
Bab 28. Tugas Nyeleneh
.
.
.
...ššš...
"Sabar berarti setapak demi setapak, ujung akan tercapai".
Pagi itu Dhira terkejut dengan kedatangan sebuah mobil sedan mewah, di depan rukonya.
"Siapa ya?" ia memanjangkan lehernya, demi melihat siapa sosok yang berada di belakang kemudi tersebut.
Karena ia tak memiliki kenalan, yang mempunyai mobil sebagus itu.
Namun saat hendak menuju luar, Dhira tersenyum demi melihat sosok tampan adiknya yang turun dari mobil.
"Kaget ya" ucap Bastian seraya bergaya menaikkan kerah bajunya.
"Cih, gaya!!!"
"Mobil siapa?" Dhira bertanya seraya mendudukkan dirinya, ke kursi rukonya.
"Mobil bos"
"Tadi malam lembur ngerjain tugas dia"
Dhira hanya manggut manggut.
"Nanti ibuk kemari naik ojek katanya" imbuh Bastian.
"Masih ngurus cucian"
" Ngopi dulu ya, udah sarapan belum kamu?" Dhira berdiri, berniat ingin membuatkan kopi adiknya.
Ya, Bastian pagi itu kesana guna mengantar beberapa perabot yang belum sempat terbawa.
Beberapa personal effect milik Raka dan Dhira.
Bastian melihat arloji, yang melingkar di tangannya.
"Boleh deh kak, tapi aku udah sarapan dirumah tadi"
"Kopi aja"
Dalam waktu 5 menit, Dhira telah selesai menyeduh kopi.
"Minum buatan pabrik sendiri" seloroh Bastian, yang tahu kakaknya baru saja menyeduh kopi sachet keluaran pabrik milik Abimanyu.
"Adanya ini" ucap Dhira.
"Raka kapan tanding lagi, besok aku pingin lihat"ucapnya seraya menyeruput kopi susu buatan Dhira.
"Semalam kakak telpon " jawab Dhira, sambil memainkan ponselnya.
"Sabtu besok dia tanding buat babak semi final"
"Kakak gak bisa datang, gimana lagi. Lawong ini aja belum selesai"
Bastian mengangguk," aku akan datang, kebetulan regulasi baru hari Sabtu kami juga libur, disamain kayak yang di bank. Biar besok bisa kasih suport keponakanku yang paling cakep" Bastian tersenyum.
"Bas"
"Hem"
"Segeralah cari jodoh"
Bastian sampai terbatuk-batuk, demi mendengar ucapan kakaknya.
"Kakak, udah deh jangan mulai" ucap Bastian.
Dhira tersenyum, melihat reaksinya adiknya.
"Kamu masih berharap sama Yuki?" tanya Dhira.
"No!!, aku sadar kok kak siapa aku, siapa dia" Bastian tersenyum kecut ,demi mengingat cinta yang bertepuk sebelah tangan.
"Lagipula wanita itu makhluk kontradiktif"
Dhira mengernyit" maksudnya?"
" Bilangnya mau terima apa adanya, tuanya gengsi merajalela"
" Belum nemu yang pas kak, aku juga belum mikir ke sana"
"Yang penting kakak bahagia dulu, urusan aku gampang" Bastian meraih tangan Dhira, mengusapnya lembut.
Mata Dhira kini sudah berkaca-kaca, bagaimana bisa adiknya itu terlampau baik terhadapnya.
__ADS_1
"Terimakasih Bas"
.
.
Bastian sudah mendapat pesan dari Rania, untuk tak perlu menjemputnya.
Ya, kejadian tak sengaja semalam membuat Bastian kini memiliki contact person atasannya itu.
"Aku berangkat dengan Kak Abi, kau langsung saja ke kantor"
Membuat Bastian memiliki waktu, untuk mampir ke ruko kakaknya.
Ia melihat beberapa kotak kue, hasil dari pemberian Dhira.
"Buat di bagi ke temen temenmu!"
"Jangan lupa promosiin ya" ucap Dhira tertawa kecil, saat melepas kepergian adiknya.
"Siap!!" jawabnya memperagakan gaya hormat.
Ia memarkirkan mobil mewah itu, di parkiran khusus.
Bang Togar dan Satrio yang kebetulan baru tiba, langsung menghampiri Bastian.
"Buseeet, aku kira ada sidak pagi ini"
"Tiba tiba, ada mobil bos" ucap Satrio.
"Bikin jantungan saja kau itu, apa pula kau bawa mobil bos?" bang Togar tak bisa menahan dirinya, untuk tidak bertanya.
"Tenang, sabar" Bastian tertawa.
"Kalau aku ceritain, kayak nonton Drakor panjangnya"
"Gak selesai satu hari" ia terkikik sendiri.
Kedua rekan Bastian itu, hanya menggelengkan kepalanya.
"Nih buat kalian" ia menyerahkan dua kotak berisi kue lezat, lapis legit, brownis, dan masih banyak lagi.
"Alamak, rejeki nomplok pagi pagi" riang bang Togar, dengan mata berbinar.
"Tumben lu baik ke kita" Satrio mencibir.
"Enak aja, gue selalu baik"
"Dia udah nempatin ruko barunya" ucap Bastian, seraya menyalakan komputer untuk preparation.
"Jadi beneran kamu buatin dia ruko?" Satrio kini kepo.
Bastian hanya mengangguk, mengiyakan ucapan Satrio.
"Hebat pula kau Bas, rupanya tidak salah si Dhira punya adik macam kau"
"Adik berbhakti!!" bang Togar menepuk pundak Bastian.
"Tapi kalau bisa, sering sering kasih gratis ke kita ya" bisik bang Togar.
"Maunya!!!, sekali kali ganti kamu lah bang yang traktir kita" Satrio justru yang menjawab tak terima.
"Ia tunggu si Liliana mau aku kurangi belanja dia ya"
"Woooooooo!!!!" Bastia dan Satrio mengurak Bang Togar.
"Kenapa?" bang Togar hanya bingung, seolah tiada bersalah.
...ššš...
"Kak"
"Hem" jawab Abimanyu, yang masih sibuk dengan ponselnya.
Mereka tengah berada dalam perjalanan, menuju kantor. Dengan Devan sebagai supir.
"Aku gak nyangka Lo, kalau Bastian itu jago banget buat presentasi"
Abimanyu masih diam, tak menjawab ocehan Rania.
"Semalam aja, aku frustasi banget. Komputer di mejaku semalam gak bisa di pakek"
"Terus kata anak anak disana, Bastian biasanya bisa. Tapi rupanya, musti di maintenance total itu komputer"
"Kak"
"Hem"
"Ihhhh, kebiasaan deh kalau aku ngomong, cuma di jawab ham hem ham hem"
"Ya aku musti ngapain??" Abimanyu kini menjawab.
__ADS_1
"Kalau jadiin dia asistenku gimana?"
"Kasihan kak, mobilnya dia gadaikan buat pembangunan ruko mbak Dhira".
Abimanyu langsung menoleh kepada adiknya, begitu mendengar nama wanita yang bersemayam di fikirannya itu.
"Terus?"
"Ye, giliran ngomongin mbak Dhira aja, langsung" Rania sudah tahu, bila kakaknya itu sepertinya tertarik dengan ibu dari teman anaknya.
" Serba salah, gak di tanggapi merajuk, di tanggapi begitu" ucap Abimanyu.
Rania terkikik geli," mereka itu keluarga baik kak, semalam kalau si Bastian gak bantuin aku. Aku pasti gagal buat presentasi hari ini"
"Aku pikir, kalau dia aku naikin jabatannya, dia bisa naik gaji. Biar cepet ke tebus itu mobilnya"
Abimanyu masih menyimak penuturan sang adik.
"Gak lucu juga, kerja di perusahaan besar tunggangannya masih motor"
"Kamu atur aja gimana baiknya"
.
.
Abimanyu
Pikirannya mendadak tidak tenang, begitu mendengar cerita Rania bila Dhira mengalami kesulitan keuangan.
Namun bila dia tiba-tiba membantu, tentu saja tidak relevan.
Ada hubungan apa?, atas dasar apa dia ingin membantu Dhira?.
"Apa aku panggil Bastian saja"
"Ah tidak tidak" ia menggelengkan kepalanya, menolak sendiri ide yang ia katakan.
Akhirnya muncul ide gila dari dirinya.
Devan yang mendapat panggilan dari bosnya itu, segera menuju ruangan Abimanyu.
"Ya Tuan?" ucapnya membungkuk.
"Saya ada tugas untuk kamu!"
Devan masih terdiam, menunggu bosnya menyelesaikan kalimatnya.
"Minta semua anak buah kamu, untuk membeli makanan atau kue di kedai ini" ucap Abimanyu, menyerahkan sebuah tulisan.
Devan mengernyit heran," maksudnya gimana Tuan?"
"CK, kamu ini!!"
"Teman saya lagi buka kedai makanan baru, saya minta semua bawahan kamu wajib beli disana"
"Kalau perlu, foto struk pembayaran untuk bukti"
"Baik tuan!!"
.
.
Devan
Ia berkacak pinggang di ruangannya, menatap selembar kertas dengan tulisan yang terbubuh di atasnya.
...Dapur Isun...
"Yang benar saja!" Devan merasa belakangan ini bosnya itu kerap bertingkah aneh.
Bosnya itu memiliki restoran dan juga hotel, untuk apa harus membeli di kedai yang belum ia ketahui itu.
" Sesuai anjuran dari Pak Dirut" ah tidak, ia kembali menghapus tulisan itu.
Bisa bisa ia kena semprot nanti, ia akhirnya memikirkan kembali tulisan untuk ia deklarasikan kepada bawahan, berserta jajarannya.
Ia juga bersiap bila akan di berondong banyak pertanyaan oleh para bawahannya, bahkan ini hal konyol diluar pekerjaan yang amat memusingkan untuknya.
Menginstruksikan karyawan, untuk membeli makanan di kedai baru.
Tugas macam apa ini???
Ia menggerutu, sepanjang ia mengetik perintah untuk ia share ke group.
.
.
.
__ADS_1