
Bab 184. Rencana ke Luar Kota
.
.
.
...ššš...
" Jadi diri sendiri adalah kesempurnaan yang bisa dibenahi!"
.
.
Arya
Jauh di relung hatinya ia sudah memaafkan masa lalunya terutama dirinya sendiri. Ia berdalih, bahwa segala sesuatu yang memang tak ditakdirkan untuk ia miliki, maka sekeras apapun ia menggenggam akan lepas juga.
Bu Hana juga tak kurang- kurang untuk selalu menguatkan hatinya. Mamanya itu, benar-benar malaikat tak bersayap yang nyata hadir dalam hidupnya.
Setelah sebelum dengan Dhira , ia juga pernah kandas dengan calon tunangannya, Arya semakin tak tentu arah dalam menjalani hidupnya.
Sampai akhirnya datanglah seorang Septa. Wanita yang memiliki profesi seperti dirinya itu, seolah datang sebagai penyembuh luka. Namun Tuhan memang selalu adil bukan. Mungkin inilah definisi, dari segala sesuatu akan indah pada waktunya.
Manusia di beri rasa sakit agar tahu rasanya bahagia. Di beri rasa kehilangan agar tahu menghargai apa yang dimiliki.
" Kamu udah lama nangani Dhira?" ucap Arya memecah keheningan saat ia berada di fokus kemudi.
" Baru dua kali ini, kenapa? kayaknya kamu kenal akrab sama dia!" Septa menjawab tanpa mengalihkan pandangannya yang menerawang ke arah jalan lurus yang mereka lewat.
Entah mengapa, Septa merasa raut wajah Arya berubah usai bertemu dengan Dhira beserta suaminya.
Arya menghela napas sejenak, cepat atau lambat Septa berhak tau kepingan masa lalunya yang berserakan berantakan. Meski ia pernah mengutarakan kejadian buruk yang menimpa dirinya secara tak utuh, tapi ia takut Septa salah paham.
" Dia orang yang aku ceritakan!" ucap Arya, membuat suasana mendadak senyap kembali.
Septa bergeming. Wanita itu termangu dengan ucapannya.
" Wajar kalau kamu sampai seperti itu. Bu Dhira orang yang luwes, baik terlebih....dia cantik!" Septa tersenyum di akhir kalimatnya. Senyum penuh ironi.
Septa teringat kehancuran yang menimpa Arya waktu itu. Septa bahkan yang menemukan Arya mabuk di club', saat ia dan teman-temannya tak senagaja datang ke sana untuk mencari rekannya yang juga frustasi.
.
.
Septa
Menjadi perawan di usia 35 tahun bukanlah prestasi gemilang. Teruntuk beberapa orang, dalam hal ini dirinya.
Ia teramat selektif dalam memilih pasangan. Alhasil, secara tidak langsung membuat dirinya mengkotak- kotakan golongan. Yang malah membuat dirinya kesulitan dalam melangkah.
Dirinya yang sejak dulu menyukai Arya harus menelan pahitnya cinta bertepuk sebelah tangan tanpa pernah ia ungkapkan. Ambisi kerap kali menjadi sesuatu yang krusial dalam urusan kehidupan. Septa kehilangan jejak Arya usai mereka melakukan wisuda.
__ADS_1
Ya, roda zaman sering menggilas kita. Tak taunya di masa depan, apa yang ia inginkan tersaji kembali meski di usia mereka yang sama-sama matang.
Karir gemilang nyatanya tak cukup membuat dua insan beruntung dalam urusan percintaan. Ia melihat gelagat aneh dari wajah Arya usai Abimanyu pamit undur diri tadi. Bukan dirinya jika harus terus mengorek hal, yang pria di sampingnya itu belum mau menceritakan dengan sendirinya.
" Maaf, bukan maksudku untuk...!" Arya merasa tak enak hati karena harus kembali mengulas masa lalunya.
" No problem, I'm fine!" Septa tersenyum kecut.
Arya mendadak menepikan mobilnya di bahu jalan. Ia mematikan mesin mobilnya yang kini berada di kesunyian lalu lalang orang.
" Kenapa berhenti, kita belum sam...."
Ucapannya menguap begitu saja saat bibir Arya menempel cepat, usai suara sabuk pengaman pria itu dengan terburu-buru di lepaskan.
Arya mencium Septa saat itu juga. Hal yang telah lama Septa idamkan, kini ia rasakan. Arya melu*mat bibir wanita itu, meraup, serta melahap habis.
Ia memejamkan matanya saat sapuan lidah yang hangat itu mengeksplorasi bagian dalam mulutnya. Decakan ciuman itu bahkan berbunyi cukup keras.
Dengan terengah-engah, Arya memungkasi pagutannya, saat keduanya telah kehabisan nafas.
" Jangan pernah salah paham. Dia sudah bahagia bersama pilihannya, dan aku juga berhak bahagia bersamamu!" Arya menangkup wajah Septa dan menatapnya lekat.
Suasana senyap dan cenderung mengharu biru.
Septa merasa hidung dan matanya seketika memanas. Selain ia merasa kasihan kepada Arya karena kisah cintanya yang selalu kandas, ia terharu karena meski di usianya yang saat ini terbilang matang, ia baru mendapatkan apa yang ia harapkan.
" Kamu harus percaya sama aku, hm?" Arya menatap wajah Septa yang sudah berlinang air mata dengan sendu.
Septa mengangguk, ia bahkan tak kuasa untuk sekedar menjawab. Ia tahu, semua orang berhak bahagia tak peduli seburuk apapun masa lalu mereka.
...ššš...
Fajar menyembul indah penuh semangat di batas cakrawala timur. Roda kehidupan bergeliat maju, berputar searah dengan nasib. Kendaraan macet yang mengular sepagi itu sudah menjadi hal biasa di hari Senin ini.
Abimanyu menatap kotak bekal yang dibuatkan oleh istrinya, yang kini berada di dasbor mobilnya, saat ia berhenti di traffic light.
" Kakung sama Uti sehat Ka?" Tanya Abimanyu kepada Raka di sampingnya.
Ya, pagi ini mereka berangkat bersama. Tak sempat ngobrol saat Raka sampai kemaren sore membuat Abimanyu perlu menanyakan hal ini. Komunikasi hangat wajib ia lakoni.
" Sehat Pa, Alung sama Uti titip salam sama papa!" sahut Raka.
" Salam balik ya. Kamu udah cerita belum kalau kamu udah mau punya adek?"
" Udah, Uti yang paling seneng. Uti bilang adeknya Raka pasti perempuan!"
" Uti bilang gitu, kok bisa tahu?" Abimanyu menatap sekilas putranya itu.
" Dulu waktu aku masih bayi guratan di pahaku ada satu. Kata Uti itu menandakan kalau aku punya adik pasti perempuan!" tukas Raka.
" Kata orang dulu, itu bisa jadi peniten ( penanda)!" sambung Raka.
Hati Abimanyu menghangat. Mantan mertua Dhira itu sama dengan mertuanya rupanya. Masih selalu melibatkan kearifan lokal dalam hidupnya.
" Raka pingin adik cowo apa cewe?" tanya Abimanyu kembali saat kepadatan kendaran yang berhenti akibat mengantre di lampu merah itu, kini berangsur terurai.
__ADS_1
" Apa aja Pa, yang penting Mama sehat!"
Abimanyu mengusap puncak kepala Raka dengan tangan kirinya. Ia merasa senang, Raka tak memperlakukan dirinya bak orang lain. Raka memperlakukan dirinya seperti anak itu memperlakukan Indra ayah kandungnya.
.
.
" Kamu serius Van aku harus pergi?" Abimanyu menautkan kedua alisnya saat melihat agenda yang mengharuskan dirinya untuk terbang ke luar kota, guna menghadiri acara gathering seluruh perusahaan manufacturing di negara itu.
" Serius Pak!" sahut Devan.
" Dua rius malah!"
" Kok kamu manggilnya Pak?" protes Abimanyu.
Devan mendengus seraya memutar bola matanya malas " Kan saya sudah di wanti-wanti sama Bu Dhira! Wajib manggil anda dengan sebutan 'Pak' karena Bu Dhira tidak mau di panggil 'Nyonya'!"
" Begitu ya, kapan istri saya bilang begitu?" masih dalam mode kepo.
Apa anda di dalam rumah tidak pernah mengobrol? benar kata Bu Dhira, suaminya itu beraninya cuma sama aku doang.
"CK, Van!!!! kamu denger tidak. Malah ngelamun!" Abimanyu mendecak kesal.
" Iya Pak, sudah lama semenjak beliau kemari saat mau kasih kejutan ke Bapak. Waktu jaman anda masih suka teler gak jelas!" tukas Devan masih menekuni dokumen perjalanan Abimanyu.
" Sialan kamu, bilang gak jelas gak jelas!"
" Itu Ilham dari langit tahu Van. Kamu mana tau begituan. Nikah sana makanya, jangan kawin mulu!"
Devan hanya mencibir
"Kawin apaan, pacar aja udah lenyap. Hilang di gondol om-om!"
Devan menutup mulutnya cepat , saat menyadari apa yang ada dalam hatinya malah terlontar begitu saja dengan santainya.
Abimanyu menyipitkan matanya, saat telinganya jelas menangkap gerutuan dari mulut asistennya itu.
" Jadi kamu...?" Selidik Abimanyu dengan mata menyipit.
Devan menghela napas. Tidak ada gunanya menyembunyikan sesuatu dari pria di depannya itu.
" Kembali ke status awal Pak. Am single but available!" sahut Devan dengan bangga.
" Bagi tips dong Pak, saya mau kalau ada orang kayak Bu Dhira. Satu aja buat saya!"
Membuat Abimanyu tergelak dengan kencang. Nasib assistennya itu benar-benar menderita.
.
.
.
.
__ADS_1
.