
Bab 72. Fatamorgana Kehidupan
.
.
.
...ššš...
" Persolan hidup kalau di pikir tidak akan ada habisnya, soal lama enyah , soal baru hadir!"
.
.
.
Sabtu terakhir di bulan Maret ini, pengadilan sudah mengabulkan gugatan Abimanyu. Mangkirnya dua orang dalam sidang membuat putusan semakin cepat di dapat.
Adalah Abimanyu, pria yang bisa merasakan kelegaan. Meski Gwen bersumpah serapah untuk membuat hidup Abimanyu tak tenang, namun ia tak peduli akan hal itu. Baginya itu sama sekali bukanlah sebuah ancaman besar.
Persoalan terbesarnya saat ini adalah, meluluhkan hati Raka. As usually, Sabtu ini Abimanyu akan bertemu dengan Dhira. Hari yang selalu ia nanti, namun selalu terasa lambat bergulir.
Dan seperti biasa, Raka selalu ikut papanya ke rumah Kakung sama Utinya. Andhira membuat kebijakan baru, ya Minggu dia akan menutup rukonya. Selain dia ingin quality time bersama Abimanyu,ia juga ingin memberikan waktu bagi Sekar untuk beristirahat.
Dhira mengijinkan Sekar untuk pulang ke kost saja setiap hari, hanya kalau mereka mendapat pesanan dalam jumlah banyak, Dhira akan meminta Sekar untuk menginap. Menurut Dhira, hal itu cukup adil. Ia juga tahu bila Sekar pasti punya privasi lain. Seperti pacar mungkin.
Dhira malam itu terlihat selalu cantik, ia kini sering mengenakan dress tiap bertemu Abimanyu.
"Dhir!"
Dhira bahkan sudah hafal betul dengan arti dari ucapan itu, tak bisa di elak lagi. Abimanyu pasti menyambar bibirnya dengan rakus. Mereka masih berada di parkiran mobil.
"What's wrong?" Abimanyu kini tak bisa untuk tak bertanya, selama dua Minggu ini ia merasa Dhira masih memiliki beban. Bukannya udah dapat assiten baru pikirnya.
Dhira menggeleng, bagaimana caranya dia menyampaikan berita ini. Jujur, hati dan pikiran Dhira terbelah saat ini.
Bu Kartika cenderung meminta dirinya untuk tak grusa grusu dalam mengambil keputusan, sebagai anak yang pernah melakukan kesalahan tentu Dhira tak bisa menepis begitu saja permintaan ibunya, lantas apakah ia harus membiarkan Abimanyu pergi?. Tidak , Dhira telah yakin bila dirinya juga sangat mencintai Abimanyu.
Kegiatan mereka masih sama, ngobrol di apartemen. Kadang Abimanyu bosan, ingin rasanya dia membawa Dhira pergi jauh.
"Dhir, kamu terlihat gelisah ada apa, hm?" Abimanyu mengusap lembut wajah Dhira.
"Gak ada mas, mungkin perasaan mas aja!" Dhira masih tak berani mengungkapkan semua hal rumit yang terjadi.
"Dhir, aku makin gak bisa lagi buat menunggu. Aku ingin bicara sama Raka?"
Suasana senyap beberapa detik.
"Aku nanti akan coba mas, mas jangan temui Raka dulu."
Dan mulai hari itu, hati Abimanyu turut gelisah. Ia merasa Dhira sedang menyembunyikan sesuatu.
.
.
Hubungan keduanya menjadi kurang intens, dan si Arya mulai sering berkunjung ke Dapur Isun, meski tak mendapat sambutan hangat dari Dhira tapi Dhira bisa menyimpulkan bila pria itu tertarik kepada dirinya.
Sampai suatu hari ibunya datang ketempat Dhira, ia ingin memastikan apa putrinya itu sudah berubah pikiran apa belum, namun rupanya Dhira masih keras kepala.
"Kamu kalau masih ingin melihat ibu bernapas, tolong kamu dengar ibu. Tapi jika tidak, aku rasa sudah tidak ada lagi tujuanku Dhir. Kamu lanjutkan saja pilihanmu, tidak usah melibatkan ibuk!"
Kata- kata itu yang membuat Dhira tak bisa berbuat banyak, tak mungkin dia menyakiti hati ibunya untuk kedua kalinya. Bu Kartika dulu sempat berfikir akan merestui siapa saja yang akan menjadi pilihan putrinya itu, namun saat di masa sekarang Bu Kartika hanya berusaha menjaga nama baik putrinya itu.
__ADS_1
Ia bukan tak suka dengan Abimanyu, namun menurutnya keluarga mereka yang sederhana juga persolan Abimanyu dengan mantan istrinya, adalah hal yang ditakutkan akan memberikan stigma buruk bagi anaknya. Sampai tanpa sengaja, ia bertemu dengan kawan lawasnya, sejak saat itu Bu Kartika lebih memilih keluarga Bu Hana.
Arya juga pria yang mapan , sopan juga baik pikirannya. Meskipun tidak sekaya keluarga Abimanyu.
.
.
Senin pagi ini Bu Kartika meminta Dhira untuk datang kerumahnya, Bu Kartika sengaja meminta Dhira datang karena hari ini Bu Hana dan Arya juga ia undang.
Bukan menjodohkan , Bu Kartika hanya ingin memberikan referensi versi dirinya. Dan berharap, Dhira sedikit bisa mencelikkan matanya. Ia juga ingin agar Dhira belajar dari pengalaman hidupnya bersama Indra.
"Ada acara apa sih kak, Ibuk kok masak banyak!"
"Arisan sama teman- teman muslimatnya!" ucap Dhira yang menata beberapa kue untuk suguhan.
Bastian mengangguk," Kak?"
"Hmmm!"
"Aku denger dari ibu, kakak udah kenalan sama anaknya Bu Bidan yang dulu di ujung gang itu?"
"CK, enggak!, kemaren datang sama ibunya, beli kue ku aku. Biasa begitu!" Dhira tak menyangka, ibunya bahkan sudah memproklamirkan dirinya yang baru bertemu dengan Arya, dalam kecanggungan pula.
Bastian mengangguk," Aku pikir kakak sama Pak Abimanyu hehehe, tapi kayaknya ibuk ngarep banget Kakak sama yang ini, siapa namanya?"
Dhira tak menjawab, ia lebih memilih menyibukkan dirinya menata tissue.
"CK, aku sih sebagai adik kakak cuma pingin kakak bahagia, tapi melihat ibuk begitu, apa kakak gak kasihan membuat hatinya sedih lagi? kakak tega buat ngecewain ibuk untuk kedua kalinya?"
Bastian tak memihak siapapun," aku hanya mengingatkan, kesempatan menyenangkan hati orang tua itu sering terlewat kak. Aku aja masih belum kasih kebahagiaan buat ibuk!"
Dhira tertegun, ucapan adiknya itu benar. Dhira menekan ludahnya dengan sangat susah. Ia juga menyadari bila dia juga belum bisa menunaikan Baktinya kepada ibunya dengan baik. Haruskah ia mengesampingkan perasaannya demi kebahagiaan seorang ibu?
Harusnya Dhira memang melibatkan Bastian selama ini, semuanya ia pendam sendirian. Dan akhirnya, ia benar-benar mumet saat ini.
"Tapi apa iya, orang yang pernah salah akan selalu di anggap salah?"
"Lantas ibuk hari bagaimana?" Bu Kartika rupanya mendengar ucapan mereka berdua, Bastian langsung meraba tengkuknya. Sementara Dhira air matanya sudah hampir lolos.
"Ibuk minta kamu berkenalan dulu, kamu bis pergi dengan Arya nanti buat kenal satu sama lain. Selama kamu belum bersuami, kamu kembali menjadi tanggung jawab ibu Dhir, bapakmu bisa bangkit dari kuburannya buat protes ke ibuk jika ibuk gak pernah bisa mengarahkan kamu Dhir?"
Jadi namanya Arya, gumam Bastian dalam hati.
Sejam kemudian para tamu sudah hadir, arisan kecil-kecilan guna mempererat silaturahmi antara jamaah muslimat yang semuanya nyaris berumur itu akan di mulai.
Arya hari ini juga sedang tidak sibuk, mau tidak mau harus mengikuti mamanya. Entah apa yang sudah di rencanakan mamanya kali ini.
"Kalian pasti sudah tahu maksud saya dan ibu kamu!" Bu Hana mencoba berbicara kepada dua orang di depannya.
"Kalian pergi aja jalan- jalan dulu selama kami disini ya, biar kenal!"
Dhira menghormati Bu Hana, tapi jujur saat ia menatap Arya yang turut tersenyum, sepertinya ide itu tercetus dari dalam otaknya secara mendadak.
"Baik aku mau!" Dhira berniat akan langsung menyampaikan penolakannya kepada Arya, dan akan menjadikan sifatnya buruk dan terkesan jelek dimata Arya ,agar Arya ilfil kepadanya. Ya, langsung saja pada targetnya.
Dan benar, Dhira sudah berada di dalam mobil Arya. " Kita kemana?" tanya Arya.
"Terserah!" ucap Dhira malas.
"Kamu udah lama buk usaha?"
Dhira terdiam, pria bernama Arya itu ganteng dan juga sopan, tapi berada dalam satu atap mobil sementara dirinya sudah menjalin hubungan serius dengan Abimanyu membuat dirinya seperti seorang wanita gak beres.
"Udah!"
__ADS_1
"Huft!, Arya menghela nafasnya. Sebenarnya ia tertarik dengan Dhira, jujur dia lelah dengan semua wanita yang dekat dengannya selama ini. Dan sedikit berfikir, untuk mengikuti anjuran mamanya.
"Maaf kalau buat kamu gak nyaman, semua ini mama yang.."
"Kan kamu bisa nolak, gak harus mau kan?" Dhira tak sabar, pria di sampingnya itu mengerti bila Dhira mungkin sudah menolak dirinya.
"Kamu sudah ada calon?, maaf ya Dhir kita sudah sama-sama dewasa, jujur aku juga lelah dengan hidupku, tapi aku cuman punya mama. Dan aku tak sampai hati untuk mematahkan hatinya berulang kali!"
Berulang kali? Dhira terdiam, apa pria di sebelahnya ini bernasib sama dengan dirinya?.
"Kamu udah pernah nikah?" Dhira akhirnya bertanya.
Arya tersenyum, akhirnya wanita di sampingnya itu mau berinteraksi juga dengannya. " Belum!" ia menjawab simple namun diiringi senyum manis .
" Aku janda!" ucap Dhira sengaja mengeraskan ucapannya, agar Arya tau statusnya.
"Aku udah tahu!" jawab Arya santai di balik kemudinya.
Dhira melirik menggunakan ekor matanya," Dia bahkan bisa biasa aja begitu, aku pikir dia bakal ilfil sama aku, CK. " ia berdecak dalam hati.
"Semua orang punya masa lalu kan!" imbuhnya lagi juga dengan wajah santai.
Mereka akhirnya memutuskan ke mall saja, karena tak memiliki tujuan yang jelas. Dan hari itu Dhira lalui dengan ngobrol dan menjawab sesuka udelnya. Ia ingin menampilkan kesan yang buruk, agar Arya tak jadi suka kepadanya.
Namun sia-sia, rupanya Arya menyukainya Dhira yang menurutnya memiliki sikap apa adanya itu.
Minggu- Minggu berikutnya Dhira tak sempat bertemu dengan Abimanyu, Bu Kartika mengajak Dhira untuk menjenguk Bu Hana yang baru saja kecelakaan , Bu Hana terserempet sepeda motor seorang pengendara motor yang baru belajar di depan rumahnya.
Alhasil, hari dimana satu-satunya kesempatan bisa bertemu malah hilang begitu saja. Malam Minggu ini, Dhira habiskan untuk ikut ibunya, kerumah Bu Hana.
"Terimakasih Bu, Dhira sudah mau datang!" ucap Bu Hana yang terlihat sumringah saat dikunjungi dua orang itu.
"Kok bisa sampai begini Bu? ucap Bu Kartika.
"Anak kecil baru belajar naik motor, saya pas buang sampah di depan langsung di seruduk!" Bu Hana setengah tertawa saat bercerita.
Ponsel Dhira berdering, dan itu dari Abimanyu.
"Buk, saya permisi dulu!" ucapnya pamit, seraya menunjukkan ponselnya yang menggelepar.
Dhira berjalan keluar, mencari tempat sepi.
"Halo mas!"
Kamu kemana aja Dhir, aku ke ruko kamu tapi Shinta bilang kamu pergi. Aku kangen banget sama kamu.
Kamu ada masalah apa, kok kita jadi jauh begini Dhir?
Kamu dimana, aku samperin kamu kesitu ya?
Dhira menggigit bibir bawahnya, sudah beberapa hari ini ia memang mengabaikan Abimanyu. Ia hanya bingung, Bu Kartika terang- terangan menolak Dhira bila ia tak mau menuruti saran ibunya. Dan Dhira tak mau kehilangan ibunya seperti dulu lagi.
"Sabar mas, aku masih nemenin ibuk kerumah temennya. Nanti kita ketemu, aku janji!" Dhira berniat akan menyampaikan hal penting nanti.
Dan saat Dhira berbalik..
Dug
"Ahhh!" pekik Dhira, saat kepalanya menyentuh dada seseorang, yang entah mengapa berdiri di belakangnya.
"Kamu!"
.
.
__ADS_1
.