The Love Story' Of Single Parents

The Love Story' Of Single Parents
Bab 73. Menepis Prasangka


__ADS_3

Bab 73. Menepis Prasangka


.


.


.


...šŸšŸšŸ...


"Dunia ini Panggung Sandiwara, ceritanya mudah berubah!"


(Diambil dari lirik lagu Sheila on 7)


"Kamu!" Dhira terlonjak kaget, pasti pria itu menguping.


"Aku cuma mau bilang, kalau nanti pulangnya tunggu aku dulu. Nanti aku antar. Aku mau ke RS bentar.


Dhira mengangguk, hampir saja jidatnya menempel di bibir pria itu.


Arya membatin, sepertinya wanita itu barusaja melakukan panggilan dengan orang terdekatnya. Sejenak ia merasa tak enak hati.


.


.


Hari telah berganti, tak bisa ku dihindari....


( Sheilla on 7 ~ hariku bersamanya)


"Dhir, menurut gue nih yah elu terlalu sering mencemaskan hal yang harusnya gak perlu!" Shinta kini duduk di samping Dhira, Dapur Isun masih sepi pagi ini, lagipula di depan ada Sekar yang standby, sehingga Dhira bisa memanfaatkan waktu barang sejenak.


"Aku harus gimana Shin ?" Dhira benar-benar kehilangan ide, stok berfikirnya sudah nyaris terkikis.


Ya, Dhira sudah menceritakan kedekatannya dengan Abimanyu, tak mengira bila Sinta tetap ada sebagai Tim Abimanyu.


"Gini ya Dhir, gue dukung Tuan Abimanyu bukan karena dia tajir doank. Sebagai pria dewasa dia itu terlihat serius banget lo sama kamu, mau terima kamu apa adanya sejak awal."


"Ya meskipun si Arya ganteng juga sih!" Shinta memangkup wajahnya sendiri, seraya membayangkan wajah Arya.


"CK, kamu itu dukung siapa sih sebenarnya!" Dhira sebal dengan sahabatnya itu.


Shinta terkekeh, " Ok sekarang kita tarik persoalan!"


"Yang pertama anak elu, kedua adalah ibu elu!"


"Satu-satunya jalan menyelesaikan masalah adalah dengan mengahadapi, bukan menghindari!" Dhira masih konsen mendengar Shinta yang berceramah layaknya orator ulung pagi ini.


"Lu coba deh, ngomong sama Raka heart to heart. Kuncinya ada di elu sebenarnya Dhira."


"Anak elu itu tipikal orang yang pengertian kok, gue yakin di mewarisi garis itu dari elu!"


"Andai kamu tahu Shin , gimana rasanya di benci ibu sendiri. Aku gak mau jika tanpa restu ibu, aku gak mau kayak dulu. Tapi..." Dhira menutup wajahnya , ia menangis.


Shinta mengusap punggung sahabatnya itu, ia juga turut larut dalam kesedihan.


"Dhir, mending elu terus terang deh sama Tuan Abimanyu kalau udah begini keadaannya, mana mungkin gue nyuruh elu buat ngelawan emak elu. Yang ada gue kena kualat juga nanti!" Alih-alih memberikan solusi, Shinta malah turut putus asa.


Namun saat mereka tengah sibuk meratap....

__ADS_1


"Buk, ada yang cari!" Sekar berucap dari ambang pintu connecting di depan mereka.


"Siapa?" tanya Dhira.


"Namanya Pak Abimanyu!"


"Mampus lu, baru aja kita omongin. Udah nongol aja orangnya!" sahut Shinta.


Dengan langkah cepat Dhira pergi menuju ruang depan, tempat meja dan kursi tertata. Abimanyu Terlihat berdiri menggunakan pakaian santai. Celana jeans warna krem favorit, kemeja yang di biarkan terbuka dengan sebuah kaos hitam yang melekat di tubuhnya, sepatu sneaker warna navy yang terlihat mahal.


"Mas!" Dhira tak nyaman bila Abimanyu datang kesana, itu adalah kali pertamanya Abimanyu datang kembali ke Dapur Isun, setelah ajang pertikaiannya bersama Gwen beberapa waktu lalu.


"Aku pinjam Dhira sebentar!" ucap Abimanyu kepada Shinta yang masih diam mematung, Abimanyu langsung menggeret tangan Dhira menuju mobilnya.


Dhira nampak bingung, ada apa Abimanyu mengajaknya pergi di pagi ini." Shin, aku titip dulu ya!" Dhira agak berteriak saat dia sudah masuk di kursi depan.


Shinta hanya mengangguk, seraya memasang wajah khawatirnya." Duh, kenapa bisa runyam begini sih?" Shinta merasa cemas, ia takut bila Abimanyu tahu duduk perkara yang baru dari orang lain, mengingat Dhira belum memberitahu yang sebenarnya kepada pria itu.


Di dalam mobil Abimanyu masih dalam mode diam, seketika Dhira merinding. Ada aura kemarahan dari wajah Abimanyu. Lebih dari seminggu mereka tak bertemu.


"Mas jangan ngebut- ngebut!" Dhira merasa Abimanyu menginjak pedal gasnya terlalu kencang.


"Mas!" Dhira mulai ketakutan, Abimanyu masih diam tak menyahut barang sejenak.


Abimanyu tetap melajukan mobilnya dalam kecepatan tinggi, rupanya ia menuju apartemennya. Secepat kilat ia membuka pintu mobilnya. Sejurus kemudian ia meraih tangan Dhira dan langsung menuju unit apartmennya.


Dhira merasa takut, apa yang mau dilakukan oleh pria di sampingnya itu. Diam dan tak berkata apapun. Dhira mulai berfikiran negatif.


Abimanyu Terlihat menekan pass code untuk membuka pintu apartemennya, ia menarik Dhira masuk kedalam, lalu...


Abimanyu memepetkan tubuh Dhira ke tembok ruang tamu itu, ia mencium Dhira dengan tergesa-gesa. Dhira yang mendapat perlakuan itu membulatkan matanya, Abimanyu terlihat Melu*mat bibir Dhira dengan tanpa jeda, lama dan penuh gairah, bahkan Dhira sudah memulai kesulitan bernapas.


"Kamu ini kenapa?" Dhira berucap seraya mengatur nafasnya.


Abimanyu menatap sendu wajah Dhira, "aku kangen sama kamu Dhir. Udah hampir dua Minggu kamu kayak ngilang, jarang bales pesan, alasan ngantar ibuk terus, aku gak sanggup kayak gini terus Dhir. Udah cukup kita kucing- kucingan!" Abimanyu nampak meluapkan buncahan kesesakan di dadanya.


Air mata Dhira meluncur begitu saja, ia juga sedih ia juga begitu rindu dengan sentuhan Abimanyu. Tapi dia harus bagaimana.


"Aku kangen bang..."


"Mas, kayaknya kita cukup sampai disini aja!" ucap Dhira dengan suara bergetar, ia tak ingin menyakiti Abimanyu lebih jauh lagi. Biar saja pria itu menjadi benci kepadanya karena mengira dirinya egois, itu lebih baik daripada Abimanyu sedih karena harus merelakan dirinya. Biar saja Abimanyu benci kepadanya.


Abimanyu menatap Dhira bingung, " apa maksud kamu?"


"Aku serius mas, aku gak bisa lagi sama kamu!"


"Kamu marah karena aku diemin kamu sepanjang jalan tadi?, ok aku minta maaf, aku menahan semua rindu ini Dhir, aku tahan."


Air mata Dhira makin mengucur dengan derasnya, ia menggigit bibirnya sendiri guna mengurangi sesak.


"Kalau kamu perlu waktu lagi buat Raka Ok, aku akan menunggu, tapi kamu jangan bicara kayak gitu lagi. Aku gak suka!" Abimanyu menatap Dhira dengan tatapan muram.


"Aku udah bicara ke ibuk soal kita!" ucap Dhira yang baru selesai menyeka air matanya.


"Terus?" Abimanyu menatap Dhira dari dekat, hembusan nafasnya bahkan bisa Dhira hirup.


"Ibuk gak kasih restu mas!" ucap Dhira bergetar.


Abimanyu membelalakkan matanya, selama ini Bu Kartika fine fine saja dengan dirinya, tak pernah juga ia melihat gelagat tak suka dari wajah ramah Bu Kartika.

__ADS_1


"Ibuk bilang, kalau dia takut aku di cap perebut suami orang mas. Dan kenyataan aku memang sudah hadir saat kamu sama Mbak Gwen masih belum ada putusan"


Abimanyu menatap tak percaya, bahkan sudah resmi bercerai pun nama Gwen masih menjadi masalah untuk dirinya.


Agak tidak realistis memang, karena Dhira masih belum mau mengungkapkan alasan lain dari hal itu. Yakni Arya.


"Aku mau bicara sama ibu kamu, aku gak peduli. Kita harus menikah Dhir, aku sayang sama kamu, aku cinta sama kamu. Kalau perlu, kita pergi dari sini!" kepala Abimanyu sudah berasa hendak pecah.


"Mas!" Dhira menggeleng seraya matanya mencucurkan air kesedihan itu.


"Aku gak bisa Dhir, aku gak bisa begini terus?" Abimanyu bahkan juga menitikkan air mata, air mata yang begitu langka.


"Mas!" Dhira memeluk tubuh Abimanyu, maafin aku mas, mungkin setelah ini aku enggak bisa lagi memeluk kamu.


Abimanyu memejamkan matanya, jiwa dan raganya sama-sama letih.


...šŸšŸšŸ...


Seminggu berlalu, usai bertemu Abimanyu tempo hari Dhira kini sudah lega karena telah mengungkapkan alasannya untuk tak melanjutkan hubungannya. Bisa jadi semacam Hiatus.


Ia tak tahu, setelah ini harus apa. Ia berniat tak memilih siapapun. Ia semacam ogah - ogahan untuk memikirkan, ia sudah cukup mumet dengan Dapur Isun.


Bu Kartika kembali sakit, Bastian bilang ibunya sering melamun akhir-akhir ini. Jika di tanya, jarang mau menjawab.


Sehat memang kadang tak selalu datang dari obat-obatan, namun bisa juga karena pikiran yang bahagia. Dan untuk saat ini, jelas Bu Kartika tengah berperang melawan pikirannya sendiri.


Dhira tetap bersikukuh untuk tidak mau dekat dengan siapapun termasuk Arya, dan dari situlah Bu Kartika merasa jika Dhira memang tidak berubah. Bu Kartika mengecap anaknya itu masih sama dengan Dhira yang dulu, rupanya kejadian Indra tak mengubah dirinya.


Ia juga tak enak hati kepada Bu Hana, wanita baik yang ia kenal cukup lama.


Sebenarnya tidak salah bila Bu Kartika ingin Dhira berumah tangga kembali, hanya saja terkadang kita lupa bila kebahagiaan itu adalah diri kita sendiri yang menentukan.


Pandangan Bu Kartika kepada Abimanyu lebih ke minder dan tak mau ambil resiko selepas perceraian mereka, ia juga wanita yang sudah makan asam garam di dunia ini. Ia tahu model wanita seperti Gwen, yang tidak akan tinggal diam untuk tak membalas dendam. Dan ia tak mau bila putrinya akan menjadi sasaran. Sudah cukup.


Dan saat melihat Arya , ia merasa jika Tuhan sedang mengirimkan calon mantu yang pas untuk dirinya. Juga besan yang baik seperti Bu Hana.


Ia dirawat dirumah sakit karena tekanan darahnya naik, Bastian pagi ini meminta ijin kepada Bang Togar karena ibunya tengah dirawat.


"Gak usah ngabari mbakmu Bas! ( gak usah kasih tahu kakakmu bas!"


Sikap Bu Kartika saat ini, persis saat Dhira nekat kawin dengan Indra dulu. Terlalu kencang dalam berfikir, membuat wanita itu harus menjalani perawatan karena hipertensi.


Namun Bastian tetap tak menuruti perintah ibunya, tentu saja ia mengabari kakaknya itu. Beberapa saat kemudian, Dhira dengan wajah cemas sudah hadir disana.


"Buk, ibuk kok gak ngabari Dhira dari kemaren?" Dhira mendekati ranjang yang digunakan ibunya untuk berbaring.


Bu Kartika diam, ia tak menjawab Dhira. Hatinya sakit, sejak bayi ia merawat Dhira sepenuh hati, namun ketika dewasa tak satupun dari keinginannya bisa diwujudkan oleh itu. Ia bahkan pasrah, bila sampai mati nanti anaknya itu masih menjadi pembangkang bagi dirinya. Terserahlah, begitu pikirnya.


Seperti bisa membaca pikiran ibunya, Dhira menggenggam tangan ibunya" Kalau ibu pingin Dhira dekat sama mas Arya baik buk akan Dhira coba, asal ibu gak diemin Dhira kayak gini. Dhira sayang sama ibuk, semua demi ibuk?" Dhira menangis, biar saja hidupnya nanti jadi seperti apa , setidaknya surganya itu sudah ridho kepadanya.


Setidaknya, dalam hati Bu Kartika tidak ada lagi cap pembangkang untuknya. Ia tidak mau, andai ibunya nanti sudah pergi menghadap sang khalik tapi dia masih belum sempat melegakan hati ibunya itu.


Bu Kartika juga menangis. Ia hanya ingin membuktikan putrinya itu akan bahagia dengan mengikuti sarannya.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2