
Bab 105. Intermezo
.
.
.
...ššš...
"Dengarkan hatimu, pastikan pilihanmu. Esok mentari kan datang, bawa sejuta harapan. Kita jumpa di sana, berbagi bersama. Dan kita tahu, pelangi yang satukan kita?"
( Diambil dari lirik lagu Ello feat. Ipank, Berry, Lala~ Bukalah Semangat Baru)
.
.
Kendati Dhira baru saja mengalami keguguran, namun Abimanyu agaknya cukup antusias untuk memberikan sinyal perihal anak. Ia menyadari usianya yang terlampau matang tak bisa membuat dia berleha-leha lagi. Ia tahu usia Dhira memang usia yang riskan untuk hamil, tapi selagi nyawa masih di kandung badan ia masih punya harapan.
Mobil mereka terparkir persis di sebelah mobil Wisang. " Gila, si Wisang belum balik. Tumben" ucap Abimanyu seraya menarik tuas handbreak.
"Memangnya kenapa?" sahut Dhira penasaran.
"Dia paling anti lama-lama sama perempuan. Apalagi belum kenal. Roman- romannya, Sekar itu menarik buat Wisang!" ucapnya usai mematikan mesin mobil, dan melepaskan sabuk pengaman yang ia kenakan.
Dhira tersenyum, Sekar adalah wanita muda yang cekatan. Dia juga memiliki pribadi yang baik. Tapi ia takut bila Wisang tak seserius yang di pikirkan Abimanyu. Mengingat Wisang adalah pria kaya dengan sikap yang terlihat tak serius kepada wanita.
"Awas pelan!" ucap Abimanyu saat membukakan pintu mobil, dan meraih tangan Dhira untuk turun. Dhira belum sembuh betulan pikirnya.
Seperti biasa, mereka masuk lewat pintu belakang. Rolling door itu juga masih tertutup. Nampaknya, Sekar juga lewat pintu belakang saat keluar dan masuk.
Abimanyu membuka pintu itu dengan pelan. Perutnya bak di kelitiki oleh sesuatu demi melihat sahabatnya yang tengah sibuk mencuci perabot kotor. Abimanyu sampai mengucek matanya, guna memastikan jika itu memang benar Wisang. Dan benar saja, itu memang Wisang. Pria itu terlihat mengenakan celemek berwarna pink. Terlihat konyol, kontras dengan tubuhnya yang kekar.
"Mas, itu mas Wisang kok nyuci. Terus pakai celemek lagi, Dimana Sekar?" Dhira celingukan di rukonya sendiri. Sejurus kemudian Sekar muncul dengan membawa sisa tempat kue yang belum sempat di bereskan tempo hari, usai kejadian naas yang menimpa Dhira. Sekar membawa benda itu menggunakan tangan kirinya.
Dhira bisa menyimpulkan bila mereka tengah bekerja sama. Tapi kenapa Wisang mau.
"Bu Dhira, Pak Abimanyu?" Sekar menunduk hormat saat bosnya itu datang. Ia masih rempong membawa beberapa perkakas.
Mata Dhira langsung tertuju kepada balutan kain kasa yang tertempel di tangan kanan Sekar. " Kamu kenapa Kar?" raut wajah Dhira berubah jadi cemas seketika. Abimanyu turut memandang tangan mungil Sekar.
"Ayo ikut saya dulu!" Dhira mengajak Sekar untuk duduk di ruang tamu samping, ia meninggalkan Abimanyu disana.
__ADS_1
Abimanyu mengerti, just woman to woman pikirnya. Ia lebih tertarik menuju ke arah Wisang. Pria tampan dengan sejuta pesona yang berakhir dengan menjadi tukang cuci piring dan perabotan kotor di kedai calon istrinya.
"Hey, apa mataku tidak salah lihat?" cibir Wisang tengah melihat penampilan Wisang yang menggelikan.
"Diam kau sialan!" ucap Wisang tanpa menoleh, ia masih sibuk dengan busa dan spon seraya mengusap bagian berminyak dari nampan kue itu. Berharap benda penuh lemak itu bisa menjadi mengkilat.
Abimanyu tergelak, perutnya sakit karena tawa. " Aku harus memberitahu Danan soal ini, aku berani bertaruh dia akan bertekuk lutut memuja bantal karakter apem wanita kesayangannya itu, yang pernah di lemparkan ke wajahmu tempo hari, karena melihatmu menggosok lengser itu. Kau benar-benar gila Wis!" Abimanyu tergelak.
Wisang mendengus kesal, kalau bukan karena ia prihatin dengan Sekar yang ngeyel ingin melakukan pekerjaannya, ia tak akan mau melakukan hal itu.
Dan itu adalah pertama kalinya selama 43 tahun bernapas di dunia, dia mencuci peralatan kotor. Di tempat orang lain pula. Lengkap dengan celemek warna pink.
"Pria sejati bisa harus bisa melakukan apapun, bukan hanya menabur benih, tapi gosok menggosok juga musti mahir!" tukas Wisang yang mengelap tangannya dengan tissue, usai meniriskan perabot terakhir ke rak.
"Kalau aku mending gosok paha, atau yang lainnya. Hutan belantara Amazon dibawah udel mungkin. Nah elu, panci segala elu gosok!!"
"Diem lu njing, gak biasanya juga gue gini. Hati nurani gue lebih besar dari pada gengsi gue!"
"Otak elu sama aja kayak si Danan. Gak jauh-jauh dari soal pangkal selang*kangan!!"
Abimanyu makin tergelak, masih melanjutkan sisa tawanya, bahkan lebih kencang dari tawanya tadi." Katakan, apa yang sebenarnya terjadi!"
Mereka duduk di meja makan dapur Dhira. Wisang dengan tanpa ragu menceritakan semua yang Sekar alami tadi siang. Apalagi, ia masih tak terima saat mengingat Wisnu menginjak tangan Sekar yang bertumpu pada pecahan beling.
Ia melakukan hal itu karena Sekar yang nekat akan mencuci piring dan perkakas kotor itu. Alias dia mau melakukan pekerjaannya seperti biasanya, gadis itu benar-benar tipikal orang yang bertanggung jawab.
Mencuci perabot itu, tak akan membuat harga dirinya turun pikirnya.
" Kau memang tidak di ragukan lagi untuk meremukkan tulang orang Wis, tapi membuat seorang Wisanggeni mau melakukan hal semacam ini , Sekar pasti menjadi wanita yang menduduki peringkat klasemen teratas di hatimu kan?" tebak Abimanyu seraya tertawa kecil.
"Jika tidak, mustahil dia mendapat perlakuan istimewa dari pria seperti mu yang irit bicara, bahkan saat seranjang dengan panda lokal!" tambah Abimanyu.
Abimanyu kembali tertawa demi melihat wajah Wisang yang mengkilap karena keringat. Sejurus kemudian ia melihat tumpukan perabot yang banyak sekali, dengan keadaan masih basah. Wisang benar- benar pria sejati sesungguhnya.
"Entahlah bim, dia wanita berbeda. Lain dari yang lain!" Wisang menyulut rokok. Abimanyu sengaja mengangsurkan pipa tembakau kemasan itu, kepada sahabatnya.
"Mungkin aku akan sering-sering ngerecokin kamu Bim!" ucap Wisang.
Abimanyu terkekeh," Sudah aku bilang, semua akan ngerecokin pada waktunya. Sekarang terbukti kan?" Abimanyu ingat betul saat dia datang ke kantor Wisang, dan meminta solusi dari sahabatnya itu. Ia pernah mengatakan hal yang sama, saat Wisang menggerutu kepadanya.
"Ya kau benar, kupikir aku akan menjadi hermaprodit yang akan berkembang biak dengan cara membelah diri, karena aku merasa semua wanita sama. Tapi melihat Sekar, kejantananku seolah tertantang secara gerilya!" sahut Wisang.
"Kau ini manusia apa amoeba, membelah diri!" dengus Abimanyu seraya mencibir sahabatnya itu.
__ADS_1
"Entahlah Bim, aku iri denganmu sekarang!"
Abimanyu makin terpingkal-pingkal, ia sadar sahabatnya itu selama ini tak pernah mau serius dengan wanita manapun. Wisang kaya, punya segalanya. Baginya yang penting hidupnya senang. Sedangkan Wisang tak menyadari bila senang dan bahagia itu adalah dua hal yang berbeda. Dan ia yakin, bersama Sekar sahabatnya itu tengah merasakan kebahagiaan. Dan selama ini yang dia buru, hanya kesenangan. Jelas kesemuanya itu, adalah hal berbeda
"Jangan kasih kendor Wis. Pria yang elu gebukin tadi gak kira tinggal diam, dia pasti cari pasukan buat ngeroyok elu!" Abimanyu mengingatkan kemungkinan yang bakal terjadi, tak mungkin seorang pria tak akan menuntut balas atas muka benjut yang dialami.
"Gue gak takut, biar ku rontokan sekalian giginya. Atau ku patahkan saja dengkulnya itu. Ngeres hati gue ingat Sekar yang meringis kesakitan waktu di injek keparat itu. Gue gak tega lihat Sekar nangis Bim. Gue juga gak tahu kenapa gue bisa cemen begini kalau di depan Sekar!"
Ya, Wisang seolah menemukan sesuatu yang selama ini belum pernah ia rasa mampu menyentuh bagian terdalam hatinya. Kepolosan Sekar, wajah manis yang tak membosankan membuat pria itu kini berani mengakui, bila dirinya telah jatuh cinta kepada Sekar.
Wisang tak bisa menepikan rasa itu, padahal baru beberapa kali bertemu. Ia bahkan juga nekat minta nomer Sekar saat mengantar Dhira ke RS tempo hari. Hal yang paling ia hindari selama ini, justru ia lakukan terhadap Sekar. Meminta nomer ponsel terlebih dahulu.
Dan chat yang pertama di kirim Sekar, adalah video pertengkaran Dhira degan Arya tempo hari.
" Artinya elu normal. Tinggal satu sahabat gue yang masih mengkhawatirkan ini" sahut Abimanyu terkekeh.
"Astaga, si Danan apa kabar ya. Gue sampai lupa kalau anak itu masih hidup. Gara-gara sibuk ngurusin urusan elu sampek gak inget dia. Jadi merasa bersalah gue!" Wisang menyesap rokoknya dalam-dalam.
"Temuin jodoh buat dia, jangan sampai ia berkembang biak dengan Fragmentasi!"š¤£š¤£š¤£
"Kau pikir dia cacing pita!" dengus Wisang.
.
.
.
.
.
.
.
.
Keterangan :
Fragmentasi atau fragmentasi klonal pada organisme multi seluler atau kolonial adalah bentuk reproduksi aseksual atau kloning dimana organisme memecah diri menjadi fragmen-fragmen.
Masing-masing fragmen ini berkembang menjadi dewasa, tumbuh menjadi individu dewasa yang merupakan klon dari organisme asli.
__ADS_1
Contoh : spons, cacing pipih, beberapa cacing annelida dan bintang laut.
( Sumber Wikipedia)