimpikan dirinya yang bisa bersanding dengan Dhira. Tapi, apakah dia bisa memenangkan permainan takdir meski dengan caranya?

__ADS_1


__ADS_2