
Dari Penulis : Mohon tekan like terlebih dahulu, karena like dari anda sangat berarti untuk penulis.
.
.
.
Bab 134. I Love You
.
.
.
...ššš...
Bagaimana ku bisa
Berpaling darimu
Sekian lama ku mencari
Separuh jiwaku
Ku mau menunggu
Tak pernah berhenti
Sampai suatu saat nanti
Kau kan menyadari
*
Ku ingin kau tahu
Takkan ada habisnya
Ku masih miliki cinta
Melebihi yang kau kira
Hanyalah senyummu
Yang menghapus rinduku
Telah lama tak ku jumpa
Menghilang dariku
Akan ku lakukan asal kau kembali
Ku tak sanggup sendiri lebih lama lagi
*
Ku ingin kau tahu
Kau tetap dihatiku
Ada yang harus kau mengerti
Kau takkan ada gantinya
Yang aku inginkan hanyalah
Dirimu bersamaku selamanya
Bantu aku pergi dari sepi
Yang ku rasa menyakitkan
( Ipang Lazuardi ~ Takkan Ada Gantinya)
.
.
Wisang yang badannya bergoyang karena Rania yang terus menggoyang lengannya, menyipitkan matanya. Semua orang terkejut, tapi tak se-panik dan se-heboh Rania.
"Dia tengah di jahit lengannya. Terkena sabetan senjata tajam tadi. Kita kalah jumlah, nyaris saja aku dan dia tadi..." ucapan Wisang memuai ke langit-langit rumah sakit itu.
"Sekarang dia dimana?" Rania berkata seolah disana tak ada manusia lain, selain dirinya dan Wisang. Membuat suasana menjadi senyap.
__ADS_1
Krik Krik Krik
Mereka semua terdiam melihat Rania yang tiba-tiba rewel karena mendengar Bastian yang terluka. Apa mereka semua telah melewatkan sesuatu?
Isi kepala kelima manusia yang memandang heran kepada Rania, pasti tak jauh berbeda.
Abimanyu dan Dhira saling menatap, ada apa dengan adiknya itu pikir pikirnya." Ran, tenanglah. Jangan heboh begitu!" Abimanyu berucap seraya merangkul pinggang istrinya.
" Keluarga pasien?" dokter berucap dari bibir pintu yang baru terbuka.
" Saya kak.." ucapan Dhira menguap begitu saja ke udara. Tersalip oleh perkataan bernada kawatir dari Rania.
"Gimana Dok?" Rania lebih dulu melewati kumpulan manusia disana. Abimanyu menggelengkan kepalanya atas sikap Rania yang tak biasanya itu. Andhira mengangguk kepada Abimanyu, seolah menyiratkan untuk membiarkan. Sebagai wanita, ia kini bisa membaca situasi yang terjadi, meski ia sendiri belum yakin dengan hal yang ia tebak.
" Pasien sudah selesai mendapat penanganan, bisa di jenguk kedalam. Saya permisi dulu!" dokter berusia setengah abad lebih itu, undur diri dari hadapan mereka.
Rania lebih dulu melesat ke dalam. Ia melihat Bastian yang meringis dan terlihat berusaha hendak duduk di ranjang matras rumah sakit itu.
Sementara ke lima manusia lainnya, masih berada di belakang.
" Bas!!" ucap Rania kemudian menubruk Bastian dan memeluk erat tubuh pria itu. Bahkan posisi Bastian masih belum duduk dengan sempurna. Ia terisak, air matanya langsung menganak sungai melewati pipi bersihnya.
Bastian mematung seketika, ia yang tak mengetahui kehadiran Rania hanya bisa terdiam. Lengan kirinya masih kaku usai mendapat 20 jahitan.
" Kamu kenapa bisa begini?" suara Rania terdengar bergetar.
Abimanyu, Andhira, Wisang dan Danan saling menatap di bibir pintu itu. Langkah mereka tertahan, lantaran melihat Rania yang menangis serta memeluk Bastian yang nampak bingung.
" Oh, sepertinya disini hanya aku manusia yang tak beruntung!" tukas Dananjaya dengan wajah memelas.
Abimanyu masih mencerna kepingan adegan yang ia lihat. Ia terlihat diam tak menanggapi selorohan Danan. Justru Dhira lah yang tergelak mendengar ucapan Danan.
" Aku tidak apa-apa!" ucap Bastian mengusap pelan punggung Rania.
Adik Abimanyu itu melepaskan pelukannya, ia kini terlihat mengusap sisa genangan air mata di pipinya. Ia merasa canggung karena menjadi tontonan para senior disana.
" Bagaimana keadaanmu sekarang Bas?" Dhira kini mendekati adiknya itu.
" Masih berasa kaku kak. Belum boleh kena air dulu ini!" Bastian menunjukkan luka jahitannya yang membuat Dhira meringis ngeri.
" Terimakasih Pak Bastian. Sudah membantu menyelamatkan saya!" Sekar mengucapkan rasa terimakasih dari hati terdalamnya. Ia beruntung karena di kelilingi orang-orang baik.
"Sama-sama, tapi yang paling penting...."
Sekar menatap Wisang sekilas. Ia merasa beruntung karena pria itu benar-benar membuktikan perasannya, lewat perbuatan yang nyata itu.
Mereka semua akhirnya tahu berita tentang kedekatan Wisang dan Sekar. Dhira terus menyunggingkan senyum saat melihat Wisang yang memeluk pinggang Sekar posesif.
Mereka terlibat obrolan sebentar. Dan Danan lah yang selalu menjadi tepat perpeloncoan yang paling mutakhir. Suasana di sana mendadak menjadi hangat karena tawa dan obrolan absurd Danan.
Sejurus kemudian , mereka terlihat mengucapkan rasa keprihatinan atas kenaasan yang di alami oleh Bastian. Wisang juga merasa berhutang budi kepada adik dari Andhira itu.
" Jika kau memerlukan bantuan ku, jangan sungkan!" Wisang menepuk pundak Bastian.
Mereka terlibat obrolan remeh temeh, menepikan sejenak tentang sikap aneh Rania malam itu. Wisang membawa Sekar untuk pulang terlebih dahulu, ia kasihan kepada gadis itu. Danan juga terlihat pulang menuju kediamannya. Sementara Abimanyu dan Dhira, memilih menuju kantin.
Mereka membiarkan dua sejoli , yang agaknya tengah ingin membicarakan suatu hal. Dua orang di ruangan itu , kini berdiam dalam kecanggungan.
" Aku.."
" Aku.."
Usai larut dalam keheningan beberapa detik, kini mereka gelagapan karena berbarengan dalam berucap.
Bastian terus tertunduk. Ia tak berani menatap mata coklat Rania. Ia pikir, ia tak akan bertemu dengan cara yang seperti ini. Ia tak suka terlihat lemah di hadapan wanita itu.
"Bu Rania kenapa bisa tahu kalau saya ada disini?" ucap Bastian akhirnya.
Rania menatap Bastian tak habis pikir," Kamu panggil aku 'Bu' , padahal kamu sendiri yang keluar dari Devisiku tanpa pamit kepadaku?" Rania kini kesal karena ingat akan tindakan Bastian yang sempat membuatnya galau serta gundah gulana.
Dan harus Bastian akui, itu adalah kesalahannya. Rania berhak mengomel kepadanya atas dasar hal itu.
" Saya..."
"Kalau kamu merasa gak suka atas perbuatanku tempo hari, aku minta maaf. Tapi cara keluar kamu yang seperti itu, terkesan sama sekali gak menghormati aku!" tukas Rania dengan nafas memburu.
Bastian terdiam saat wanita itu tengah meluapkan isi hatinya. Dan Bastian cukup tahu akan hal semacam itu. Ia masih setia menjadi pendengar yang baik. Api tidak bisa dilawan dengan api.
" Kalau kamu pernah dengar ungkapan ; datang tampak muka, pulang tampak punggung! aku rasa kamu pasti tahu apa yang musti kamu lakukan!" Kali ini Rania benar-benar berada dalam titik kecewanya.
"Aku enggak tahu salahku dimana lagi sama kamu Bas!" dengan terengah-engah, Rania mengeluarkan unek-unek dari dadanya.
"Aku sang..." kini gantian ucapan Rania yang terpotong.
" Saya tidak pernah bermaksud membuat anda merasa seperti itu Bu!" sergah Bastian.
__ADS_1
" Saya...Saya...!" Bastian kini bingung dengan alasan yang harus ia kemukakan. Karena jujur, ia ingin menghindari laju perasaannya yang kian tak terkendali usai mendapat ciuman dari Rania.
Tapi harus ia akui juga, keberadaannya sangat tak pantas untuk Rania dari segi finansial. Dan dia tidak percaya diri akan hal itu. Apalagi kakaknya yang baru menikah dengan direktur disana, ia tak mau di cap sebagai peraup aji mumpung.
Melihat Bastian yang tak bisa berucap, membuat Rania bersedih. Ia merasa pasti Bastian memang ilfil terhadap dirinya. Pria itu bisa saja merasa tak nyaman dengan dirinya
" Aku suka sama kamu Bas!" Ia berucap dengan suara bergetar, dan dengan mata yang sudah tergenang air mata.
" Tapi mungkin aku terlalu jauh berharap. Karena kamu sudah lebih dulu jatuh hati kepada seseorang!" air mata Rania meluncur membasahi pipinya. Ia mengusapnya cepat.
" Aku hanya seorang janda, mana mungkin perjaka sepertimu mau sama aku!" Rania tersenyum kecut. Ia merasa harga dirinya tergadaikan saat ia mencium Bastian tempo hari.
" Mungkin aku yang terlalu banyak berharap!" Rania menggigit bibirnya sendiri. Berharap sesak di hatinya bisa ia halau.
Bastian bingung, bagiamana caranya membuat Rania mengerti. Jika ia malu akan kondisinya. " Bu, tolong jangan seperti ini. Saya takut orang lain akan mengira ibu saya apa- apakan nanti!" Bastian juga jujur akan hal yang satu itu.
" Mungkin wanita yang kamu kejar itu, emang yang terbaik buat kamu. Pantas dapatin kamu. Bukan aku!" Rania meraup tasnya yang tergeletak di sebelah Bastian.
" Aku pergi, anggap aja kita gak pernah ketemu!?!" Rania dongkol hatinya. Ia merasa lelah mengejar Bastian.
Bastian bingung, ia sangat menyayangi Rania. Tapi ia begitu malu untuk mengungkapkan alasannya yang ia rasa tabu untuk di ungkapkan.
Dan saat Rania sudah hendak pergi, Bastian berusaha bangkit seraya meringis menahan sakit di tangannya. Sejurus kemudian pria itu, menarik tangan Rania menggunakan tangan kanannya.
Wanita itu berbalik arah kepada Bastian dengan sekali tarikan. Dan saat Rania sudah berdiri di dekat Bastian, Pria itu menggunakan satu tangannya untuk menekan tengkuk Rania, Bastian mencium bibir Rania.
Wanita itu membulatkan matanya karena aksi Bastian, sejurus kemudian ia memejamkan matanya. Ia merasakan sapuan lidah Bastian di mulutnya. Deru nafas pria itu mengalir mengisi laju darahnya. Ia menikmati sentuhan Bastian malam itu.
Dan kali ini, ciuman itu lebih baik dibandingkan tempo hari yang terasa kaku.
Bastian melepaskan pagutannya. Ia sedikit meringis karena jahitannya sedikit merasa nyeri. Mungkin efek obat biusnya sudah berkurang.
Rania tertunduk malu, Ia membasahi bibirnya sendiri dengan mengulum mulutnya sendiri. Hatinya sudah seakan melompat dari balik kerangka tubuhnya.
" Tolong jangan bicara seperti itu. Wanita yang selama ini aku maksud adalah Bu Rania!"
Rania membelalakkan matanya tak percaya. Jadi, pria di depannya itu minder terhadap dirinya?
"Bas?.." degan sorot mata mencari kejujuran, Rania menatap lekat Bastian yang terlihat lelah hati itu.
" Saya hanya karyawan biasa Bu, keadaan saya juga seperti ini. Bahkan untuk bermimpi saja saya tak pantas!" Hidung Bastian merah. Matanya mulai memanas.
" Saya juga menyukai anda!" agak aneh, sudah berciuman, bertengkar tapi masih memanggil nama wanita itu dengan sebutan formal.
" Saya hanya pria miskin Bu!" Air mata Bastian meluncur.
Rania tertegun, matanya juga memanas. Tak menyangka bila Bastian bisa menilai dirinya begitu. Apakah dia terlihat sebagai wanita matrealisis?
" Apa yang kau katakan?" Rania tak suka Bastian berucap seperti itu.
" Apa aku terlihat seperti wanita yang gila harta?, hah?"
Bastian terdiam, ia menghela nafas.
" Kalau harta bisa membuatku bahagia, mestinya sudah dari dulu Bas!"
" Aku hanya wanita dengan segala kesepian yang berusaha aku halau sendiri. Pada titik sepi aku selalu bergumul sendiri!"
" Aku tidak memerlukan hal itu bas!!" Rania menggeleng seraya menangis. Ucapan Bastian itu tidak benar pikirnya.
" Aku gak peduli Bas, mau kamu seperti apapun. Asal kamu mau mau mengisi kekosongan di hatiku, mau temani aku yang selama ini sendiri!"
" Kedudukan dan sejumlah materi tak ada artinya Bas!"
" Bingung apa yang aku cari, kalaupun harta mustinya aku bahagia dari dulu. Tapi kenyataannya?"
Rania terisak-isak, sementara Bastian terlihat menelan ludahnya berkali-kali.
" Aku cinta sama kamu Bas, aku gak peduli semua itu!"
Detik berikutnya, Bastian meraih dagu Rania. Ia menunduk dan melahap bibir mama dari Jodhi itu. Ia ingin menenangkan Rania dengan cara yang cepat saat ini. Entah esok hari, entah untuk lusa nanti.
Bastian kembali mencium bibir Rania agar wanita itu tak lagi berbicara , serta mengeluarkan perkataan yang bisa membuat dirinya makin diliputi rasa bersalah. Ia melu*mat bibir Rania dengan pelan. Cairan asin yang berasa dari netranya juga turut menelusup ke bibir mereka.
Merasa sama- sama kehabisan nafas, Rania dan Bastian melepaskan ciuman hangat itu. Rania meraba rahang Bastian, dan menempelkan kepala mereka satu sama lain.
" Aku cinta kamu Bas!" bisik Rania saat dahi mereka menempel.
.
.
.
.
__ADS_1