The Love Story' Of Single Parents

The Love Story' Of Single Parents
Bab 253. Kebahagiaan porsi combo


__ADS_3

Bab 253. Kebahagiaan porsi combo


.


.


.


...๐Ÿ๐Ÿ๐Ÿ...


"Nikmat mana lagi yang bisa kau sangkal, jika sudah berurusan dengan hati?"


.


.


Hati Abimanyu sesak lantaran ucapan Raka yang membuatnya mengahru biru. Bagiamana tidak, anak itu bahkan bisa berpikir dewasa di usianya yang masih seumur jagung.


Harus ia akui, Raka adalah manifestasi sosok Dhira yang utuh. Meski tak di tampik, bila perangai bocah itu juga menyiratkan fisik Indra yang lumayan kentara.


" Makasih ya Nak, Papa suka ! suka sekali!" Abimanyu mengusap lembut puncak kepala Raka.


Jodhi seketika cemburu. Tentu saja ia iri.


" Raka udah punya Kalyna, la aku?" Jodhi menatap Rania yang seketika seakan tersedak ludahnya sendiri. Menatapnya dengan wajah muram.


Dhira dan Abimanyu saling menatap lantaran Bastian turut menjadi celingukan dengan ucapan Jodhi. Telak dan mengintimidasi.


Mungkin sudah saatnya Abimanyu juga akan membicarakan hal ini sekalian, mumpung kesemua orang tua disana tengah berkumpul. Ia sebagai wakil dari ayahnya, untuk adiknya. Sudah wajib untuk menengahi.


" Jo!" Bastian kini mendatangi bocah dengan kulit putih itu. Ia berjongkok di hadapan Jodhi yang masih berwajah muram.


Baik Abimanyu maupun Dhira kini saling menatap dari jarak yang jauh. Nyonya Regina dan Bu Kartika juga melakukan hal demikian. Apakah waktu yang tepat adalah sekarang, begitu pikir mereka semua.


Ya, mereka sudah tahu kabar angin tentang kedekatan ipar dengan ipar itu.


" Kenapa Om?" ucap Jodhi menatap Bastian.


" Om mau tanya sesuatu sama Jodhi. Tapi musti dan jawab jujur ya?" Bastian tersenyum menatap Jodhi. Tapi bocah itu berwajah datar.


" Apa?" sahut Jodhi.


Bastian terlihat menarik napasnya dalam, sebelum memulai ucapnya. Terasa grogi.


" Kalau..Om jadi papanya Jodhi mau apa enggak?"


Seketika semua terdiam. Hening tanpa sahutan apalagi obrolan. Devan juga kini terlihat menatap mereka dengan serius. Tak menyangka bila kabar yang beredar, nyata adanya.


Raka dan Abimanyu yang masih saling berdekatan dengan Jodhi itu saling menatap. Melihat ke arah Jodhi yang kini menampilkan mimik serius dan tak bisa di tebak.

__ADS_1


" Om..jadi Papanya Jodhi??" jawab Jodhi seakan ingin memastikan.


Bastian mengangguk, mata Rania sudah tergenang oleh cairan kristal bening. Dhira pun turut menggigit bibirnya menyaksikan hal itu. Rania terharu, tak mengira bila Bastian akan melamarnya dengan cara seperti ini. Melalui Jodhi yang harus menjadi cikal bakal, keharmonisan hubungan mereka.


Abimanyu sejenak diam, mungkin ia tak perlu lagi mengatakan apapun. Agaknya, Bastian sendiri yang akan menyelesaikan tugasnya. Membuat ia menarik seulas senyuman.


" Iya.... Om Bastian sudah lama suka sama mama Jodhi, sayang sama mamanya Jodhi...dan...Om yang terpenting, Om ingin jadi Papanya Jodhi!"


Mata serta hidung Bastian kini juga memanas. Untuk pertama kalinya, ia benar-benar memohon dengan ketulusan. Ia sudah match dengan jodhi sejak ia pertama kali berjumpa dengan bocah itu, sewaktu memberinya makan semangkuk mie ayam bersama Raka, sepulang sekolah.


Bu Kartika sudah merelakan semua ini. Ia tak mau mengulang kesalahan. Baginya yang terpenting adalah kebahagiaan putra putrinya. Lagipula, jodoh manusia tak seorangpun tahu. Selain itu yang terpenting mereka tak menyalahi norma yang ada.


Nyonya Regina sangat terharu, tak mengira bila dia akan mendapatkan kebahagiaan yang berlipat di rumah sakit ini. Kedua cucunya di anugerahi jodoh yang baik.


" Emmm .....maaf om Jodhi .......gak bisa!" ucap Jodhi tertunduk muram. Wajah bocah itu terlihat sedih. Membuat Bastian melongo tak percaya dengan jawaban bocah itu.


Kesemua yang disana mendadak membulatkan matanya, mengapa jawaban Jodhi yang menguar justru sebuah penolakan.


" Jo.... Jodhi?" Rania kini berucap kepada anaknya itu dengan wajah tak mengerti. Bukankah sebelumnya ia yang gencar membicarakan Bastian.


" Jo..kamu!" ucap Rania sembari hendak berjalan ke arah Jodhi, namun detik yang sama Bastian menyetop langkah Rania dengan tangannya. Bastian menggeleng-gelengkan kepalanya kepada Rania, dengan maksud meminta wanita yang ia cinta itu, untuk tak memaksa Jodhi jika itu memang yang dimau.


Membuat Abimanyu menatap ke arah adiknya tak mengerti.


Bastian tersenyum kecut " Biark...!"


" Aku gak bisa menunggu lebih lama lagi Om, be my papa forever!" teriak Jodhi yang membuat ucapan Bastian menguap percuma ke udara.


" Jodhi!!!" Nyonya Regina gemas. Dhira hanya tertawa seraya menggelengkan kepalanya. Keponakanya itu, memang lain dari yang lain.


Kini Abimanyu dan Raka langsung mencubit pipi Jodhi karena gemas, Dhira juga terlihat bernapas lega apalagi Bastian. Pria itu langsung menangis. Sungguh, hari- harinya nanti sudah bisa di pastikan akan dijalani degan banyak kejutan spektakuler dari Jodhi.


" Terimakasih Jo..!" Rania memeluk Jodhi dengan suara bergetar, dan sejurus kemudian Bastian turut melingkupi dua orang yang akan ia jaga hingga akhir hayat itu. Memeluknya penuh cinta.


" Terimakasih sudah mau terima Om Jo!" Bastian kini memeluk dua orang itu dengan kasih sayang. Ia bahkan sudah tak sungkan lagi menunjukkan hal itu kepada keluarganya.


Kini, praktis Devan yang merasa nyengir seorang diri. " Gimana nasibku bos bos!" gumamnya dalam hati.


Gimana mau cepat dapat jodoh. Interupsi datang dan pergi tiada henti. Siapa lagi tersangkanya kalau bukan Abimanyu.


Kedua wanita tua disana bahkan juga menangis bahagia, membuat Devan kini harus menjadi penjual tissue dadakan. Ia sudah mirip sebagai freelance, ya g bisa menjadi apa saja dalam waktu singkat.


" Berbahagialah, kami merestui langkah kalian. Bukan begitu Nyonya?!" ucap Bu Kartika seraya memeluk tubuh renta Nyonya Regina di kursi roda itu.


Nyonya Regina terus mengangguk dan terlihat sibuk menyusut air matanya menggunakan tissue dari Devan. " Oma merestui kalian. Bahagialah selalu!"


Tidak ada atmosfer lain selain sukacita dan kebahagiaan. Semua larut dalam tangis kebahagiaan.


" Kamu kapan Van?" tanya Oma Regina kepada Devan yang sibuk mengedarkan tissue kepada peserta adu tangis disana.

__ADS_1


...๐Ÿ๐Ÿ๐Ÿ...


Dokter mengijinkan keluarga Abimanyu untuk melihat kondisi baby kalyna secara bergantian. Bayi yang kini tengah berada dalam inkubator itu, terlihat memejamkan matanya.


Wajahnya begitu teduh.


Bayi mungil itu terlihat sudah di pakaikan baju, guna menjaga kehangatan tubuhnya. Untung saja, usianya yang sudah menginjak 35 minggu bisa dikategorikan bayi yang sudah siap untuk dilahirkan.



Inkubator adalah tempat tidur kecil seperti boks bayi. Bedanya, bagian atas boks ini ditutupi pembatas berbahan plastik keras berwarna transparan. Alat ini berguna untuk melindungi bayi dari paparan kuman penyebab infeksi dan menjaga tubuhnya tetap hangat. Suhu di dalam alat ini umumnya dapat diatur menyesuaikan kondisi bayi.


Kini Abimanyu dan Bu Kartika tengah berada di ruang NICU. Ruang NICU adalah area steril yang tidak boleh dimasuki sembarang orang, tak terkecuali orang tua dari bayi yang dirawat


Selain dilengkapi dengan peralatan medis, ruang NICU juga diawasi oleh sejumlah petugas medis, mencakup perawat khusus untuk NICU, dokter umum, dokter spesialis anak, dan dokter spesialis lain.


Abimanyu dan Bu Kartika juga harus melalui tahapan ketat, sebelum mereka masuk ke ruangan dengan sterilisasi tinggi itu.


"Bayi prematur itu belum siap dengan dunia luar sehingga mereka harus dibuat seperti layaknya berada di rahim ibu, misalnya suhu serta kelembabannya harus diatur menyesuaikan dengan suhu saat berada di dalam kandungan. Oleh karena itu, penanganannya haruslah intensif," tutur Dokter Septa kepada Abimanyu.


" Apa anak saya akan lama disini dok?" Abimanyu bertanya sembari terus memperhatikan lekat buah hatinya yang terlihat bernafas lirih.


"Kalau pada kasus seperti Bu Dhira yang usia kandungannya berkisar 35- 36 minggu, biasanya perawatannya tak terlaluย lama, sekitar 1 atau 2 minggu. Tapi kalau lahir di usia 28 minggu bisa saja perawatannya mencapai satuย bulan!" tukas Dokter Septa.


" Kita sesuaikan perkembangan bayi Pak!"


Abimanyu mengangguk paham. Ia puas dengan pelayanan ruang sakit itu. Menggelontorkan dana yang besar sudah tak ia pedulikan lagi. Semua itu tak sebanding dengan kebahagiaan yang ia dapatkan.


Bu Kartika tersenyum dengan mata tergenang air bening. Hatinya terharu. Cucunya begitu cantik.


" Mirip kamu hidungnya Bi, coba kamu lihat!" ucap Bu Kartika kepada menantunya yang kini memerhatikan bayi mungil itu.


" Bibinya kaya Dhira ya Buk!" sahut Abimanyu kepada mertuanya. Mereka berdua masih sama-sama terpesona dengan baby Kalyna yang tengah tertidur itu.


Dunia Abimanyu serasa berubah total. Hatinya saat ini amat bahagia, ia akan terus memastikan istri dan kedua anaknya akan mendapatkan curahan kasih sayang yang cukup dari dirinya.


Apapun untuk mereka.


" Pa, Mama nyari papa. Katanya penting.Biar aku yang temani Uti!" Raka berucap sambil berjalan di temani oleh seorang perawat.


" Ada apa ya nak?"


.


.


.


.

__ADS_1


Keterangan :


Credit foto from google


__ADS_2