
Bab 170. Bergumul Dengan Pikiran
.
.
.
...ššš...
" Bagai orang buta kehilangan tongkat."
( Seseorang dalam langkah kesulitan, karena tidak tahu langkah apa yang harus diambil/diputuskan)
.
.
Sedan Hitam mengkilat telah terparkir agak jauh dari rumah mertuanya. Abimanyu benar-benar tak ingin membuat istrinya itu kabur, bila mengetahui kedatangannya yang kentara.
Namun, begitu sampai di bibir pintu masuk rumah mertuanya itu, sebuah pemandangan mengejutkan cenderung mengharukan nampak menjadi penyambut kedatangannya.
Ia tahu mungkin istrinya itu tengah mengadu kepada adiknya. Selama ini, ia tahu bila Bastian lah yang selalu pasangan badan dalam persolan istrinya jtu, sejak jaman Indra dulu. Begitu pikirnya.
" Ehem!" ia berdehem ringan lantaran tak satupun kata yang bisa ia pilih, untuk dijadikan kata pembuka. Membuat dua saudara yang tengah berpelukan itu, menoleh sekaligus melepaskan pelukan mereka.
" Kakak udah sampai, kok gak denger mobilnya!" ucap Bastian dulu nampak biasa saja. Ketakutannya rupanya tak terbukti. Ia khawatir bila Bastian akan mendampratnya lantaran membuat kakak kesayangannya menangis.
Namun jawaban santai dari adik iparnya itu, membuat kekhawatirannya seketika menguar ke atmosfer ruangan itu.
" Emmm ..tadi di depan sana aku parkirnya. Biar kalau pulang gak ribet nanti, soalnya aku gak bisa lama-lama. Aku masih harus beresin beberapa kepentingan soal pelaku yang bikin mobil Wisang di sabotase!"
Suami Dhira itu nampaknya sengaja menekankan kata pelaku sabotase, agar istrinya itu juga mengerti bila ia masih sangat peduli terhadap kasus sahabat dari istrinya itu.
" Astaga, aku minta maaf kak belum bisa kesana. Jadi gimana keadaannya mbak Shinta sekarang?" Bastian yang masih di gempur oleh beberapa kesibukan terkait Dapur Isun itu benar-benar menyuguhkan raut penyesalan.
" Dia sudah baik, tapi ... Rangga masih belum siuman. Dia koma!"
Bastian tertegun, wajahnya melas. " Kasihan sekali mas Rangga. Nanti malam saja aku akan kesana kak. Aku masih...!" Bastian malu bila harus menjelaskan kepada kakak iparnya itu, terkait kerempongannya dalam urusan pendaftaran pelatihan entrepreneur.
Ia menilai, urusan keuangannya adalah hal tabu yang ingin ia hindari untuk dibahas bersama Abimanyu. Karena ia yakin, sekali saja mengeluh. Suami dari kakaknya itu pasti langsung menerjunkan bantuan yang tak tanggung-tanggung. Dan ia menghindari hal itu.
" Tidak apa-apa, mertuanya Shinta juga sudah datang kok!" saat mengatakan hal itu, Abimanyu mencuri tatapan kepadanya Dhira yang masih ogah-ogahan menatapnya.
Dhira hanya diam. Terpekur menatap taplak meja.
" Aku buatin minum dulu kalau begitu kak, ibuk soalnya gak ada!" Bastian sengaja ingin memberikan ruang bagi keduanya, untuk berbicara. Dia tahu, sesuatu sedang terjadi diantara manusia beda jenis itu.
" Boleh, yang dingin aja ya Bas!" Abimanyu tersenyum kepada adik iparnya, seraya mendudukkan dirinya ke atas sofa.
" Beres!" pria itu melesat ke dapur. Meninggalkan dua manusia dalam kebisuan.
Kenyamanan di sekitar perlahan memudar. Dhira biasa saja tapi tidak dengan suasana hatinya. Wanita itu benar-benar mahkluk kontradiktif. Apa yang terlihat, selalu bertolak belakang dengan isi hatinya.
Istri Abimanyu itu terlihat sok tegar, padahal ia amat sangat sedih. Teringat akan suara Abimanyu yang meninggi kepadanya tadi.
__ADS_1
" Aku minta maaf!" Abimanyu menyatukan kedua tangannya, seraya menatap istrinya tak lekang. Senyap kini menjadi headline suasana disana.
" Tadi aku pulang kerumah buat cari kamu , tapi kamu ga ada, tanya mbak Yuni juga ga tau!"
Masih senyap.
" Telpon Rania juga dia gak tau. Anak-anak udah pulang sama Rania!" ucapnya lagi.
" Katakan sesuatu biar aku bisa menebus kesalahanku. Aku cuma gak mau kamu di perlakukan gak bener sama orang lain itu aja!"
" Tapi kalau menurut kamu itu gak bener. Aku akan belajar dari hari ini!"
" Kalau perlu, aku akan minta maaf ke ibunya Rangga sekarang kalau kamu masih diemin aku begitu!"
Dhira masih dalam mode diam, namun sudah terlihat gusar. Abimanyu menatap istrinya yang mendadak menjadi manekin itu.
" Yasudah, aku pergi sekarang!" Abimanyu mulai beranjak dari tempat duduknya.
" Aku per...!"
" Jangan pergi!" ucap Dhira saat suaminya itu membalikkan badannya menghadap arah pintu keluar, dan mulai melangkahkan kakinya. Senyum penuh kemenangan muncul dari wajah Abimanyu.
" Aku minta maaf!" Dhira memeluk tubuh padat suaminya itu lalu menempelkan wajahnya ke punggung lebar suaminya.
Menghirup aroma tubuh Abimanyu yang selalu saja menenangkan.
Abimanyu sejenak menikmati sentuhan istrinya yang membuat sesuatu di bawah sana mendadak gelisah. Mahkluk kecil yang begitu sensitif, bila mendapat sentuhan dari istrinya itu.
" Aku yang minta maaf. Aku tidak akan melakukan yang kamu gak suka. I'm promise!" tubuh pria itu kini sudah berbalik, ia menatap wajah istrinya yang turut tersenyum.
Oke singa betina itu sudah berhasil ia jinakkan kembali pikirnya. Tinggal finishing.
Abimanyu menatap istrinya sendu. Nampaknya ia akan kalah bila istrinya itu merajuk. Ia bisa semena-mena terhadap Devan. Namun agaknya, ia tak memiliki taring bila berhadapan dengan istrinya itu.
Bibir lembut istrinya kini ia sambar. Baru di rajuki istrinya selama beberapa jam saja, sudah membuat Abimanyu belingsatan tak karuan. Sapuan lembut nan hangat membuat Dhira turut larut.
Tangan dengan otot kentara milik Abimanyu memegang tengkuk istrinya itu dengan setengah menekan. Sementara tangan satunya, ia gunakan untuk menarik pinggang istrinya.
Sangat lembut dan bergelora.
Dhira yang terbuai bahkan turut menyambut ciuman itu dengan irama yang teratur. Decakan kecil bahkan terdengar.
" Es semangka segar ala Bastian su..dah si....!" sepertinya pria itu di takdirkan untuk menjadi pemergok adegan yahud. Setelah Wisang dan Sekar , kini ia harus menjadi belingsatan saat melihat dua kakaknya yang saling menikmati pagutan itu. Membuatnya langsung balik kanan dan maju jalan dengan nampan yang masih berada di atas tangannya.
...ššš...
" Pak Made minta aku balik ke sana Dan. Elu ikut apa...?" Wisang sengaja menggantungkan pertanyaannya, usai pria itu menyelesaikan balasannya kepada AKBP Made Alit.
" Menurut elu?" sahut Danan.
" Ya, gue...!" Wisang malah menjadi bingung dengan sendirinya.
" Gue gak tega ninggalin Shinta. Tenang aja, gue gak berniat apa-apa. Gue cuma gak bisa ngebiarin dia cuman sama mertuanya. Elu denger sendiri tadi kan!" Danan terus terang untuk hal yang satu itu. Pria itu bisa membaca raut wajah Bu Nisa, yang menunjukkan ketidaksukaannya kepada Shinta.
Wisang menatap Danan lekat dengan setengah berpikir. " Oke, gue yakin elu bisa pegang janji elu. Pria sejati adalah dia yang mampu menunaikan janjinya!".
__ADS_1
Dan Wisang pun benar-benar meninggalkan pria itu.
.
.
Dananjaya
Semburat jingga di ufuk barat menjadi pemandangan yang masih setia ia pandang dengan tatapan masygul.
Shinta sudah siuman dan sedang di rawat serta di gantikan baju oleh suster, atas perintah Richard.
" Kami akan mengganti baju Bu Shinta sebentar Pak, Bapak bisa menunggu diluar dulu!"
Dia bukan siapa-siapa disana. Semua juga tahu itu. Damned!!
Telah berbatang- batang puntung rokok itu habis ia sesap. Hatinya nyeri demi mengingat ucapan menyakitkan dari bibir wanita yang menjadi mertua Shinta itu. Mengapa pria sebaik Rangga justru terlahir dari wanita yang bermulut laknat itu.
Ia masih duduk termangu. Berada di lantai paling atas rumah sakit itu. Berteman angin sore yang menyapu wajahnya dengan hawa aneh. Ia masih gencar menimbang pikirannya. Bisakah dia meninggalkan semua ini.
Dia bukan bajingan ataupun pecundang yang senang dengan kondisi Rangga. Ia malah justru ingin pria itu segera sadar. Agar Shinta tak terus - terusan di rundung gulana.
Matanya memandang hamparan perkotaan yang terlihat begitu kerdil dari tempatnya duduk. Apa yang ia cari.
Kekayaan?
Kehormatan?
Kebahagiaan?
Empat puluh tahun lebih bernapas dan belum mendapatkan kebahagiaan. Lalu apa yang ia dapat selama ini?
Bukankah selama ini ia happy dengan hidup free for life yang ia anut? bukankah selama ini pula, ia bisa dengan gampang terpuaskan oleh wanita molek yang menjajakan tubuhnya demi secuil harta miliknya?
Lantas mengapa ia kini begitu kosong?
Jelas yang ia dapatkan selama ini hanyalah sebuah kesenangan. Dan kesenangan dengan kebahagiaan itu merupakan dua hal yang berbeda. Siapapun bisa senang. Bisa mendapatkan ini itu, seseorang bisa senang.
Tapi apa semua itu di barengi dengan rasa kebahagiaan?
Not necessarily ( belum tentu).
Dia pikir ketertarikannya kepada Shinta hanya euforia sesaat. Dia pikir semua itu hanya perasaan fana nan bersifat semu, yang tidak akan bertahan lama. Tapi kenyataannya, kini ia harus berperang melawan dirinya dan logikanya sendiri.
Kini ia percaya dengan dalil yang sering di ucapkan oleh Abimanyu.
" Semua orang akan mumet pada waktunya!"
Setelah Wisang yang percaya akan hal itu, kini agaknya ia juga harus mengakui kekeramatan ucapan mustajab sahabatnya itu.
.
.
.
__ADS_1