
Bab 175. Misunderstanding
.
.
...ššš...
" Ku tak mungkin mencintaimu, karena hatiku telah dimiliki dia. Kau tak mungkin memiliki ku sepenuh hati, aku hanya ingin setia"
( Diambil dari lirik lagu Armada ~ Ingin setia)
.
.
Danan hanya bisa tercenung menatap Shinta yang nampak menunduk dengan tubuh yang terlihat bergetar dari jarak tak kurang dari tiga meter. Mengumpulkan segala kewarasannya, Danan berusaha menghalau rasa tak wajar dalam dirinya, Danan mencoba melangkahkan kakinya menuju tempat Shinta.
" Ehem... Shin, kamu dari tadi siang belum makan apapun. Ini aku baru beli buat kamu sama aku!"
Menutupi hatinya dengan niat hanya ingin menolong. Ia mengesampingkan buncahan rasa yang membara di hatinya saat berhadapan dengan Shinta.
Shinta mendongak seraya mengusap genangan air mata di wajahnya saat mendengar suara seseorang. Wanita itu terlihat kacau dengan kantong mata yang lebih kentara.
" Mas Danan masih disini?" suara serak khas orang baru menangis dan hidung merah bak tomat itu menyambut ucapan pria itu. Pria yang masih mengenakan pakaian yang sama sedari pagi.
" Aku belum pulang, aku ....gak bisa tinggalin kamu sendiri. Baiknya kamu makan dulu, ayo..!" Danan membawa serta bungkusan makanan dan juga minuman menuju sofa di sebelah kanan ranjang Rangga.
Shinta masih bergeming, wanita itu terpekur menatap lantai mengkilat rumah sakit itu. Entahlah, ia bingung mengapa Danan seperhatian itu terhadap dirinya. Ia merasa tak nyaman lebih ke rasa canggung.
Menyadari bila Shinta masih menancap di kursi samping ranjang Rangga, Danan meletakkan bungkusan makanan itu di meja putih depan sofa lalu kembali menatap wanita itu.
" Shin...jangan sampai kamu sakit lagi. Kamu harus jaga diri kamu sendiri selama Rangga masih seperti itu!" ucap Danan pelan.
Shinta hanya merasa tak enak. Mengapa Danan yang justru orang lain, malah begitu perhatian. Sejenak ia merasa tak enak hati kepada suaminya. Pria tampan di depannya itu mengapa selalu berada di dekatnya akhir-akhir ini? pertanyaan itu menyelinap dalam relung hatinya.
" Kamu jangan mikir macam-macam, nanti kalau mertua kamu kesini aku akan pulang!" Danan tersenyum menyakinkan wanita yang nampak ragu itu. Ia memahami Shinta adalah tipikal orang yang setia terhadap suaminya rupanya.
Mengetahui bila Danan bisa saja salah sangka, Shinta segera beranjak dari kursinya. Namun sebelum ia melangkah, ia mencondongkan tubuhnya lalu mengusap rambut suaminya itu dengan tersenyum.
__ADS_1
" Mas, mas Danan baik banget loh sama aku. Aku makan dulu ya. Dia udah repot- repot beliin makanan buat aku. Kalau kamu udah sadar, kita undang dia makan malam dirumah kita ya mas!" Shinta mengecup kening Rangga yang masih terpejam. Membuat hati Danan terenyuh dan merasakan kecemburuan dalam waktu bersamaan. Ini gila, jelas gila.
Danan cemburu kepada suami istri itu.
Shinta berjalan menuju sofa yang sudah di duduki Danan terlebih dahulu sambil menyusut ujung matanya.
Danan dengan cekatan mengeluarkan box nasi dan minuman ke atas meja. Shinta masih duduk seraya tekun melihat Danan yang dengan sigapnya mengatur dan menata letak makanan itu.
Mereka duduk satu sofa dengan desain modern yang empuk, menjadi tempat ternyaman saat itu. Namun tentunya dengan jarak yang lumayan jauh.
Otot lengan Danan mengetat tatkala ia memutar seal penutup botol air mineral dengan sekali putaran " Biar langsung bisa kamu minum!" Danan tersenyum seraya meletakkan botol air mineral bermerk itu persis di depan Shinta.
" Makasih mas!" wanita yang biasa cerewet dan keras itu, kini menjadi berubah seratus delapan puluh derajat. Shinta bahkan bukan seperti dirinya. Tertutup kesedihan yang tengah menderanya saat ini.
Saat Shinta hendak meraih box bertuliskan brand makanan terkenal itu, Danan juga terlihat mengambil box yang sama. Membuat jari tangan Shinta secara tak sengaja bersentuhan dengan jari kekar Danan.
Kecanggungan kini menyeruak, dan kenyamanan perlahan memudar. " Maaf, kamu dulu!" ucap Danan yang merasa seperti tersengat arus listrik hanya dengan menyentuh tangan Shinta saja.
Dengan menelan ludah sambil menunduk canggung, Shinta mengangguk tanpa bersuara. Ia merasa ada debaran aneh saat itu. Tapi entah apa.
Akhirnya mereka makan dalam diam. Shinta melirik pria di sampingnya yang makan dengan cepat, bahkan otot di rahang pria di sampingnya itu terlihat bergerak cepat.
" Emmm ini enak!" Danan berucap ingin memecah keheningan yang terjadi.
Shinta hanya tersenyum, " Makasih mas. Mas Danan udah baik sama.....!"
" Sssttt aku bisanya bantu ya cuma gini, kamu gak menghindar dari aku aja, aku udah seneng banget Shin!" tanpa sadar mereka bersitatap dalam beberapa detik. Membuat mereka kini kembali dilanda kecanggungan.
" Ehemm!" Shinta berdehem lalu memalingkan wajahnya ke arah nasinya.
" Mas Danan gak di cari..." ucapnya seraya menyuapkan kembali makanan yang ia pangku.
" Di cari siapa? mama?" tanya Danan usai menyuapkan satu sendok nasi terakhirnya.
" Pacar..atau mungkin...!" Entah mengapa Shinta malah mengajukan pertanyaan seperti itu.
Danan tersenyum lalu meneguk sebotol air mineral itu, sebagai pamungkas kegiatan makannya.
" Aku free. Gak tau belum ada yang srek aja!" Danan tersenyum kecut.
__ADS_1
" Sekalinya ada, dia udah...!" Danan menatap menerawang ke arah depan dengan tatapan apatis.
" Udah apa mas?" Shinta mengernyit dengan penasaran.
" Forget it, intinya ya...aku masih betah begini-begini aja. Ya walau sometimes, aku suka iri lihat Abi, Wisang, kamu..!" Danan tersenyum kecut.
Shinta tertegun. Pria yang dulu begitu menyebalkan itu, mengapa kini menjelma menjadi pria nestapa yang sarat akan penderitaan batin.
" Setiap orang berperang melawan ujiannya masing-masing mas. Kalau kamu bilang iri ke aku, ya mungkin karena kamu belum tahu aja. Menyandang status seorang istri tapi belum bisa memberikan seorang anak itu bukan hal mudah mas...buat aku yang berat justru penghakiman orang lain ke aku!" Shinta menghentikan kegiatan makannya.
" Kadang aku malah iri ke Dhira....!" Shinta tersenyum kecut.
" Tapi saat dulu aku tahu rumah tangganya dengan Indra enggak baik-baik aja, dari situ aku tahu...semua orang bakal di kasih ujiannya masing-masing. Tapi....!" Shinta mengigit bibirnya sendiri guna mengahalau kecamuk sedih dalam hatinya.
Danan masih setia mendengarkan kesah yang di utarakan wanita itu. Dan dia senang akan hal itu. Senang saat Shinta mau menjadikan dirinya teman berbicara.
" Aku sendiri merasa gak percaya diri mas. Sama mas Rangga, sama keluarganya, sama teman-temanku...!" Air mata itu kini keluar lagi.
" Sekarang satu-satunya orang yang bisa bikin aku jadi wanita yang memiliki harga malah jadi kayak gitu....!" Shinta memejamkan matanya sembari menghela nafas sejenak.
Entah mengapa ia tak bisa menahan diri untuk tak bercerita. Ia hanya ingin sesak dalam dadanya berkurang, ia tahu bercerita mungkin tak selalu segera mendapatkan solusi. Tapi setidaknya beban dalam hatinya berkurang setelah di ungkapkan.
Hati Danan nyeri tak terperi saat melihat Shinta amat bersedih seperti itu. Ingin rasanya ia merengkuh wanita di depannya itu dalam pelukannya. Mengusap punggung wanita itu seraya ingin memberikan kekuatan. Tapi apalah daya, semua itu hanyalah fatamorgana.
" Aku ngerasa kayaknya aku ini memang bawa sial buat mas Rangga mas!" Shinta menangis.
Danan menelan ludahnya, kini ia bingung harus melakukan apa. Ia tak berani berbuat lebih.
" Sstttt, stop Shinta. Kamu gak boleh terus salahin diri kamu. Ini gak bener!" ucap Danan.
" Kamu udah bener kalau punya pemikiran semua orang itu melawan ujiannya masing-masing. Jadi kamu gak boleh kehilangan harapan!" Danan tercekat saat berucap. Pria itu mendadak hatinya merasa sesak.
Dan saat Danan mengusap punggung tangan Shinta yang terlihat masih mengeluarkan cairan bening dari kedua netranya itu, Bu Nisa tiba-tiba datang bersama suaminya.
" Apa yang kalian lakukan?" ucapannya sembari matanya melotot melihat tangan Danan yang mengusap punggung tangan menantunya itu. Lebih sialnya lagi, mereka hanya berdua disana.
.
.
__ADS_1
.