
Bab 135. Tingkah Absurd
.
.
.
...ššš...
"Orang yang berpengetahuan menahan ucapannya, dan orang yang pengertian selalu berkepala dingin!"
.
.
Rania
Ia adalah wanita dengan pembawaan energik dan pantang menyerah. Berulang kali otaknya gencar berpikir. Antara merelakan dan kembali.
Tentu saja Bastian yang ia maksud disini.
Berulang kali pula, ia mencoba berdamai dengan masa lalu. Karena sejatinya, kehidupan memang bak roda pedati. Sekali diatas, sekali di bawah.
Bukan maksud melupakan sosok Chandra dalam hidupnya. Ia akan selalu mengenang papa dari Jodhi itu seumur hidupnya, tapi pertemuannya dengan seorang anak buahnya sendiri itu ,menjadi titik balik kembalinya naluri wanita yang rindu akan kasih sayang.
Bastian yang kerap mengganggu tidurnya itu benar-benar berhasil membuat Rania senyam-senyum saat berada di dekat pria itu. Bastian perhatian, ganteng dan juga baik. Hatinya tertambat karena ia pernah di tolong oleh Bastian saat insiden lift yang macet.
Titik berat masalahnya bertumpu pada saat ia mendengar sendiri Bastian yang berkata, bila pria itu tengah suka kepada seorang wanita dengan persoalan kasta. Dan harus ia akui, dia cemburu soal itu.
Terlebih, usai kakaknya menikah ia kian diliputi perasaan kawatir . Lantas bagiamana dengan dirinya. Bukankah hak berbahagia ialah hak segala bangsa, dan ia adalah partikel dari bangsa itu bukan?
Dan di malam resepsi kakaknya itu, ia tak lagi bisa menahan buncahan perasannya. Persetan dengan pandangan Bastian terhadap dirinya nanti, ia mengutarakan semua isi hatinya.
Namun tak di nyana, surat yang di layangkan Bastian kemaren sukses membuat kegundahan merajai hati Rania. Mengapa pria itu resign dengan cara yang mendadak pikirnya. Apa pertemuannya malam itu turut andil didalamnya? mendadak wanita itu suudzon.
Dan puncaknya adalah malam dimana ia baru saja menuntaskan ritual mandinya usai pulang dari kantor, Abimanyu memberitahu bila salah satu karyawannya terlibat aksi penyelamatan pegawai istrinya, dan menghasilkan luka yang lumayan. Lebih tepatnya, mantan karyawan.
Ya whatever lah. Kakaknya itu memang belum tahu jika Bastian sudah hengkang dari Delta Group atas independensinya.
Ia dengan segala kekhawatirannya, langsung turut berada dalam satu mobil bersama kakak dan kakak iparnya. Kekhawatirannya tak bisa ia tekan rupanya. Logikanya bahkan sudah aus, ia tak memperdulikan tatapan penuh curiga dari para kakaknya.
Dan sampai ia mengungkapkan seluruh isi hatinya saat bersama Bastian, ia merasa mendapat sebuah kelegaan. Ia merasa bagian terdalamnya plong dan ringan.
Namun, tak di sangka ia yang mendengar penuturan Bastian itu membuat hatinya tercubit. Alasan di balik mundurnya Bastian dari Delta group adalah dirinya. Very bad!
Ia menanggalkan segala properti kekayaan, ataupun embel-embel atasan disana. Ia bertindak dan berbicara sebagai seorang wanita, yang rupanya tak bisa lebih lama lagi untuk sendiri. Ia ingin seorang pria yang bisa membantunya keluarga dari sepi. Dan itu adalah Bastian yang ia mau.
Rania tak peduli, betapapun hidup Bastian yang amat bersahaja, ataupun keadaan sulit lainnya. Ia tak mempedulikan soal itu. Ia yang merasa terlindungi saat bersama Bastian, ia yang tahu bila anaknya Jodhi juga sangat dekat dengan pria itu, ia yang tahu bila Bastian adalah sosok adik sekaligus anak yang bertanggung jawab penuh kepada ibu dan kakaknya.
__ADS_1
Dan Rania mau di temani oleh pria seperti itu, pria seperti Bastian.
.
.
Bastian
Gempuran AC yang dingin di ruangan hotel tempo hari agaknya tak membawa pengaruh besar bagi isi otak Bastian yang memanas. Telah berkali-kali ia menanggalkan rasa ketidakpercayaan dirinya namun hasilnya nol.
Ia masih saja minder dan minder.
Apalagi saat ia melihat Fredy yang kerap berinteraksi dengan atasannya itu. Ia kian ciut nyali. Bisa apa dia, apa yang bisa ia banggakan?
Hanya pegawai kelas standard yang menghidupi ibu yang seorang janda selama bertahun-tahun.
Jatuh cinta pada pandangan pertama itu benar adanya, dan ia alami ketika bertemu dengan Direksi bagian divisinya yang baru. Saat itu, bos cantik, muda dan vokal yang belakangan ia ketahui seroang janda itu, membuat jantungnya kerap tak beres saat berpapasan ataupun bertemu.
Entahlah, ada desiran aneh yang hilang timbul. Dan semua itu tidak bisa di jelaskan.
Mendapatkan kesempatan berkali-kali bertemu, membuat Bastian seraya mendapatkan jackpot. Walaupun ia hanya bisa mengagumi. Terus terang saja, Rania jelas sulit untuk ia gapai.
Puncaknya adalah malam saat wanita itu mencium bibirnya, dan terang-terangan mengungkapkan perasaan kepadanya. Ia sebenarnya terkejut, bagiamana bisa bosnya itu memiliki rasa yang sama dengannya.
Dan harus ia akui pula, Rania adalah wanita yang bernyali besar.
Bastian tahu regulasi pengunduran diri adalah minimal dua Minggu dari rentang waktu tersebut. Bila tidak, tentulah pinalti harus ia bayar. Lantaran perusahaan juga harus mencarikan pengganti untuknya. Ia bahkan belum sempat mengutarakan hal itu kepada ibu dan kakaknya. Ia mengambil keputusan sendiri kala itu.
Ciuman mendadak itu, masih ia ingat hingga saat ini. Dan lebih terkejut lagi, saat ia baru saja selesai di tusuki jarum dan di ikati senar di lengan kirinya akibat ulah anak buah bandot tua itu, ia lagi-lagi terkejut saat Rania menubruk dirinya.
Ia akhirnya bisa mengungkapkan isi hatinya, ganjalan yang selama ini menjadikan alasan untuknya tak berani melangkah juga sudah terlupakan. Ia lega.
Dan saat wanita itu berkali- kali mengatakan jika dia begitu mencintai Bastian, agaknya hal itu menjadi modal awal untuknya. Modal untuk mengambil keputusan per segera.
...ššš...
"Mas kamu kenapa sih?" ucap Dhira usai menyeruput kopi susu di kantin rumah sakit malam itu.
" Rania gak ada bilang ke aku kalau dekat sama Bastian!" Abimanyu terlihat gusar.
Dhira menggenggam tangan suaminya,"Jadi mas mikirin itu sedari tadi?" Dhira menatap wajah suaminya yang selalu makin ganteng jika terlibat obrolan serius begini.
" Sayang, kita baru menikah. Dan mereka...!" Abimanyu menautkan kedua alisnya.
" Mas...mereka itu ipar sama ipar. Setahu aku, gak ada masalah untuk itu. Banyak kok contohnya!" Dhira mencoba membuat suaminya itu untuk tak terlalu pusing akan Rania.
" Tapi sayang....!" sergah Abimanyu.
" Kita lihat dulu aja, apa dugaan kita ini bener. Nanti aku bicara sama Bastian kalau pas kita kerumah ibuk ya?"
__ADS_1
Luar biasa, istrinya itu memang ahli dalam meredam kegalauan. Dan Abimanyu bersyukur akan hal itu
Abimanyu tersenyum, usai melihat situasi cukup aman ia mencium bibir istrinya. Ia tak tahan jika dalam hawa yang dingin begini, hanya berduaan dengan istrinya.
"Mas!!" Dhira yang kaget karena mendapat kecupan mendadak di tempat umum itu, langsung memukul lengan Kokok suaminya.
Abimanyu tergelak," Dingin Dhir, harusnya aku udah peluk- peluk kamu di kamar!" Abimanyu meremas tangan Dhira, dan meletakkannya ke pipinya.
"Iya nanti lah, adiknya lagi kena musibah juga!" cibir Dhira.
Abimanyu terkekeh, entah mengapa tidak sedari dulu ia ditakdirkan dengan Dhira. Ia merasa hidupnya kian lengkap saat ini.
" Sayang!" ucap Abimanyu usai menyeruput kopinya.
" Ya?"
" Aku pingin masukin Raka ke sekolah voli yang bagus. Aku ada kenalan yang punya sekolah bagus!"
Dhira tersenyum, ia senang karena Abimanyu rupanya menganggap Raka itu seperti bagian terpentingnya juga.
" Itu hobi, tapi nanti kalau gede ya harus kuliah bisnis juga. Gimanapun juga Raka sama Jodhi nanti bakal calon penerus usaha kita!"
Dhira tertegun dengan rasa haru. Suaminya itu benar-benar pria baik, ia bahkan sudah memikirkan hal seperti ini jauh-jauh. Meski Raka hanya hanya anak sambungnya, namun Abimanyu juga memberikan skala prioritasnya untuk putranya itu.
" Kamu kenapa kok malah nangis?" Abimanyu yang melihat mata istrinya mengkristal itu dibuat cemas, apa di salah berucap.
" Aku terharu mas, gak pernah ngira hidup aku berubah begini. Makasih mas udah mau hadir di hidupku!" Dhira menggenggam tangan suaminya.
" Sshhhhttt, jangan bilang gitu ah. Kamu gak boleh sedih-sedih. Karena tugas kamu setelah ini adalah mensukseskan program perkembangbiakan Abimanyu dan Dhira junior. Kita harus kasih adik buat Raka segera!" Abimanyu terkikik sendiri.
" Dasar!!" Dhira menepuk pelan lengan dengan otot kentara milik suaminya.
" Dhir, pulang yuk!" Abimanyu meraih kemudian menempelkan telapak tangan Dhira ke arah benda penting miliknya, yang rupanya mulai bangkit dari tidurnya.
Dhira membelalakkan matanya, saat tangannya merasakan sesuatu yang keras, besar dan sesak di balik celana suaminya.
" Mas!" mata Dhira membulat akibat tingkat suaminya itu
Abimanyu tergelak dengan kencangnya, lantaran melihat ekspresi istrinya. Ekspresi terkejut yang layak ia abadikan dalam ingatannya.
.
.
.
.
.
__ADS_1