
Bab 182. Dunia Seakan-akan Selebar Daun Kelor
.
.
.
...ššš...
" Mau hatimu saat ini sedang senang , maupun tidak senang, nasib baik senantiasa adil memberimu kesempatan untuk mencarinya!"
.
.
Sebulan berlalu, hidup terus berjalan. Tak peduli apapun yang terjadi, waktu tetap berlalu menggilas siapa dan apa saja yang ada di dunia ini. Ia bukan egois, tapi itulah kenyataan dari sang waktu.
Semua kehidupan terus berjalan mencari kenyataannya masing-masing.
Wisang kembali ke kenyataan hidupnya yang bahagia bersama Sekar meski dengan sikap Nyonya Lisa yang masih sama.
Bastian yang kian gencar untuk pelebaran usaha Dapur Isun, dengan cara mengikuti berbagai pelatihan guna meningkatkan skill dan pengetahuannya di dunia kewirausahaan. Dengan dukungan penuh dari Bu Kartika.
Rania yang masih sibuk dengan Divisinya juga mengurus Jodhi dan Nyonya Regini yang kian sepuh. Tentunya dengan hubungannya bersama Bastian, yang selau menjadi mood booster untuk dirinya.
Indra yang juga kian mengepakkan sayapnya dengan membuka cabang baru minimarket miliknya, meski hatinya masih kosong melompong. Lantaran belum memiliki keberanian untuk mengungkapkan kepada Anggi. Ia masih berusaha memantaskan diri.
Sementara Danan, pria itu menenggelamkan dirinya ke dalam kesibukan dan rutinitas pekerjaannya, usai kejadian meninggalnya Rangga sebulan yang lalu. Sikap antipati Shinta terhadap dirinya, makin memperparah dirinya yang seolah kehilangan arti dirinya sendiri. Menjadi titik balik sikapnya yang kini berubah menjadi orang yang dingin dan tertutup.
Semua orang bergeliat sesuai laju hidupnya masing-masing. Menapaki Titian takdir. Berperang dalam pertempuran kehidupan mereka masing-masing.
Sebagian sudah menemukan kebahagiaan, sebagian juga masih berusaha mencari kunci untuk membuka pintu kebahagiaan.
Bu Nisa dan Pak Ali memilih kembali ke kota SM karena kondisi Bu Nisa yang kian memburuk. Dian memutuskan untuk membawa mamanya kembali ke rumah orang tuanya saja.
Meski berat hati, mau tidak mau Pak Ali meninggalkan Shinta seorang diri. Shinta mendapatkan santunan dari tempat kerja Rangga sepekan setelah suaminya itu wafat dalam jumlah besar.
Rumah besar harta peninggalan Rangga, juga telak di berikan untuk Shinta. Pak Ali, tidak mau mempersoalkan perihal gono - gini milik putranya itu. Baginya, apa yang sudah ada saat ini ia ikhlaskan untuk Shinta. Meski ia sempat mengatakan kepada Shinta , untuk tetap menjalin tali silaturahmi antara dirinya dan Pak Ali. Sekalipun, kini Bu Nisa menjadi orang yang paling terdampak secara kejiwaan, atas kepergian putranya itu.
Polisi juga sudah berhasil meringkus dua pelaku sabotase atas kerja keras anak buahnya, juga kolaborasi bersama Devan. Namun sayang, dua orang itu tewas di tempat kejadian karena tertembak dan kehilangan banyak darah , lantaran melawan petugas saat hendak di gelandang ke kantor polisi. Membuat polisi tak bisa mengetahui, siapa otak dari kejahatan yang dia orang itu lakukan.
Aksi baku tembak itu juga membuat satu anggota Pak Made mengalami cedera. Dua orang penjahat itu diringkus di markas mereka, saat tengah asik pesta miras .
__ADS_1
.
.
Di sebuah sekolah, di bawah pohon beringin sepasang orang tua menghantarkan anaknya untuk masuk ke sekolahnya secara istimewa.
" Ma, nanti pulang sekolah Raka ikut papa. Mama gak lupa kan kalau hari ini hari Sabtu?" Raka berbicara usai mencium tangan mamanya itu.
Seperti perjanjian, tiap malam Minggu Raka akan ikut Indra untuk menginap dirumah Kakung Joko.
" Iya, mama gak lupa dong. Pokoknya disana jangan ngerepotin itu ya. Salam sama Kakung sama Uti!" Dhira memeluk tubuh Raka dan mencium pipi bocah remaja itu.
" Pa, aku masuk dulu!" Raka meraih tangan Abimanyu. Menciumnya takzim.
" Ok boy. Semangat ya!" Abimanyu mengacak puncak rambut putranya dengan tersenyum.
Mereka berdua mengiringi langkah putranya yang mulai menghilang dari balik pagar SMP Tunas Bangsa itu. Terasa bahagia dan membuat Dhira merasa damai.
" Yuk!" ajak Abimanyu tak sabar.
Ya, Abimanyu hati Sabtu ini sengaja meliburkan diri untuk menemani Dhira periksa ke klinik Dokter Septa. Dokter kandungan yang telah di rekomendasikan oleh Richard.
Namun karena terburu-buru, Dhira tak melihat ada batu yang timbul disana, tanpa sengaja Dhira menginjak batu itu dan menyebabkan keseimbangannya goyah seketika. Membuatnya nyaris jatuh. Dengan sigap tangan kekar Abimanyu menopang tubuh istrinya agar tak sampai jatuh.
Dhira mengatur nafasnya sejak, wanita itu benar- benar ceroboh. Merutuki kecerobohannya sendiri.
" Aku gak apa-apa!" Dhira merasa lega. Ia sejenak berdiam diri, menetralkan dirinya yang masih deg-degan karena nyaris saja ia menggadaikan keselamatan janin dalam perutnya.
" Sepatu kamu kekecilan atau gimana?" Abimanyu selalu saja berlebihan jika sudah menyangkut keselamatan istrinya.
" Enggak mas, udah ah ..tadi gak sengaja nginjek batu itu. Maaf ya, lain kali aku bakal lebih hati-hati lagi!"
Penuh cinta dan kasih sayang, itulah Abimanyu. Tangan kiri pria itu tak hentinya menciumi punggung tangan Dhira. Membuat hati Dhira menghangat.
Hari ini mereka tidak kerumah sakit, melainkan ke klinik pribadi dokter Septa.
Sejurus kemudian, dengan tergopoh-gopoh seorang wanita datang menghampiri Dhira dan Abimanyu yang duduk menunggu di luar.
" Selamat pagi Bu Dhira, maaf membuat anda menunggu!" Dokter lajang berusia kisaran 35 tahun itu nampak sungkan lantaran membuat Nyonya Abimanyu menunggu.
" Tidak apa dok!" Dhira tersenyum.
__ADS_1
" Tadi teman saya telepon, jadi...!" berusaha menjadi teman. Dokter Septa yang memang berpembawaan ramah, tak kesulitan mengatasi kecanggungan yang ia sebabkan.
" Mari Pak Bu!" ajak dokter itu masuk ke ruangan praktiknya.
Ia langsung meminta Dhira untuk berbaring, lalu menuangkan gel ke atas perut Dhira yang kini sudah terlihat menyembul. Membuat Abimanyu tak sabar untuk melihat perkembangan calon buah hatinya.
" Usianya sudah 12 Minggu!"
" Semua sehat, letak janin sesuai. Anda bisa lihat ini ya Pak!"
Dokter Septa menunjukkan bulatan kecil di layar besar USG dengan sinar merah mirip laser, yang ia gunakan untuk menunjukkan detail penjelasannya.
Hati Abimanyu berbunga-bunga. Ia menatap wajah cantik istrinya yang sepertinya juga merasakan hal yang sama.
" Semua pemeriksaan bagus Bu, di sarankan saat memasuki trimester pertama ini untuk check kehamilan sebulan sekali saja minimal. Dengan catatan, jika tidak ada keluhan. Saya akan berikan vitamin kembali untuk satu bulan kedepan!" Dokter Septa tersenyum.
Kedua pasutri itu nampak tekun mendengar penjelasan dokter cantik itu.
" Jangan lupa untuk membuat mood ibu hamil terus happy ya Pak. Menengok adik bayi di dalam juga boleh, tapi jangan sampai membuat ibu dari janin kelelahan ya pak?" ucap dokter Septa melirik Abimanyu yang nampak memerah wajahnya.
" Aman kalau itu Dok!" ucap Abimanyu meringis. Membuatnya Dokter Septa tergelak.
" Dokter sepertinya mau ada acara keluar?" tanya Dhira yang melihat wanita yang baru saja memeriksanya itu, sudah bermake-up dan berpenampilan rapih.
Dokter Septa tersenyum," Doakan saya bisa segera menyusul anda Bu. Saya iri melihat kemesraan Bu Dhira dan Pak Abimanyu!" terang dokter Septa jujur.
" Jadi yang nelpon barusan, calonnya dokter Septa?" tebak Dhira antusias.
Dokter Septa mengangguk riang, entah mengapa hanya baru memeriksa Dhira sebanyak dua kali saja, wanita itu merasa nyaman dan kagum dengan sosok Dhira yang keibuan dan cocok di jadikan sebagai teman ngobrol. Membuatnya senang untuk membagi sedikit kisah pribadinya.
" Kami sudah kenal lama, tapi baru belakangan ini kami dekat. Doakan saja ya Bu!" Dokter Septa terlihat menepuk punggung tangan Dhira, yang kini berada di atas meja kerjanya.
" Wah...kalau begitu lancar ya Dok. Jangan lupa undang kami berdua!" ucap Dhira yang turut senang. Sepertinya, dokter itu akan pergi berkencan setelah ini.
Mereka bertiga berjalan beriringan dengan berkelakar riang. Abimanyu berada di belakang dua kaum hawa yang terlibat obrolan asyik dan seru itu. Hingga mereka tiba luar.
Dan kedua netra Dhira membulat demi melihat sosok yang di bicarakan oleh dokter Septa, yang kini telah berada di hadapan mereka.
" Mas Arya!!!"
.
.
__ADS_1
.