
Bab 224. Like you too
.
.
.
...ššš...
" Konsekuensi selalu berdampingan dengan tindakan ataupun keputusan!"
.
.
Shinta
Ia telah bersama Rangga saat ini, duduk bersama di suatu tempat yang belum pernah ia kunjungi. Tempat itu sangat menenangkan, terdapat sampan kecil di dekat telaga itu. Ia dibelai mesra oleh suaminya itu.
Ia merasa sangat bahagia.
Rangga mengajak Shinta untuk melihat beberapa tanaman bunga Krisan, yang berada di dekat telaga berair jernih.
" Aku mau yang warna merah mas!!" Rangga tersenyum lalu mengangguk. Tanpa berucap ia memetik sebuah bunga Krisan warna merah yang cantik, kemudian menyerahkannya kepada Shinta.
" Wangi mas!" Shinta menghirup bunga itu. Rangga membalasnya dengan senyuman dan membelai rambut Shinta.
Rangga mencium kening Shinta lama dan dalam, lalu kemudian tersenyum. Pria itu berjalan seperti mencari sesuatu.
" Kemana?" tanya Shinta.
Rangga diam dan menunjuk ke arah ujung telaga, dimana disana ada banyak bunga anggrek tanah.
Shinta hanya tersenyum, mungkinkah ia akan mendapatkan banyak bunga lagi. Namun, saat suaminya itu berada di jarak yang agak jauh, suaminya itu menatapnya dengan senyuman yang paling indah yang pernah ia lihat, dan suaminya itu menghilang tiba-tiba.
" Mas Rangga, mas!" Shinta yang khawatir berlari. Kemana suaminya.
" Mas Rangga!!!" Ia bingung, di tempat itu ia menangis. Baru saja suaminya ada disana. Dan saat itu ia merasa takut.
" Mas Rangga!!!" ia berteriak lalu dengan sontak bangun dari tidurnya.
Kening dan leher Shinta bermandikan keringat, ia rupanya bermimpi.
Dengan mengatur nafasnya, ia kini menyalakan lampu kecil di nakasnya. Ia melihat jam di dekat lampu itu
01.47
" Mas Rangga!" ia menutup wajahnya. Apa arti senyum yang merekah di bibir mendiang suaminya itu?
Mengapa akhir-akhir ini mendiang suaminya itu kerap mengunjunginya dalam mimpi. Seolah menyiratkan satu pesan. Namun mengapa saat bertemu dalam mimpi pria itu tak mengatakan hal apapun.
Shinta memejamkan matanya, dalam mimpinya ia bertemu Rangga yang memberinya bunga. Lali menghilang begitu saja tanpa berucap apapun. " Apa yang sebenarnya maksud kamu mas?"
" Bu, Bu Shinta?" Ketukan membabi-buta terdengar dari suara Mbak Suko.
.
.
Shinta mengembuskan napasnya. Sejurus kemudian ia beranjak dari kasurnya lalu menyalakan saklar lampu.
Anak kunci itu terlihat berputar, Shinta kini menyembul dari balik pintu yang terayun. " Iya Mbak?" ucapnya saat ia melihat wajah Mbak Suko yang pias.
" Bu Shinta kenapa, tadi saya dengar teriak" Wajah ART-nya itu jelas menyiratkan raut kecemasan, apalagi ia melihat keringat yang kentara di kening majikannya itu.
Shinta diam, ia tercenung dengan menyenderkan kepalanya ke gawang pintu itu. " Cuma mimpi mbak, maaf malam- malam begini ganggu mbak Suko" tukasnya dengan wajah lunglai.
" Sebentar Bu!" Mbak Suko terlihat menuju dapur, wanita itu menjalankan tugasnya dengan begitu baik.
" Ini Bu diminum dulu!" segelas air putih ia berikan kepada Shinta. Ia menatap wajah muram Shinta yang terlihat mendadak diam.
__ADS_1
Pak, Bu Shinta sepertinya baru mimpi dan jadi syok. Tadi saya sempat dengar beliau memanggil nama suaminya yang sudah meninggal.
Pesan itu dikirim oleh Suko, sesaat setelah ia kembali ke kamarnya. Setidaknya, ia harus melaporkan sesuatu yang terjadi kepada Danan.
.
.
Pagi harinya, Shinta terlihat lebih segar. Ia kini terlihat menyiangi tanamnya di depan rumahnya. Daun-daun yang menguning itu ia gunting.
Aktifitas receh yang membuatnya senang.
Entahlah, ia merasa asing dalam rumahnya sendiri. Biasanya dia sibuk di jam seperti ini, namun karena kehadiran dua ART itu, ia malah menjadi pengangguran.
Tepat di jam Tujuh lewat dua puluh, mobil sedan hitam terlihat menyalakan klakson. Ia tertegun, namun Sundari berlari dari arah pintu dapur.
Wanita berumur itu sigap, ia menggeser gerbang tinggi itu dan mengangguk hormat. Shinta sampai terperangah, mobil siapa itu dan mengapa Mbak Sundari langsung membukakan pintu.
Shinta mendelik demi melihat pria yang turun dari mobilnya. " Mas Danan?"
Pria itu sudah mengenakan setelah rapih, pagi ini ia akan memimpin rapat direksi di hotel miliknya. Hotel yang pernah digunakan Dhira dan Abimanyu saat mengadakan resepsi.
" Kenapa terkejut?" seringai Danan usai turun dari ruang kemudinya, sembari melepas kacamatanya.
" Kamu tumben dandan kayak gini mas?" Biasanya Danan berdandan tidak se formal ini bila menuju tempat usaha perhiasannya.
Pria itu berjalan mendekat ke arah Shinta " Are you Ok, hm?" bukannya menjawab malah balik bertanya.
" Me?" Shinta mengerutkan keningnya.
" Hmmm!" Danan menatap Shinta serius sembari mengangguk.
" Aku kenapa memangnya mas?" tentu saja Shinta bingung, pria itu datang-datang langsung menyerangnya dengan pertanyaan yang membuat dia bingung.
" Kamu kalau bosan aku ajak ke tempat Dhira mau? nanti pulangnya aku jemput!" Danan sering mendapat laporan bila Shinta kerap melamun.
" Mmmmm" Shinta sejenak berpikir " Boleh, ya udah aku siap- siap ya?"
" Bu Shinta sering diam Pak, beliau juga jarang makan tepat waktu!" Sukoco nampak lebih komunikatif.
Danan tertegun, sampai saat ini Shinta belum pernah menjawab iya ataupun membalas ungkapannya. Namun, ia memahami.
Setidaknya Shinta tak menolak kehadirannya saat ini.
" Ya sudah, terimakasih banyak. Gaji kalian bulan ini sudah saya transfer, pastikan Shinta dalam keadaan baik-baik saja!"
Dua orang di depannya itu mengangguk patuh.
.
.
Danan menapaki tangga menuju kamar Shinta. Mengapa Shinta lama sekali. Namun, saat ia baru hendak mengetuk pintu kamar Shinta, ia dikejutkan dengan pintu yang mengayun. Shinta muncul dari balik pintu itu.
Wanita itu sedikit bermake-up rupanya. Membuat Danan tertegun. Dandanan yang hampir mirip saat ia pertama kali melihat Shinta.
Danan menelan ludahnya. Sungguh terpesona.
" Mas, kamu kenapa?"
Shinta sengaja sedikit menebalkan make up-nya, karena matanya sembab dan wajahnya pucat. Ia tak ingin membuat sahabatnya itu, mengajukan banyak pertanyaan saat mereka bertemu nanti.
Sedikit make up bisa menutupi semuanya itu pikirnya.
Danan malah mendorong pelan tubuh Shinta kedalam, lalu menutup pintu itu. Danan menempelkan tubuh Shinta ke dinding persis di samping pintu.
Shinta terkejut, mau apa pria itu. Aroma tubuh Danan mulai mengusik Shinta.
" Mas mau apa?" tentu saja Shinta terkejut. Namun Danan malah keranjingan.
Ia sendiri tidak tahu, mengapa ia malah masuk ke kamar Shinta. Benar-benar bodoh. " Aku...aku!" Mendadak menjadi gagap.
__ADS_1
Shinta menyipitkan matanya mencari tahu.
" Kamu, jangan dandan seperti ini. Aku gak rela kalau banyak orang yang...." Danan sungkan mau mengatakan kalau ia cemburu misalkan ada orang lain yang melihat Shinta secantik itu.
Shinta membulatkan matanya " Aku jelek?" mendadak insecure.
" Bu-Bukan!" sahut Danan cepat. " Aduh bagaimana mengatakannya?"
" Kenapa sih mas?" Shinta sebal, pria itu malah berdiri seraya menggaruk kepalanya belingsatan.
" Oh, mungkin aku kelihatan jel...."
" Aku cemburu kalau lihat orang memerhatikan kamu pas dandan begitu!"
Danan membuang mukanya usai mengatakan hal itu. Dia malu.
Shinta tertegun.
Danan juga tertegun.
Mereka sama-sama tertegun.
Hening beberapa saat.
Danan sebenarnya tidak enak hati, ia belum memiliki Shinta seutuhnya. Bisa di katakan hubungan mereka masih abu-abu. Shinta tak pernah mengatakan iya, namun juga tidak pernah mengatakan tidak.
Semua berjalan begitu saja.
" Aku akan menggantinya!" ucap Shinta masih mematung, membuat Danan menatap wajah ayu itu tak lekang.
Apa itu artinya Shinta menuruti kemauannya? yeah!
Danan mendekat ke arah Shinta, itu adalah riasan favorit Danan. Lipstik merah itu membuat Danan gelisah.
Detak jantung Shinta tak beres saat Danan mencondongkan tubuhnya. Aroma tubuh yang kini cukup ia kenali dengan baik.
Danan meraba pipi Shinta dengan tatapan sendu, akan sangat mubazir jika lipstik waterproof itu tidak ia cicipi. Pria itu menekan tengkuk Shinta lalu menciumnya, lembut dan mengandung kadar cinta yang tinggi.
Shinta mulai terbuai dengan perlakuan lembut Danan, wanita itu kini membalas ciuman Danan dengan begitu lembut. Saling menyesap dan saling meluapkan rasa.
Benarkah bila Rangga merestui mereka dengan kerapnya ia mengunjungi Shinta dalam mimpi?
Apakah ini berarti ia harus belajar menepikan penghakiman orang lain, demi kebahagiaannya?
Danan meremas bokong Shinta, pria itu menghujani leher Shinta dengan ciuman sensual. Membuat darah Shinta berdesir.
Tok Tok Tok
" Bu Shinta, ada paket!" Suara sukoco menginterupsi kegiatan mereka.
Danan langsung melepas kegiatannya, begitu juga dengan Shinta. Mendadak mereka berdua bak maling yang tertangkap basah. Kikuk dan menjadi keranjingan.
" A-aku tunggu di bawah!" ucap Danan seraya menelan ludahnya. Sikapnya menjadi kikuk detik itu juga.
Wajah Shinta juga memerah, padahal mereka sudah lebih dari tiga kali berciuman.
" Sialan si Suko!" umpat Danan dalam hati.
Shinta mengembuskan napasnya, ia tersenyum. Ini benar-benar gila. Ia memandang pintu yang sudah tertutup.
Perlakuan hangat, sentuhan manis dan terlebih pria itu memperlakukannya dengan cara lain. Shinta menyenderkan kepalanya seraya tersenyum simpul.
" I think I like you too mas!"
.
.
.
.
__ADS_1