The Love Story' Of Single Parents

The Love Story' Of Single Parents
Bab 261. Harus bagiamana?


__ADS_3

Bab 261. Harus Bagaimana?


.


.


.


...šŸšŸšŸ...


" Dengarkan suara bening dalam hatimu, niscaya kau akan menemukan kebenaran disana!"


.


.


Jodhistira


Ia yang dulu berhati dingin, malah kini berbalik seratus delapan puluh derajat menjadi pribadi yang periang cenderung bar-bar. Tiga hari telah berlalu dan pernikahan mama dan Om Bastian tinggal beberapa hari lagi.


Ia tidak akan pernah bisa menjadi seperti sekarang andai ia tak mau kembali ke Indonesia. Lebih tepatnya jika tidak bertemu dengan Raka.


Mendiang Papanya yang bernama Chandra Mahavendra hanya bisa ia tatap melalui sebuah album foto. " Aku akan memiliki penjaga setelah ini Pah. Mama juga gak akan sering nangis tiap malam sendiri nanti!"


Jodhi memeluk erat foto Papanya. Meski dia bar-bar, namun sisi mellow tetap ada dalam diri setiap manusia. Pun dengan jodhi.


Ia mencoret tanggal demi tanggal di kalender duduk yang bertengger rapih di nakas kamarnya. Menandai waktu yang terus bergulir jelang hari bahagia mamanya. Termasuk dirinya.


Kata Single Parents yang acapkali membuat Jodhi menaruh iba kepada mamanya jelas mengusik keteguhan hatinya sengaja seorang putra. Ia sudah remaja yang bisa menelaah berbagai perbendaharaan kata yang sedikit banyak membuat hatinya pilu.


" Kasihan ya mama Jodhi, masih muda udah jadi Single Parents!"


" Sudah lama tapi kok betah menjanda ya?"


" Jangan sampai nanti ngerusuhin suami orang!"


Perkataan tersebut silih berganti kerap ia dengar meski tanpa senagaja. Membuat dirinya kasihan melihat sang mama.


Pernah terbesit pemikiran menyalahkan papanya. Mengapa harus meninggalkan mereka semua seenaknya. Tanpa meninggalkan jejak yang jelas. Pusara mungkin.


Namun, ia bisa minat kebahagiaan di mata mamanya kala bersama Om Bastian. Dari situlah ia tahu, bila orang dewasa tidak hanya akan cukup dengan bocah tengil macam dirinya saja.


Ia memang tak sedewasa Raka. Jelas lingkungan dan faktor humanis telak menjadi faktor pembentukan karakter seorang Jodhi. Namun melihat mamanya menjadi bahan pergunjingan orang, jelas itu semua menyentil rasa ingin melindungi mamanya.


Dan tak rewel saat mamanya meminta izin untuk menikah lagi, adalah satu hal penting yang bisa ia lakukan demi kebahagiaan mama. Tentu setelah melihat Om Bas yang memang layak menjadi papanya, dari berbagai sisi.


Pintu mengayun, menampilkan Oma buyut yang masuk dengan berjalan tertatih menggunakan tongkat.


" Belum tidur?" tanya Oma Buyut sembari berjalan pelan.


" Belum Oma!" jawabnya seraya menyimpan album foto di bawah bantalnya.


Namun terlambat, Oma sudah menyadari hal itu. " Kenapa di sembunyikan?"


Jodhi menunduk " Apa Papa disana tahu Ya Oma?" Jodhi menatap Oma Buyut dengan wajah bimbang.


Oma Buyut tersenyum " Papamu pasti bahagia karena putranya yang baik merasa bahagia. Kamu tahu Jo, kamu sekarang sudah makin tumbuh menjadi anak yang baik!"


" Mama kamu sebentar lagi menikah. Dengar Oma Buyut ya..Kamu harus bisa berbagi tempat dengan Papa baru kamu, setelah ini kamu juga harus bisa lebih mandiri. Bukan bermaksud membandingkan, tapi lihat kakakmu Raka...!"


Jodhi terpekur menatap lantai mengkilat di kamarnya itu. Masih tekun mendengar ucapan Oma Buyut yang berbicara serius kepadanya.

__ADS_1


" Karena ini bukan euforia sesaat. Meski Oma tahu, calon papa baru kamu itu orang baik. Tapi, kamu harus mulai membiasakan diri untuk berbagi mama kamu!"


Meski ia belum paham apa maksud Oma Buyut, namun satu kata yang ia harus bawahi. Bahwa papa barunya merupakan orang baik.


.


.


Rania


Ia mendengar pembicaraan dua orang lintas generasi itu. Sejumput rasa haru menyelinap ke relung hatinya. Kini bayangan Bastian semakin mengusik pikiran Rania.


Tanggal pernikahan sudah ditentukan, namun ia masih mendapati wajah Oma-nya sedikit sedih.


Pintu yang mengayun membuatnya terperanjat.


" Kenapa kamu disini?" Oma rupanya sudah keluar. Asik larut dalam pemikirannya sendiri, malah membuatnya tak mendengar jika Oma telah selesai berbicara dengan jodhi.


" Aku....!"


.


.


Rania memijat kaki Oma pelan di dalam kamar wanita tua itu. Ia masih menunduk sembari memijat kaki Oma dengan tatapan masygul.


" Jadi apa kamu sudah mengatakan kepada Bastian?"


Rania tertegun lalu sejurus kemudian ia menggeleng. " Belum Oma!"


Oma mengembuskan napas pasrah " Sebaiknya segera di obrolkan!"


Dan permintaan Oma akan persoalan tempat tinggal benar-benar mengusik pikirannya. Praktis hari ini ia bertemu Bastian di dapur Isun.


" Pak Bastian ada diatas Bu!" jawab Nindi salah satu karyawan Bastian.


Rania melesat menuju lantai dua dimana Bastian berada. Ia melihat calon suaminya masih menekuni beberapa pembukuan tempat usahanya.


" Sayang kamu sudah sampai?" Rania tersentak demi mendengar sapaan yang baru ia dengan dari bibir Bastian.


'Sayang?'


Rania tersenyum, " Sibuk sekali calon pengantin ini!" Ucapnya sembari mendudukkan dirinya ke sofa.


Bastian terlihat menutup beberapa berkas, lalu berjalan menuju ke tempat Rania duduk. " Jadi...ada apa? mengapa tidak menungguku untuk kesana saja!"


" Rindu memnag berat ya?" kekeh Bastian.


" Gombal!" sahut Rania menyebikkan bibirnya.


" Pernikahan kita tinggal lima hari, dan maaf aku harus menanyakan hal ini lebih dulu!" mimik wajah Rania berubah menjadi serius.


Wajah Bastian mendadak tegang. Apa yang akan dibicarakan calon istrinya itu.


" Ada apa?" Wajah Bastian berubah serius.


Rania tersenyum demi melihat reaksi Bastian yang tegang. " Ini soal tempat tinggal!"


Bastian mengembuskan napas lega. Ia pikir Rania akan berubah pikiran. Mendadak ia menyesali pemikiran negatifnya.


" Astaga, maaf tadi aku sempat...!" Bastian membasuh wajahnya dengan kasar. Menyesal telah berburuk sangka.

__ADS_1


" Oma berharap aku dan kamu bisa tinggal dirumah utama!"


Membuat Bastian tertegun. " Rumah utama?"


" Kamu tahu kalau Kak Abi dan mbak Dhira sudah punya rumah sendiri sekarang, dan aku...!"


" Ibu adalah tanggung jawabku!" Ucap Bastian memotong perkataan Rania, menatap wajah calon istrinya itu lekat.


" Aku tahu..!" balas Rania juga menatap. Kini keduanya saling menatap.


" Untuk itu aku ingin membicarakan hal ini!"


Baik Rania maupun Bastian sama-sama tertegun. Menjadi Ragil ( Bungsu) benar-benar rumit.


" Bagiamana jika ibumu tinggal...!"


" Itu tidak mungkin. Rumah kami memang sederhana, tapi seluruh kenangan mendiang Bapak ada disana!" Ucap Bastian dengan nada yang meningkat satu oktaf.


Membuat Rania terkaget.


Suasana senyap. Kecanggungan menyeruak.


" Maafkan aku!" Ucap Bastian sejurus kemudian sembari memijat keningnya karena menyadari kesalahannya dalam berucap. Entah mengapa ia tersulut hanya dengan mengobrolkan masalah tempat tinggal.


Ternyata ucapan orang jika kita akan mendapatkan cobaan menjelang hari pernikahan itu benar adanya. Mungkin terlihat sepele bagi orang lain, namun agaknya persoalan itu membuat keduanya bingung.


Ujian bisa datang dari mana saja.


Sebagai lelaki wajib hukumnya bagi Bastian untuk menyediakan tempat tinggal bagi istrinya. Entah bagaimanapun bentuknya.


Begitu juga dengan Rania, wajib hukumnya bagi dia untuk mengikuti suaminya.


" Aku tidak mungkin meninggalkan Oma sendiri, dan aku tahu wajib hukumnya bagiku untuk harus mengikutimu!"


Rania bingung. Rumah besar tak mungkin ia biarkan hanya di tinggali oleh Oma, sementara Bastian juga benar adanya karena harus menanggungjawabi ibunya.


Kedua anak manusia itu memijat keningnya. Tak menemukan solusi barang secuil pun. Bastian melirik calon istri yang terlihat berengut.


Pria itu terlihat menghela napas lalu mendekati Rania. Merengkuh tubuh sintal calon istrinya itu kedalam pelukannya.


" Maaf!" Bastian mengecup puncak kepala Rania penuh kasih.


" Kamu jangan banyak pikiran, biar aku bicara sama Ibu dulu. Seharusnya aku memikirkan ini lebih awal. Maafkan aku!"


Bastian mengusap lembut lengan Rania. Rania mendongak dan menatap wajah Bastian. " Berjanjilah untuk membuat segala sesuatunya baik-baik saja!" membuat nafas segar Rania bisa Bastian hirup dengan leluasa.


Jakun Bastian naik turun lantaran mendadak merasa gelenyar aneh menghampirinya. Bastian mengangguk " Aku berjanji!"


Keduanya menatap lekat, Bastian menatap nanar bibir segar Rania yang begitu menggoda. Pria itu terhipnotis dengan wangi Rania yang menggoyahkan imannya.


Bastian mendekati wajah Rania. Perempuan itu sontak memejamkan matanya karena merasa akan dicium oleh Bastian. Kini mereka hanya berjarak tak lebih dari satu centi saja.


" Om Bas, apa mama...!"


Keduanya saling melepaskan diri dengan terkaget-kaget demi mendengar suara Jodhi yang membuka pintu tanpa mengetuk.


" Jodhi!"


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2