
Bab 34. Empat Mata
.
.
.
.
...ššš...
" Empat mata bicara padamu"
( Diambil dari lirik lagu D' Bagindas)
.
.
Jodhi
Jodhi sudah mengomel, merajuk dan juga kesal kepada mamanya. Hari Rabu ini seluruh siswa sengaja diliburkan, agar bisa mendukung tim sekolahnya dalam pertandingan final Bola Voli.
"Tahu gini aku berangkat aja sendiri!" Jodhi menggerutu, kesal tiada terkira. Ia melihat jam di pergelangan tangannya sudah menunjukkan pukul 09.30 WIB. Artinya pertandingan agar dimulai sekitar 15 menit lagi. Jelas ia akan terlambat untuk sampai ke gelanggang olahraga.
"Sabar dulu, mungkin masih dijalan!" ucap Oma Buyutnya menenangkan.
Jodhi sengaja menunggu mamanya, karena dirinya sudah diwanti-wanti untuk tidak berangkat sendiri. Alasannya adalah, mamanya ingin pula menonton pertandingan itu.
Berkali-kali ia mencoba menghubungi mamanya, namun tak di angkat. " CK, mama kemana sih!!"
.
.
Rania
Ia bukannya tidak ingat ,bila hari ini ia harus pergi bersama putranya untuk menonton perhelatan besar sekolah putranya. Pertandingan final Bola Voli. Ia sudah berjanji jika pagi ini, setelah morning briefing dengan para bawahannya ia akan menjemput Jodhi.
Namun nahas, ban belakang mobilnya kempes. Dua duanya pula, akan memakan waktu yang lama bila ia menggantinya terlebih dahulu.
Mana dia berhenti di tempat yang agak sepi, ia tak sempat menelpon Jodhi lantaran ingin cepat-cepat sampai kerumah.
Namun, terlihat sebuah mobil yang berhenti di di belakang mobil Rania.
"Mobilnya ken...?" tanya pria itu sesaat setelah turun dari mobilnya. Ucapannya menggantung, demi melihat sosok yang ada di depannya.
"Rania?" ucap seorang lelaki yang baru saja turun dari mobil mewahnya.
"Fredy!!!" ucap Rania yang tak mengira akan bertemu teman lamanya
Fredy adalah teman lama Rania, seorang pria lajang yang sudah sukses di usia muda. Ia sempat menaruh perasaan semenjak sekolah dulu, hanya saja karena Rania married by accident dengan Chandra, ia akhirnya melanjutkan pendidikannya ke luar negeri.
"Ini beneran Rania?" Fredy awalnya hanya niat menolong, karena kasihan melihat seorang wanita di jalanan sepi tengah berdiri di samping mobilnya. Jelas menandakan bila mobil yang di kendarai tengah tidak baik-baik saja. ia tak tahu bila ternyata wanita yang mengalami kesialan itu, adalah Rania.
.
.
Abimanyu
Ia mengedarkan pandangannya, jika tidak salah ia berada diantara para pendukung tim sekolah Tunas Bangsa. Artinya, peluang untuk bertemu Andhira semakin besar. Ini jelas gila, entah atas dorongan apa membuatnya untuk menyusul wanita itu kemari.
Namun ibarat sekali dayung dua pulau terlampaui, pesan yang dikirim Andhira tadi, secara tidak langsung turut memberikan informasi kepada dirinya, bila Raka akan bertanding pagi ini. Ia ingin mendukung Raka sekaligus ingin bertemu mamanya. ihir!!!! š.
__ADS_1
Namun tak pernah ia duga, bila Andhira tengah duduk di samping pria yang ia kenal. Ya, pria yang menjadi karyawannya, mantan suaminya Andhira. Indra.
"Van!!" panggilnya kepada assistennya.
"Ya Tuan!" jawab Devan yang mendadak perasaannya tidak enak.
" Aku tidak mau tahu, carikan aku tempat duduk di deretan sana!" tunjuk Abimanyu, di tempat duduk yang sudah penuh.
"Apa?" Devan tentu saja membulatkan matanya. Bagiamana caranya ia harus meminta semua orang yang sudah mendaratkan bo kong mereka di kursi plastik biru itu.
Demi apapun Devan sudah berdosa banyak diwaktu sepagi ini, mulai dari menyuap beberapa orang dalam, berdalih, mengumpat demi terwujudnya keinginannya bos- nya itu.
Jangan heran, lagi lagi dengan kekuatan uang semua bisa teratasi.
"Kerja bagus Van!" Abimanyu menepuk pundak Devan yang sudah kehilangan semangat juang, lantaran benar benar di buat stres oleh Abimanyu.
***
"Tuan Abimanyu?" Indra membungkuk hormat, begitu mengetahui kehadiran Indra bersama Devan.
"Priiiiit" sayup-sayup terdengar peluit yang mulai di tiup, menandakan pertandingan tersebut akan dimulai.
Andhira menoleh ke sebelah kiri, lantaran Indra yang tiba-tiba berdiri menyapa seseorang yang baru saja datang. Dhira sedari tadi sengaja menyibukkan dirinya di jejaring sosial, karena merasa tak nyaman di dekat Indra. Entahlah, kilasan ingatannya selalu kembali saat dirinya menangkap basah aksi perzinahan mantan suaminya itu degan Renata, beberapa bulan yang lalu.
"Apa kabar!" Abimanyu justru menyapa Andhira yang duduk melongo, menatap ke arahnya.
"B-baik" Ia membelalakkan matanya, sejurus kemudian memberikan senyuman penuh keterpaksaan," kenapa bisa disini?" batinnya berbicara.
Abimanyu hanya tersenyum getir ke arah Indra, entah mengapa ia tak senang dengan kehadiran papa Raka itu.
"Anda disini Tuan?" Indra mencoba berkomunikasi dengan Abimanyu, membuat Dhira ingin pergi saja disana. Karena posisinya yang berada di antara Abimanyu dan Indra. Sementara Devan, yang duduk malas dengan raut wajah tak terbaca.
"Hem" jawab Abimanyu singkat, menjawab pertanyaan Indra, sejurus kemudian ia mendudukkan dirinya di kursi yang berada di sebelah kiri Andhira.
"Wuuuuuuuu" suara tepuk tangan suporter team Tunas Bangsa yang menggema.
Suara pemandu jalannya pertandingan terdengar jelas, membuat suasana kian meriah. apalagi Raka tampil begitu mencolok dengan sumbangan poin poin yang ia berikan, saat melakukan spike keras. Benar benar definisi pemain terbaik.
" Itu anak saya!" terdengar suara Indra yang berbicara dengan orang di sebelah kanannya dengan bangga, memproklamirkan Raka.
"Hebat pak, siapa tahu bisa jadi pemain Proliga nanti ya" jawab salah seorang yang menjawab ucapan Indra dengan posisi masih bertepuk tangan.
Sementara Andhira yang mendengar interaksi mantan suaminya dengan orang lain, yang membicarakan anaknya hanya bersikap biasa saja.
"Maaf saya mau ke toilet dulu!" Dhira permisi ingin lewat kepada Abimanyu, lantaran kaki jenjang pria itu, cukup membuat jalan keluarnya menjadi sulit.
"Oh, silahkan!" ucap Abimanyu tersenyum, seraya memindahkan kakinya.
.
.
Andhira
Ia benar-benar tak bisa menikmati pertandingan dengan leluasa, di sebelah kanannya ada mantan suaminya. Di sebelah kirinya, ada pria yang sungguh membuatnya tak nyaman. Dan kenapa bisa pria itu hadir disana, ia juga tak melihat Jodhi. Lantas apa alasannya pria itu datang?.
Ia masih mencuci tangannya meskipun busa di tangannya sudah menghilang. Ia melamun beberapa detik, ia ingin pulang saja , tapi ia kasihan dengan Raka bila ia harus pergi.
Ia menatap dirinyalah di cermin besar yang terdapat di toilet itu. Menampilkan wajahnya yang sayu, ia lantas mencuci mukanya. Mengelapnya dengan tissue lalu merapikan anak rambutnya yang sedikit berantakan.
"Huft!" ia terlihat menarik nafasnya dalam seraya menatap bayangan dirinya di cermin.
Dan saat ia luar dari toilet,
"Astagfirullahhaladzim!"
__ADS_1
.
.
Abimanyu
Ia bukannya tidak tahu bila Andhira tengah merasa tidak nyaman, ia tak tahu pasti apa penyebabnya. Berkali-kali kaki Andhira digerakkan dengan gerakan menjahit bumi. Menandakan bila sang empunya tubuh tengah gusar.
Entahlah, berada di dekat mantan suaminya mungkin menjadi salah satu pemicu. Begitu pikirnya.
Ia berfikir sejenak sesaat setelah Dhira pamit ke toilet, entah ada angin apa ia malah ikut menyusul.
"Van tunggu disini, jangan kemana-mana!" perintah Abimanyu.
"Baik Tuan!" mau tidak mau Devan harus menurut bukan?.
"Kemana lagi si bos ini!" batin Devan.
Ia menunggu di samping pintu keluar toilet wanita. Beniat ingin menanyakan alasan wanita itu, mengembalikan cek yang ia berikan.
"Astagfirullahhaladzim!" suara Andhira yang kaget, saat melihat dirinya melipat kedua tangannya ke dada.
Membuat Abimanyu terkikik demi melihat ekspresi terkejut Andhira, yang memegangi dadanya.
" Kenapa repot-repot mengembalikan Cek?" ia malah langsung to the point. Membahas salah satu tujuannya kemari, karena saat berada di Tribun ia cukup kesulitan untuk membangun komunikasi dengan Andhira
"Maaf, tapi saya rasa tidak perlu!" jawab Dhira merasa tak nyaman dengan tatapan Abimanyu.
Apalagi jarak mereka cukup dekat, wajah tampan dengan balutan pakaian casual Abimanyu jelas membuat siapa saja terpana. Termasuk Andhira.
"Kamu menjual, dan aku membeli. Jika tidak aku bayar, kamu akan rugi!' Abimanyu menatap lekat Andhira, begitu juga dengan wanita di depannya. Tak sengaja pandangan mereka bertemu.
1 detik
2 detik
3 detik
Saling mengagumi keindahan ciptaan Tuhan yang tiada banding.
"Maaf, saya sudah menganggap Jodhi sebagai anak saya, dia adalah teman baik Raka. Memberi sepotong ayam kepada anak sendiri tidak akan rugi!" Ucap Dhira mengalihkan pandangannya, karena ia mulai terhipnotis dengan wajah Abimanyu.
"Ok, Jodhi bisa kamu anggap begitu. Lalu aku? Abimanyu gencar menatap lekat Dhira yang masih tertunduk, seraya memainkan ujung bajunya. Menandakan jika wanita di depannya tengah gelisah dan tak nyaman.
"Apa maksudnya!" batin Dhira.
"Maaf!" ucap Andhira.
"Kenapa selalu minta maaf?" Abimanyu heran, mengapa wanita di depannya itu selalu meminta maaf untuk kesalahan yang tidak ia lakukan.
"Maaf, saya rasa tak perlu membicarakan hal itu lagi. Saya ikhlas melakukannya. Dan saya permisi dulu, disini sepi. Saya tidak mau terjadi fitnah!"
"Permisi!" ucap Dhira, lalu melewati Abimanyu yang masih berdiri mematung.
Abimanyu tersenyum,ia bahkan bisa menghirup aroma wangi Andhira yang muncul saat tubuh sintal itu melaluinya, wangi dan membangkitkan jiwa lelakinya.
Tanpa mereka sadari, ada sepasang mata yang sedari tadi memperhatikan interaksi mereka.
.
.
.
.
__ADS_1