The Love Story' Of Single Parents

The Love Story' Of Single Parents
Bab 120. Manusia dan segala persoalannya


__ADS_3

Bab 120. Manusia dan segala persoalannya


.


.


.


...šŸšŸšŸ...


" Akulah pengagum ragamu. Tak ingin ku menyakitimu. Lindungi dari sengat dunia yang mengancam...."


( Diambil dari lirik lagu Ada Band ~ Karena wanita ingin dimengerti)


.


.


Abimanyu yang lelah ,kini tertidur dengan posisi kaki setengah menggantung ke lantai, bahkan baju yang di gunakan akad tadi masih melekat sempurna di tubuhnya.


Dhira dengan rambut basahnya kini sudah selesai dengan acara mandinya. Ia tersenyum melihat suaminya yang terlelap dengan tangan kiri menutupi matanya.


Dhira mengganti bajunya dengan baju yang sudah di siapkan Devan. Sebuah dress tidur satin berwarna peach kini membalut tubuhnya. Ia benar-benar membutuhkan pakaian seperti itu saat ini.


Rambut panjangnya ia biarkan basah, ia mendekati suaminya yang kini tertidur. Dhira memeluk tubuh Abimanyu saat posisinya sudah sejajar dengan pria kekar itu. Menghirup aroma khas dari pemilik tubuh prima itu.


"Mas, mandi sana biar gak capek!" ucap Dhira mengusap dada Abimanyu.


"Eeuuugghhhh!!" Merasa mendapat sentuhan, Abimanyu menggeliatkan tubuhnya seraya melenguh.


"Mas!!" Bisiknya lagi, Dhira menumpukan kepalanya diatas tangan kanannya, dengan posisi miring menghadap suaminya.


Abimanyu mengerjapkan matanya, sejurus kemudian ia merengkuh tubuh istrinya kedalam pelukannya, seraya membalikkan badan istrinya. Kini Dhira berada diatas tubuh suaminya dengan tangan berotot yang tak lepas memeluk.


"Mas!" Dhira terperanjat. Sekali tarikan suaminya itu bisa membuat posisinya berpindah. Tak diragukan lagi stamina suaminya itu memang kuat luar biasa.


"Kamu baru beberapa jam jadi istriku udah pinter menggodaku ya Dhir, hm?" Abimanyu mengeratkan pelukannya, seraya berbicara dengan suara parau dengan posisi Dhira masih berada di atas tubuhnya.


Dhira tersenyum.


"Iya dong, aku harus pandai buat menggoda suamiku. Biar gak tergoda purel lain!" ucap Dhira menatap wajah suaminya yang tak berjarak.


"Love you!" Abimanyu menatap wajah Dhira yang kian tak berjarak dengannya, dan detik berikutnya ia mengecup bibir Dhira dari bawah.


"Love you too!" Dhira membalas kecupan suaminya dari atas seraya tersenyum.


"Dhir, pingin!!" Abimanyu mencoba bernegosiasi dengan istrinya.


Dhira menatap wajah Abimanyu" Mandi dulu sana. Kamu lengket banget!" ucap Dhira.


"Ya udah aku mandi dulu!" Abimanyu mengecup bibir istrinya sekilas lalu menggulingkan tubuh istrinya kembali.


"Tunggu aku!" Abimanyu membuka pakaiannya, dan mencampakkannya ke sembarang tempat. Ia masuk ke kamar mandi dengan bertelanjang dada. Dhira yang dalam posisi mirip ikan duyung itu hanya tertawa , seraya menggiring kepergian suaminya dengan tatapan penuh cinta. Interaksi itu terhenti saat pintu kamar mandi itu tertutup.


Ia menguap, " Tidur dulu bentar ah!" Dhira merasa usai tubuhnya di guyur air, ia siang itu semakin merasa matanya tak kuasa menahan kantuk.


Dua puluh menit berlalu, Abimanyu keluar kamar mandi dengan rambut basah dan tubuh yang segar. " Dhir ak...!" dia menghentikan ucapannya, begitu ia melihat istrinya tertidur.


"Kamu pasti capek banget ya?" Abimanyu berkata lirih seraya tersenyum melihat wajah teduh istrinya. Ia memilih menyambar celana joger warna abu-abu, dan membiarkan tubuh atasnya tak berpakaian. Ia memeluk istrinya dari belakang, kemudian membenamkan wajahnya ke rambut setengah kering istrinya. Ia mengecup kepala Dhira dua kali, sejurus kemudian ia juga memilih larut dalam mimpi.


Ia membiarkan istrinya beristirahat, sebelum nanti malam akan membuatnya untuk tak tidur lebih cepat.


...šŸšŸšŸ...

__ADS_1


Rania terlihat menjadi koordinator bagi keluarga Dhira. Tak hanya itu, ia di tugaskan Wisang untuk mengakomodir kendaraan bagi keluarga Bu Kartika. Mereka menyadari jika Abimanyu dan Dhira pasti akan bertolak lebih dahulu ke hotel, mengingat Dhira pasti membutuhkan waktu yang lama untuk make up dan lain- lain.


Saat hendak berbalik dengan buru-buru ia nyaris saja menabrak Bastian yang sibuk dengan ponselnya. Membuat keduanya mendelik secara bersamaan.


Bastian ganteng pikir Rania, pria itu juga kini lebih wangi. Mungkin saja intensitas penyemprotan parfum ke tubuhnya lebih banyak. Ia tersenyum dalam hati.


"Maaf Bu saya tidak sengaja!" tukas Bastian, ia segera memasukkan ponselnya ke saku celananya.


"Iya gak apa-apa, aku juga gak lihat tadi!" Rania canggung.


Wanita cantik di depan Bastian itu membuatnya belingsatan, Rania benar-benar cantik hari itu.


"Anak-anak tadi kemana?"


"Kamu ada lihat?" Rania mencari Jodhi dan Raka.


"Biasa, mereka tidur di dalam. Pada habis makan sate terus tidur" Bastian terkekeh. Memang hanya obrolan remeh temeh, namun setidaknya bisa menjadi alibi untuk percakapan mereka. Dan itu membuat Bastian senang.


Ya, Jodhi dan Raka kini tertidur karena kekenyangan. Mereka terlentang diatas matras di depan kipas yang mengeluarkan angin yang tak sejuk itu.


"Padahal mau aku ajak pulang dulu ini!" Rania mengerucutkan bibirnya.


Bastian menarik senyuman. " Ibu pulang dulu aja, nanti Jodhi biar sama saya!"


"Gak merepotkan?, nanti kalian di jemput mobil kak Danan malemnya. Jadi kalian bisa istirahat dulu. Aku mau nengok orang rumah dulu. Mereka juga wajib ikut acara!" Rania memberikan senyuman paling ramah kepada Bastian.


Selalu saja saking kikuk," Bu!" panggil Bastian.


"Ya, "


Rania yang sudah hendak melangkah itu menatap kembali Bastian.


"Ada yang..." Bastian mengambil bulu mata yang jatuh di bawah matanya.


"Kata orang, kalau bulu mata kita jatuh. Itu tandanya ada yang kangen kita!" Bastian menunjukkan bulu yang nyaris tak terlihat itu.


Iya yang kangen aku Bu


Rania tersenyum, " Masa sih. Sini!" ia meraih tangan Bastian, dan meletakkannya di atas kepalanya.


"Siapapun yang kangen, kangennya kesampaian!" ucap Rania seraya menggiring tangan Bastian ke atas ubun-ubun kepalanya, seolah meminta Bastian untuk menaruh bulu mata itu. Wajah Rania sumringah dengan kelakaran Bastian.


Mereka berdua tergelak, sejurus kemudian saling tatap. Seolah mata mereka berbicara, dan menunjukkan sikap kagum satu sama lain.


Sayang sekali kamu udah punya pacar Bas.


...šŸšŸšŸ...


Wisang dan Danan melesat lebih dulu ke hotel. Membuat pria itu tak sempat menemui Sekar yang sibuk di rumah Bu Kartika. Mereka berdua adalah penanggung jawab untuk gelaran acara di hotel.


"Lu tumben diem aja engga banyak cing cong!" Wisang yang berada di depan kemudi, berbicara dengan sahabatnya yang kini terlihat lebih bugar pasca berobat ke luar negeri.


"Lagi badmood. Mama disini soalnya!" ucap Danan manyun.


"Tumben!"


"Ya karena aku sakit ini!" sahut Danan.


"Mama sama papa balik kesini. Kemaren waktu di sana mereka gak ngijinin aku pulang Wis. Untung aja di Abi mau kawin, eh nikah maksudnya!"


Wisang tergelak ," Anak mama!" bibirnya.


"Kayak elu gak anak mama juga. Kapan hari Tante Lisa telepon aku ada apa ya, aku gak sempat jawab soalnya pas lagi kontrol ke RS!" ucap Danan terlihat membalas pesan seseorang.

__ADS_1


Wisang belum menceritakan apapun prihal Sekar kepada Danan. Ia tidak tahu, apa reaksi sahabatnya itu bila mengetahui jika dia sedang menggandrungi seorang gadis muda dengan pautan usia yang lumayan.


"Mungkin kangen sama elu!" sahut Wisang.


"Gak mungkin mama elu telpon aku, kalau elu gak berulah!" tukas Danan.


Sejenak suasana senyap.


" Gue jatuh cinta sama anak buahnya istri Abimanyu Dan!"


Wisang butuh teman curhat saat itu, dan menceritakan hal itu kepada Danan bukanlah pilihan yang buruk


Danan menoleh, ia terlalu banyak ketinggalan berita pikirnya. Informasi sepenting ini ia bahkan baru tahu.


"Yang mana, tadi ada disana?" Danan menatap Wisang.


"Ada, tapi sibuk terus dia!"


"Dia masih muda Dan. Gue baru nangis ke perempuan cuma sama dia!"


"CK, bisa-bisanya elu jatuh cinta. Sama anak dibawah umur lagi, kayak pedofil aja lu!" Dananjaya terkikik geli.


"Pedofil matamu Dan, dia udah bisa bikin anak kali!" sungut Wisang.


"Bisa ya elu suka sama daun muda begitu!"


"Dia emang muda. Tapi sikapnya, ucapannya, semuanya pokonya. Menjelaskan jika hidupnya tidak semudah orang kebanyakan Dan. Gue udah hampir bunuh mantan pacarnya waktu itu!" Wisang tiba-tiba kesal mengingat hal itu.


Danan menautkan kedua alisnya, " Kayaknya aku benar-benar ketinggalan info!"


"Banget!" sahut Wisang.


"Gue jadi penasaran!" Danan manggut-manggut.


Danan kini tengah menjalani gaya hidup yang lebih sehat. Ginjal dan pankreasnya sedang dalam proses penyembuhan. Tentu saja, ia memanfaatkan segala kelebihan yang ia miliki untuk kembali sehat.


"Mama nyuruh gue nikah Wis. Pusing aku!" Danan melipat kedua tangannya ke belakang. Menjadikannya sandaran, dengan tatapan nyalang ke arah jalanan, ia mencurahkan isi hatinya kepada Wisang.


" Udah ada calon?" Wisang dengan bodohnya melontarkan pertanyaan itu.


"Gila lu, mana mungkin aku milih panda lokal itu buat jadi istriku. Gak tahu lah pusing aku, mama bilang kalau dalam setahun ini gue gak dapat calon istri. Mama bakal nikahin aku sama pilihan dia!" Danan bergidik ngeri.


Wisang tertawa," Dan, elu masih mending setahun. Ini gue juga pusing, soalnya nanti malam mama pasti ngajak Mira ke acaranya si Abi"


Mereka berdua saling curhat, tak mengira manusia penganut gaya hidup free for life seperti mereka, juga mumet pada waktunya.


.


.


.


.


.


Rania



Bastian


__ADS_1


__ADS_2