The Love Story' Of Single Parents

The Love Story' Of Single Parents
Bab 83. Satu Dukungan


__ADS_3

Bab 83. Satu Dukungan


.


.


.


...🍁🍁🍁...


Mungkin kau kecewa


Semua datang yang tak kau pinta


Namun ini semua kenyataan kita


Waktu kita lelah dalam menjalani


Semua macam kisah dalam hidup ini


Kadang kita lemah hanya mampu untuk pasrah


Saat kenyataan ga sejalan dengan harapan


Saat keyakinan hilang dalam kepahitan


Tetaplah tabah setidaknya kau mencoba


Menjadi lebih baik dalam jalani hidup ini


Janganlah resah biarkan waktu menjawabnya


Kau harus bersabar


Semua indah pada waktunya


Santai saja kawan


Ikuti kata hati biarkan sedihmu berlalu


Kau pasti bisa


Menjadi suatu hari dengan pagi yang baru


Tenang saja kawan


Hadapilah semua


( Saint Loco~ Santai)


.


.


Malam itu Abimanyu menghabiskan malam di Pub. Berdalih untuk melupakan sejenak keruwetan yang bersarang di otaknya. Namun nampaknya malam itu, ia melupakan batasan dirinya. Dia mabuk berat.


Danan malam itu harus berpuasa, nampaknya ia mengamalkan larangan untuk tak mengkonsumsi alkohol dulu. Definisi dari sayang umur. Sementara Wisang terlihat membantu Abimanyu untuk masuk kerumahnya.


"Kak Wisang, kak Abi kenapa?" Rania yang kebetulan membukakan pintu itu, nampak terkejut. Sudah lama ia tak melihat kakaknya mabuk.


"Aku sudah berusaha menahan, tapi...."


"Ya sudah, ayo bantu bawa dulu kak. Aku siapkan kamarnya dulu" ucap Rania kepada Wisang. Mereka lantas berjalan menuju kamar Abimanyu. Sedikit susah, lantaran kamar Abimanyu berada di lantai dua. Mereka berjuang menapaki anak tangga itu.


Akhirnya dengan susah payah, Wisang berhasil membaringkan tubuh dengan bobot yang menguras energi Wisang. " Berat sekali dia!" dengus Wisang. Sementara Danan dengan tertatih baru tiba di kamar itu.


"Gila lu Wis, main tinggal aja!" Danan menggerutu, karena pinggangnya sakit.


Wisang tak menanggapi, ia lebih memilih fokus kepada Rania. " Kakak mu mabuk karena stress, wanita bernama Andhira itu nampak di jodohkan. Dan..."


"Dan apa kak?" Rania nampak tak sabar.


"Dan kakakmu sebenarnya tengah merajut hubungan dengan Dhira, entahlah. Abimanyu belum cerita sepenuhnya. Tapi aku yakin mereka sebenarnya saling mencintai!"


Rania cukup terkejut dengan cerita sahabat kakaknya itu, ia pikir setelah kakaknya bercerai dengan Gwen, ia akan segera mendapat kebahagiaan. Rupanya jalan hidup memang tidak ada yang bisa menerka.


"Sejauh apa hubungan mereka. Maksudku dengan pria yang di kenalkan ibunya Mbak Dhira"


"Aku yakin Dhira tertekan, tapi pria itu nampak gencar untuk segera melakukan pertunangan" Wisang nampak serius. Dan Danan, rupanya sudah ikut terlelap di samping Abimanyu.


Sejenak Rania sempat teringat dengan Bastian, ia berjanji akan menemui pria itu besok. Ini tidak benar, ia harus membantu kakaknya mendapatkan cintanya.


"Si anjing malah udah merem. Enak banget dia!" gerutu Wisang menatap Danan yang sudah terlelap, dengan mulut terbuka.

__ADS_1


Rania tertawa, sahabat kakaknya yang satu itu memang limited edition.


.


.


Waktu berjalan tanpa henti, pasca kejadian tak menyenangkan dua hari yang lalu , kini Andhira memaksakan dirinya untuk menerima takdir. Karena semakin dirinya melawan, ia semakin menjadi sakit hati.


Adalah Bu Kartika, wanita itu kini lebih sering tersenyum saat Arya berkunjung kerumahnya. Bu Kartika sering meminta Dhira untuk datang kerumahnya, semenjak Dhira mau untuk mengenal Arya. Ia merasa anaknya itu tidak ada masalah untuk menuruti permintaannya.


Hari itu Dhira menginap dirumah Bu Kartika bersama Raka. Dan tak menyangka, bila malamnya Arya berkunjung. Mungkin saja ibunya sudah mengatur semuanya. Karena mustahil Dhira menghubungi Arya.


Meskipun Arya sering berkirim pesan, namun Dhira lebih sering mengabaikannya. Kadang hanya membalas seperlunya.


Iya


Enggak


Terimakasih


Sudah


Dan masih banyak lagi, perkataan apatis yang di ucapkan Dhira lewat pesan.


"Mas kok tahu kalau aku disini?" tanya Dhira.


"Tadi aku ke ruko, kata pegawai kamu, kamu gak ada. Ya udah, udah aku pastikan kalau kamu pasti disini!" Arya malam itu membawakan bunga untuk Andhira.


Raka kini bisa melihat dengan jelas pria yang mungkin saja akan menjadi ayah sambungnya nanti. " Itu Raka ya!" ucap Arya yang melihat Raka di ambang pintu konektor itu.


Raka tersenyum ragu, " Raka, ini Om Arya yang Uti ceritakan kemaren!" tukas Bu Kartika.


Wanita tua itu berkata kepada cucunya, bila akan ada seroang pria yang melamar mamanya. Bu Kartika cenderung hanya memberitahu, bukan meminta persetujuan. Perkara Raka setuju atau tidak, itu tidak menjadi tujuannya. Menurutnya segala keputusan ini akan membawa kebaikan bagi Dhira, lantaran ia sudah pernah gagal untuk mengatur Dhira saat memilih menikah bersama Indra dulu.


"Raka ayo salim!" ucap Bu Kartika kembali.


Bocah itu menurut, entahlah ia merasa dirinya tak memiliki hak bahkan untuk sekedar memilih jika berhadapan dengan Utinya.


"Saya om Arya, senang bisa ketemu sama kamu!" Arya memang pria lembut, dia mengusap puncak kepala Raka sembari tersenyum.


Raka tersenyum simpul membalas Arya. Begitu juga dengan Bu Kartika yang nampak bahagia, namun tidak dengan Dhira. Hatinya merasa kosong, tak memiliki rona bahkan sewaktu Arya tengah berada disana.


"Jadi kapan nak Arya akan melamar Dhira?" Bu Kartika nampak sudah tak sabar.


"Sa..." ucapan Dhira menggantung.


"Lebih cepat lebih baik, niat baik harus di segerakan bukan." Bu Kartika nampak bersemangat.


Dhira tertunduk layu, apakah ia benar-benar tak memiliki hak disini? , namun melihat wajah ibunya yang berbinar, rasanya memang lebih baik jika ia harus merelakan jalan hidup yang musti terjadi. Dengan kata lain, pasrah.


.


.


Dua hari berlalu, pertemuan yang dijadwalkan untuk bertemu Leo Darmawan rupanya tertunda. Ketidaksinkronan hati dan pikiran Abimanyu, membuat dirinya lebih mengindari segala pertemuan dengan beberapa koleganya terlebih dahulu. Ia hanya menghindari sikap tak profesional yang mungkin saja terjadi saat rapat penting.


Persoalannya dengan Andhira benar- benar membuat hidupnya kacau balau. Mengoyak keteguhan hatinya sebagai pria dewasa yang biasanya bersikap tenang.


Dan hari ini, Abimanyu bisa memastikan jika pertemuan itu, akan terselenggara. Ia menenggelamkan dirinya kepada kesibukan, meski tak bisa ia tepikan rasa rindu ingin bertemu Dhira.


"Maaf Leo, pertemuan kita sempat tertunda!" ucap Abimanyu kepada Leo, yang kini menjabat sebagai Direktur perusahaan manufaktur di kota S.


"Tidak apa kak, mungkin kakak lagi sibuk. Kebetulan saya juga tidak sedang terburu-buru" jawab Leo.


"David apa kabar?" Abimanyu kini berintermezo setelah pertemuan mereka sudah menemui mufakat, alias sudah goal. Mereka kini saling menjalin kerjasama.


"Dia baik, sudah pindah kependudukan dia kak. Tengah menunggu kelahiran calon anak mereka. Dia di desa, mengelola perkebunan cabai punya papa dulu. Lebih kerasan disana dia, maklum istrinya produk lokal sana!" Leo terkekeh.


Abimanyu turut senang mendengar selorohan Leo. " Ya, aku juga tak menyangka, pria seperti David kini malah hidup di desa" Abimanyu menggelengkan kepalanya.


"Bucin banget dia sama istrinya ya?" sahut Abimanyu lagi.


Ya, Abimanyu dan David saling berteman, kebetulan memiliki perusahaan yang bergerak di bidang yang sama, mereka sering bertemu meski dalam rangka urusan bisnis. Dan karena David memilih mengikuti permintaan istrinya untuk hidup di desa, perusahaan kini di ambil alih oleh Leo, adiknya.


"Kakak gimana?, dengar- dengar baru ganti status baru!" Leo tertawa kecil.


"Sudah sampai sana rupanya kabarnya" sahut Abimanyu tertawa kecil.


Leo terkekeh" Buruan nyusul kak, jangan lupa undang kita ya" ucap Leo.


Sejenak David kembali teringat akan Dhira, juga persoalannya yang rumit. " Doakan saja, jika berjodoh undangan akan segera datang kepada kalian!"


"Sampaikan salam ku kepada David juga Om Edy ya!"

__ADS_1


Belum selesai mereka mengobrol, terdengar suara ribut dari luar ruangan Abimanyu.


"Tuan, anak ini memaksa untuk menemui anda!" Devan lupa dengan bocah itu, ia berusaha menghalau bocah itu untuk tak datang.


"Raka!" tukas Abimanyu sedikit terperanjat.


.


.


Usai Leo berpamitan dan memarahi Devan karena tak bersikap ramah kepada Raka. Abimanyu baru bisa menemui Raka yang ia minta untuk menunggu di ruangan sebelah meja kerjanya. Ruang itu merupakan ruang istirahat bagi Abimanyu. Sebuah kamar yang lengkap dengan sofa dan water showcase, juga fasilitas penunjang lainnya.


Raka diam, Abimanyu juga diam. Mereka sama-sama terdiam. Abimanyu masih menunggu bocah itu berucap, ia menyatukan kedua tangannya, seraya menatap Raka intens.


Otaknya di penuhi oleh pertanyaan. Mengapa bocah itu sampai berani datang ke kantornya, mengingat bocah itu juga termasuk salah satu alasan Dhira menolak dirinya.


"Ehem, Raka kam..."


"Saya minta maaf Om!" ucapan Raka membuat Abimanyu terdiam.


Suasana hening sejenak.


"Saya terlalu egois kepada mama beberapa waktu yang lalu!" ucap Raka menatap datar wajah Abimanyu. Ia teringat akan petuah Kakung Joko.


"Saya kesini cuma mau bilang, tolong bantu mama om. Mama tidak bahagia saat ini!" Ia melihat wait mamanya yang bermuram durja, seraya diiringi tatapan sendu.


Abimanyu tertegun, bocah di hadapannya ini benar- benar sudah dewasa sebelum waktunya.


"Saya mau Om yang jadi ayah sambung saya!" Sekuat hati menatap kata elang pria di depannya, berbicara man to man.


Abimanyu sebenarnya terkejut, namun ia masih bisa memasang wajah biasa saja. Ia merasa bahagia begitu meluap di relung hatinya. Anka banteng itu bisa ia taklukan bahkan sebelum ia berusaha. Mungkinkah ini sinyal dari sang kuasa bila ia masih memiliki kesempatan untuk bersatu dengan Andhira. Oh tidak, ia serasa ingin melompat.


Satu dukungan sudah ia dapat.


"Uti meminta mama menikah dengan orang yang tidak mama cintai, Raka tahu itu. Bisakah Om bantu Raka?" kesimpulan itu ia dapat, lantaran rona wajah mamanya sangat berbeda, antara saat bertemu pria bernama Arya itu, dengan Abimanyu.


"Raka cuman ingin mama bahagia!" Ucapnya mantap penuh kepastian.


Sudah seperti lingkaran estafet yang tak berujung, Abimanyu bahkan tak tahu dengan cara apa dia harus membantu bocah itu. Karena tanpa diminta pun, Abimanyu memang sudah mencintai ibu dari anak di depannya itu.


"Om gak janji, tapi...."


"Tapi apa Om?" Raka nampak tidak sabar.


" Dengar, Om baru saja mencoba bercocok tanam. Kalau bibit unggul Om lekas tumbuh, keinginan kamu bakal terwujud!"


Raka terdiam, ia tertegun menatap meja kaca di depannya sambil berfikir. Apa hubungannya, dia meminta pria di depannya itu untuk menggagalkan perjodohan yang di prakarsai oleh Utinya, dengan bibit unggul?


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Yang sabar pendukungnya Andhira sama Abimanyu. Percaya saja sama petuah klasik, kalau jodoh gak kemana😁😁😁.


Buat yang belum tahu siapa Leo dan David, bisa baca karya Mommy yang pertama. " Nada Cinta Jessika"


Mommy besok gak janji up ontime, besok mommy bakal repot bantuin my mother in low.


Percaya saja, akan ada pelangi sehabis hujan.


Salam sayang buat kalian semua readers ku tersayang.


Big hug from me


Mommy Eng πŸ€—πŸ€— πŸ€—πŸ€—πŸ€—πŸ˜˜πŸ˜˜πŸ˜˜πŸ˜˜

__ADS_1


__ADS_2