
Bab 95. Turning Point
.
.
.
...ššš...
" Walau akhir ini seakan terpisah, oleh masa dan suasana tak di pinta. Namun percayalah, tidak sedikitpun kasihku kepadamu surut dan berubah!"
( Diambil dari lirik lagu EYE ~ Satu Nama Tetap Dihati)
.
.
Arya tak lagi menggubris Abimanyu, ia kini fokus kepada mamanya yang tak sadarkan diri. Dengan tangannya sendiri Arya membopong mamanya, menuju ruang perawatan.
Abimanyu terlihat membetulkan letak dasinya yang miring, akibat perkelahian yang baru saja terjadi. Berusaha menampilkan wajah biasa saja, meski sudut bibirnya lebam akibat serangan dari Arya.
Bu Kartika sejenak menatap Abimanyu dengan tatapan yang tak diartikan, begitu juga dengan dirinya. Namun detik berikutnya Bu Kartika enyah dari sana. Bastian mengejar ibunya itu. Sementara Abimanyu lebih ke membiarkan hal itu terlebih dahulu.
Jangan berjanji ketika hatimu diliputi kebahagiaan, dan jangan mengucapkan apapun saat hatimu di kuasai emosi dan amarah. Karena keduanya, sama - sama mendatangkan penyesalan.
"Buk, ibuk!"! ucap Bastian seraya berlari mengejar ibunya. Ia juga khawatir, mengingat ibunya juga baru sadar dari pingsannya tadi.
Raka diam mematung. Abimanyu berjalan mendekati Raka," are u ok boy?" ucap Abimanyu mengusap puncak kepala Raka.
Raka mengangguk , meski hatinya benar-benar letih. Tak seharusnya ia disuguhi hal seperti tadi. Tapi nampaknya, ia sudah harus membiasakan diri.
Rania, Wisang , Shinta dan Sekar terlihat masih berdiri di sana. Sama sama bersikap canggung akibat kejadian tak mengenakkan. Untung mereka berada di lantai atas, dan berada di kelas VIP. Membuat tak banyak orang yang tahu, bila seroang direktur Delta Group tengah adu jotos dengan doker Arya.
"Ya Allah mbak, baru kali ini aku lihat orang berkelahi. Aku ngeri!" bisik Sekar, namun masih bisa di dengar oleh Wisang.
Wisang hanya mencibir, namun entah mengapa melihat wajah Sekar yang begitu insecure, pria itu menjadi gemas.
Telah lebih dari empat puluh menit mereka menunggu disana. Selama itu pula Bu Kartika belum juga kembali. Entah kemana perginya wanita itu.
" Keluarga pasien?" ucap dokter wanita, yang baru keluar dari ruang tindakan.
"Saya dok!" Abimanyu maju tiga langkah, ia turut menggandeng Raka. Di belakangnya ketiga orang itu turut menyongsong langkah Abimanyu.
Dokter itu memasang wajah bingung, dokter Arya tadi mengatakan jika wanita di dalam tadi adalah calon istrinya.
"Emmm sebentar!" dokter wanita itu hendak menelpon seseorang, Abimanyu yang tahu siapa yang dicari seketika angkat suara.
"Dia adalah tanggung jawabku sekarang, cepat katakan apa yang terjadi. Tidak usah menunggu dokter Arya!" Abimanyu berucap dengan nada marah. Membuat nyali dokter wanita itu menyusut.
"B- Baik Tuan, mari ikut saya kedalam!" dokter itu tergagap. Bahkan Shinta dan Sekar juga turut tak berani menyela ucapan Abimanyu.
Abimanyu menatap ketiga orang dibelakangnya, mereka semua mengangguk seolah mengatakan " Masuklah ke dalam!"
Saat Abimanyu menggeret tangan Raka, bocah itu menolak. " Aku disini saja dulu Om!" wajah Raka pias, ia semacam tak kuat jika harus masuk saat ini. Lebih tepatnya, ia tak mau mendengar penjelasan dokter, yang pasti berisikan hal yang tidak dia inginkan.
"Wis jaga Raka dulu!" ucap Abimanyu.
Wisang mengacungkan jempolnya, sebagi tanda bila ia setuju.
__ADS_1
Abimanyu masuk ke ruangan tempat Dhira berbaring dengan wajah pucat, wanita itu kembali dipasangkan infus ke tangan kanannya.
"Tuan, Nyonya Dhira mengalami benturan yang hebat" ucap dokter itu. Abimanyu sekilas melirik wajah Dhira yang masih terbaring.
"Janin berusia tak lebih dari tiga Minggu di dalam perutnya tidak terselamatkan!" Abimanyu langsung menoleh ke arah dokter dengan hijab warna nude itu.
"Maksud anda Dhira keguguran?" Abimanyu kini berwajah pias.
Dokter itu mengangguk, mata Abimanyu memanas. Ia menatap ke arah Dhira. Dia memperhatikan sebentar, ada yang mencurigakan.
Hati Abimanyu nyeri tak terperi. Bak di hujam belati, sakit lebih mendominasi relung hatinya. Calon darah dagingnya telah tiada.
"Saya hanya ingin menyampaikan itu, beritahu pasien dengan pelan. Mungkin sebentar lagi pasien sadar Tuan. Saya permisi dulu!"
Abimanyu termangu mendengar ucapan dokter, dan saat pintu itu tertutup. Abimanyu mendekat ke arah Dhira. Ia tahu wanita itu sudah sadar sedari tadi, ia melihat air mata yang lolos dari sudut mata Dhira dalam posisi masih terbaring.
Hati Abimanyu sakit, " Dhira!" lirih Abimanyu.Dhira masih diam dengan posisi terbaring.
"Aku tahu kamu sudah sadar dan mendengar pembicaraan kami!"
.
.
Andhira
Ia sebenarnya sudah sadar sedari pintu itu terbuka, ia sedikit mengintip dari celah netranya yang terbuka sempit.
Hatinya nyeri tatkala mendengar penuturan dokter tentang keguguran yang ia alami, sekujur tubuhnya sakit. Terlebih hati dan perasaannya.
Ia tak mampu menahan air mata itu, pertahanannya jebol. Kenapa dia tak bisa menyadari jika dirinya tengah berbadan dua.
Dia menangis.
"Dhir!" panggil pria yang begitu ia harapkan itu.
"Aku tahu kamu sudah sadar dan mendengar pembicaraan kami!" Abimanyu tercekat. Ia diam sejenak, tak sanggup melanjutkan kata-katanya.
Air mata itu justru kian gencar menetes. Mengaliri pelipis dan menggenangi daun telinganya. Ia tak tahan, tubuhnya bergetar hebat.
Abimanyu yang melihat Dhira menangis seketika meraih jemari Dhira yang tergeletak lemah. Pria itu menghujani punggung tangan Dhira dengan ciuman.
"Hey, don't cry. Ada aku disini!" Abimanyu mencium kening Dhira.
Ia masih tak berani membuka matanya, perasaan malu yang luar biasa mendominasi dirinya. Entahlah, apa kata dunia terhadap dirinya saat ini. Apakah dia juga tak lebih dari seorang ja*lang, yang mengandung seorang bayi dari pria lain saat dia akan melangsungkan pernikahan. Lagi-lagi dia yang harus menanggung stigma itu.
.
.
Abimanyu
Hatinya bergetar tatkala ia meraih jemari Dhira yang lemah. Ia tahu wanita pujaannya itu sudah siuman.
"Hey, don't cry. Ada aku disini!" Abimanyu mencium kening Dhira.
Ia mengusap lembut rambut Dhira. Wanita itu masih tidak mau membuka matanya. Membuat Abimanyu kian gundah.
Abimanyu setengah membungkuk, kemudian mencium bibir Dhira. Ia turut menangis. Ya, dia menangis seraya mendaratkan ciuman kepada Dhira.
__ADS_1
Bibir itu masih terasa manis, seperti saat pertama kali Abimanyu menyambarnya dengan penuh hasrat tempo hari. Ciuman yang begitu ia rindukan.
Dhira masih menangis, tak berani berkata. Mereka berciuman sambil saling menitikan air mata. Bahkan rasa asin terasa disana sebab air mata itu, turut menyelinap ke bibir mereka.
"Maafkan aku Dhir, maafkan aku!" Abimanyu membisikkan kata itu di telinga Dhira, ia mencium kening Dhira penuh kasih sayang. Sungguh, ia tak akan membiarkan lagi Dhira pergi dari hidupnya. Apapun caranya.
.
.
...ššš...
Bu Hana sudah siuman, ia berada di ruang khusus putranya. "Auwwhhh" Bu Hana merasakan pusing, ia mengedarkan pandangannya. Ia beringsut untuk turun dari ranjang matras itu.
"Mama!" ucap Arya yang berjingkat dari duduknya, lantaran melihat ibunya yang sudah sadar.
"Arya!" tatapan muram Bu Hana tertuju kepadanya wajah putranya yang lebam. Sejurus kemudian tubuh wanita itu bergetar. Hatinya campur aduk, antara tak terima anaknya di hajar, juga perasaan takut lantaran Arya telah membuat Dhira celaka.
Tubuh Bu Hana kian bergetar hebat, Arya memeluk tubuh wanita yang melahirkannya itu, dengan erat. Arya sempat menyusut air matanya. Ia selalu tak kuasa bila melihat mamanya bersedih.
"Ya..!" panggil Bu Hana. Arya seketika melepaskan pelukannya.
"Lepaskan Dhira...!" Bu Hana menatap mata putranya yang sudah tergenang oleh cairan bening.
"Ma.." Arya menatap muram mamanya.
"Kamu berhak bahagia dengan wanita yang mencintai kamu, begitu juga dengan Dhira. Dia berhak bahagia dengan pria yang dia cintai. Dan itu bukan kamu!" air mata Bu Hana lolos, mengucur tanpa jeda.
Arya tertunduk. Pandangannya bertumbuk pada matras warna biru, yang masih digunakan mamanya untuk duduk. Rahangnya mengeras.
"Let her go Arya!" ucap Bu Hana menangkup wajah putranya.
.
.
Bastian dibuat bingung oleh sikap ibunya, yang terus menangis tanpa mau menatap dirinya.
" Buk, sampai kapan ibuk mau disini?" Bastian masih setia duduk di samping Bu Kartika yang menatap nanar hamparan perkotaan, yang bisa dilihat dari lantai lima gedung rumah sakit itu.
Bu Kartika merasa bagian terdalamnya hancur, begitu mengetahui kenyataan bila Dhira rupanya mengandung benih dari keluarga Aryasatya. Ia tak memiliki arah saat ini. Dia begitu kecewa dengan putrinya itu.
"Kalau ibuk terus begini, kasihan kak Dhira buk!"
"Kak Dhira sedang sakit disana!" Bastian mulai tak sabar.
"Sampai kapan ibu egois? kak Dhira begini karena menuruti keinginan ibuk. Mereka saling mencintai buk. Tidak seharusnya ibuk malah membuat banyak hati yang terluka disini. Kak Dhira, Pak Abimanyu, mas Arya, Bu Hana , Raka. Bahkan aku buk!" Bastian sampai terengah-engah, demi meluapkan isi hatinya.
Bu Kartika menangis, kian terisak seraya tubuhnya bergetar hebat. Kepalanya pusing, ia tak bisa berfikir jernih.
"Bawa aku pulang Bast!"
Bastian membelalakkan matanya.
.
.
.
__ADS_1
.
.