The Love Story' Of Single Parents

The Love Story' Of Single Parents
Bab 61. Puber Kedua


__ADS_3

Bab 61.Puber Kedua


.


.


.


...šŸšŸšŸ...


"Andaikan ku dapat mengungkapkan perasaanku, hingga membuat kau percaya!"


( Diambil dari lirik lagu D'cinamons ~Selamanya Cinta)


Andhira


Dhira menatap mobil yang menghilang dibalik rukonya. Ya, usai mengatakan hal itu Abimanyu pamit untuk ke kantor. Meski matahari sudah mulai meninggi, tertunda karena penuntasan hasrat yang tak sengaja. Tapi itu lebih baik dari pada dia harus kembali ke rumahnya.


Dhira melangkah menuju lantai dua, ia melihat sprei yang sudah ia gulung. Sejenak ingatannya kembali akan perlakuan lembut dan manis dari Abimanyu. Ia memegangi dadanya sendiri, "Ya Allah!" sungguh dia sudah egois kali ini. Tapi sejenak ia Sungguh ingin menjadi egois. Bolehkah?.


Meski dihinggapi rasa bersalah, tapi ia tak bisa menafikkan rasa bahagia. Tanpa sadar, ia telah membangun sebuah kerumitan dalam hidupnya sendiri. Rasa cinta yang Abimanyu tawarkan jelas tidak akan dengan mudah ia terima begitu saja. Ada wanita yang masih berstatus sebagai istri resmi Abimanyu, yang bisa saja murka jika tahu dia adalah wanita yang dekat dengan Abimanyu.


Entahlah, ia ingin merasakan kebahagiaan itu sejenak sebelum petaka itu ia hadapi. Yang jelas, Abimanyu telah memberikan kebahagiaan yang selama ini tidak ia dapatkan dari Indra. Terutama kebahagiaan secara batin.


.


.


Abimanyu


Ia sudah berada di kantornya, melempar tubuhnya ke kursi kebesarannya. Sejenak ia tersenyum - senyum sendiri mengingat wajah Dhira yang berada di bawah Kungkungannya. Ia tak menyangka, hari itu ia ketiban durian runtuh. Tubuh Dhira memiliki rasa yang berbeda, ia adalah seorang pria yang tengah dalam masa kuat-kuatnya. Usianya yang berada di kepala empat, sudah bukan hal tabu lagi bila melakukan kegiatan seperti itu.


Tapi bukan hanya urusan ranjang yang membuat dia diliput kebahagiaan. Sikap lembut, perhatian, dan ada hal lain yang tak bisa di jelaskan oleh Abimanyu. Semacam perasaan nyaman, yang hanya bisa ia rasakan bila berada di dekat janda itu.


Tok! Tok! Tok!


"Masuk!" sahut Abimanyu dari dalam.


"Permisi Tuan, ini baju yang anda minta?" Devan membawa satu stel baju kantor baru, Abimanyu berniat mengganti bajunya karena akan menghadiri rapat dengan para direksi di perusahaannya. Hatinya tengah senang, efek dari ganti oli bersama Andhira.😁


Tapi mustahil di menggunakan baju bekas tadi.


"Taruh saja disitu Van, rapat kita mulai sehabis makan siang. Karena aku ada urusan setelahnya!" tukas Abimanyu.


"Baik Tuan!"


Tumben wajahnya ceria banget, belakang ini wajahnya kusut banget kayak sarung belum di setrika. Devan membatin, entah apa yang membuat bos-nya itu sumringah.


"Eh Van!" ucap Abimanyu saat Devan sudah menarik handle pintu tersebut.


"Iya!"


"Kamu tolong belikan obat tikus, nanti kamu antar kemari!"

__ADS_1


"Apa?" Devan mendelik, untuk apa bosnya itu meminta obat tikus.


"Untuk apa Tuan?"


"CK belikan saja, jangan banyak bertanya. Dan satu lagi, jangan sampai besok!"


Devan menghela nafasnya, makin aneh- aneh saja permintaan bosnya itu. Untuk apa obat tikus, disini juga tidak ada tikus.


Devan pergi meninggalkan Abimanyu dengan segala keanehan yang tercipta, membuatnya pusing.


...šŸšŸšŸ...


"Ma, aku kapan masuk sekolah?" Calista berbicara kepada mamanya saat jam makan siang. Siang itu dia hanya sendirian, Nyonya Regina makan di kamarnya. Entahlah, semenjak kehadiran Gwen dirumah itu, semuanya menjadi kaku.


"Besok kita minta papa untuk temani ya!"


"Kak Jodhi kenapa gak mau main sama aku ya ma?"


Pertanyaan itu membuat Gwen sedih, semua orang memang menjauhi mereka. Ia menjadi kasihan dengan anaknya itu.


"Kak Jodhi mungkin capek, nanti main sama mama ya?" Gwen tetaplah Gwen, seorang ibu yang ingin memberikan cinta yang tulus dan capaian terbaik untuk anaknya.


Berulang kali Gwen menghubungi Abimanyu, namun sang pemilik ponsel tak menjawab. Entah sibuk atau sebuah kesengajaan, ia sendiri tak dapat memastikan.


Detik itu juga, ia berniat datang ke kantor Abimanyu. Berniat datang kesana memberikan makan siang.


.


.


"Gos, antarkan saya ke perusahaannya Bapak ya?"


"Emm anu Bu" pria lajang yang sudah mengabdikan dirinya sejak lulus sekolah itu, nampak takut berucap.


"Agos akan menjemput Jodhi. Jadi kau pergi saja dengan taksi!" Nyonya Regina siang itu keluar kamarnya.


"Oma!" semenjak datang, Gwen memang belum sekalipun terlibat pembicaraan dengan wanita tua secara normal. Tapi ia cukup tah diri untuk satu itu.


"Gos cepat kamu berangkat, kasihan Jodhi kalau harus menunggu!" titah Nyonya Regina.


"Baik Nyonya besar!" Agus pamit dengan sedikit membungkukkan badannya penuh hormat kepada dua majikannya itu.


Calista masih diam bergelayut di lengan mamanya, ia masih belum terbiasa dengan situasi di rumah itu.


Merasa tak di anggap oleh Nyonya Regina, Gwen angkat bicara" Oma, kenapa Oma berubah begini kepadaku?"


Ucapan Gwen baru saja sukses membuat Nyonya Regina tak jadi beranjak dari sana, " Aku rasa kau cukup berpendidikan untuk bisa melakukan hal yang menyangkut semua ini. Tapi, nampaknya kau adalah wanita yang tidak tahu diri!"


Gwen terhenyak dengan ucapan Nyonya Regina, wanita tua itu benar-benar telah berubah pikirnya. " Oma, tidakkah Oma ingin mengetahui alasanku untuk pergi saat itu?" meski Gwen mengakui dia salah dalam hatinya, tapi ia tidak mau sampai kehilangan kesempatan kedua kalinya.


" Aku tidak tahu, dan juga tidak mau tahu. Kepercayaanku terhadapmu, sudah hilang bersama hilangnya istri cucuku sepuluh tahun yang lalu!"


Wanita tua itu meninggalkan Gwen yang masih berdiri, dan ucapan Nyonya Regina barusan sukses membuat Gwen merasa sakit hati.

__ADS_1


"Ma, Oma Buyut kenapa marah?" gadis itu bisa membaca intonasi orang lain.


"Enggak marah kok sayang, kita naik taksi aja yuk!" sebutir cairan lolos dari mata sayu nya.


.


.


Andhira


Ia tersenyum sendiri saat mendapat pesan dari Abimanyu, yang menurutnya menggelitik.


Tikus di ruko memang banyak ya, apa setiap hari kamu di ganggu?. Kamu kalau gak ada aku tadi, siapa yang biasa nolongin?.


Dhira sempat tertegun untuk tak membalasnya, tapi agak aneh rasanya bila mengiriminya pesan hanya untuk membahas soal tikus.


Enggak Mas, biasanya gak ada. Gak tau tadi kok nyasar ke kamar.


Dhira melempar ponselnya ke ranjang, ia seperti merasa banyak kupu-kupu berterbangan di hatinya tatkala saling berbalas pesan dengan Abimanyu. Ia menggigit bibirnya sendiri, menunggu pria itu membalas. Hatinya senang tak terkira. Ponsel yang dulu hanya ia gunakan untuk membalas chat para pelanggan, kini mendadak seperti sebuah benda yang mengeluarkan banyak bunga. Membuat hatinya turut berbunga- bunga.


Sepertinya aku akan berterima kasih kepada tikus itu hari ini 😊


Dhira bahkan tersenyum melihat emoticon yang di sematkan Abimanyu di akhir kalimatnya, ia tahu maksud yang di ucapkan pria itu. Sesederhana inikah kebahagiaan?, ia merasa seperti seorang pelajar yang tengah jatuh cinta. Benarkah pubertas kedua itu ada?, atau hanya isapan jempol belaka?.


Entahlah, kadang dengan kita menjadi orang yang sedikit egois kita bisa mendapatkan kebahagiaan. Tapi, jauh didasar hatinya ia hanya ingin dirinya diakui. Dan berada di dekat Abimanyu, ia merasa menjadi seseorang yang di butuhkan, ia merasa pria itu mampu memberikan ketenangan.


Tapi mengapa, jalannya harus tak semudah seperti saat ini?.


Mampukah dia?


Atau, dia harus menepikan rasa yang baru saja tercipta dengan indahnya?.


Lamunannya buyar karena sebuah pesan.


Besok aku makan disana lagi


Dengan cepat Dhira membalas pesan dari Abimanyu.


Besok Shinta sudah bekerja kembali.


Dhira menunggu balasan pria itu dengan tak sabar.


Memangnya kenapa?, aku hanya ingin sarapan.


Oh tidak, demi apapun yang ada di dunia ini dia telah sudah salah sangka, cenderung Ge Er. Bukan tanpa alasan, Dhira takut. Mengira bila Abimanyu akan datang, dan melakukan hal seperti yang ia dapatkan tadi. Bodoh benar-benar bodoh.


Tapi apakah dia sanggup menghindar dari Abimanyu, bila sudah seperti ini?. Tanpa sadar benang kusut nampak telah ia rajut.


.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2