
Bab 54. Kegundahan Gwen
.
.
.
...ššš...
"Dan kini aku tahu ku sangat, begitu dalamnya aku sungguh mencintaimu"
( Lirik lagu Padi~ Terbakar Cemburu)
Abimanyu
Abimanyu memijat keningnya, ia pusing dengan dirinya dan kemunculan Gwen secara mendadak. Apalagi, ia barusaja mengungkapkan perasaannya kepada janda Indra itu.
Ia masih diam menatap meja di ruang kerjanya, sementara Gwen terlihat berkali-kali menyusut air matanya karena kucuran air matanya tak mau berhenti.
Ada rasa yang tak bisa di pungkiri Abimanyu, rasa bimbang. Kenapa tak ada getaran atau sejumput rasa rindu kepada Gwen, kenapa dia sudah seperti orang lain. Hambar!
"Istirahatlah, kita bicara lagi besok. Aku keluar sebentar!" tanpa menunggu jawaban dari Gwen, pria berumur dengan garis ketampanan yang masih terjaga itu meninggalkan Gwen yang duduk tertunduk.
Brak
Pintu di tutup dengan suara keras, Gwen merosot ke lantai ruang kerja Abimanyu. Ia menangis, ia tahu ia juga turut berkontribusi menyebabkan rumah tangganya runyam begini. Tapi bukankah hati mengenal kepedihannya sendiri?, andai dulu ia jujur, andai dulu ia terang-terangan soal Senopati, apakah dia bakal menemui kesulitan yang sama?.
Saat berada diluar Abimanyu langsung menuruni anak tangga, berniat menemui bebeknya yang nampak syok.
"Hey Bim!" Wisang memanggil namanya, tatkala pria sipit itu melihat Abimanyu yang berjalan.
"Kenapa kau keluar?" tanya Wisang.
"Untuk apa aku berlama-lama disana, aku sudah mumet disana!" pesta yang harusnya berisi kebahagiaan, kini berubah menjadi rasa tak nyaman.
"Apa janda itu tahu jika dia istrimu?"
"Wisang, berhenti memanggilnya dia begitu!" Abimanyu mendengus kesal.
Wisang terkekeh, melihat wajah sahabatnya yang bermuram durja. " Jika kau ingin membereskan masalah kalian, aku dengan senang hati akan mengantarkannya pulang!"
Abimanyu menatap sahabatnya itu beberapa detik, dia ingin meminta Agus untuk membereskan kamar untuk Calista. Bocah tak tahu apa-apa itu nampaknya belum Abimanyu masukkan ke daftar yang ia benci.
"Jangan sampai kau mencuci otaknya!"
Lagi-lagi Abimanyu terkekeh," kau takut kalah saing denganku buddy!"
.
.
__ADS_1
Nyonya regina duduk meluruskan kakinya diatas ranjang, di sebelah kanan ada Rania, dan di bibir ranjang ada Bu Kartika yang terlihat mengusap punggung wanita tua itu.
"Oma!" ucap Abimanyu, Andhira yang berada di dekat pintu itu sontak berdiri.
"Oma baik-baik saja?" Abimanyu duduk di hadapan Bu Kartika, menggenggam tangan keriput Nyonya Regina.
"Kenapa wanita itu kembali?" Pandangan mata Nyonya Regina kosong, seolah mengisyaratkan tak sudi menerima Gwen kembali.
"Oma tidak usah kuatir, aku akan menyelesaikan masalahku. Sekarang Oma beristirahat ya!"
Andhira menatap Abimanyu yang tengah berbicara serius dengan Omanya, entah mengapa hatinya mendadak tak tenang. Bukankah ia harus bahagia karena sebuah keluarga akan kembali bersatu?.
"Bu, teman saya akan mengantar ibu. Mohon maaf menjadi seperti ini, saya sangat berterimakasih atas bantuan Ibu!" ucap Abimanyu sopan kepada Bu Kartika, ia merasa tak enak hati malah merepotkan orang lain disana.
...ššš...
Sesuai rencana, Wisang mengantar Andhira sekeluarga. Bastian rupanya lebih dulu pulang karena akan bertemu dengan teman-temannya usai menghabiskan dua piring makanannya.
Jodhi mendengus karena Raka tak mau diajak menginap disana.
" Lain kali Jo!"
"Kamu ada tamu, kapan-kapan aja!"
Ucapan demi ucapan penolakan halus dari mulut Raka. Bukan tanpa alasan, ia ingin membatasi dirinya dengan keluarga Abimanyu. Ia tak ingin ibunya tersakiti untuk kedua kalinya, cukup Indra saja.
Semua sudah berada di depan, keluarga sederhana itu beruntung karena pertemanan Jodhi dengan Raka. Membuat mereka bisa menjajaki manisnya hidup orang kaya, secara sekilas.
"Tolong yang kita bicarakan tadi, kamu pikirkan baik-baik!" Abimanyu menggenggam tangan lembut Andhira.
Dengan cepat Dhira menarik tangannya kembali, ia merasa tak nyaman. Bagiamana bisa pria di depannya itu berbicara hal itu, sedang istirnya baru saja kembali.
"Aku pulang dulu!" ucap Dhira membalikkan badannya.
Tanpa mereka sadari, sepasang mata Gwen melihat interaksi keduanya. Hatinya mencelos demi melihat Abimanyu yang memegangi tangan wanita lain.
"Siapa dia, kenapa terlihat dekat dengan mas Abimanyu!" gumam Gwen, menatap mereka tak suka.
Diluar
"Jaga batasanmu!" ucap Abimanyu kepada Wisang yang sudah duduk di belakang kemudinya.
"Hey, aku bahkan belum berangkat!" Wisang terkekeh. Ada Danan di sebelahnya, tentu saja dia tak mau di tinggal sendirian.
"Kami pamit nak, terimakasih!" ucap Bu Kartika, Raka terlihat tak mau memandang wajah Abimanyu. Bocah itu nampaknya sengaja membangun dinding pemisah tak kasat mata, antara dirinya dan Abimanyu. Sejujurnya ada banyak pertanyaan di kepala Abimanyu saat ini, mulai dari sikap Raka yang berubah hingga kedatangan Gwen yang makin membuat susunan strategi pendekatan dengan Dhira langsung buyar.
Abimanyu menatap Dhira yang kini terlihat membenarkan posisi duduknya, berharap besok akan mendapatkan titik terang dari kerumitan yang terlambat dia sudahi.
Jodhi melepas kepergian mereka dengan lambaian tangan, sejurus kemudian mereka masuk kerumah megah itu.
Bu Kartika dan Raka tak bisa menahan kantuknya, mereka tertidur di dalam mobil. " Kita kerumah yang mana ini?" Danan membuka pembicaraan kepada satu-satunya manusia yang masih melek di kursi belakang.
__ADS_1
"Kerumah Ibu aja mas!" jawabnya bingung, mau memanggil mereka berdua dengan panggilan apa.
Omegot dia memanggilku mas, gumam Danan dalam hati. Pria itu tersenyum sendiri.
"Kenapa lu?" Wisang melihat gelagat aneh dari Danan.
"Tidak apa-apa, lu tebak mereka bakal sekamar apa enggak?" ia malah berdalih.
Wisang langsung paham arah pembicaraan Danan, " apa kau berani bertaruh?", Dhira yang hanya diam kini mulai memasang telinganya. Entah mengapa sejumput rasa penasaran hadir.
"Aku kira wanita itu sudah reinkarnasi jadi ratu Elisabeth, gila 10 tahun gak balik!" ucap Danan.
"Repotnya secara agama dan negara mereka masih sah. Tapi lu yakin bocah tadi bibitnya si Abi?" kini Wisang berceloteh, sembari menatap wajah Dhira dari kaca kecil di depannya. Wanita itu nampak diam, tapi Wisang tahu bila ia penasaran.
"Mbak Dhira gak keberatan kan kita ngobrol begini?" tanya Danan.
"Enggak mas, tadi itu istrinya Tuan Abimanyu?"
" Yap, ga tau kalau begitu urusannya masih bisa balik apa enggak. Kalau gue jadi Abimanyu, udah kawin lagi dari dulu!" jawab Danan sok bijak.
Dia saja sampai sekarang tak mau untuk berkeluarga, lebih memilih untuk celap celup. sana-sini. Pakai acara kasih nasehat, kalau dia udah jelas kawin teross, tapi sama liang yang beda-beda.
Wisang diam, semua diam. Ia yakin bila wanita di belakangnya itu, sama dengan Abimanyu. Mengalami kegundahan.
"Semoga mereka bisa harmonis kembali ya mas!"
Demi apapun, Wisang dan Danan saling berpandangan.
.
.
Saat Abimanyu hendak masuk ke dalam kamar,. ia dikejutkan dengan suara Gwen." Siapa dia?" Gwen berucap dengan wajah biasa, namun sudah mengganti bajunya.
"Siapa maksudmu?"
"Wanita yang kau pegang tangannya?"
"Sepertinya aku melewatkan banyak hal!" sindir Gwen kepada Abimanyu.
"Aku pun sama, banyak sekali hal aku lewatkan. Kurasa kita memang sudah sama-sama terlewatkan!" usai mengatakan hal itu, ia masuk ke kamarnya. Gwen rupanya masih menemani Calista yang tertidur di kamar ruang kerja Abimanyu.
Sakit, tidak terima, kecewa itu yang rasakan Gwen saat ini. Tapi apakah dia juga terfikir bagaimana perasaan Abimanyu tatkala ia minggat tanpa pamit?, bagiamana perasaan seorang suami yang di campakkan istrinya.
Tidak ada asap bila tak ada api, lantas mengapa dia harus terbakar api cemburu?.
"Aku tidak boleh membiarkanmu bersama wanita itu!!" ucapnya dalam hati yang terbakar.
.
.
__ADS_1
.