
Bab 217. Peluang itu selalu ada
.
.
.
...ššš...
Kupikir
'Ku tak pernah pantas untuk bahagia
Sejak kau pergi dalam ketidaktahuanku
Kini kau kembali
Membawa bingkisan kebahagiaan
Yang aku ingat pernah kau curi dariku dulu
Kau tawarkan lagi untukku
Jangan lagi kau pergi dari hidupku
Takkan mudah untukku bila sendiri
Biar kita miliki rasa bahagia
Ingin selalu bersama
Di dalam ruang dan waktu
.
Kusadari
Bukan hanya kau kembalikan mimpiku
Hadirmu kini membuatku percaya lagi
Bahkan lebih indah dari mimpi-mimpiku
Hanya cinta yang bisa menaklukkan dendam
Hanya kasih sayang tulus yang mampu menyentuh
Hanya cinta yang bisa mendamaikan benci
Hanya kasih sayang tulus yang mampu menembus ruang dan waktu
(Titi DJ feat. Agnes Monica ~ Hanya Cinta)
.
.
Yang menabur angin, akan menuai badai.
(barangsiapa berbuat, maka harus berani menerima akibat).
Kini, Indra sudah lega. Ia yang dulu takut untuk jujur kepada Anggi perihal kebobrokannya itu, kini bak oase di padang pasir. Memberikan kelegaan.
" Pasti, aku akan coba!" Indra tak menyangka Anggi akan menerimanya. Ia berjanji akan memenuhi permintaan wanita yang kini bersemayam di hatinya itu.
" Makasih Nggi kamu udah..."
" Aku percaya semua orang berhak dapat kesempatan yang sama untuk berbenah mas. Kamu...aku... sama - sama memiliki. kekurangan!"
" Aku juga bukan wanita baik-baik sebelumnya" Anggi tersenyum kecut demi mengingat dirinya yang pernah bekerja di club, dan kadang ia merelakan tubuhnya di pegang- pegang!"
" Nggi..." Indra menatap wajah Anggi sendu dari posisi yang tak berjarak.
" Tapi aku sama sekali tidak pernah melacurkan diri mas!" Anggi menatap manik mata Indra.
__ADS_1
Indra menelan ludah.
Anggi pun demikian.
Mereka kini sama-sama menelan ludah, karena kagum akan satu sama lainnya.
Indra memiringkan wajahnya seraya mendekat dan menunduk ke arah Anggi. Pria itu menangkup wajah Anggi dengan gerakan pelan.
Anggi yang tahu Indra akan menciumnya seketika memejamkan matanya. Bibir mereka kini menempel. Menyatu dalam balutan rasa ingin memiliki dan dimiliki.
Indra melu*mat bibir Anggi dengan pelan, kali ini mengandung butiran cinta yang membuncah di dadanya. Ia yang telah jatuh cinta kepada Anggi dengan tulus dan rasa yang berbeda.
Tangan Anggi yang menganggur itu kini ia kalungkan ke leher Indra. Indra amat bersyukur, lantaran terlepas dari masa lalunya yang amat buruk itu, kini ia masih bisa merasakan kebaikan Tuhan yang memberinya wanita seperti Anggi.
Wanita muda yang begitu mampu bersikap dewasa. Kini, ia tinggal meminta restu dari Raka untuk melangkah. Bagiamanapun juga, ia selalu berusaha melibatkan putranya itu dalam segala hal.
...ššš...
" Bagiamana perasaanmu sayang?" tanya Abimanyu yang fokus di kemudinya.
Dhira terlihat menghela napas " Aku ngerasa, hidup ini benar-benar gak ada yang bisa aku terka mas!" Dhira tersenyum menatap suaminya.
" Aku turut senang Papanya Raka bisa berubah!" pandangan Dhira menerawang.
" Jadi nyesel nih?" Abimanyu menggoda Dhira.
" Maksudnya?" dahi Dhira berkerut, tak mengerti maksud suaminya.
" Ya, kamu kan..."
" Enggak lah, aku udah bahagia sama kamu mas. Kalau enggak begitu, mungkin aku saat ini gak akan duduk di sebelah kamu, disini!" Dhira tersenyum. Memang begitu kenyataannya.
Abimanyu terkekeh " Sepertinya aku harus kembali dan berterimakasih kepada Indra"
" No need !" Dhira tersenyum.
" Mas Indra udah dapat ganjaran, dan jika sekarang ia mendapat Anggi. Itu lebih baik mas. Karena sejati hati hanya bisa di sembuhkan oleh hati, tentu saja dengan hati-hati pula!"
Abimanyu menarik tangan kanan Dhira, lalu menciumnya. " Dan aku beruntung bisa hidup sama kamu sekarang sayang!"
.
.
" Mas tolong air!" Sekar bahkan tak bisa jauh- jauh dari wastafel.
Kesigapan dan ketelatenan sangat di perlukan saat ini.
" Ini minumlah, awas pelan!" bak menjaga barang pecah belah yang muda rapuh, Wisang amat memperlakukan Sekar degan hati-hati.
Kini Wisang membeli rumah yang tak kalah besar dengan milik Abimanyu. Ia tak menghiraukan rengekan istrinya yang mencegahnya untuk menghamburkan uang.
Tinggal di sini aja mas
Sayang uangnya
Aku gak apa-apa kok naik turun
Kadang Wisang sempat muram, apakah istrinya meragukan kemampuannya?Wisang kaya, untuk sahabatnya saja ia bisa melakukan hal lebih. Apalagi untuk istrinya.
" Besok aku carikan ART ya sayang. Aku kalau kerja gak tenang kalau kamu sendiri!" Wisang terus menekan tengkuk istrinya yang terus saja muntah sesaat setelah meminum air. Bahkan isi perutnya kini kosong.
Alhasil yang keluar adalah cairan kuning yang terasa pahit.
" Huft, mas jangan pakai parfum apa-apa lagi!" Sekar merasa tiap mencium parfum atau wewangian lainnya, perutnya langsung bergejolak.
" Iya - iya, udah aku singkirkan tadi. Sekarang kamu istirahat, ayo aku bantu!" Wisang merasa iba kepada istrinya.
" Maafin aku yang sayang, kamu harus menderita gini karena aku!" ucap Wisang memeluk istrinya yang kini sudah menyenderkan punggungnya ke tumpukan batal besar diatas kasur.
" Kenapa minta maaf, ini bagian dari perjuangan seorang ibu mas. Nih coba lihat!" Sekar meletakkan tangan berotot suaminya, ke atas perutnya yang mulai membesar.
" Sayang?" Mata Wisang berbinar saat ia merasakan sesuatu yang menggeliat dari dalam perut istrinya.
" Lucu kan?" Sekar terkekeh melihat wajah Wisang yang takjub.
__ADS_1
" Apa sakit?"
Sekar menggeleng, " Masih sakitan pas mas..." Sekar ingat saat pertama kali celah sempitnya di jebol oleh Wisang.
" Tapi sekarang udah gak sakit kan?" Wisang kini melorot dan menciumi perut istrinya. Perut yang mengandung darah dagingnya. Sekar mengusap rambut hitam suaminya dengan tersenyum.
" Apa masih mual?"
Sekar menggeleng " Kalau mas gak pakai parfum, aku gak mual. Parfum mas bau banget!"
Wisang membulatkan matanya, parfum miliknya saja adalah parfum ekslusif yang ia beli dengan harga tak murah. Tapi mengapa istrinya justru mual karena hal itu.
" Sayang?" Wisang meraba-raba paha istrinya.
" Aku kangen, boleh gak aku jenguk dedek di dalam!" Wisang tak tahan melihat paha istrinya yang seputih susu itu.
.
.
Pagi menjelang, udara pagi yang belum terkontaminasi kemunafikan dunia begitu terasa menyegarkan.
Pagi ini Shinta joging keliling kompleks. Ia yang kini lekas move on dari segala keterpurukannya, mulai bisa menerima sesuatu yang sulit itu.
" Pagi Bu!" sapa Shinta kepada tetangganya yang tengah menyapu halaman rumahnya.
" Eh mbak Shinta, mampir dulu!"
" Terimakasih!"
Shinta sejatinya memang wanita supel dan mandiri. Hubungannya dengan Danan baik, namun masih abu-abu.
Ponselnya berdering tatkala ia tengah asik memutar lagu sembari berlari. Membuatnya harus berhenti.
Mas Danan Calling
Dahi wanita itu berkerut " Ya mas?"
" Halo, kamu dimana?"
" Lagi keliling kompleks, kenapa?"
" Aku udah tahu kok, coba balik ke belakang!"
Shinta dengan sigapnya mengikut sugesti dari Danan. Ia melihat Danan yang duduk diatas sepeda berhenti seraya menatap Shinta, dengan ponsel yang menempel.
Orang itu
Batin Shinta dalam hati. Jika sudah tahu, mengapa tidak langsung menyapa. Mengapa harus menginterupsi lagu yang ia putar.
" Lah, kenapa malah nelpon?"
" Kalau gak aku telpon, kamu gak kira degar, apalagi noleh!"
Shinta mendengus, " Kok tumben gak kerja?"
" Ada hal yang lebih penting dari aku bekerja!" Danan tersenyum dari jarak sepuluh meter, dengan obrolan yang tercipta lewat sambungan telepon.
" Apa?"
" Aku mau ajak kamu buat ketemu mama sama papaku, mereka udah gak sabar pingin ketemu kamu!"
Dan demi apapun di dunia ini, Shinta mendecak. Mengapa pria itu selalu melakukan apapun tanpa meminta persetujuan apalagi izin darinya.
Orang itu
Shinta menatap Danan dengan wajah manyun, sementara Danan terlihat tergelak.
.
.
.
.
__ADS_1
.