
Bab 216. Hakikat Cinta
.
.
.
...ššš...
" Sewaktu debar cintamu, terasa melanda. Bangkit rinduku padamu di ketika itu, lalu tersentak diriku sedari lamunan, kini sebenarnya aku telah kau tinggalkan..."
( Diambil dari lirik lagu Iklim ~ Hakikat Cinta)
.
.
Indra
Ia baru saja tiba. Rumahnya yang sempat ia tinggali bersama Dhira dulu ia jual. Kini ia membeli rumah baru, di dekat ruko tempat usahanya berdiri.
Indra sibuk berbalas pesan kepada para agen yang akan mengambil baju-baju di tempatnya, dalam partai besar. Membuatnya tak fokus menatap ke depan.
Dan saat ia baru menginjakkan kakinya di lantai granit minimarketnya, ia yang masih mengetik pesan langsung terjerembab ke lantai karena seseorang menabraknya.
Bruk
Ponselnya pun turut kena getahnya.
" Mas!!!" Anggi langsung menghampirinya. Entah sejak kapan wanita itu menjadi saksi kejadian itu.
" Aku tidak apa-apa Nggi!" sahutnya cepat. Ia tak mau membuat Anggi khawatir.
Sejurus kemudian matanya membulat demi melihat wanita yang menabraknya. Wanita itu nampak kacau, kurus dan kantong matanya menghitam.
" Rena?" ia mendelik.
Lebih terkejut lagi, ia melihat mantan istrinya beserta suami, juga berada di minimarket miliknya.
" Maling kamu, dasar!" ucap pegawai pria yang sedari tadi gencar berlari seraya meneriakinya.
Indra menatap karyawannya yang nampak berang. Ia juga melihat sekotak susu untuk baby new born beserta diapers ukuran M.
" Ada apa ini?" ia beringsut bangun. Sementara wanita yang mencuri barang di tokonya itu terlihat ketakutan.
" Ibu itu ngambil susu sama diapers pak. Mau maling dia!"
.
.
Dhira
Ia sempat deg-degan saat melihat kegaduhan yang terjadi. Bagiamana tidak, dengan mata kepalanya sendiri ia menyaksikan aksi pencurian yang di lakukan oleh seorang wanita.
Dengan di dampingi oleh Abimanyu, ia berjalan cepat menuju luar.
Betapa terkejutnya dia saat melihat mantan suaminya telah berada di lantai, karena bertabrakan dengan mantan suaminya.
" Mas Indra?" Dhira kini tahu, bahwa tempat itu adalah milik mantan suaminya. Pantas saja nama usahanya adalah sematan dari nama belakang putranya.
Lebih terkejut lagi, ia melihat mantan biang kerok di masa lalunya, rupanya menjadi dalang di balik keonaran lagi ini.
" Renata?"
.
.
Anggi
Ia sama juga terkejut. Pasalnya, selama ini tidak pernah ada kejadian pencurian di minimarket milik Indra, selama ia menjadi karyawan di sana tentunya.
" Mas!" ia langsung menghampiri pria baik yang menjadi penolongnya itu. Pria yang juga menjadi bosnya.
" Aku tidak apa-apa Nggi!" Mas Indra masih tersenyum ke arahnya. Namun, ia mendengar gumaman yang cukup jelas.
" Rena!" ucap mas Indra.
Membuatnya menjadi ingin tahu," siapa Rena?" mas Indra kenal dengan maling itu rupanya.
__ADS_1
.
.
Abimanyu
Ia sebenarnya juga tak mengetahui perihal usaha mantan suami Istrinya itu. Ia hanya tahu bila Indra sudah bisa berdiri diatas kaki sendiri. Itupun ia tahu tahu manager Bank Seroja yang baru.
Ia juga sudah berdamai dengan masa lalu istrinya. Bagaimanapun juga, Indra juga pernah berkontribusi saat ia memperjuangkan cintanya terhadap Dhira.
Namun, ia tak mengira bila mantan suami Istrinya itu memiliki usaha yang cukup besar, perasaannya biasa saja, karena ia tahu Indra sudah banyak berubah.
" Sayang, bukankah wanita itu adalah wanita yang kamu jumpai waktu kita kontrol ke dokter Septa?" Abimanyu berbisik ke telinga istrinya.
Dhira mengangguk " Benar mas, dia adalah orang yang membuat rumah tanggaku dengan mas Indra hancur!"
Abimanyu menelan ludahnya sesaat sebelum ia menatap wanita yang dibicarakan istrinya itu, wanita yang saat ini menjadi tersangka atas kasus kuntit- menguntit di Chandrakanta Mart itu.
.
.
Renata
Adat pasang berturun naik, (keadaan yang selalu berubah-ubah, terutama tentang kekayaan atau kedudukan seseorang).
Peribahasa itu cocok untuk menggambarkan kondisi Renata saat ini.
Sudah jatuh, tertimpa tangga. Pasca melahirkan tanpa seorang suami, wanita itu kini kesulitan dalam menanggung beban hidup dirinya bersama anaknya.
Ia kini sangat terkejut begitu mendapati Indra yang menatapnya dengan tatapan mengiba.
" Aku harus mengambil susu dan popok itu!"
" Persetan dengan mereka!"
Meneguhkan sikap masa bodo dalam hatinya. Ia sudah tak punya muka, menebalkan muka adalah ikhtiar yang bisa ia lakukan.
" Woy kembalikan!!" ucap pegawai Indra yang terlihat meradang.
" Biarkan, biarkan saja. Pergilah!" ucap Indra menatapnya. Membuat anak buahnya tertunduk patuh.
Tanpa menunggu lagi, Renata mengambil semua popok dan susu yang tergeletak begitu saja di lantai depan ruko itu.
Hatinya terlampau pedih dengan orang-orang yang sempat memiliki hubungan dengannya di masa lalu itu.
Dalam kebisuan, Renata pergi degan membawa hasil curian yang di ikhlaskan oleh pemiliknya. Ia hanya teringat bayangan wajah anaknya di kost lusuh yang ia tinggali saat ini.
Maaf
Maafkan aku
Untuk semuanya
Seandainya saja, waktu dapat terulang....
...ššš...
Anggi terpekur menatap meja di ruangan Indra, saat ia mendengar sebuah kenyataan bila Dhira adalah bekas istri Indra.
Wanita yang menjadi favoritnya itu, tak lain adalah kepingan masa lalu pria yang menjadi penolongnya itu.
"Semua karena kesalahanku!" Indra memijat keningnya yang terasa mumet.
Ia berbicara di hadapan Abimanyu, Dhira dan Anggi. Indra benar-benar tak mengira bila kondisi Renata se- menyedihkan itu. Bagiamana pun juga, Indra dulu pernah menyatukan dirinya dengan wanita itu. Meski ia juga telah terkhianti oleh wanita itu.
" Pak Indra gak pernah bilang kalau Bu Dhira adalah istri anda!" Anggi sebenarnya kecewa. Menatap Indra dengan wajah muram.
Abimanyu mengusap punggung istrinya. Ia tahu perasaan macam apa yang dirasakan istrinya. Sedikit banyak, kejadian ini mengingatkan kembali akan kejadian tak diharapkan ratusan hari yang lalu.
Indra mengusap wajahnya gusar. " Maafkan aku, Abimanyu, Dhira dan juga kamu Anggi!" Indra benar-benar berada di titik nadirnya saat ini.
" Anggi, semua yang berlalu sudah terlewat. Aku dan mas Indra sudah saling memaafkan!" Dhira memegangi tangan Anggi. Ia tahu, Anggi pasti memiliki tempat spesial di hati mantan suaminya itu.
" Kadang kita tidak menyukai sesuatu, padahal itu amat baik buat kita!"
" Dan kadang kita menyukai sesuatu, padahal itu amat buruk buat kita!"
Anggi tercenung mendengar petuah dari Dhira yang sarat makna itu. Hati Anggi sesak mengetahui kenyataan ini. Indra rupanya pernah menyakiti Dhira.
" Semua yang terjadi, pasti memiliki alasan. Aku pun juga begitu. Kini kita semakin di dewasakan oleh keadaan!" Abimanyu angkat bicara.
__ADS_1
Ia merasa, jika Indra tidak bercerai dengan Dhira, tentu ia tak akan sebahagia seperti saat ini. Dan Abimanyu, cukup paham dengan kenyataan itu.
" Kami senang, mengetahui kalian agaknya memiliki hubungan yang serius. Itu artinya Raka juga akan memiliki Mama baru, bukan begitu sayang?" Abimanyu menatap Dhira.
Dhira membalas dengan tersenyum, " Mas Abi benar. Kami siap menunggu kabar baik itu!" Dhira tersenyum seraya menatap wajah Anggi. Mantan wanita malam itu tersenyum menatap wajah ayu Dhira.
" Bu Dhira adalah yang terbaik yang pernah saya temui dan saya kenal!"
.
.
Abimanyu dan Dhira memberikan ruang untuk dua manusia yang pastinya ingin menjelaskan, dan mendengar penjelasan itu.
Anggi masih tekun menatap hamparan rumah penduduk dari jendela ruangan Indra. Wanita itu rupanya telah jauh ketinggalan informasi.
Meski ia sudah lama bersama Indra di pekerjaan yang sama. Tapi baru kali ini ia merasa dirinya bukanlah siapa-siapa.
" Maaf Nggi, aku..." Indra bahkan kesulitan untuk menemukan kata yang taktis.
" Aku hanya orang lain buat mas!" Anggi menatap nanar hamparan genting perumahan yang membentang sejauh mata memandang.
Indra tahu dia salah. Ia lebih cenderung malu untuk mengungkapkan siapa dirinya. Ia tak lebih dari pria brengsek yang gemar melakukan hal durjana. Pada waktu itu.
" Anggi tolong, dengar aku dulu!"
" Mas menolong saya karena tidak lebih dari sekedar kasihan kan?" Anggi merasa nyaman dengan perlakuan Indra. Pria itu adalah manifestasi dari wujud kasih yang selama ini tak pernah ia rasakan.
Indra selama ini memang belum berani mengungkapkan siapa dirinya, terlebih sikap buruknya di masa lalu. " Aku hanya gak siap dengan penolakan. Apalagi..." Indra benar-benar tak menemukan kalimat yang pas.
Air mata Anggi meluncur begitu saja. Dadanya sesak, apakah ia yang selama ini terlalu baper akan perlakuan Indra?
" Mungkin aku hanya salah mengartikan kebaikan man Indra!" Anggi menyusut air matanya.
Indra mengembuskan napasnya, ia benar-benar bingung.
" Wanita yang mencuri tadi adalah wanita yang masih mas cintai kan?" Anggi menatap mata Indra dengan linangan air mata yang kentara.
Indra muram menatap wajah Anggi.
" Mas mas...!"
" Aku adalah pria brengsek Nggi. Wanita yang selama ini kamu ceritakan, kamu puja itu adalah istri yang pernah aku sia-siakan!" Indra berucap dengan nada menggebu-gebu.
" Aku bahkan minder hanya untuk sekedar ngungkapin ke kamu. Dan wanita yang kamu lihat tadi, dia adalah orang ketiga yang datang dan membuatku tergoda, dan akhirnya membuta Dhira tersakiti!" Indra memalingkan wajahnya ketika mengucapkan hal itu.
Indra malu.
Anggi menautkan kedua alisnya, " Benarkah semua itu mas?" Anggi tak mengira Indra benar-benar memiliki sisi kejam.
" Itulah kenyataan masa laluku Nggi. Aku yang gak becus hanya untuk menjaga perasaan. Aku yang ga becus menahan godaan!"
Indra menitikan air mata. Ia hanya ingin Anggi tahu, hidup dalam rasa bersalah itu tidaklah menyenangkan.
" Sekarang kamu sudah tahu kenyataannya, kamu bebas untuk pergi!" Indra pasrah. Ia tahu, wanita manapun akan pergi meninggalkan dirinya saat tahu kebrengsekan dirinya yang terlampau jauh.
" Aku benar-benar pria brengsek dan seorang pecundang!" Indra tersenyum kecut. Ia sudah cukup menelan karma. Ia bahkan rela jika semua ini harus ia tanggung guna menebus kesalahannya.
Anggi menatap Indra iba, sejurus kemudian wanita itu mendekat ke arah Indra.
" Aku bahkan tidak pantas buat kamu Nggi..." Indra menatap wajah Anggi dari dekat. Tersirat kesedihan yang begitu nyata di wajah Indra.
Sejurus kemudian,
Anggi memeluk tubuh Indra. Mengeratkan pelukannya seraya menangis, ia membenamkan wajahnya ke dada bidang Indra.
" Maafkan aku karena menutupi semua ini!" Indra mengeratkan pelukannya. Ia mulai merasa takut di tinggalkan oleh Anggi, sejak Anggi kerap memuji dan menceritakan sosok Dhira. Bahkan saat mereka berada di ruangan kerja yang sama.
" Apa aku boleh dapat janji dari mas?" Anggi mendongakkan kepalanya. Menatap Indra.
" Apa itu?" Indra menatap heran.
" Pertemukan aku dengan anak mas Indra!"
.
.
.
.
__ADS_1
.