The Love Story' Of Single Parents

The Love Story' Of Single Parents
Bab 231. Danger for Wisang (3)


__ADS_3

Bab 232. Danger for Wisang (3)


.


.


.


...šŸšŸšŸ...


" Kau tidak akan pernah bisa bersembunyi dari kejaran karma. Bahkan ke lubang semut sekalipun. Tidak akan pernah!"


.


.


Abimanyu


Usai urusan menghubungi Devan beres, Abimanyu kembali menemui istrinya bersama Shinta yang masih larut dalam kecemasan.


Kebahagiaan yang tercipta, kini dalam sepersekian detik berganti dengan kepanikannya yang mendera.


Dua sahabat Wisang itu ,praktis kini menjadi orang yang di tuntut untuk menemukan ide per segera tanpa mitigasi yang tersusun, guna membantu sahabat mereka itu.


" Shinta, aku minta bantuan mu untuk menjaga istriku. Aku dan Danan akan ke tempat Wisang sekarang juga!" ucap Abimanyu dengan wajah serius.


Shinta mengangguk dalam kekalutan sebagai jawaban setuju. Sejurus kemudian ia memandang Danan yang berdiri seraya sibuk menghubungi seseorang. Pria yang beberapa jam yang lalu mengungkapkan keseriusannya itu, kini terlihat bermuka tegang saat berbicara dengan seseorang melalui ponselnya.


Beberapa detik berikutnya , Shinta pergi menemui Danan yang berada di tepi pintu. Mendadak hatinya gundah gulana.


Abimanyu dan Dhira membiarkan Shinta yang kelihatanya akan menuju ke tempat Danan berdiri.


" Sayang aku harus pergi, Wisang membutuhkanku !" Abimanyu memeluk Dhira dan mengecup keningnya berulang kali.


" Mas!" mata Dhira berkaca- kaca. Dhira tau, suaminya itu jelas juga akan berhadapan dengan marabahaya.


" Aku janji akan baik-baik saja!" Pria itu mencium bibir Dhira detik itu juga.


.


.


Shinta


" Mas!" kini bergantian Shinta yang jantungnya mendadak berdetak tak normal, dengan di bumbui ketakutan.


" Hey !" jawab Danan sembari memasukkan ponselnya ke dalam sakunya. Sepertinya ia sudah memungkasi sambungan telepon itu.


Ia langsung menubruk Danan dan memeluk pria itu. Ketegangan yang mendadak tercipta karena telepon dari Sekar tadi, sukses membuat Shinta mendadak takut.


Takut sesuatu terjadi kepada pria yang baru melamarnya tak kurang dari 24 jam itu.


Danan mematung saat Shinta memeluk erat tubuhnya secara posesif. " Hey, semua akan baik-baik saja!" Danan mengusap punggung Shinta.


Danan merasa senang dengan sikap Shinta yang kini lekas menunjukkan sikap yang ia harapkan.


Wanita itu menangis rupanya. Shinta yang baru saja menyelam dalam lautan pedih rasa kehilangan, tentu saja merasa takut dan cemas pada pria yang kini lekas membuat hatinya berwarna.


" Harus, mas harus janji untuk baik-baik saja. ini perintah!" Shinta mengusap air matanya dengan cepat. Ia malu sebenarnya.


Danan tersenyum " Aku janji!" detik berikutnya ia melu*mat bibir Shinta dengan lembut dan dalam.


" Aku memang harus baik-baik saja sayang. Sebab aku belum mengajakmu untuk menyelam bersama di lautan kenikmatan!" ucap Danan dalam hati.


.


.


Jarak rumah Wisang dan Abimanyu sebenarnya hanya berkisar empat kilometer saja jauhnya. Namun, mereka nanti harus memutar terlebih dahulu agar tidak melawan arus.


Membuatnya untuk segera berangkat.

__ADS_1


" Nang!" Abimanyu memanggil supirnya itu dengan suara keras.


" Nang!"


Yang di panggil bahkan tergopoh-gopoh karena ia sedang tertidur. Ya, jam siang itu jam rawan bukan.


" Saya Pak!" sahut Nanang dalam mode siaga. Namun terkejut dengan penampilan dua pria yang menurutnya, keren.


Abimanyu dan Danan telah mengganti pakaian mereka dengan celana panjang. Mereka juga telah mengenakan rompi anti peluru yang Abimanyu simpan di lemarinya. Menutupinya dengan jaket tebal.


" Apa keahlian mu selain mengemudi Nang?" Abimanyu mencoba berdiplomasi kembali dengan pemuda itu.


Nanang tertegun, ia dulu sudah pernah mengatakan bila ia bisa berkelahi tanpa persenjataan.


" Mampu berkelahi dengan tangan kosong Pak!" Jawab Nanang dengan penuh kebingungan.


" Kalau begitu, buktikan sekarang. Kau di depan!" ucap Abimanyu melempar kunci mobil sport yang jarang ia gunakan.


Seketika Nanang mendelik.


" Pak Sugeng, kunci semua pintu. Dan jangan terima tamu!"


...šŸšŸšŸ...


Nyonya Lisa


Entah mengapa perasaannya mendadak tidak enak sedari tadi malam. Wanita itu bahkan tak jua dapat memejamkan matanya, bahkan di saat suaminya sudah hanyut dalam mimpi.


Saat pagi dan menjelang siang ia juga kehilangan selera makan. Ia masih belum mau menerima Sekar memang. Namun, naluri seorang ibu agaknya tak bisa di anggap remeh.


Ia mendadak kepikiran dengan anaknya. Rasa yang tak bisa ia halau, rasa yang mendorongnya untuk bertemu.


" Papa mau kemana?" tanyanya kepada Tuan Wikarna yang sudah berpakaian rapi.


" Aku mau mengunjungi menantuku dan calon cucuku!" ucapnya ketus. Karena sudah dua kali Tuan Wikarna ke tempat Wisang, istrinya itu tak pernah menggubris.


" Mama ikut!"


.


.


Wisang yang melihat istrinya meringis kesakitan seketika menjadi murka. Menepikan rasa nyeri yang hebat di perutnya akibat tendangan pria itu, kini Wisang beringsut bangun dengan segenap kekuatannya.


" Brengsek!" Wisang menarik baju pria asing itu, membuat cekalan yang membuat rambut Sekar rontok itu terlepas.


" Siapa kalian sebenarnya, huh?"


Bug


Wisang yang murka langsung meninju rahang kiri pria itu. Membuat wajah pria itu seketika terlempar ke arah kenan.


Pria itu hendak melawan, namun Wisang lebih cepat bisa membaca geraknya.


" Siapa yang nyuruh elu bangsat!!"


Bug


Wisang kembali menghadiahi tinju ke rahang kanan pria itu. Seketika pria itu merasakan banyak bintang yang mengitari kepalanya. Membuat matanya berkunang-kunang secara bersamaan.


Sekar yang melihat suaminya berkelahi menjadi gemetar, ia bisa melihat buku-buku tangan suaminya memerah akibat meninju wajah orang asing itu.


Tangan kekar suaminya mengetat saat melayangkan bogem mentah ke wajah pria asing itu. Benar-benar badas.


" Mati Lo sekarang anjing!"


Dug


Wisang menjadukkan kepalanya ke wajah pria itu degan begitu keras. Membuat pria itu seketika kehilangan kesadarannya dan menjadi limbung.


Bruk

__ADS_1


Pria itu langsung ambruk ke lantai kamarnya. " Anjing!" Wisang meludahi serta menginjak muka pria itu sekali lagi dengan keras. Entah bagaimana kondisi pria itu. Yang jelas, kamar mereka kini sudah sangat kacau. Wajah Wisang juga terlihat bersimbah keringat.


Sekar yang ketakutan kini berdiri saat melihat pria yang menyerang suaminya itu, terkapar. Ia tak bisa memastikan apakah pria itu masih hidup atau sudah mati.


" Sayang, are you oke?" Wisang berlari ke arah Sekar dengan wajah cemas. Rambut kusut istrinya ia usap dengan pelan.


" Mas aku takut!" Sekar menangis, ini adalah kali kedua ia terlibat dalam kejadian penuh ketegangan.


Tapi siapa lagi yang menyerang mereka saat ini, " Stttt, semua akan baik-baik saja. Tenang!" meski ia sendiri tidak yakin, namun wajib bagi Wisang untuk menenangkan istrinya yang tubuhnya masih bergetar karena ketakutan itu.


.


.


Wisnu mengawasi diluar, ia meminta salah satu anak buahnya untuk menggelandang Wisang dan Sekar. Namun hingga di menit ke tiga puluh, anak buahnya itu tak menampakkan batang hidungnya.


Anak buah yang lain sibuk menghancurkan isi rumah Wisang. Luluh lantak tak berbentuk. Kacau balau.


" Sam!" Wisnu memanggil pria yang ia tugaskan untuk melumpuhkan Wisang.


" Sam!"


Panggilnya tak jua mendapat sahutan.


" CK, brengsek!" ia mengumpat. Jelas anak buahnya itu pasti tengah tidak baik-baik saja.


" Doni, Iko cepat ke atas. Ringkus target segera!" titah Wisnu dengan geram melalui sambungan earpiece di telinganya.


Sejurus kemudian ia mendapat panggilan dari Mira. " Ya!" sahutnya dengan rahang mengeras.


" Orang tua Wisang datang, kalian menyingkir dulu. Sepertinya kita akan mendapatkan target ganda!" ucap Mira dengan seringai licik.


Wanita itu berada di depan kemudi mobilnya. Mengawasi kegiatan Wisnu dari luar.


.


.


Tuan Wikarna mendadak merasakan sesuatu yang aneh. Banyak mobil terparkir di jalan yang berjarak seratus meter dari kediaman putranya.


Nyonya Lisa yang baru pertama kali ikut serta itu, sibuk menelisik bangunan rumah Putranya. Wajahnya datar tak bisa diprediksi.


Pintu gerbang tak juga terbuka bahkan saat tuan Wikarna mengklakson berkali- kali. Ia terpaksa turun dan menggeser sendiri gerbang rumah anaknya. Rumah itu terlihat sepi dan tidak terjadi sesuatu dari luar.


Semua itu karena Wisnu sudah memerintahkan anak buahnya untuk bersembunyi terlebih dahulu. Benar-benar licik.


" Apa ini?" Tuan Wikarna melihat bercak darah yang banyak di paving yang tak jauh dari pintu gerbang itu berdiri.


" Ada apa pa?" nyonya Lisa rupanya turun dari mobil saat melihat suaminya yang seperti menemukan sesuatu.


Tuan Wikarna menatap istrinya sekilas lalu berfikir sejenak, ia kemudian langsung berlari. Simbahan darah yang banyak tadi membuat pikiran pria tua itu berkelana.


Kedua orang tua Wisang itu langsung menuju ke dalam. Dan betapa terkejutnya mereka saat melihat keadaan rumah anak mereka yang kacau balau.


" Hah!! ada apa ini Pa?" nyonya Lisa berteriak histeris. Apa yang terjadi dengan rumah anaknya.


Tuan Wikarna mengeraskan rahangnya, " Wisang... Wisang!!" ia berteriak memanggil nama anaknya.


Kecemasan mendadak menelusup sanubarinya.


Namun, belum sempat mendapat sahutan dari yang ia panggil. Sepucuk senjata kini mengintimidasi mereka berdua.


" Diam kalian, atau aku ledakkan kepala kalian berdua !" Wisnu mengarahkan pucuk senjatanya ke arah Tuan Wikarna dan Nyonya Lisa.


" Pa!" Ibu dari Wisang itu langsung menggamit lengan suaminya karena ketakutan.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2