The Love Story' Of Single Parents

The Love Story' Of Single Parents
Bab 108. Kakak Untuk Jodhi


__ADS_3

Bab 108. Kakak Untuk Jodhi


.


.


.


...šŸšŸšŸ...


Bagaimana ku bisa


Berpaling darimu


Sekian lama ku mencari


Separuh jiwaku


Ku mau menunggu


Tak pernah berhenti


Sampai suatu saat nanti


Kau kan menyadari


Ku ingin kau tahu


Takkan ada habisnya


Ku masih miliki cinta


Melebihi yang kau kira


Hanyalah senyummu


Yang menghapus rinduku


Telah lama tak ku jumpa


Menghilang dariku


Akan ku lakukan asal kau kembali


Ku tak sanggup sendiri lebih lama lagi


Ku ingin kau tahu


Takkan ada habisnya


Ku masih miliki cinta


Melebihi yang kau kira


Ku ingin kau tahu


Kau tetap dihatiku


Ada yang harus kau mengerti


Kau takkan ada gantinya


Yang aku inginkan hanyalah


Dirimu bersamaku selamanya


Bantu aku pergi dari sepi


Yang ku rasa menyakitkan


Ku ingin kau tahu


Takkan ada habisnya

__ADS_1


Ku masih miliki cinta


Melebihi yang kau kira


Ku ingin kau tahu


Kau tetap dihatiku


Ada yang harus kau mengerti


Kau takkan ada gantinya


( Ipang Lazuardi ~ Tak Ada Gantinya)


.


.


Wanita mana yang tak bahagia mendapatkan perlakuan manis, apalagi hal itu di dapat dari pria yang ia harapkan.


Hidup laksana lembaran buku, yang tidak akan pernah tau isinya jika kita tidak membukanya. Dan dengan membuka hati untuk Abimanyu, Dhira berharap ini akan menjadi yang terakhir meski pria itu bukanlah yang pertama.


Dengan berderai air mata kebahagiaan, mereka merajut indahnya cinta dalam pernikahan yang sebentar lagi akan terselenggara.


"Makasih Dhir, makasih kamu udah mau sama aku. Aku beruntung bisa di pertemukan sama kamu!" Abimanyu seolah tak mau melepaskan pelukannya, ia menghujani wanita itu dengan ciuman penuh kasih mesra.


Ia teringat saat pertama kali secara tak sengaja bertemu Dhira, dengan wajah pias yang ketakutan akibat ulah Indra waktu itu.


Ia juga teringat dengan wajah panik Dhira, saat Raka di gelandang ke ruang BP lantaran terlibat perkelahian dengan bocah bengal bernama Chiko.


"Aku yang beruntung karena bertemu dengan mas, mas yang mau terima keadaanku yang begini!" dengan rasa haru yang mendalam, Dhira menyenderkan kepalanya ke dada bidang Abimanyu.


Dan semua rentetan peristiwa itu, tak lain adalah takdir dari Tuhan. Perginya Gwen dalam hidup Abimanyu, tak lain juga karena ia akan mendapatkan ganti wanita yang lebih baik.


Inilah pentingnya kita untuk terus berfikir positif, akan sebuah kejadian buruk yang menimpa kita. Karena bisa saja, Tuhan tengah merancang sesuatu yang baik, merenda karya agar hidup kita mendapatkan pengajaran dari tiap tindakan yang kita lakukan di masa lalu.


Baik buruk kita bebas melakukan, tapi satu hal yang kita tidak boleh lupa. Yakni ada harga yang harus kita bayar, dari semua itu.


Dhira mendongak, seraya melonggarkan pelukannya. Abimanyu mencium bibir wanita itu, panggilan itu sangat familiar untuk Dhira. Sudah seperti sebuah password saat Abimanyu akan melayangkan ciuman ke bibirnya.


Ciuman itu berlangsung lama.


"Kita ketemu Oma sekarang ya!" Ucap Abimanyu saat ia sudah memulai sesuatu yang dibawah sana membuatnya gelisah.


.


.


Abimanyu merasa dirinya adalah pria paling bahagia saat ini, hal itu sangat berpengaruh terhadap mood-nya. Wajah ganteng itu makin di penuhi aura positif.


"Dhir, aku rasanya gak bisa berhenti senyum seh. Aku bahagia banget!" masih setia memegang tangan Dhira saat ia mengemudi.


Dhira pun sebenarnya sama, hanya saja Abimanyu lebih ekspresif ketimbang dirinya.


Pagar besar itu dibukakan oleh satpam dirumah Abimanyu, " Makasih pak!" ucap pria itu. Satpam itu bahkan heran, tak biasanya Abimanyu seramah itu. Apalagi beberapa Minggu yang lalu.


"Ayo, Oma pasti seneng bertemu sama kamu!" Abimanyu melepaskan sabuk pengaman. Ia berlari kecil memutari mobilnya untuk membukakan pintu mobilnya.


Dhira yang tak pernah memimpikan akan mendapatkan orang berada seperti Abimanyu, seolah merasa ini bak mimpi yang menerpanya.


"Oma!, Oma dimana?" Abimanyu bak bocah yang mencari keberadaan babonnya sepulang sekolah. Tangan Dhira masih gencar ia genggam, benar-benar posesif.


"Ada apa Bi..., Dhira!!!" Oma Regina terperanjat, pasalnya Abimanyu tidak memberitahu orang tua itu soal kedatangannya.


"Kok kamu gak bilang sama Oma!" gerutu nyonya Regina kepada Abimanyu. Seraya memukul lengan cucunya itu.


Abimanyu hanya tersenyum. " Surprise lah!"


Nyonya Regina tak mengira bila kedatangannya tempo hari kerumah Bu Kartika, bisa membuat wanita itu sadar. Ia bahagia saat ini.


"Oma apa kabar?" Dhira meraih tangan keriput wanita tua itu, menciumnya takzim.


Nyonya Regina senang, " Oma sehat, lebih sehat karena melihat kalian kesini. Ayo duduk, kita bicara disana!" wanita tua itu berjalan menggunakan tongkatnya.

__ADS_1


Dhira duduk di sebelahnya Abimanyu, sementara Nyonya Regina duduk persis di depan mereka. " Surti bawakan minum!" titah Nyonya Regina.


Bik Surti yang mendengar majikannya berbicara dari kejauhan, segera menjalankan tugasnya.


"Jadi ibu kamu akhirnya mau ya nak?" mata Nyonya Regina berbinar, melihat Dhira cantik yang tangannya tak henti di genggam cucunya.


"Kata-kata Oma waktu itu membuat ibuk mengerti, beliau sudah memberikan restunya kepada saya. Semua juga karena Oma!" Dhira agak terharu sebenarnya. Tapi ia berusaha menahan laju air mata yang hendak menetes.


" Kalau sudah jodoh gak kemana, saya cuma perantara aja. Jujur Dhir, ibu kamu itu keras kepala"


Meraka semua tertawa.


"Oma sangat merestui kalian. Tolong kamu jangan pernah minder dengan keluarga kami, dimata kami semua sama. Kami hanya beruntung karena mendapat titipan yang banyak banyak selama di dunia!"


Obrolan mereka terinterupsi karena kedatangan bik Surti yang membawakan minuman untuk mereka, " Monggo Nyonya, Tuan, Mbak!" ucap Bik Surti. Ia sejenak menatap Dhira , wanita itu mengulum senyum. Rupanya majikannya itu akan mengakhiri masa dudanya sebentar lagi.


"Kamu sekalian siapin makan malam ya Sur, pumpung Dhira disini, nanti kita mau makan bersama!" titah Nyonya Regina.


"Baik Nyonya besar!"


"Wah ada Tante Dhira, Raka mana te?" Jodhi tiba-tiba muncul dari belakang, bocah itu mengenakan kaos kuning cerah juga celana santai se dengkul dengan membawa ponselnya.


"Salim dulu sama Tante!" ucap Nyonya Regina.


"Ini udah mau Salim, aku kan gak pernah gak salim, iya kan Tan?" Jodhi berusaha menjawab dengan diplomatis seraya menaikkan alisnya kepada Dhira.


Dhira tergelak, bocah di depannya itu benar-benar lain dari yang lain.


"Jodhi apa kabar?" Dhira menjemput tangan Jodhi yang menyalamai tangannya.


"Baik Tante!"


"Oh ya, Raka mana kok gak ikut?"


Abimanyu menatap keponakannya itu lekat, " Raka ikut papanya ke rumah Utinya. Tiap Sabtu begitu!"


Jodhi manggut-manggut. Ia mengerti bila sahabatnya itu masih memiliki papa. Tak seperti dirinya.


"Jo, Oma mau kasih tau sesuatu sama kamu!" Ucapan Nyonya Regina, membuat ketiga manusia di depannya menatapnya.


"Apa Oma?"


"Kamu mau nggak kalau punya saudara?" tanya Nyonya Regina.


Jodhi mengernyitkan dahi, " Maksudnya?"


"Tante Dhira sama ayah Abi mau menikah, Raka nanti bakalan jadi kakak kamu!" Nyonya Regina semangat saat mengatakan hal itu.


Jodhi mendelik senang, " Beneran yah?" tanya Jodhi kepada Abimanyu.


Abimanyu mengangguk mantap, Dhira juga turut tersenyum karena mendapat sambutan antusias sari sahabat Raka itu.


"Aku seneng banget, itu artinya rumah ini gak bakalan sepi lagi. Aku bisa ada temen tiap hari, apalagi Raka. Yeeeee!!!"


Mereka semua disana senang melihat Jodhi yang ber-euforia dan berselebrasi dengan berlari mengitari sofa yang mereka duduki saat ini.


Dhira bahagia, keputusannya untuk menerima Abimanyu sebagai bagian dalam hidupnya itu, rupanya banyak membawa kebahagiaan pula terhadap orang lain.


Bik Surti misalnya, ia bahagia karena majikannya disana juga bahagia. Otomatis, akan berpengaruh terhadap kesehatan Oma Regina, juga mood para majikannya yang terlihat muram beberapa bulan yang lalu.


Bik Surti memegangi dadanya senang, ia masih bisa mendengarkan celotehan dari dapur. Ia sebagai pembantu disana, turut merasakan aura kebahagiaan itu.


"Tapi nanti aku masih bakal punya adik lagi kan yah, aku mau adik perempuan, tapi kalau laki-laki lebih seru sih. Ah aku mau dua-duanya lah kalau bisa, Oma Buyut biar makin rame rumahnya!" Jodhi berkacak pinggang saat berucap itu.


Dhira dan Abimanyu mendelik demi mendengar ucapan polos Jodhi.


Membuat kesemua yang disana tergelak dengan selorohan Jodhi.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2