The Love Story' Of Single Parents

The Love Story' Of Single Parents
Bab 50. Tamparan Nyasar


__ADS_3

Bab 50. Tamparan Nyasar


.


.


.


...šŸšŸšŸ...


Di Minggu ke-Empat di bulan Februari nanti ,Rania berniat akan mengadakan pesta ulang tahun ke 80 untuk Oma. Selain bertepatan dengan ucapan syukur atas kesembuhan Oma, mereka juga ingin memberikan kebahagiaan untuk Oma.


"Ran, kalian sibuk. Tidak perlu seperti ini!" ucap Nyonya Regina. Meskipun hidup tak kekurangan uang, namun ia juga tidak ingat kapan terakhir ulang tahunnya dirayakan.


"Tidak Oma, aku dan kak Abi sudah mempersiapkan semuanya" Rania yang paling bersemangat diisi, apalagi ulang tahun neneknya itu jatuh di tahun kabisat. Artinya di tanggal 29 Februari, tanggal dimana hanya akan muncul setiap empat tahun sekali, atau di tiap tahun yang angkanya habis di bagi empat.


"Oma ingin kado apa dariku, hm? Rania memeluk tubuh renta neneknya itu yang saat ini masih duduk diatas kursi roda. Ya, semenjak di vonis hipertensi, Rania dan Abimanyu membatasi pergerakan Nyonya Regina.


"Aku hanya ingin kedua cucuku mendapatkan kebahagiaan" ucapnya yakin, seraya tersenyum.


.


.


"Tuan, ini dokumen yang harus di tandatangani" ucap Devan, saat mengantar setumpuk berkas ke ruangan Abimanyu. Ya, hari Senin jelas menjadi haru sibuk bagi semua.


"Taruh saja disitu dulu!"


Saat Devan hendak pergi, langkahnya terhenti karena ucapan Abimanyu" oh ya Van, tolong kamu bantu Rania untuk mengurus acara pesat ulangtahun Oma!"


Devan terdiam," baik Tuan" jawabnya sigap, mengerti dengan apa yang menjadi kemauan bos-nya itu.


Ia melempar dirinya ke kursi kebesaran di kantornya, "Huft, ayo kita mulai!" ucapnya menyemangati diri sendiri, tumpukan berkas serta laporan yang menunggu untuk di cek dan di bubuhkan tanda tangan oleh dirinya.


Hari-hari yang selalu sibuk dan sibuk.


...šŸšŸšŸ...


Disekolah Tunas Bangsa


Hari sudah berganti, di hari Selasa ini Jodhi sudah mendapat titipan dari mamanya untuk memberikan undangan kepada keluarga Bu Kartika.


"Nih buat kamu sekeluarga!" Jodhi menyerahkan undangan dengan desain mewah, berwarna gold dengan aksen pita.


"Apa ini?" Raka mengambil undangan itu, seraya bertanya. Maklum, belum pernah mendapatkan undangan dari siapapun.


"Baca aja!" Jodhi menjawab, sambil membuka ponselnya.


Raka terlihat membuka undagan itu , ia membaca sekilas lalu menutupnya kembali.


"Wah nenek buyut kamu usianya udah 80 Tahun tapi masih sehat ya Jo" ucap Raka.


"Hemm, baru sakit kemaren. Tapi sekarang udah sehat!"


"Sakit apa?, kok kamu gak cerita?"


"Pas bareng kamu cedera kapan hari, mama ngelarang aku buat kasih tau kamu. Takut bikin repot keluarga kamu" jawab Jodhi enteng


Bukan tanpa alasan, Rania melakukan hal itu karena sudah menganggap keluarga Raka adalah keluarganya juga. Kiriman makanan tempo hari yang di berikan oleh Bu Kartika sewaktu mereka selamatan untuk ruko baru Andhira, jelas menerangkan bila keluarga Bu Kartika juga memberi anggapan yang sama.


.


.


Sore hari Bastian Terlihat mampir di kedai kakaknya usai pulang dari kantor, duduk memainkan ponselnya seraya menunggu Dhira menyeduh kopi.


"Nih minum dulu!" ia menghidangkan secangkir kopi yang sudah ia aduk selama 33 kali adukan.

__ADS_1


"Makasih kak" ucapnya kemudian menaruh ponselnya, dan meraih cangkir kopi itu. menghirup kepulan asap tipis, sejurus kemudian menyeruput minuman itu.


"Aaaaaaahh!!" ucapnya setelah menyesap kopi buatan Dhira.


"Raka mana?" tanya Bastian.


"Masih tidur, tadi pas pulang sekolah aku lagi rame. Belum sempat ketemu!"


"Dapur Isun gimana?, aman?"


Dhira mengangguk, tapi memang benar jika saat ini sebenarnya ia ingin merekrut satu orang karyawan lagi. Lantaran ia dan Shinta kadang keteteran saat pelanggan datang bersamaan.


"Mau nambah karyawan masih belum bisa buat gaji mereka Bas!"


"Mobil kami insyaallah bulan depan udah bisa ke ambil!" ucap Dhira.


"Aku gak buru-buru kok kak, yang penting keadaan kakak udah lebih baik aku udah seneng. Ibu juga udah usaha sendiri dirumah."


"Ada masalah lain?" Bastian mengidentifikasi wajah khawatir Dhira.


"Bas, sebenarnya aku sering merasa gak nyaman jika yang beli itu para pegawai di kantor sebelah. Mereka suka ngaco kalau ngomong!"


Dhira menceritakan tentang banyak sekali pria yang mencoba mendekatinya, apalagi statusnya sebagai janda yang tercipta karena hadirnya orang ketiga, cenderung di asumsikan oleh orang lain jika dirinya tak becus mengurus satu pria.


Namun belum sempat Bastian menjawab terdengar suara ribu dari luar.


"Itu dia orangnya!!! terlihat ibu- ibu yang meradang, dan marah serta menunjuk ke arah mereka berdua.


Bastian menatap Dhira , begitupun dengan kakaknya itu. Sama-sama tidak mengenal. Mereka berdua berdiri.


"Ada ap...." ucapan Dhira menggantung.


Plakkk


Tubuh Dhira sampai mundur dua langkah saking kerasnya tamparan yang di layangkan ibu-ibu tadi.


"Mengapa kakak saya di tampar?" Bastian tengah pasang badan, ia menarik kakaknya untuk berada di belakangnya.


"Saya bisa laporkan ibu!" ancam Bastian yang tak terima dengan perlakuan semena-mena dari orang tak dikenal itu.


"Laporkan saja, saya juga bisa laporkan!!" ucap ibu itu tak mau kalah.


Bastian mengernyitkan dahinya, apa yang sebenarnya terjadi. Ia sama sekali tak mengetahui duduk perkaranya.


"Wanita penggoda!!!"


"Buka kedai hanya untuk kedok biar bisa goda laki orang!!"


"Janda gatel!!"


Umpatan demi umpatan masih terlontar lancar dari bibi ibu itu, Dhira membelalakkan matanya tak terima dengan tuduhan ibu itu.


"Apa maksud ibu?" Dhira yang berada di belakang Bastian kini berani berucap.


"Laki saya sering telat pulang gara-gara mampir kemari, gak mau saya bawakan bekal ternyata kamu minta buat makan disini kan!!" ibu itu melotot, seolah biji matanya hendak keluar. Berbicara dengan nada tinggi dan napas kembang kempis.


Shinta yang sudah menyelesaikan kegiatan bersih-bersih di dapur belakang, turut menghampiri mereka karena mendengar keributan yang makin ramai.


"Ada apa ini Dhir?" Shinta terkejut, karena ada dua orang ibu-ibu yang sedang berkacak pinggang seraya menunjuk-nunjuk sahabatnya.


"Ini lagi, pasti kalian sama-sama janda gatel ya!!"


Shinta tentu saja tidak terima di katai begitu, baru juga datang sudah turut kena semprot.


"Heh buk, jaga ya mulut ibu. Kita jual makanan gak jual diri, kalau ibu mau cari ribut ayo sini!!" Shinta yang geram menggulung lengan bajunya, menantang kedua ibu itu.


"Ehhhh!!" Bastian berusaha menghadang, ia menjadi pusing karena berada di antara wanita yang akan bertengkar.

__ADS_1


"Ayo!!" ucap ibu itu meladeni tantangan Shinta.


"Ayoo siapa takut!!"


"Stooooop!!! Bastian berteriak, membuat semua yang disana terdiam.


Mereka saling melempar pandangan tak suka satu sama lain, sementara Bastian terlihat mengatur napasnya. Kembang kempis.


"Bu, ini kakak saya. Mungkin ibu salah paham, banyak orang yang makan disini. Bukan suami ibu saja!" ucap Bastian tegas.


"Dan kalau ibu tidak suka suami ibu makan disini, tolong jangan kasih ijin untuk kemari. Atau saya minta fotonya, akan saya larang untuk tidak datang kemari atas permintaan ibu!" Bastian bahkan menawarkan ide gila.


Membuat Andhira dan Shinta saling menatap.


Kejadian ribut itu membuat pengendara dan pegawai ruko di sebelah turut keluar untuk menonton, sungguh Dhira malu setengah mati.


"Awas kau janda gatel kalau sampai menggoda suamiku lagi!!"


"Cuih!!!!" ibu itu meludah di atas lantai ruko Dhira, menatap tajam Dhira penuh kebencian.


Sementara ibu di belakangnya tertawa mengejek, kemudian mengikuti langkah ibu yang kesetanan tadi.


Kejadian itu menjadi tontonan banyak orang, Dhira menangis serta mengigit bibi bawahnya. Mengapa selalu saja cobaan hadir dalam hidupnya.


"Loh Dhir, itu bukannya yang punya warung nasi goreng di ujung gang itu?" ucap Shinta.


"Warung mana Mbak?" Bastian bertanya.


"Itu, yang persis di sebelah kantor Camat!"


Bastian mengangguk paham, bisa jadi wanita itu menghasut serta memberikan fitnah kepada ibu- ibu tadi karena merasa tersaingi usahanya oleh Andhira.


"Tolong bubar semua!!" Bastian membubarkan kerumunan yang masih berdiri disana.


"Ada apa ma?" tanya Raka yang sudah berdiri di belakang mereka, melihat mamanya di maki-maki orang.


.


.


Mereka langsung menutup kedai detik itu juga, membawa Dhira masuk kedalam. Mereka berempat duduk di kasur tipis di depan TV di lantai dua.


"Asli mulut ibu itu!!" Shinta masih geram, tak terima dengan ucapan ibu tadi.


"Kamu yang sabar ya Dhir!" Shinta mengusap punggung sahabatnya.


"Sebaiknya kakak cari karyawan baru, kakak di dalam saja gak usah ikut melayani!" ucap Bastian.


Shinta mengangguk setuju dengan saran Bastian.


"Masalah mobilku gak usah di pikir dulu, yang penting usaha kakak lancar. Kalau bisa cari karyawan laki-laki yang masih remaja!"


Dhira masih terdiam, ucapan ibu-ibu tadi menghujam hatinya. Mengapa status janda seolah selalu di pandang sebelah mata. Kenapa hidup dengan menyandang status janda itu seolah menyulitkan hidupnya. Dhira tak pernah menggoda lelaki manapun, dan ia cukup tahu diri untuk hal satu itu.


Raka masih diam, meskipun terduduk diantara orang dewasa disana namun ia sama sekali tak berkompeten untuk ikut menjawab.


"Ada apa ka?" Dhira kini bertanya, karena melihat wajah Raka yang seolah tengah menunggu.


"Ini dari Jodhi, kita semua di undang ke ulang tahun nenek buyutnya Jodhi lusa!"


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2