
Bab 201. A Touch
.
.
.
...ššš...
" Obat dari segala kerinduan yang membuncah, hanyalah bertemu!"
.
.
Selepas makan malam dirumah Shinta, Abimanyu, Dhira dan Wisang berpamitan untuk pulang. Ya, mereka berada di rumah Shinta kurang lebih selama tiga jam.
Shinta malam itu memohon maaf kepada Wisang karena belum bisa turut serta untuk menjenguk Sekar bersama Abimanyu dan Dhira. Wisang maklum akan hal itu, Shinta pasti lelah karena sedari lusa telah mengurusi acara empat puluh hari almarhum suaminya.
" Aku pamit ya Shin. Kita harus sering-sering ketemu. Life muat go on!" Dhira menirukan ucapan penghibur yang pernah di ucapkan Shinta sewaktu mereka berada di ruko dapur Isun.
Shinta tersenyum lalu memeluk sahabatnya itu. Ia merasa beruntung memiliki sahabat seperti Dhira.
" Terimakasih banyak ya. Jaga ini untukku juga?" Shinta mengusap perut Dhira yang mulai menonjol.
" Pasti!" Dhira tersenyum.
" Baiklah Shin, kami tinggal ya!" Abimanyu turut menyalami Shinta dengan senyuman.
" Terimakasih papa Raka!" Shinta menggunakan bahasa itu saat menjabat tangan Abimanyu. Dan entah mengapa, Abimanyu malah senang dengan sebutan itu.
" Aku juga, terimakasih untuk makan malamnya Shin!" Wisang juga berpamitan malam itu.
" Sama-sama mas Wisang. Sampaikan salam ku ke Sekar ya. Sekali lagi maaf belum bisa ikut. Ku tunggu kabar baik dari kalian!"
Ada teman yang mendatangkan kecelakaan, namun ada pula sahabat yang lebih karib daripada seorang saudara. Dan berteman dengan mereka, benar-benar mendatangkan rasa syukur yang tiada terkira.
Lambaian tangan Shinta mengiringi mobil yang lekas berjalan itu. Shinta menghembus napasnya. Kini ia kembali kepada kesepian yang sudah menyambut.
Ia menutup pintunya dan tak lupa memutar anak kunci itu. Ia harus bisa kuat demi dirinya sendiri. Meskipun saat ini ia merasa sebatang kara, tapi ia masih punya banyak tugas di bumi ini untuk menyelesaikan hidupnya dengan benar.
Saat akan melangkahkan kakinya menuju tangga, terdengar deru mobil lalu pintu rumahnya kembali terketuk. Dengan dahi berkerut sambil berfikir apa Dhira kembali?
Mungkin ada barang mereka yang tertinggal ?
Dengan langkah setengah berlari, Shinta kembali menuju pintu depan.
Ketukan itu makin gencar.
" Iya sebentar!"
Tok Tok Tok
" Iya Dhir ada ap...." ucapnya terjeda saat ia mengayunkan pintu rumahnya itu. Mata Shinta membulat demi melihat Danan yang berpenampilan tak seperti biasanya.
__ADS_1
" Mas Danan!"
.
.
Dananjaya
Pria itu men- challenge dirinya selama sebulan ini untuk menghalau rasa kepada Shinta. Tapi bukan ketenangan yang di dapat, justru emosi yang tak stabil yang ia dapat.
Pasca mengunjungi Shinta beberapa waktu yang sudah lama lalu, ia merasa Shinta masih butuh waktu sendiri. Selama itu pula ia juga tak mau mengganggu dua sahabatnya yang pasti sibuk dengan rumah tangga mereka masing-masing.
Alhasil, dia merasa menanggung beban itu sendirian. Para karyawan dan assistennya bahkan turut kena getahnya. Kena marah karena alasan yang tidak jelas.
Dan puncaknya adalah malam ini. Pria itu benar-benar tak tahan lagi untuk tidak bertemu dengan Shinta. Usai pulang dari tempat kerjanya, ia langsung membelokkan Mercedez Benz miliknya, ke garasi rumah Shinta.
Pria itu tak merawat dirinya selama kurang lebih sebulan terakhir, cambang di pipinya juga tumbuh, kumisnya pun juga demikian. Ia benar-benar terlihat menyedihkan.
Danan mengetuk pintu itu lebih cepat. Padahal do samping gawang pintu terdapat bel. Benar-benar kebodohan.
Iya sebentar
Ia mendengar suara sahutan dari dalam. Tapi entah mengapa ia masih gencar mengetuk pintu itu.
" Iya Dhir ada ap..."
Ia sempat mengernyit, apakah Shinta baru saja menyebutkan nama seseorang?
" Mas Danan!" wanita itu terkejut demi mendapati dirinya yang kini berada di ambang pintu rumahnya.
" Apa kau tidak mempersilahkan aku untuk masuk?" ucap Danan dengan wajah datar.
.
.
Pria yang memiliki usaha perhiasan itu dengan tidak tahu malunya langsung melenggang menuju meja makan. Ia benar-benar sudah gila.
" Minumlah dulu!" Shinta meletakkan secangkir kopi panas buatannya ke atas meja, tepat dimana Danan terduduk.
Wanita itu meladeni Danan sebagai seorang teman.
" Aku akan memanaskan lauk sebentar. Tadi Dhira sama suaminya serta mas Wisang baru saja kesini!" ucap Shinta menambahkan.
" Abimanyu?, ada apa mereka kemari?" Danan tak jadi menyeruput kopi yang sudah berada di bibirnya. Pria itu meletakkan kembali cangkir ke mejanya. Menatap Shinta lekat.
Shinta menghela napas sebelum menjawab pertanyaan Danan.
"Kemaren mas Rangga udah genap ninggalin aku selama 40 hari" Shinta menatap wajah Danan. Ada rasa kasihan, kenapa pria ganteng itu terlihat tak merawat dirinya.
Danan malam itu melepaskan jasnya dan hanya mengenakan kemeja warna putih yang di gulung sebatas siku. Wajahnya kini lebih mirip seperti orang timur tengah.
Danan tertegun, ia bahkan sama sekali tidak ingat. Ia amat menyesalkan hal itu. Damned!!
" Maaf!" ucap Danan karena merasa bersalah. Shinta hanya membalas senyum kepadanya. Ia tahu, beberapa waktu yang lalu di pertemuan terakhir mereka ada kesan yang kurang pas. Saat itu Shinta masih sangat merasa kehilangan, dan Danan malah membicarakan soal perasaannya.
__ADS_1
" Aku siapkan makan dulu!" Shinta tersenyum simpul lalu kembali menuju dapur. Ia kini lebih bisa mengontrol dirinya.
Ia terlihat memanaskan rendang malam itu, tapi ia melihat capcay di piring tinggal sedikit. Merasa tak enak hati, wanita itu cepat membuka lemari es nya lalu mengambil beberapa wortel, kol, brokoli, jamur, baso dan ayam.
Dengan cekatan Shinta memotong bahan itu. Berniat membuatkan capcay baru untuk Danan. Dari meja makan yang berjarak tiga meter, Danan mengamati Shinta yang begitu cekatan saat memasak.
Ia masih menangkap raut sedih di wajah Shinta. Dari sorot matanya yang bengkak itu, bisa Danan simpulkan bila Shinta pasti banjir air mata setiap hari.
Namun saat asyik melihat keindahan makhluk ciptaan Tuhan itu, sebuah suara pekikan terdengar dari mulut Shinta.
" Auuuwwwhhh!" Shinta mengaduh kesakitan.
Rupanya ibu jari Shinta teriris pisau tajam itu. Shinta memang terburu- buru. Membuat dia ceroboh saat mengiris wortel.
" Ada apa?" wajah panik Danan terlihat jelas disana. Pandangan pria itu kemudian bertumbuk pada ibu jari Shinta yang di tiup oleh Wanita itu. Terasa perih dan berdenyut.
" Aku mau masak yang baru, tapi karena kurang hat..." Shinta meringis menahan sakit dan luka sayatan yang terasa berdenyut dan perih.
Danan langsung menyambar ibu jari Shinta. Pria itu terlihat menyesap darah di jempol Shinta tanpa jijik. Seketika mata Shinta membulat dengan perlakuan Danan itu.
Danan melepeh darah Shinta yang terasa asin di mulutnya ke wastafel tempat pencuci piring yang berada tepat di sampingnya itu.
" Mas biar aku..." Shinta merasa sungkan pada Danan. Pria itu apa tak jijik pikirnya?
Melihat darah yang masih muncul, Danan mengulangi aksi serupa. Pria itu meng*ulum dan menyesap tepat di ibu jari yang terluka. Berharap pendarahan itu akan berhenti.
Hangat bibir Danan bahkan bisa Shinta rasakan di lukanya yang terasa berdenyut. Shinta yang melihat tangan kekar Danan kini memegangi tangannya merasa ada hal yang tak bisa di jelaskan.
Ia langsung teringat dengan mendiang Rangga yang dulu pernah melakukan hal serupa sewaktu ia pernah terluka. Tapi benarkah secepat ini rasa yang hanya pernah ia rasakan saat bersama suaminya itu, kini bisa ia dapati dalam diri Danan ketika pria itu dengan paniknya saat mengetahui jarinya yang teriris pisau?
" Emmm ada plester luka di kantong taplak kulkas, biar aku ambil!" Shinta benar-benar kikuk dibuat Danan. Hatinya berdebar.
" Aku saja!" Dengan sigap Danan menuju lemari es yang berada di belakang mereka. Danan mengaduk kantong taplak kulkas itu dengan cepat, Shinta bisa melihat kecemasan di wajah pria dengan tubuh jangkung itu.
" Sini, tahan!" Danan membasuh luka Shinta dengan air lalu mengelapnya dengan tisu. Sejurus kemudian pria itu merekatkan plester ke ibu jari Shinta.
Shinta menatap lekat wajah Danan yang tengah serius membalut ibu jarinya menggunakan plester luka itu. Shinta merasa berdesir saat di perlakukan Danan seperti itu.
" Sudah!" Danan menatap Shinta yang nampak masih tercenung menatap wajahnya. Shinta merasa Dejavu dengan perlakuan Danan. Ia teringat dengan Rangga yang dulu pernah melakukan hal yang sama kepada dirinya.
" Shinta?!" Danna mencoba membuyarkan lamunan wanita di depannya itu.
" Oh... eh...sudah!" Shinta merutuki kebodohannya. Wanita itu sejenak terpukau dengan kebaikan Danan.
Mereka berdua terdiam, Danan menelan ludahnya saat melihat wajah cantik Shinta dari dekat. Bibir lembab Shinta nanar ia tatap. Danan merasa jantungnya berdegup lebih cepat dari biasanya.
Ia merindukan wanita itu. Bolehkah dia saat ini hadir di hidup kosong wanita itu. Meski ia tahu, Shinta adalah wanita yang tak mudah membuka hati.
Danan memiringkan kepalanya, lalu mengecup bibir Shinta saat itu juga. Shinta membelalakkan matanya karena kaget sekali terkejut. Ia ingin menarik wajahnya namun tangan kekar Danan menekan tengkuknya. Pria itu kini melu*mat bibirnya dengan sangat dalam. Shinta benar-benar tak bisa lari.
Danan benar-benar meluapkan serta mengungkapkan kerinduannya selama ini. Pria itu ingin Shinta tahu bila dirinya benar-benar serius akan ucapannya. Ia ingin Shinta mengerti, bahwa dia mampu menyembuhkan luka hati dan mengisi kekosongan hatinya saat ini.
Malam itu, Danan benar-benar melahap bibir Shinta tanpa perlawanan.
.
__ADS_1
.
.