The Love Story' Of Single Parents

The Love Story' Of Single Parents
Bab 79. Kekhawatiran Dhira


__ADS_3

Bab 79.Kekhawatiran Dhira


.


.


.


...šŸšŸšŸ...


"Bagaimanapun hidup memang hanya cerita, cerita tentang meninggalkan dan yang di tinggalkan!"


( Diambil dari lirik lagu Melly Goeslaw~ Cinta)


.


.


Dihari yang sama , Dhira siang itu melamun di dekat kompor yang tengah menggoreng Risoles, Shinta yang sedari tadi riwa- riwi memerhatikan lekat Dhira, juga suara dalam wajan yang mulai hening.


"Dhir!"


"Dhir!"


Dhira terlonjak, mendengar panggilan Shinta yang mendadak seperti sebuah teriakan. Lebih terkejut lagi, Risoles dalam wajannya sudah berpindah kewarganegaraan, lantaran sudah menjadi Negro.


"Astaga!" ucap Dhira kaget, segera mematikan kompor dengan cepat. Dhira merutuki kebodohannya, yang benar-benar ia tunjukkan di depan dua pegawainya.


"Bu Dhira kenapa?" Sekar segera membasuh tangannya, lalu bergegas menyeret kakinya menuju ke tempat Dhira.


"Nggak apa-apa, kamu beresin dulu ya. Saya mau ke atas dulu!" Shinta dan Sekar saling pandang, sejak kemaren bos-nya itu murung dan cenderung irit bicara.


"Mbak Shin, Bu bos kenapa ya?" ucap sekarang seraya membuang delapan gulung Risoles yang tak layak makan.


Shinta menggelengkan kepalanya, seolah mewakili kata aku juga tidak tahu.


Dhira mengunci pintu kamarnya di atas, bayangan Abimanyu yang meledakkan amunisinya di rahim Dhira rupanya menyita pikirannya, apalagi ia yang tak mengenakan kontrasepsi apapun itu, makin membuat dirinya tak tenang. Merutuki kebodohannya karena selalu terlenakan dengan sentuhan Abimanyu yang membuat dirinya bahagia.


Ia bukan manusia suci yang tahan dan kuat menghalau rasa itu, dia juga bukan manusia super yang bisa menepis gejolak kenikmatan tertinggi itu. Namun yang tak di sangka, adalah pola permainan Abimanyu di hari terakhir ia memutuskan hubungan ,yang bahkan belum mereka mulai secara resmi.


Dhira adalah wanita dengan usia matang, umumnya wanita akan mengalami monopouse di kisaran umur 40-55 tahun. Namun di usia Dhira saat ini, belum ada tanda-tanda dia akan mengalami monopouse. Lantaran ia selama ini rutin datang bulan. Tapi ia juga heran, saat bersama Indra mengapa ia belum di karuniai anak kembali, segelintir rasa sedih hadir mengingat dirinya yang jarang di sentuh Indra dulu.


Ia adalah wanita dewasa yang tentu tahu apa yang akan terjadi dengan perbuatannya itu, ia mencoba menepis prasangka itu, ia memilih untuk mencuci muka lalu berniat menyibukkan dirinya di ruko.


...šŸšŸšŸ...


Dari hasil diagnosis sementara, Danan diperkirakan terkena persoalan medis terkait ginjal. Arya menyarankan untuk melakukan CT-SCAN guna memastikan hal itu.

__ADS_1


Usai menjalani pemeriksaan di ruang radiologi, Danan di perbolehkan pulang.


" Lama banget si anjing di dalam!" gerutu Wisang


"Kau saja yang masuk, aku ke mobil. Melihat mukanya saja bisa membuat darahku mendidih!" detik itu juga Abimanyu melesat menuju parkiran, bagiamana bisa seorang Direktur Delta group bisa keluyuran di rumah sakit dengan keadaan hati galau.


Wisang menggelengkan kepalanya, itulah sebabnya ia selalu enggan menjalin hubungan serius dengan wanita. Ujung-ujungnya mumet, mumet, dan mumet.


Abimanyu lebih memilih menuju mobil" ada apa Van?." Devan rupanya menghubungi bosnya.


Tuan besok kita ada pertemuan degan Tuan Leo dari Darmawan Group, jadi bagiamana?


"Astaga, aku sampai lupa?" gumam Abimanyu nyaris tak terdengar, ia kembali memijat keningnya.


"Kau atur saja tempatnya, infokan ke sekretarisnya. Katakan bila aku bisa bertemu!"


Abimanyu mengembuskan napasnya, ia benar-benar sudah kerap mangkir dari kantornya itu. Ia tak yakin apa ide gila Danan akan berhasil menyelamatkan cintanya. Tapi untuk saat ini, ia ingin menyibukkan dirinya dulu. Seraya menanamkan kata bijak klasik dalam hatinya Kalau jodoh, gak kemana!.


Ia melihat Danan yang di dorong kursi roda oleh seorang perawat pria, dan Wisang berada di sampingnya. Mirip seorang ayah yang membawa anaknya periksa. " ppffffttttt!" Abimanyu terkikik geli, melihat rupa Danan yang memang terlihat sakit.


"Tega sekali meninggalkan aku!" gerutu Danan.


"Awas pelan- pelan, kakiku tersangkut!" ucap Danan pada perawat itu. Setelah posisi duduknya benar ia mengeluarkan du lembar pecahan bergambar Proklamator kepada perawat yang membantu mendorongnya tadi.


"Matur nuwun Pak!" ucap perawat itu.


"Bhahahahah!" Wisang tergelak, " Umur emang gak bisa ditutupi Dan!" tukas Wisang yang puas dengan ucapan perawat tadi.


"Udah gapapa pergi aja, teman saya kadang kumat. Terimakasih ya!" ucap Wisang kepada perawat itu, yang wajahnya sudah pias.


"Apa kata si keparat itu?" tanya Abimanyu.


"Siapa?" Danan menoleh ke arah Wisang dan Abimanyu, yang berada di jok depan secara bergantian.


"Tadi hasil pemeriksaan elu gimana?" jelas Wisang kembali, "Lu tu ya kalau diajak ngobrol soal hal umum yang waras susah banget nyambungnya, giliran ngomongin pangkal selang*kangan aja, otak Lo cepet banget nyambungnya!" Wisang mendengus kesal.


"Eh asu, lagipula si Abimanyu nyebutnya keparat. Mana gue tahu sialan!" Danan membela diri.


"CK, berisik terus!, jalan Wis!" sergah Abimanyu, yang meminta Wisang untuk melajukan mobilnya.


"Katanya ada masalah sama ginjalku!" ucap Danan santai.


"Baik-baik lu jadi orang sekarang. Berhenti celap celup, jangan sampai lu mati gancet . Nyawa elu di cabut pas Otong elu lagi terbenam di liang panda lokalmu! Wisang bergidik ngeri.


"Asu emang elu, nakut-nakutin aja!"


"Eh, tapi memangnya siapa tadi. Kok elu sebel banget sama dia?"

__ADS_1


Abimanyu melirik Danan malas, sementara Wisang mengehela nafas pertobatan" saingan Abimanyu Aryasatya, direktur utama Delta group yang kalah dengan seorang Dokter spesialis penyakit dalam." tukas Wisang.


"Hah, gila dia lebih muda dari kita malahan ya. Tapi saran gue kemaren udah elu terapin belum. Jangan sampai elu keduluan sama dia, menurut terawangan gue nih ya, dia itu pria kuat. Tuh lihat aja bokongnya. Bunder!!" ucap Danan.


"Matamu Dan!!" ucap Abimanyu kesal.


"Hahahaha"


...šŸšŸšŸ...


"Silahkan pak, ini kembaliannya!" ucap Dhira ramah kepada customernya. Sore itu kedai Dhira ramai. Bahkan jualan mereka tinggal menyisakan beberapa jenis kue saja, yang masih tersimpan rapi di cake showcase.


Dhira bersyukur, usahanya kini sudah makin di kenal orang. Untung saja dulu adiknya memaksa dirinya untuk membuka tempat usaha disini, ia jadi teringat Bastian.


"Halo Bas dimana?" tanya Dhira.


Lagi di kantor kak , gimana?


"Enggak, kamu gak mampir kemari?, lama banget kamu gak ke ruko!" terang Dhira.


Nanti lah, tak usahakan mampir ya. Aku masih sama Satrio sama Bang Togar ini. Garap laporan!


Belum selesai Dhira berbicara, ia melihat mobil Arya datang. Ada apa dia kemari?.


"Bas ,udah dulu ya?" ucap Dhira yang melihat Arya sudah membuka pintu mobilnya.


Dhira meletakkan ponselnya di atas meja kasir sederhana miliknya, sejurus kemudian ia memutari meja itu untuk menyambut Arya.


"Mas Arya!" sapa Dhira.


"Maaf gak ngasih tau kamu dulu, emmmm. Kami sibuk gak, aku mau minta tolong sama kamu. Aku ada undangan pernikahan, kamu bisa temani aku gak?"


Belum sempat Dhira menjawab, Raka muncul dibelakang mereka.


"Ma!"


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2