
Bab 173. Salep
.
.
.
...ššš...
" Sewaktu sebar cintamu terasa melanda, bangkit rinduku padamu di ketika itu..."
( Diambil dari lirik lagu Iklim ~ Hakikat Sebuah Cinta)
.
.
Manusia manapun kalau sudah berurusan soal naluri biologis, pasti akan terlena. Seperti dua manusia yang kesiangan ini misalnya. Jika tempo hari mereka kesiangan karena kurang tidur akibat mengurusi kecelakaan Shinta dan perintilannya, namun hari ini mereka dua kelelahan karena bercumbu dengan tak hentinya sepanjang malam.
Niat untuk tidak terlalu lama dalam melakukan hanya menjadi isapan jempol belaka. Wisang tak bisa menahan laju gelora yang terus meningkat bahkan menjelang dini hari.
Wisang benar-benar mencabik-cabik istrinya yang sudah berhasil menyiksanya beberapa hari yang lalu. Bahkan ponselpun sudah mereka atur sedemikian rupa, agar tidak ada interupsi dari luar.
Sorot matahari yang silau memaksa mata Sekar untuk mengerjap. Merasa pangkal pahanya begitu nyeri dengan hebatnya, ia memekik kecil lalu meringis.
" Awwwhhhh!" ia bahkan merasa kesakitan hanya karena sedang menggeser tubuhnya.
Sekar meringis ngilu. Merasakan bagian bawahnya sepertinya terkoyak dan tebal dalam waktu bersamaan. Ia meraba bagian bawahnya yang terasa begitu sakit. Wanita itu menyibak selimut tebal yang menggulung tubuhnya, matanya membulat mendapati sisa cairan dengan warna yang kontemporer.
Cairan sisa percintaan panasnya bersama Wisang. " Astaga!!" Sekar bahkan tak ingat sudah berapa kali ia dibuat melayang oleh suaminya itu.
Ia berusaha meraih pakaian dalamnya yang berserak di kasur bawah yang masih bisa ia jangkau. Memakainya dengan ringisan akibat menahan nyeri dan ngilu di bagian bawah.
Sejurus kemudian ia menoleh ke jam digital yang berada di nakas samping ranjangnya.
...Pukul 10.17...
" Hah, udah siang!" Sekar panik.
Dengan rasa tubuh remuk redam ia beringsut menahan nyeri di pangkal pahanya. Sudah terlalu siang dan rasa itu lebih lelah dari rasa bekerja seharian di Dapur Isun. Benar-benar gila!.
" Ahhhhh!!" dengan memekik keras Sekar tak sanggup untuk berjalan. Bagian bawahnya ia rasakan sangat sangat sakit . Terlalu sakit.
Sejenak Sekar ngeri sendiri memikirkan benda besar nan keras milik suaminya itu, ia heran benda sebesar itu mengapa bisa mampu terbenam seluruhnya ke bagian miliknya yang kecil sempit dan seret saat dimasuki itu.
Pantas saja saja sakitnya seperti ini.
__ADS_1
" Sayang ada apa?" Wisang yang mendengar sebuah pekikan terkesiap dengan mendadak, ia menjadi pusing seketika. Efek alami bila manusia bangun dengan cara paksa.
"Ada apa ada apa, gara-gara kamu nih mas. Aku gak bisa jalan!" Sekar berengut. Kini bagiamana ia bisa mandi kalau dibuat jalan saja sesakit itu.
Wisang langsung melempar bad cover putih yang menutupi tubuhnya. Pria itu berjalan tanpa malunya memutari sisi ranjang ,untuk menuju tempat Sekar berdiri dengan posisi bertumpu di tembok.
Sekar bahkan malu melihat suaminya yang berjalan dengan tanpa malunya itu ke arahnya. Polos tak mengenakan penutup apapun.
" Maafkan aku, apa sakit?" Wisang merasa bersalah. Ia benar-benar lupa diri semalam. Kebablasan karena saking lamanya menahan hasrat. Terlebih rasa istrinya yang begitu nikmat. Membuatnya lupa akan segalanya.
" Sekarang aku gimana dong mas. Aku gak bisa jalan!" Sekar berengut kesal.
" Aduh iya-iya aku minta maaf. Tadi malem pas enak gak marah, sekarang aku gendong ya ke kamar mandi" Wisang mencoba mencari celah diplomasi kepada istrinya.
" Sakit banget lo mas. Aku gak bisa jalan bener loh ini!" raut wajah Sekar muram.
" Iya sayang maaf ya!" Wisang mencium bibir Istrinya yang berengut itu.
" Sebentar!"
Wisang terlihat meraih ponselnya, ia menggulir benda pipih berwarna hitam miliknya dan men-dial nomer seseorang.
" Halo Bim!"
Woy si anjing dari tadi aku telpon gak di angkat. Elu dimana, di cariin pak Made tu!.
Sejenak Wisang ingin terkikik geli. Tentu saja gak diangkat, lawong suaranya saja sudah di senyapkan. Antisipasi itu penting.
Bener-bener anjing lu, cari aja sendiri saja Lo. Dasar sialan!?! Bisa bisanya ya elu itu. Jadi gue dari tadi nungguin orang lagi kempret ( bercumbu). Sialan elu ya, gue sama istri gue garing di kantor polisi elu malah enak-enak!
Wisang hanya menggaruk kepalanya saat Abimanyu mencecarnya dengan Omelan. Ia terima akan hal itu.
" Elu ngomelnya nanti dulu. Udah buruan elu kirim itu salep namanya apa!" Wisang tahu itu salahnya.
Dasar sableng lu!
" Mas!!" Sekar yang berdiri hanya memakai bikini itu merasa tak tahan.
" Astaga sayang iya, aduh aku jadi bingung begini. Sebentar ya!" Wisang terlihat memesan sesuatu di aplikasi belanja online, usai ia membaca pesan dari Abimanyu.
" Ayok!" Wisang lekas membopong tubuh istrinya. Ia sebenarnya bingung, ada banyak tugas yang harus ia bereskan. Tapi nikmat mana yang harus di dustakan bila sudah berurusan dengan hal erotis?
Wisang memandikan istrinya seperti memandikan bocah. Meski malu namun Sekar diam. Ia benar-benar tak tahan dengan rasa yang teramat nyeri ia rasakan menghujam liangnya.
Usai mandi bersama dalam artian yang sebenarnya, tanpa ada tambahan ini itu, Wisang membawa istrinya keluar. Sekar yang di bopong itu lekat menatap wajah tampan suaminya yang hanya membebatkan handuk sebatas pinggangnya. Sementara ia terlihat mengenakan jubah mandi.
Ganteng banget kamu mas
__ADS_1
Meski dalam hati, ia mengakui pria dewasa yang semalam mengungkungnya itu benar-benar berkharisma. Apalagi tetesan air yang masih ada di rambut basah suaminya itu, membuat desiran aneh di dadanya.
Wisang mendudukkan tubuh istrinya pelan ke sisi ranjang. Sejurus kemudian ia menuju lemari pakaian dengan terburu-buru.
" Aku sebenarnya ada janji sama Pak Made. Tapi aku gak mungkin bawa kamu dengan keadaan begini. Kamu di sini aja ya, aku akan cepetan balik nanti!" ucap Wisang seraya memasang CD di depan Sekar. Bahkan Sekar tak fokus saat diajak bicara suaminya itu.
Wanita itu malah fokus ke benda yang kini ukurannya terlihat berbeda jika sedang tertidur. Sekar menelan ludahnya berkali-kali, ia tak percaya pertahanannya telah jebol oleh pria ganteng di depannya itu.
" Sayang!" panggil Wisang kepada Sekar karena tak mendapat jawaban.
" Oh, iya...!" sedikit terkesiap dari lamunan.
Wisang mencibir, " Tadi nyalahin aku, sekarang di pandang terus. Aman!, kamu jangan khawatir. Sekarang ini punya kamu kok!" Wisang yang baru selesai mengenakan celana itu, menarik tangan Sekar yang menganggur di atas pahanya, lalu meremaskan tangan mungil itu ke kejantanannya.
Membuat Sekar mendelik sekaligus kaget di waktu bersamaan.
Wisang tergelak. " Kamu istirahat ya, aku udah pesankan makanan sama salep tadi!" Wisang mencium bibir Istrinya sekilas.
" Salep apa?" Sekar mengeryit heran.
" Salep biar itunya kamu gak bengkak!"
" Mas tadi tanya ke Pak Abimanyu ? mas Wisang ini gimana sih. Aku kan malu!!" Sekar merajuk.
" Dari kita bertiga, cuma dia yang...!" hampir kelepasan.
" Kenapa?" tanya Sekar penuh selidik.
" Dia yang suka ingat nama obat yang diinformasikan sama Richard. Udah ya, aku gak enak sama pak Made. Kamu baik-baik ya. Jangan keluar selain buka pintu buat paket, aku ngerasa kita lagi di buntuti orang!"
Wisang sebenarnya tak tega meninggalkan Sekar seorang diri. Tapi lebih tidak tega lagi bila ia mengajak Sekar dengan keadaan yang begitu akibat ulahnya semalam.
" Mas!" Sekar menatap suaminya muram.
" Mas harus hati-hati ya. Penjahatnya belum ketangkep. Dan...!" Sekar merasa suaminya itu kerap bertaruh nyawa untuk dirinya.
" Iya, udah kamu istirahat. Aku janji gak lama, sekalian mau bikin laporan mobil yang ngejar kita kemaren. Untung aku hafal platnya!" Wisang memeluk tubuh Sekar. Aroma tubuh khas yang keluar dari Wisang seolah menentramkan hati Sekar seketika.
Wisang mencium bibir istrinya, melu*mat sebentar dan memungkasi adegan itu per segera, sebelum makhluk sensitif di bawah sana kembali bangkit dari persemayamannya.
" Istirahat yang bener, biar nanti malam bisa...!"
" Mas!!!" udah sana pergi. Obat belum datang udah itu mulu yang dipikirin!!" Sekar mendengus.
Wisang tergelak kencang.
.
__ADS_1
.
.