
Bab 159. Seribu Satu Perasaan
.
.
.
...ššš...
" Pagi biar ku sendiri, jangan kau mendekat wahai matahari. Dingin hati yang bersedih, tak begitu terang mulai terabaikan..."
( Diambil dari lirik lagu Peterpan ~ Hari yang cerah untuk jiwa yang sepi)
.
.
Abimanyu dan Richard saling menatap detik itu juga , usai suara dua wanita menyahuti obrolan mereka. Yang di takutkan Abimanyu beserta Richard bukan perkara mereka tahu bila Rangga dan Shinta memiliki potensi besar untuk koma, melainkan soal Wisang dan Danan yang sempat bersitegang.
Ya, Dhira dan Sekar yang saat itu mencari keberadaan suaminya, berbekal info dari pegawai pria di rumah sakit itu, akhirnya mereka tahu bila suaminya tengah bersama dokter Richard.
Dan mencari dimana ruangan dokter Richard berada, tentu tak sulit bagi mereka. Karena ada banyak pegawai yang bisa mereka tanyai.
Pintu yang tak tertutup rapat itupun, kian membuat suara mereka terdengar jelas saat telinga kedua wanita itu berada di bibir pintu yang ternganga itu.
" Mas Wisang berkelahi sama mas Danan??" Sekar kini menyibakkan pintu itu dengan lebarnya.
Dhira juga menautkan kedua alisnya, sembari menatap ke arah suaminya. " Bener mas?" tukas Dhira mengintimidasi.
Membuat Abimanyu mengangguk kikuk.
" Kok bisa? yang di pukul siapa? yang mukul siapa? tanya Dhira.
" Si Danan kena tempeleng sama si Wisang. Tapi..."
" Kenapa bisa sampai begitu??" Dhira berengut.
" Emmm.....biasa, salah paham. Kita biasa kok begitu!!" dengan gelagapan Abimanyu menjawab.
" Sekarang suami saya dimana? sebenernya ada apa ya Pak?" Sekar yang selalu gemetar ketika mendengar kata perkelahian itu, tak bisa menyembunyikan rasa khawatirnya. Ia trauma dengan perlakuan Wisnu tempo dulu. Apalagi, mengapa suaminya sampai gelut dengan sahabatnya sendiri. Sepelik apa persoalannya.
Pucuk dicinta, ulampun tiba. Manusia yang tengah di bicarakan, kini nongol di hadapan mereka.
" Sayang!!!" Wisang memanggil Sekar, pria itu bahkan belum sempat menjumpai istrinya sedari tadi.
" Mas Danan?" Sekar malah menghampiri Danan. Ia ingin memastikan memar akibat ulah suaminya itu. Membuat Wisang melongo karena tak di anggap oleh Sekar.
Hey yang suamimu itu aku
" Mas, mas Danan kamu apain??" Sekar yang melihat wajah Danan bengap di sudut bibirnya itu, meminta penjelasan kepada Wisang.
Wisang kini menatap ke arah Abimanyu yang pura - pura tak mendengar ucapan istrinya itu. Danan hanya diam, Richard mengendikkan bahunya seolah mewakili ucapan ' aku tidak tahu apa-apa!'.
Dhira menatap Wisang dengan dahi bertaut, nampak juga ingin meminta penjelasan.
Si anjing pakek acara ngadu lagi sama bini gua, dan sekarang dia malah cuci tangan. Dasar ******!!!
Wisang menatap tajam Abimanyu seraya mengumpat dalam hatinya.
" Emmm sayang, kita hanya....!" Wisang belingsatan dibuat istrinya.
__ADS_1
" Kita cuma salah paham. Udah, aku ga apa-apa. Aku sama Wisang sedari dulu begitu kok!" sahut Danan dengan cepat menggunakan kebohongan, agar Sekar tak terlalu cemas.
Dhira dan Sekar masih mengira ada sesuatu yang di tutupi disana. Namun mereka lebih memilih untuk bungkam. Dan berniat akan menginterogasi para suami mereka secara empat mata.
" Sebaiknya kalian pulang dulu. Ini sudah hampir subuh, biar aku yang disini dulu. Kalian bisa kembali setelah beristirahat nanti!" tukas Richard.
" Benar, lagipula aku akan menemui Devan setelah ini. Dan Sekar juga terlihat begitu lelah!" tutur Abimanyu yang menatap semua orang yang ada disana.
Danan hanya berdiam. Sebenarnya ia juga letih. Tapi, jujur ia ingin mendengar perkembangan berita soal kesehatan Shinta.
" Kalian bisa kembali nanti, mereka sudah aku pindahkan ke ruangan terbaik. Kalian tenang saja!! aku bersama timku akan berusaha keras!!" Richard kini mencoba meyakinkan wajah- wajah penuh keraguan disana.
" Baiklah, kami percaya padamu!"
.
.
...ššš...
Dananjaya
Usai mengantar Sekar dan Wisang ke apartemen, ia melesat menuju kediamannya. Ia melirik kembali jam tangan yang melingkar di lengan kirinya.
04.37
Ia masih terjaga dengan keadaan letih lesu. Ia melewati panjangnya malam hari ini dengan banyak kejutan.
Kecemburuan yang tak jelas saat melihat Shinta bersama suaminya, menyaksikan langsung kecelakaan tragis yang melibatkan wanita terlarangnya, serta di hadiahi tinju akibat kesalahpahaman Wisang keliru dalam menilai situasi, terhadap dirinya.
Entahlah, ia kini malah kehilangan kendali atas dirinya sendiri. Jika semua sahabatnya sudah tahu begini, lantas apa yang harus ia lakukan. Otaknya mendadak mogok untuk diajak berfikir normal.
" Ya Allah Den, ibuk dari semalam nanya terus. Kok baru pulang!!" Mbak Las berbicara seraya mendorong gerbang besar itu.
Danan yang mendengar hanya bungkam, ia sudah terlalu letih bahkan untuk sekedar menyahuti ART nya itu.
" Mbak, buatin aku kopi dong. Sama aku mau makan, lapar banget!" ucap Danan usai ia turun dari mobilnya.
Niat ingin ngopi di kantin bareng Wisang, namun ia lupa jika dua sahabatnya itu kini sudah beristri. Lagi-lagi ia harus menjadi orang yang cukup pengertian dalam hal ini.
.
.
Abimanyu
Pria ganteng itu melirik wajah istrinya sedari tadi yang terus manyun saja. " Sayang, kamu marah?"
Ya, mereka berdua masih berada di dalam mobil dan tengah dalam perjalanan menuju rumah mereka.
" Sekarang mas cerita deh ke aku, apa sih ya g sebenarnya kalian sembunyikan. Rasanya kok aku seperti merasa, kalian lagi menyembunyikan sesuatu!"
Insting mahkluk perempuan bernama istri itu, memang terkadang lebih tajam daripada seorang detektif. Dhira mencium aroma kebohongan dari trio sultan itu.
Merasa nasibnya mengkhawatirkan, Abimanyu terpaksa jujur meski ia sebenarnya tak enak hati karena menceritakan hal semacam ini kepada Dhira.
Dan dengan wajah sesekali melotot, mendecak, menggeleng tak percaya Dhira mengiringi tiap cerita dari Abimanyu masih dalam mode tak percayanya.
" Jadi...selama ini??" Dhira tak menyangka bila pria sekelas Danan malah jatuh cinta terhadap wanita bersuami.
" Aku aja taunya tadi Dhir, suer!!!" Abimanyu mengangkat dua jarinya keatas, pertanda sumpah telah ia nyatakan.
__ADS_1
" Kalau Wisang gak bilang, mungkin sampai sekarang aku juga sama kayak kamu gak ngerti apa-apa!"
Dhira tertegun, sejenak kini ia menjadi mumet lantaran mendengar hal itu. Ia malah berfikir, bagaimana bila suaminya yang di sukai oleh wanita lain. Ia menjadi bergidik sendiri.
" Kamu kenapa?" Abimanyu keheranan karena menatap istrinya yang tengah bergidik.
.
.
Wisang
Sekar merajuk. Ia kesal karena Wisang mengasari Danan dengan begitu kentaranya. Luka memar yang terpampang di sudut bibir Danan, jelas menyatakan bila suaminya itu telah melakukan kekerasan.
" Sekar, kamu kenapa sih?" Wisang mulai gelisah. Istrinya itu mendiamkannya sejak ia keluar dari rumah sakit tadi. Membuatnya belingsatan tak karuan.
" Gapapa!" Sekar mengabaikan suaminya yang terus-menerus mengekor di belakangnya.
Sekar menuju kamar mandi, ia langsung masuk dan menutup pintu kamar mandi di kamarnya itu dengan keras. Wisang nyaris terbentur pintu itu lantaran ia hendak menyusul istrinya.
Wisang berniat ingin mandi bersama, namun keburu Sekar menarik daun pintu itu. Menutupnya dengan cepat.
" Seneng banget kamu nyiksa aku sih?" Wisang memanyunkan bibirnya, seraya mengerucutkan bibirnya di depan pintu yang tertutup itu.
Awalnya Sekar hanya berniat mencuci kaki, dan membersihkan dirinya. Namun, rasa badan yang lengket mengharuskannya untuk mandi.
Wisang masih merana di depan kamar mandi. Ia sebenarnya berniat meminta jatah malam pertamanya pagi ini. Sudah hampir seminggu kan, pasti sudah selesai pikirnya.
" Kamu ngapain sih di dalam lama amat!!" Wisang bak gembel yang menanti uluran kasih dari pemberi. Pria itu beringsut di depan lantai kamar mandi.
Hanya terdengar suara air yang mengucur. Wisang sejenak berpikir apakah istrinya itu mandi pagi- pagi begini.
Sepuluh menit kemudian, pintu kamar mandi terlihat mengayun. Menandakan bila kegiatan Sekar telah usai. Istrinya itu memang mandi. Terbukti dari aroma sabun dan rambut basah istrinya.
Sekar tak melirik Wisang sama sekali, wanita itu menjatuhkan handuk yang melilit tubuhnya saat tiba di depan kemari . Membuat Wisang menelan ludahnya seraya tekun menatap tubuh istrinya yang begitu indah dari belakang. Polos dan menantang.
" Sayang...jadi kita...!" raut kegirangan nampak di wajah Wisang. Pria itu langsung bangkit dengan semangatnya.
Sekar terlihat mengenakan pakaian dalamnya dengan cepat, ia mengambil sebuah dress piyama di dalam lemarinya. Wanita itu dalam sekejap benar-benar terlihat menggoda hanya dengan berganti pakaian saja.
" Astaga...kenapa tidak bilang dari tadi kalau palang merahnya sudah selesai. Tau begitu tadi kita pul...!"
" Sstttt!!" Sekar menempelkan jarinya ke bibir Wisang yang cerewet.
" Mandi cepat, aku tunggu lima menit!!"
" Kalau lama aku tinggal tidur!!" ucap Sekar lalu meninggalkan suaminya itu untuk menuju meja riasnya.
" Hah lima menit? adikku saja belum selesai tercuci kalau hanya lima menit!" Wisang bermuram durja dengan keputusan istrinya itu.
" Terserah, kalau lama aku mending tidur!"
" Hobi kamu kayaknya emang nyiksa aku ya?
.
.
.
.
__ADS_1