
Bab 223. Langkah yang di mudahkan
.
.
.
...ššš...
" Naluri kasih sayang kerap hadir saat hati benar-benar berlabuh pada orang yang tepat!"
.
.
Obat sialan itu rupanya lebih ganas dari pada obat pencahar. Wisang tak bisa membayangkan bila ia harus melakukan pelepasan dengan wanita biadab itu.
" Please help me!" Wisang tanpa menunggu lagi mengangkat tubuh Sekar dalam satu kali angkatan. Membawa ke kamar tamu, yang berada di jarak terdekat dari mereka berada.
Berharap rasa yang menumpuk lalu membuncah itu segera tersalurkan.
" Mas, kamu kenapa?" dahi Sekar berkerut. Ia tak mengerti mengapa suaminya seperti kesetanan. Kulit mereka yang bersentuhan bisa Sekar simpulkan, jika suaminya itu bersuhu panas saat ini.
Wisang meletakkan istrinya dengan pelan di tepi ranjang. Sejurus kemudian ia memutar anak kunci itu. Sekar yang kini berada diatas ranjang pegas kamar tamu itu, menatap suaminya dengan penuh keheranan.
" Kamu, ini kenapa sih mas?"
Wisang tak menjawab, pria itu memilih membuka bajunya dengan tergesa-gesa, dan mencampakkannya asal. Menampilkan tubuh liat yang menggugah gairah.
Sekar semakin bingung dibuat namun juga terpana dengan tampilan yang hampir tiap hari ia lihat, namun selalu berhasil membuat wajahnya memerah. Wisang terlihat ganas.
Sekar hanya diam saja saat suaminya itu menyambar bibirnya dengan rakus. Siang bolong itu menjadi saksi penyaluran hasrat yang memerlukan pelepasan per segera.
" Eugghhhhh!" Sekar melenguh, meski ia tahu suaminya itu tergesa-gesa , namun Wisang masih memperlakukan dia dengan lembut.
Sandangan yang di kenakan Sekar kini sudah teronggok begitu saja, Wisang kembali menyambar bibir istrinya, lalu turun menghisap puncak dada Sekar. Membuah wanita itu menggelinjang.
" Ah mas!!!"
Foreplay itu berjalan tidak terlalu lama, Wisang benar-benar sudah tidak tahan lagi. Pria itu sejanak mengecek bagian bawah istrinya dengan sapuan jarinya. Ia tak mau menyakiti istrinya, usai memastikan pangkal paha istrinya sudah lembab, kini ia siap menghujam celah sempit istrinya itu dengan bebas.
Menembus batas kegilaan yang sarat dengan kenikmatan duniawi.
Wajah sendu Wisang seoalah menuntut, Sekar tak percaya di cuaca yang panas seperti itu, selaras degan kegiatan mereka yang lebih panas. Bergairah dan begitu sensual.
__ADS_1
Wisang menghentak dengan gilanya, seolah tak cukup dan tak puas. Pria itu menghentak seraya melu*mat bibir istrinya. Wisang meletakkan kedua tangannya ke bawah kepala Sekar.
Ia harus pelan karena istrinya itu tengah berbadan dua, namun entah mengapa justru kian memacu geloranya untuk bercumbu.
Peluh nampak mengucur di ruangan ber AC yang seolah tiada berguna. Terproduksi seirama dengan hentakan yang membawa mereka berdua melayang. Bagai tak menjejak bumi. Membuat lutut kedua insan yang di geluti gairah percintaan itu, bergetar hebat.
Dan selang beberapa lama kemudian, kaki dan tubuh Wisang mengejang. Pria itu memeluk istrinya erat saat ia meledakkan sumber persoalan yang membuatnya tersiksa tadi.
" Ahhhh!!!"
Sekar merasakan sesuatu yang hangat berdenyut serta mengalir di luangnya yang terasa panas karena gesekan yang lama.
Beruntung Wisang meledakkan ke liang yang tepat, ia tak bisa memaafkan dirinya jika sampai ia harus membuang benih itu ke lahan lain.
Dengan terengah-engah, Wisang menghujani wajah Sekar dengan ciuman. " Makasih sayang!"
" Terimakasih!" Pria itu langsung ambruk di samping Sekar dengan napas tersengal-sengal.
Suasana hening sejenak, Sekar masih dalam mode ingin tahu.
" Kamu ini kenapa sebenarnya mas?" Sekar berbicara seraya menutupi simbol kejantanan milik suaminya itu dengan selimut. Tak rela jika barang yang sudah mulai tertidur itu, terekspose begitu saja dengan hutan amazon lebat yang menjadi penghiasnya.
Ini gila, benar-benar gila. Mereka bercumbu disaat matahari tengah terik-teriknya.
" Apa?" Sekar kini mendadak kasihan dengan suaminya. " Tapi siapa?"
" Nanti akan ku cari tahu, sini dulu!" Wisang kini menyenderkan kepalanya dengan posisi setengah tidur.
Sekar menurut, ia kini menyenderkan kepada ke dada bidang suaminya. Masih dalam keadaan tak mengenakan sehelai benangpun, namun tertutup oleh selimut putih tebal.
Skin to skin
" Mas gak apa-apa kan tapi?" Sekar mengusap lengan dengan otot-otot kentara milik suaminya.
" Hemmm, untung ada kamu. Aku gak bisa bayangin jika aku tadi pulang terus kamu gak ada!" Wisang mengelus perut istrinya yang kini mengandung buah cinta mereka.
" Kalau aku gak ada, apa yang kamu lakukan?" goda Sekar. Ia merasa belum melihat suaminya segarang ini. Ya, meski ia akui stamina pria dewasa itu benar-benar luar biasa.
" Hah?" gak tau lah, rasanya kesiksa banget sayang!"
Sekar terkekeh " Laiya, andai aku gak ada gimana?"
Wisang terlihat berfikir, mustahil dia melampiaskan dengan sembarang wanita " Apa ya, mungkin berendam air dingin aja sampai pingsan, dari pada harus ..."
Sekar mencium bibir suaminya sekilas " Tapi, aku suka kok kalau mas tergesa-gesa begitu!" wanita itu kini sudah kecanduan sentuhan suaminya.
__ADS_1
" Kalau begitu, let's play again!"
Tanpa menunggu lagi, Wisang langsung mengungkung tubuh istrinya, membuat wanita itu terperanjat.
" Mas!" ucapnya dengan mata membulat demi melihat aset berharga milik suaminya yang sudah tegak.
...ššš...
Malam menjelang, seperti yang sudah di rencanakan Raka bersama Anggi dan Indra benar-benar terealisasikan.
" Udah siap?" tanya Indra saat Anggi sudah berdandan anggun.
Anggi mengangguk, "sudah!" kini mereka tinggal menunggu Raka. Bocah itu terlihat menyembul dari balik pintu kamar yang khusus Indra sediakan untuk putranya itu.
" Anak Papa udah siap juga rupanya!" Indra menyongsong kedatangan putranya yang nampak terlihat tampan dengan Hoodie warna abu-abu, juga dengan sepatu sneaker yang membuat Raka kece abis.
" Udah Pa, yuk!"
.
.
Disebuah kawasan jalan menuju perbatasan desa, terdapat gelaran acara pasar wit- witan . Pasar itu adalah salah satu gelaran acara dari pemerintah daerah setempat, guna meningkatkan ekonomi masyarakat kelas menengah kebawah yang memiliki usaha mikro dan ultra mikro di bidang kuliner.
Ada ratusan stand disana, pasar itu berada di areal pepohonan yang rindang namun terlihat ramai karena pancaran lampu kuning yang begitu banyak, terasa menyejukkan mata. " Papa sengaja bawa kamu kesini, ini lagi hits di Instagram!" tukas Indra sesaat setelah ia menutup pintu mobilnya.
"Makasih Pa?" Raka tersenyum senang seraya mengedarkan pandangannya. Banyak gubuk-gubuk klasik yang menjual panganan khas yang kini sangat sulit di temui.
Indra dan Anggi tersenyum, ini pertama kalinya mereka melihat Raka tersenyum sejak tadi pagi.
" Sepertinya, ini akan mudah!" Indra mengusap pipi Anggi penuh kasih.
Tidak semua keburukan di masa lalu berakibat buruk, kini sudah saatnya Indra memulai hal baru dengan pribadi dan sikap baru pula.
Meski ia tahu, belum semua orang menganggapnya baik.
.
.
.
.
.
__ADS_1