
Bab 199. Kasih itu Memaafkan
.
.
.
...ššš...
" Kalau semua tak sama. Kamu, aku dan dia jelas berbeda!"
.
.
Devan
Loyalitas tanpa batas sudah gencar ia lakoni demi sang bos rewel cap kadal gurun macam Abimanyu. Berani menindas kaum pesuruh macam dirinya, dan terlihat tak memiliki daya di hadapan sang istri.
Entahlah, jika ada sebuah kata sandang yang lebih oke lagi, mungkin Devan akan menggantinya.
Ia tekun melayangkan rayuan gombal kepada Alexa. Entah mengapa, sejak pertemuan tak senagaja di dalam kabin pesawat yang sempit itu, pria itu terus saja terngiang-ngiang wajah ayu nan eksotis dari perempuan bernama Alexa itu.
Rupanya Tuhan tak ingin membiarkan dirinya terlalu lama larut dalam gundahnya rasa patah hati. Devan tipikal orang yang selektif sebenarnya, tapi saat melihat Alexa yang jauh dari kata glamor itu malah membuat pikirannya kerap terganggu.
Namun, belum usai ia melayangkan berbagai gombalan yang nampaknya membuat Alexa terus mencibir, seorang wanita mengagetkan dirinya dengan kemunculannya yang tiba-tiba.
" Anda assiten tuan Abimanyu Aryasatya kan?"
Buset ni orang, udah kayak leak aja ngagetin!
Untung saja semua itu ia ucapkan dalam hati, membuat reputasinya aman karena sebenarnya ia sering latah jika kaget. Tentu bukan malu kepada orang di depannya itu, melainkan kepada wanita yang berada di sambungan teleponnya.
" Kita lanjut nanti ya. Besok jika aku libur aku janji temui kamu!" Devan berucap kepada Alexa dengan suara lirih seraya menutupinya dengan tangannya.
" Halooo!!" merasa di abaikan, Melinda kini angkat suara.
" Iya iya sebentar!" Devan masih sibuk mematikan sambungan teleponnya, pandangannya juga masih bertumbuk pada benda pipih miliknya.
Melinda merasa kesal, karena pria itu tak sopan kepadanya dengan acara mengabaikan ucapannya.
" Iya Nyonya, ada yang bisa saya bantu!" Devan kini sudah siap dengan posisi tangan ia lipat tapi kebawah, dengan berada tepat diatas barang pusaka miliknya. Posisi yang mirip saat para bek dan gelandang pemain sepakbola yang menunggu tendangan sudut usai offside.
" Saya mau ketemu Istri bosmu!"
Devan bergeming dengan wajah datar. Ia menghela napas.
Sundel ini gak mau berhenti nyari gara-gara emang.
" Saya sarankan anda tidak menemui Bu Dhira. Anda sudah membuat masalah Nyonya!" terang Devan masih dengan wajah datar.
" Saya tidak ingin membuat masalah , saya hanya ingin meminta maaf!" terang Melinda.
Merasa perkataan wanita di depannya itu tak bisa di percaya. Devan bersikeras menolak permintaan CEO Caterpillar Group itu. Nama perusahaan yang sesuai dengan sikap si empunya. Ulat bulu. Yang kegatelan. Begitu menurut Devan.
" Tidak bisa, saya ..."
" Kalau begitu saya akan menemuinya sendiri!"
__ADS_1
.
.
Wanita benar-benar mahkluk yang sulit di tebak dan dikendalikan. Racun dunia versi the Changcuters itu ada banyak sekali model dan tipenya. Salah satunya wanita bernama Melinda itu. Wanita itu tegas dan memiliki wajah mengintimidasi lawan bicaranya. Sulit di kendalikan.
Devan berlari sekencang mungkin menuju ballroom tempat acara itu masih di gelar saat Melinda terlihat kembali ke kamarnya. Entah apa yang mau di ambil oleh wanita itu. Namun yang jelas, wanita itu pasti akan menemui istri bosnya per segera.
" Maaf Pak, Bu ...saya gak bisa menahan!" assisten Abimanyu itu nampak berkeringat di ruangan ber-AC.
Abimanyu dan Dhira masih dalam mode bingung, saling memandang, menelaah ucapan Devan yang tergesa-gesa itu. Dan saat Devan masih mengatur nafasnya dengan dahi berkeringat.
" Nyonya Aryasatya, bisa kita bicara sebentar?" Melinda berdiri tepat di belakang Devan yang menahan napas yang kembang kempis. Kini Abimanyu dan Dhira tahu maksud dari pria di depannya itu.
Sialan si sundel ini
Devan sempat mengumpat dalam hatinya seraya melihat kaki Melinda. Apakah masih menjejak bumi apa tidak. Karena ia merasa , wanita itu cepat sekali tibanya.
Dhira sempat menoleh ke arah suaminya sebentar. Meminta pendapat. Devan menjadi makhluk paling tegang disana. Apakah pertempuran akan terjadi?
Abimanyu mengangguk, menandakan memberi izin istrinya untuk berbicara bersama Melinda.
.
.
Mereka berdua kini terdiam diatas balkon hotel itu. Saking pandang dengan terpaan angin laut yang membuat pakaian mereka bergerak kesana kemari.
" Selamat!" Melinda tiba-tiba mengulurkan tangannya kepada Dhira dengan wajah tersenyum, saat mereka kini berada di balkon hotel yang menampilkan semenanjung pantai yang menjorok indah ke laut itu.
Dhira ragu, namun sejurus kemudian ia menerima uluran tangan Melinda.
Dhira masih menunggu wanita di depannya itu berbicara kembali.
" Maaf!" ucap Melinda usai tangan mereka sudah terlepas.
Mereka saling menatap.
" Maaf untuk semua kesilapan yang terjadi!" sambung Melinda.
Dhira menekan ludahnya seraya menyibakkan rambutnya ke telinga yang tersapu angin itu.
" Aku tidak tahu apa anda mau memaafkan saya atau tidak. Tapi, harus saya akui anda adalah wanita yang benar-benar beruntung karena memiliki suami seperti Pak Abimanyu!"
Sejenak Melinda tersenyum kecut, demi mengingat dirinya yang di khianati oleh suaminya.
Dhira menangkap raut sedih di wajah wanita yang ada di depan itu. Senyum yang mengandung kegetiran.
" Aku justru berterimakasih kepada anda. Karena anda, saya jadi mengetahui bila kami memiliki kesamaan dalam hal keposesifan!" terang Dhira.
Kecanggungan mulai memudar.
" Aku pamit, semoga bahagia selalu!" Melinda menepuk lengan Dhira pelan seraya tersenyum tulus. Melinda sudah lega karena meminta maaf. Meski harus ia akui, pesona Abimanyu memang sangat kuat terasa.
" Terimakasih. Dan semoga saat suatu hari nanti kita bertemu lagi, saya sudah tidak melihat anda seorang diri!" ucapan Dhira sukses membuat langkah Melinda terhenti.
" Kau akan melihatnya nanti!" Melinda tersenyum lalu melenggang pergi.
Dhira menatap punggung Melinda yang kini mulai menghilang di balik tembok hotel itu. Manusia seperti Melinda memang kadang di ijinkan hadir di kehidupan oleh Tuhan, tak lain adalah sebagai pengingat.
__ADS_1
Dhira tahu, wanita itu tengah tidak baik-baik saja. Tapi, ia tak memiliki hak untuk tahu lebih jauh. Semua telah usai. Dan obat dari segala persoalan adalah, memaafkan.
Pertemuan Dhira dan Melinda rupanya diikuti boleh Devan dan Abimanyu. Devan kini bernapas lega karena apa yang ia takutkan tidaklah terbukti.
Sejenak Abimanyu tersenyum, entah terbuat dari apa hati Istrinya itu. Bisa tetap bersikap santai bahkan di depan wanita yang sempat menyulut emosi dan kecemburuannya.
" Bos!" ucap Devan membuyarkan tatapan nanar Abimanyu ke arah istrinya.
" CK, nggagetin aja!" dengus Abimanyu membalikkan badannya menghadap ke arah Devan.
" Bos!!"
" Hmmmm!" Jawab Abimanyu malas.
" Emmmm saya ..."
" Pulanglah dulu, aku akan kembali besok. Aku belum membeli oleh-oleh untuk anak-anak!"
" Ingat, jangan kau buat main-main anak orang terus Van. Elu udah tua, Jagan sampai elu begitu terus sampai bulu di bawah pusarmu beruban!" sabda Abimanyu memberikan siraman roh halus.
Sialan!
Devan hanya berani membatin. Tapi tunggu dulu, darimana bosnya itu tahu bila dia hendak pamit ingin pulang dulu.
" Kok bos bisa ta.."
" Isi kepalamu itu transparan Van, aku bisa membacanya dengan jelas!"
Sialan!
Devan mendengus.
Masih berani dalam hati. Ia masih ingat betul pasal tak masuk akal yang di buat oleh Abimanyu secara mutlak.
Pasal satu :
Bos tidak pernah salah.
Pasal dua :
Jika bos salah kembali ke pasal satu.
Dan itu artinya, sebagai kacung kelas kakap. Devan memang harus diam dan menerima saja, segala ketidakwajaran Abimanyu. Toh dia punya sekutu yang kuat saat ini. Dhira.
" Baiklah kalau begitu bos. Oh iya, jangan lupa belikan asbak atau gantungan kunci dengan bentuk unik bos. Saya jamin, Bu Dhira pasti suka!" Devan tergelak dengan keras.
Ia ingat pasar oleh-oleh di BL yang menjual asbak dan gantungan kunci, dengan bentuk dan pola yang begitu mirip sekali dengan benda keramat milik pria yang bersemayam di bawah pusar.
" Dimana ada yang jual begitu Pak? aku mau beli!" suara Dhira mendadak terdengar diantara percakapan mereka.
" Devan!!!!!!" Abimanyu mendelik menatap pria itu.
Devan mendadak tersedak ludahnya sendiri.
.
.
.
__ADS_1