The Love Story' Of Single Parents

The Love Story' Of Single Parents
Bab 162. Mati Aku!!!


__ADS_3

Bab 162. Mati Aku!!!


.


.


.


...šŸšŸšŸ...


" Seringkali orang dianggap pintar dan bijak, hanya dengan berdiam diri dan menahan mulutnya untuk tak banyak bicara!"


.


.


.


Matahari sudah meninggi, namun dua manusia itu masih terlelap. Bukan karena perhelatan panas yang membuat mereka seperti itu, namun karena keduanya sama-sama tertelan rasa kantuk yang tiada tertahan.


Ya, Wisang pagi itu tak sampai hati akan membangunkan istrinya. Pria itu tak tega saat melihat Sekar yang terlelap dengan mulut yang sedikit terbuka. Jelas menandakan bila letih menyerang istri tercintanya itu.


Alhasil, pria itu memeluk istrinya dari belakang, lalu turut terjun ke dalam mimpi. Ia juga sama merasakan keletihan yang luar biasa.


Sekar mengerjapkan matanya, sorot terang dari jendela kaca apartemennya begitu silau. Ia merasa sesuatu yang berat, menimpa tubuhnya. Dan saat ia menoleh ke belakang, tangan berotot milik suaminya rupanya yang melingkari perutnya.


" Astaga, mas!!" Sekar menggoyangkan tubuh berat Wisang. Wanita itu panik saat melihat jam yang berada di nakas putih itu, sudah menunjukkan pukul 11.01 WIB.


" Eeeuggghhh!!" Wisang melenguh saat tangan mungil Sekar mencoba mengguncang tubuh kekar itu.


" Mas, udah siang ini!!!" Sekar mendengus kesal. Suaminya itu sangat susah untuk di bangunkan.


" Aku masih ngantuk!" dengan suara parau, Wisang menjawab Sekar dengan keadaan matanya yang masih terpejam.


" Kamu tadi bohongin aku ya, hm!" pria itu membalikkan tubuh Sekar, lalu menarik tubuh istrinya dalam satu tarikan keatas tubuhnya.


" Mas!" Sekar yang kaget sedikit berteriak.


" Biarkan sebentar saja seperti ini!" Wisang memeluk tubuh istrinya dengan erat. Posisi mereka masih saling tumpang tindih. Sekar yang berada di atas tubuh bidang suaminya itu, merasa geli saat ia merasakan sesuatu yang keras, besar dan berdenyut pelan, mengganjal tepat di bagian keperempuanannya.


Sekar hanya diam. Ia tersenyum memandangi wajah ganteng suaminya siang itu. Sekar mengecup bibir suaminya sekilas.


" Dah mulai nakal ya. Kamu harus dihukum karena sekarang pinter banget nyiksa aku!" ucap Wisang kini membuka matanya. Pria itu kini bisa dengan jelas menatap wajah cantik istrinya, saat pertama kali membuka mata.


" Mas, udah siang loh. Kita gak nengok mbak Shinta?" Sekar yang kian tak nyaman itu mencoba berdiplomasi.


" Astaga!!! aku lupa kalau harus menemui Pak Made Alit!" ucap Wisang yang menggulingkan kembali Sekar ke ranjang.


Sekar kini duduk diatas ranjangnya. " Udah jam sebelas loh mas!" Sekar menautkan kedua alisnya.


" Iya makanya aku mau cek hp dulu!" dengan terburu-buru Wisang mengambil ponselnya yang ia letakkan di nakas samping ranjang.


Ia bahkan lupa dengan juniornya yang sudah menegang saat terhimpit boleh tubuh Sekar.


Abimanyu


17 missed call

__ADS_1


+6285790490xxx


8 missed call


" Tuh kan bener, si Abimanyu udah nelpon gue berkali- kali ini!" tukas Wisang yang sibuk menggulir ponselnya.


Pria itu terlihat panik. Ia memiliki janji dengan AKBP Made Alit, perihal investigasi kecelakaan mobil yang menimpa Rangga dan Shinta. Ia juga sudah janjian bersama Abimanyu dan Devan, untuk membahas soal CCTV.


" Udah tau ada janji, kenapa gak pasang alarm sih mas?" Sekar berengut. Ia merasa memiliki andil dalam keterlambatan bangunnya mereka.


" Iya, maaf!!" Wisang dengan cepat mengetik pesan untuk Abimanyu. Entah alasan apa yang harus ia kemukakan nanti.


" Aku capek banget, jadi lupa pasang alarm. Lihat kamu pules tidur jadi ikutan merem. Ya udah kita mending sekarang siap-siap ya?" Wisang mencium bibir Sekar dengan sekali kecupan.


Lagian ada-ada saja pria itu, sudah tau ada deadline menunggu. Mengapa dia tidak profesional sekali. Sudah pasti penyebabnya adalah, keterlambatan mencicipi durian lokal.


Membuat segala sesuatunya, menjadi tidak fokus.


...šŸšŸšŸ...


Abimanyu mengumpat berkali-kali saat telepon darinya tidak di jawab oleh Wisang.


" Tu anak pasti lagi kelonan!" dengus Abimanyu seraya mengeraskan rahangnya.


" Mas!!" Dhira memperingati suaminya yang mulai tersulut emosi.


Devan hanya diam sambil melirik Bos-nya itu. Sejurus kemudian, ia kembali menenggelamkan diri pada monitor yang tersambung dengan kamera pengawas yang berada di rumah Abimanyu.


Sorry ada sedikit gangguan tadi, ini gue udah mau otw. Aku ke kantor polisi dulu. Kamu lanjutin aja dulu ya, kita ketemu di rumah sakit.


" Gangguan apaan. Kebablasan kelon iya!" gumam Abimanyu mencibir balasan Wisang yang justru membuatnya malas, ucapannya pelan namun masih di dengar Dhira.


" Kamu ini kenapa sih mas, kayak orang PMS aja loh. Jangan bilang kalau semua ini bawaan bayi ya.." Dhira menatap suaminya dengan alis mengkerut.


" Enggak sayang, aku lagi kesel sama si Wisang. Habis nikah dia jadi serba lelet!"


" Kayak mas gak pernah jadi manten baru aja?!"


Oh andaikan dua manusia itu tahu penderitaan yang dialami Wisang, apa mereka masih sanggup untuk bergunjing siang itu.


" Gimana Van?" tanya Abimanyu.


" Dapat Tuan, di menit ke tiga satu kelihatan plat nomor motor yang mereka gunakan!"


" Sini coba kau lihat!" Abimanyu ingin melihat paket nomor yang digunakan dua orang dalam video berdurasi lima belas menit itu.


Dalam rekaman video itu, terlihat dengan jelas dua orang masuk usai melumpuhkan Sugeng. Pria itu menggunakan penutup wajah, mereka juga terlihat lihai dalam beraksi.


" Sepertinya mereka sudah mengincar dan mengawasi mobil tuan Wisang sejak beberapa waktu yang lalu!" ucap Devan mantap.


Dhira masih tekun mendengarkan pembicaraan serius antara dua pria di depannya itu.


" Dugaan saya target mereka adalah Tuan Wisang bersama istrinya, mereka telah mensabotase sesuatu di mobil itu. Dan kemungkinan besar, mereka menuju ke rem!" imbuh Devan.


" Tapi, kita harus menunggu hasil investigasi dari kepolisian. Bisa saja mereka menemukan sidik jari atau sejenisnya sebagai petunjuk!" ucap Devan lagi.


" Kau yakin mereka tidak menggunakan sarung tangan?" tanya Dhira.

__ADS_1


" Jika dilihat dari video yang ada di menit terakhir Bu, anda bisa lihat ini!" tunjuk Devan memutarkan adegan dimana kedua pria itu kabur dengan tergesa-gesa, dan terlihat tangan mereka terbuka, alias tak menggunakan sarung tangan.


" Stop dulu!" titah Abimanyu untuk menjeda video itu.


" Kau benar Van. Ini bagus untuk kita!"


" Kita ke kantor polisi kalau begitu!"


" Sayang kita siap-siap!"


" Kita temui Wisang sekarang!"


.


.


" Setelah tim kami melakukan olah TKP, kami bisa menyimpulkan bila mobil yang di kendarai teman anda telah di sabotase oleh orang lain!" terang AKBP Made Alit.


Sudah ku duga


" Jadi bagiamana pak, teman saya barusan menginformasikan bila mereka sudah mendapat plat nomor orang yang dicurigai sebagai tersangka pak!"


" Kita harus melakukan segala sesuatunya berdasarkan SOP ( Standar Operasional Prosedur). Bukti rekaman bisa kita jadikan dasar penyelidikan lebih lanjut!" Jawan AKBP Made Alit.


" Dan, ini barang-barang dari rekan anda. Bisa dibawa!" Made Alit menyerahkan tas Shinta yang berisikan beberapa barang pribadi, serta sebuah ponsel.


" Barang itu kami temukan di bagian depan mobil anda yang rusak. Jika kami temukan barang lagi, kami akan segera menginformasikan kepada anda!"


" Mohon untuk menginformasikan apabila masih ada sesuatu atau barang milik korban yang merasa tidak ada!"


Pak Made Alit begitu jelas dalam menginformasikan segala sesuatunya. Membuat Wisang senang dan lebih bisa kooperatif.


" Kau begitu terimakasih banyak pak. Kami tunggu kabar selanjutnya!" Wisang menjabat tangan polisi itu.


Dan saat Wisang hendak melangkah keluar menemui istrinya yang terlihat tengah berbincang dengan Dhira. Ya, rupanya Abimanyu menyusul Wisang ke kantor polisi. Tiba- tiba ponsel yang baru saja di serahkan oleh Made Alit tadi, berdering.


Mama calling


Wisang terperanjat, bagiamana ini. Ia bingung. Kenapa bisa pas sekali pikirnya.


Mama calling


Nada dering itu terus berbunyi, membuat Wisang terpaksa menggeser tombol hijau itu.


" Halo.....Rangga, kamu dimana? papa sama Mama baru sampai dirumah kamu, tapi istri kamu gak ada ini!" ucap seseorang di sambungan telepon.


Mati aku!!!


Wisang membulatkan matanya, kini ia harus berucap apa kepada orang yang ia yakini sebagi orang tua dari Rangga itu.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2