The Love Story' Of Single Parents

The Love Story' Of Single Parents
Bab 36. Selalu Terlibat


__ADS_3

Bab 36. Selalu Terlibat


.


.


.


...šŸšŸšŸ...


"Orang tua adalah sumber semangat, bagi jiwa anaknya"


.


.


Raka


Tiga jari kanannya serasa patah, sakit tak terkira, nyeri tak terperi. Selain itu ternyata bahu dan lututnya rupanya juga mengalami cedera. Ia hanya bisa pasrah saat ini, begitu tubuhnya di angkat menggunakan tandu. Didampingi Pak Renaldi dan juga beberapa anggota official sekolahnya. Sementara Pak Kemal, masih tinggal di lapangan guna menggantikan Pak Renaldi.


Pukulan dalam servis dan smash mengandalkan bahu sehingga potensi cedera bahu karena smash sangat besar. Pendaratan yang tak sempurna juga membuat engkel kakinya turut mengalami cedera.


"Maafkan saya Pak!" ucap Raka yang merasa tak enak hati, lantaran tak bisa merampungkan pertandingan.


"Keselamatan kamu lebih penting Ka, saya udah tunjuk Ardi buat gantiin kamu tadi." jawab pak Renaldi, yang tengah berjalan mengiringi dirinya yang masih di tandu.


Ia dibawa menuju ruang P3K untuk mendapatkan pertolongan pertama.


.


.


Jodhi


Ia terkejut saat melihat Raka jatuh beringsut ke lapangan, jelas sahabatnya itu tengah mengalami cedera.


"Ma, aku kesana dulu!" ia langsung melesat ingin segera menemui Raka. Tak bisa untuk berlama-lama berdiam diri di bangku penonton.


"Jodhi, kamu mau kemana?" Rania mengernyitkan dahinya, serta pandangannya mengikuti kemana putranya itu pergi.


"Biarkan saja, setelah ini kita susul" ucap Fredy.


Setelah keluar, ia bertanya kepada petugas yang standby di pintu masuk.


"Pak, untuk atlet yang cedera biasanya di bawa kemana?" tanya Jodhi.


"Biasanya ke ruang P3K dulu!"


"Itu di ujung lorong, belok ke kanan. Sebelah ruang ganti Atlet!"


"Makasih Pak!"


Jodhi melesat menuju ruang yang di infokan oleh salah satu petugas di GOR teresebut. Tentu saja ia sangat khawatir.


.


.


Andhira


Hatinya penuh kecemasan, khawatir juga takut bila putranya mengalami sesuatu yang cukup parah. Ia ditemani oleh Abimanyu, ini bukanlah kesengajaan. Anehnya, mengapa saat panik, Dhira justru menumpahkan hal itu kepada pria di sebelah kirinya. Padahal, di sebelah kanannya tengah berada ayah kandung dari Raka.

__ADS_1


Wajahnya pucat, hatinya deg-degan. Ia menyusuri lorong. Berjalan beriringan dengan pria yang menjadi Direktur utama di Delta Group itu.


"Pak, dimana atlet yang baru saja mengalami cedera?" tanya Dhira kepada salah satu petugas yang kebetulan lewat.


"Ada di dalam buk, anda siapa?"


"Saya mamanya!"


.


.


Indra


Indra juga turut menyusul kepergian mereka, jelas ini adalah urusan yang pasti melibatkan dirinya sebagai papa. Tak bisa hanya berdiam diri.


Hatinya sebenarnya tersulut, melihat mantan istrinya lebih memilih pergi bersama Bosnya itu.


Tak sulit untuk mencari keberadaan putranya saat ini, malu bertanya sesat dijalan. Ia memanfaatkan petugas yang riwa- riwi untuk mencari keberadaan putranya.


Entah mengapa, Indra merasa tak senang melihat Abimanyu turut berdiri di dekat mantan istrinya, tapi ia tak memiliki keberanian untuk mengusir. Jelas tidak akan pernah berani. Hidupnya masih bergantung pada perusahaan Abimanyu bukan.


...šŸšŸšŸ...


"Auwwww!" Raka merintih kesakitan, rupanya ada tim medis yang susah standby disana.


"Apa ini sakit?" tanya seorang pria, yang sepertinya dokter muda, dengan name tag Dion.


Raka mengangguk, " Bahu dan engkel kaki saya juga sakit Pak" ucap Raka.


"Sepertinya agak parah, peralatan disini tidak mendukung!"


"Iya Pak" jawab Raka, dengan posisi masih berbaring.


Sayup sayup dari luar terdengar suara riuh orang berjalan, rupanya Jodhi datang terlebih dahulu.


"Raka!!" ucap Jodhi.


"Gimana keadaan kamu?" Jodhi panik, melihat rekannya yang baring diatas ranjang dengan matras berwarna pekat, khas seperti di rumah sakit.


"Jari, bahu, sama engkelku Jo!" ucap Raka meringis menahan sakit.


"Posisi spike kamu tadi nanggung kayaknya!" ucap Jodhi yang duduk di kursi plastik, yang berada di samping ranjang Raka.


"Ya gimana lagi, malang tak dapat di tolak. Untung tak dapat di raih!" Jawab Raka mencoba santai.


Mereka berdua akhirnya saling mengobrol, sembari menunggu Pak Renaldi kembali.


Selang beberapa detik kemudian, muncul Andhira dan juga Abimanyu. Mereka cukup kaget yang melihat bocah bandel, yang tidak lain tidak bukan adalah Jodhi.


"Loh, kok kamu udah disini?" Abimanyu tentu saja tak bisa untuk tidak bertanya kepada keponakannya itu.


Sementara Jodhi hanya memutar bola matanya malas, memangnya kenapa kalau dia sudah ada disini duluan. Orang tua kan selalu lelet. Begitu pikirnya. Belum sempat menjawab. pertanyaan papa Abinya, Andhira terlihat mendekat.


" Raka!" ucap Dhira lirih. Ia menghampiri putranya yang terbaring, mengusap rambutnya kebelakang. Mata wanita 40 Tahun itu sudah tergenang oleh air mata.


Jodhi berpindah tempat, memberikan tempat bagi mamanya Raka untuk mendekati putranya.


"Aku ga apa apa kok ma, cidera udah biasa!" Raka mencoba tersenyum, ia tak ingin membuat mamanya khawatir.


Rupanya Dokter Dion sudah kembali, ia menyaksikan interaksi anak dan ibu itu dari luar.

__ADS_1


"Kenapa bisa terjadi seperti ini Dok?" Abimanyu menatap dokter muda, yang baru saja tiba itu. Entah dari mana mereka


"Mungkin saat pemanasan kurang optimal, juga pendaratan yang tidak tepat. Tapi, semua ini adalah kejadian umum yang sering di alami para atlet!" terang dokter muda itu.


Saat mereka masih sibuk berbincang mengenai kondisi Raka, Indra rupanya sudah sampai disana.


"Raka, kamu tidak apa apa nak?" tanya Indra yang nyelonong masuk, dan langsung membuat Abimanyu, dan juga Dokter Dion menggeser tubuhnya.


"Tidak apa-apa bagiamana, jelas dia berbaring seperti itu!" gerutu Jodhi dalam hati.


Raka menjadi canggung, " Tidak apa- apa pa, ini biasa kok!" ia memaksakan senyumnya.


"Orang tua ananda Raka!" panggil Pak Renaldi yang muncul dari luar, seperti baru saja mengurus keperluan Raka.


"Saya mamanya!"


"Saya papanya!"


Indra dan Dhira berucap bersamaan.


Krik krik krik


Membuat semua yang disana saling bersitatap.


"Bisa ikut saya sebentar!" ucap Pak Renaldi.


.


.


"Pak, Buk. Saya minta maaf sebelumnya, karena pertandingan ini, putra Bapak dan Ibu menjadi cedera." Pak Renaldi mengajak mereka berdua berbincang, di lorong sebelah yang berada dekat dengan ruang P3K.


Andhira dan Indra masih menyimak penjelasan Pak Renaldi, selaku penanggung jawab dari sekolah Tunas Bangsa.


"Namun, Dokter Dion menyarankan untuk dirujuk ke Rumah Sakit, harus dilakukan Rontgen guna mengetahui parah tidaknya cedera di jarinya.


"Karena itu sangat penting untuk masa depan Raka, mengingat di adalah anak yang berpotensi!"


Indra terdiam sejenak, jelas ia tak bisa langsung mengambil keputusan sendiri. Ada Andhira juga yang berhak berbicara.


"Untuk masalah biaya biar saya yang menanggung!" Abimanyu rupanya mengikuti kemana mereka pergi. Membuat mereka bertiga kaget, dan langsung menoleh ke sumber suara.


"Pak!" Pak Renaldi mengangguk penuh hormat kepada Abimanyu.


Indra terdiam, tak berani menyela walau hanya sedikit.


"Tidak perlu Tuan, kami bisa mengatasinya." Dhira sungguh tak mau melibatkan pria itu lagi, apalagi menyangkut biaya. No way!


Abimanyu tersenyum, jelas ia bisa membaca ketidaknyamanan yang terpampang jelas di wajah Andhira.


"Delta Group adalah donatur tetap di Tunas Bangsa, jadi sangat relevan bukan bila ini menjadi tanggung jawab saya juga!"


Andhira sungguh malu, ia terlalu ge er duluan. Dan yang dikatakan oleh Abimanyu tadi, jelas menjadi tamparan buat Indra. Bila pria yang di depannya itu, jelas bukan pria sembarangan.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2