The Love Story' Of Single Parents

The Love Story' Of Single Parents
Bab 142. Temptation in Life


__ADS_3

Bab 142. Temptation in Life


.


.


.


...šŸšŸšŸ...


" Hati nan lara, yang dirundung asmara. Hilanglah selera, hilanglah segala rasa...."


( Diambil dari lirik lagu Noah ~ Kala Cinta Menggoda)


.


.


Shinta


Shinta mengembuskan napasnya lega saat dhira percaya kepada ucapan sahabat Abimanyu itu. Pria bernama Dananjaya itu benar-benar sudah tak waras menurutnya


" Hihhhhh!" ia menggosok bekas tubuh Danan yang menempel di bagian dadanya. Menghentakkan kakinya seolah merontokkan bekas sentuhan pria bertubuh tinggi tegap itu. Tapi harus ia akui, pria itu memang punya aura kuat. Ditambah wajah rupawan yang tak bisa ia tepikan begitu saja.


Kenapa dia bisa terlibat dengan pria itu, seketika Shinta bergidik ngeri demi mengingat bagian tubuh pria itu yang mengganjal pahanya.


Sangat aneh, bukankah dia tadi juga menjadi salah satu dari anggota pindang yang tidur. Lantas mengapa bisa berada di lantai atas hanya dalam hitungan beberapa menit saja.


Ia cepat- cepat keluar dari tempat itu, sebelum ada yang melihatnya. Takut jika pria itu akan mengerjainya lagi, Ia kesal bukan main siang itu.


.


.


Danan


Pria itu merasakan getaran aneh saat berhadapan bersama Shinta tadi, ia tahu ini salah. Tapi teruntuk hati, mengapa engkau terlalu buta untuk menyadari kenyataan yang ada. Shinta adalah istri dari pria bernama Rangga. Dan Pria itu, adalah pria yang juga sudah mengenal dirinya.


Ia mengusap wajahnya kasar. Cenderung gusar. Kesan pertama dia memang telah jatuh hati pada wanita itu sejak ia melihat Shinta yang mengenakan bold makeup saat resepsi pernikahan Dhira dan Abimanyu.


Dan dia adalah salah satu dari jutaan manusia di bumi ini, yang harus mengakui kekutan cinta pada pandangan pertama.


Tapi otak warasnya untungnya masih bekerja dengan baik. Jika tidak, ia pasti sudah melahap bibir istri dari Rangga tadi. Apalagi dua gundukan indah yang ia tekan tadi, seakan menjadi tim pemandu sorak yang bisa membangunkan aset berharga miliknya yang bersembunyi di balik celananya.


" Sini lu!" Wisang tiba-tiba menarik lengan Danan kedalam ruangan yang sepertinya itu adalah gudang. Membuat lamunan Danan menguap ke udara.


" Anjing!, ngagetin aja!" sahut Danan.


" Gila lu ya, gue udah peringatkan elu Dan. Jangan main api kalau ga mau ada asap!" Wisang cemas, sahabatnya itu agaknya mulai mengkhawatirkan.


" Apaan sih, gue masih tahu batasan gue. Gak ada pikiran buat jadi pebinor gue Wis!" Danan agak tersinggung.

__ADS_1


Meraka saling menatap dengan dahi mengkerut dan rahang yang mengeras.


" Banyak wanita yang tanpa risiko bisa elu jadikan bini. Ga musti istri orang lain juga!" Wisang menatap Danan serius.


" Ingat kita ini sudah brengsek dari dulu, jangan sampai mati dalam keadaan brengsek juga!" ucap Wisang, sejurus kemudian ia langsung melenggang pergi. Meninggalkan dirinya yang tertegun.


Danan beringsut ke lantai. Benar kata Abimanyu, semua akan mumet pada waktunya.


Tanpa elu kasih tahu gue juga udah tau Wis. Tapi gue bisa apa. Gue gak bisa bohong kalau gue emang jatuh cinta sama itu perempuan.


...šŸšŸšŸ...


Detik berganti menit, menit berganti jam, dan jam berganti hari. Roda-roda terus berputar, geliat lapisan masyarakat terus berirama dengan putaran matahari.


Malam ini, adalah malam kepindahan Abimanyu secara resmi. Ia kini mengundang para tetua dari keluarga mereka secara komplit untuk makan malam.


Adalah Yuni, keponakan dari bik Surti yang berasal dari kampung yang sama, di dapuk menjadi pelayan disana, di temani suaminya Sugeng yang juga di daulat menjadi satpam dirumah itu.


Bu Kartika terlihat lebih sehat, wanita itu kini sudah bisa menerima segala sesuatunya. Oma Regina terlihat berbincang akrab dengan Uti dari Raka itu.


Sementara Jodhi dan Raka terlihat berada di kamar batu Raka. " Bagus banget Ka. Aku jadi pingin nginep disini!" ucap Jodhi.


" Boleh lah, nanti kita atur!" teman yang kini menjadi saudara itu, nampak makin solid dalam segala hal. Jodhi yang dulu tertutup, kini menjadi sosok periang. Semua itu karena Raka, bocah yang mampu menyentuh bagian terdalam Jodhi, lewat perbuatan kecilnya.


Mengubah kebekuan hati Jodhi, menjadi kehangatan yang kini bisa menjalari siapa saja yang bersua dengan Jodhi. Bocah itu agaknya terlahir dengan garis keturunan dari Rania yang lebih dominan. Periang dan sifat sok mengaturnya, benar- benar tiada duanya.


" Jo, kamu gak pingin mama kamu menikah?" tanya Raka yang masih tekun mengabsen tumpukan komik kesukaannya. Nampaknya papa Abimanyu sangat perhatian untuk hal satu itu.


"Kamu pernah bilang kan kalau gak akan selamanya kamu bisa jaga mama kamu, mungkin aku juga begitu!" Jodhi tertunduk layu.


Rak menepuk pundak adiknya itu," Kamu sudah benar dengan berfikir seperti itu Jo. Kalau tebakanku tidak salah, kamu akan segera punya calon papa yang seru!" ucap Raka tersenyum. Kilasan ingatannya kembali saat dia tak sengaja melihat Om nya sering memperhatikan mama Jodhi.


" Maksudnya?" Jodhi bingung.


" Entar juga tahu!"


.


.


Shinta malam itu di temani Rangga dalam undagan makan malam dirumah baru Abimanyu, sialnya Danan malah bisa berkomunikasi dengan apik bersama Rangga. Banyak kesamaan hobi, lalu makanan kesukaan yang menjadi topik obrolan wajar namun mengasyikkan mereka.


Shinta menjadi sebal akan hal itu.


Oma Regina melihat interaksi rania dan Bastian yang tak biasa. Namun sejurus kemudian, wanita tua itu mengabaikan. Senyum tersungging di sudut bibirnya.


" Nah mbak Yun, ini teman-teman Bapak!" Dhira mengajak wanita dengan usia sekitar 30, untuk mengenal orang-orang di lingkup mereka.


Yuni terlihat membungkuk hormat, saat Dhira memperkenalkan mereka.


" Ini Mas Danan, yang ngobrol di depannya itu suami sahabat saya. Mas Rangga namanya, kalau yang di sampingnya itu istrinya namanya mbak Shinta!" terang Dhira kepada Yuni.

__ADS_1


Yuni nampak menyalami orang-orang tersebut, sembari menghapal satu persatu wajah mereka.


" Yang ini adik saya Bastian!" ia menepuk pundak Bastian yang juga tersenyum.


" Ini pasti istrinya ya Buk?" ucap Yuni kepada Rania yang memang terlihat ngobrol dengan intens bersama Bastian.


Rania tersenyum kikuk, Bastian menggaruk kepalanya. " Bukan, ini adik ipar saya!" terang Dhira tersenyum.


Yuni meringis, Laiya kan adik ipar namanya kalau itu istrinya adiknya Bu Dhira. Wanita medok itu bingung.


" Itu Mas Wisang sama Sekar, mereka mau jadi manten mbak habis ini!" Dhira begitu senang menerangkan semua anggota keluarganya.


Yuni dan Sugeng sudah kenal dengan Oma Regina, mereka lebih dulu dirumah besar sebelum berangkat kemari. Tentu saja ia harus kenal nyonya besar di keluarga Aryasatya itu.


Acara malam itu berjalan sesuatu ekspektasi, Dan di menit ke sepuluh lepas dari jam sembilan, merek semua bertolak ke rumah masing-masing.


.


.


" Sini Dhir!" usai membersihkan diri dan mengganti baju kebesarannya, Dhira membaringkan diri di samping suaminya. Abimanyu menarik Dhira kedalam dekapannya.


Pria itu terlihat sudah bertelanjang dada. " Mas!" ucap Dhira seraya bermain- main di dada suaminya.


" Hmmmm?" jawab Abimanyu seraya merasakan sensasi dari sentuhan jari Dhira yang membentuk tulisan di dadanya.


" Rania sama Bastian itu gimana?"


" Gimana apanya?" Abimanyu kini memilin puncak kuncup dada Dhira, bak mengganti channel radio merk national. Alias radio jaman kuno dulu.


" CK, mereka dekat loh mas. Udah bilang ke Oma belum?" tanya Rania yang membiarkan suaminya bergerilya kesana kemari.


" Gampang itu!" sahut Abimanyu yang masih merem. Ia menikmati sentuhan Dhira yang membuat bentuk aneh-aneh di dadanya.


" CK, jangan gompang- gampang loh mas. Kita ini wakil dari orang tua loh!" Dhira mendecak.


" Besok, kita bicara ke ibuk ya!" kini Abimanyu meraih tangan Dhira, dan meletakkannya diatas kelelakiannya yang sudah menegang.


" Kepalaku juga udah pusing ini!" ucap Abimanyu memelas.


Dhira menyebikkan bibirnya, " Pusing kok setiap hari!"


Abimanyu terkekeh.


" Sekarang kamu buat dia bobok dulu ya!" Abimanyu mengeluarkan jurus wajah muram durjanya.


" Kalau itu sih selalu mudah bangun tapi susah tidur mas!" dengus Dhira. Membuat Abimanyu tergelak.


.


.

__ADS_1


__ADS_2