
Bab 84. Keputusan Dhira
.
.
.
...ššš...
"Bila yang tertulis untukku, adalah yang terbaik untukmu!"
( Diambil dari lirik lagu Samsons ~ Kenangan Terindah)
.
.
....
Abimanyu ingin rasanya tertawa berguling- guling demi melihat ekspresi bingung Raka. Ia sudah gila. Membicarakan hal erotis yang di kemas dalam bentuk ilmu pengetahuan bertani. Namun itu adalah bagian dari luapan kebahagiaannya, karena Raka sudah mau membuka hatinya. Membuat sedikit kerumitannya, agak melonggar.
Ia kini tinggal berharap, Tuhan masih mau berbaik hati untuk melancarkan harapannya. Meski ia sendiri tak yakin.
"Tadi kesini sama siapa?" tanya Abimanyu.
"Sendiri Om!"
"Kan belum waktu pulang?" Abimanyu sejenak teringat akan Jodhi yang dulu pernah bolos, hanya karena ingin mengajaknya makan ke Ruko Dhira.
"Bolos Om!" jawabnya datar.
Abimanyu menghela nafas, kantornya sudah dua kali di satroni dua bocah yang berbeda, dan tentu saja yang bolos dari sekolahnya.
"Om antar pulang!"
.
.
"Van aku mau keluar sebentar, kalau ada yang perlu nanti kamu taruh aja berkasnya di meja aku!" pamit Abimanyu, yang malah terdengar seperti sebuah himbauan.
"Baik Tuan!" Devan kini lekas menatap lekat wajah bocah yang mejadi anak dari pemilik Ruko Dapur Isun itu. Tak mau mencari masalah lagi.
Saat berada di dalam mobil Raka menjadi lebih diam, bocah itu kini merasa lega karena sudah mengutarakan isi hatinya. Namun, ia tak tahu apakah keinginannya itu bisa terwujud apa tidak.
"Pulang ke mana?" tanya Abimanyu, mengingat mereka kadang pulang kerumah Bu Kartika.
"Ke Ruko aja Om!"
Abimanyu melesatkan kendaraannya menuju Ruko Dhira, sedikit berharap bisa bertemu namun rupanya Dhira tidak ada disana.
Nampak seorang gadis yang belum pernah Abimanyu lihat, mungkin itu karyawan baru yang bekerja untuk Dhira pikirnya. Seulas senyum tersungging dari bibir Abimanyu. Dhira rupanya menuruti segala sarannya tempo hari. Dan seorang wanita yang sering ia temui , juga terlihat berada di sana. Shinta.
"Raka, kok sudah pulang?" Shinta nampak terkejut, dan keterkejutannya bertambah lantaran bocah itu datang bersama Abimanyu.
"Tuan?" sapa Shinta sedikit terkejut.
Abimanyu tersenyum," Halo, apa kabar?"
__ADS_1
"B-baik Tuan!" jawab Shinta.
Tak berselang lama, datang sebuah mobil Range Rover putih, itu adalah mobil Arya. Shinta juga Sekar serta Raka nampak memperhatikan mobil yang terparkir di halaman ruko itu.
Mata Abimanyu menatap lekat mobil itu, memperhatikannya lekat. Hatinya mendadak panas, demi melihat yang tersaji. Mendadak impiannya untuk bertemu Dhira menguap, berganti dengan rasa gemuruh yang dahsyat, menusuk relung hatinya.
"Raka, om pamit ya!" Abimanyu tak sanggup barang sedikitpun untuk menatap Dhira yang datang bersama dengan Arya. Sungguh ia tak sanggup.
Raka hanya mengangguk, serta mengaturkan seulas senyum.
Dhira mendadak tercekat, kenapa Abimanyu bisa berada di rukonya siang ini?. Dan, kenapa Raka kok sudah pulang jam segini.
"Wow, rupanya masih ada yang tidak tahu malu disini!" sindir Arya, menatap tajam Abimanyu.
Abimanyu tentu saja tahu, jika sindiran itu ditujukan untuk dirinya. Tapi tentu saja, ia jauh lebih bisa me-manage dirinya untuk meredam segala emosi.
"Aku rasa anda terlalu percaya diri, saya kemari bukan untuk menginterupsi kegiatan anda. Saya ...hanya mengantar Raka!" Abimanyu tersenyum, lalu memandang ke arah Raka yang memasang wajah datar.
Sementara Shinta dan Sekar, sudah menjadi pias. Takut jika terjadi sesuatu. Dhira yang mengingat mereka berdua sempat berkelahi tempo hari, menjadi lebih sedikit waspada.
Sebenarnya ia penasaran, mengapa Raka bisa bersama Abimanyu. Namun, ia tak ingin menanyakan hal itu sekarang.
" Mas, sebaiknya kita masuk dulu!" ajar Dhira kepada Arya, ia hanya ingin membuat Abimanyu mengerti, bila baik Abimanyu maupun Andhira, sudah tidak mungkin bisa bersama. Andhira hanya tak ingin membuat semuanya menjadi kian rumit, satu hal yang ia ingin lakukan. Menyenangkan hati ibunya.
"Selamat siang tuan Abimanyu!" Arya tersenyum ke arah Abimanyu yang masih berdiri . Abimanyu tak menanggapi, ia hanya memandang Dhira yang terlihat menghindari tatapannya.
"Sekar, Shinta tolong siapkan makan siang untuk kami!" ucap Dhira. Abimanyu bisa mendengar dengan jelas ucapan Dhira. Aku tahu kamu mencoba menghindari tatapanku Dhir. Batin Abimanyu.
Malam menjelang, Dhira sengaja ingin berbicara dengan anaknya. Ingi mengetahui mengapa anaknya itu, bisa bersama dengan Abimanyu.
"Raka, mama boleh masuk?" ucap Dhira dari balikin pintu kamar Raka.
Dhira mengetuk sebanyak tiga kali, namun belum ada sahutan. Akhirnya ia membuka gagang pintu kamar Raka. " mmmmm, pantes!" Dhira tersenyum seraya menggelengkan kepalanya, rupanya anaknya itu tengah menyumpal telinganya dengan headset, seraya manggut-manggut.
Ia menepuk bahu putranya, yang berbaring tengkurap membelakangi dirinya.
"Mama!" Raka agak terlonjak, ia lalu melepaskan benda penyumpal kuping yang mengalirkan bunyi lagu menenangkan itu.
"Ckckck, dari tadi mama panggil" Dhira mendecak namun tersenyum.
"Maaf ma gak dengar" Raka menyengir.
"Gimana mau dengar, nih!" Dhira mengangkat benda berwarna kuning itu.
"Ada apa ma?" Raka nampak sudah bisa menebak, kalau mamanya datang ke kamarnya itu untuk membicarakan sesuatu.
"Mama mau bicara dua hal sama Raka. Raka sudah besar, Raka anak mama satu-satunya. Jadi apapun yang terjadi. Raka wajib tahu apa yang bakal mama lakukan" Dhira tersenyum, mengusap lengan kurus anaknya.
"Mama mau tanya ,kenapa Raka bisa pulang sama om Abimanyu?" Dhira memang belum sempat bertanya kepada Raka, lantaran Arya di ruko Dhira baru pulang sebelum Magrib tadi. Ya meskipun tidak melakukan apapun, Arya berdalih ingin melihat Dhira membuat kue.
Sejenak Raka terdiam, mau tidak mau ia harus jujur saja. Ia menceritakan alasannya bolos, karena ingin mengungkapkan isi hatinya kepada Abimanyu.
"Maafin Raka ma kalau Raka lancang, Raka gak mau aja sebenernya lihat mama begini!" Raka nampak menyajikan tatapan muram.
"Maafkan Raka karena terlambat menyadari, jika mama sebenarnya sama Om Abi...." Raka agak canggung sebenarnya, membicarakan hal yang ia sendiri masih sangat awam untuk sekedar membicarakannya.
Dhira mengehela nafasnya, tak mengira jika putranya berbuat seperti itu. " Kan dulu Raka gak suka sama Om Abi?" pancing Dhira.
"Kakung mengajariku banyak hal ma, gak seharusnya aku egois begini." ucap Raka seraya tatapannya menerawang, ia ingat dengan ucapan Kakungnya tempo hari.
__ADS_1
"Aku cuma ingin mama bahagia, aku tahu selama ini mama engga bahagia sama papa!" Raka menatap wajah mamanya.
Dhira menggigit bibir bawahnya, air matanya sudah meluncur di pipi mulusnya. Lagi-lagi, anaknya itu dipaksa menjadi dewasa sebelum waktunya.
Dhira memeluk Raka, " terimakasih Raka selalu jadi guardian mama. Raka selalu pedulikan mama nak, mama sayang Raka!" Dhira mengeratkan pelukannya. Ada banyak kesedihan di hatinya, ia tak ingin membagikan kesedihan itu. Cukup ia pendam seorang diri. Berharap hidupnya tak sia sia walau harus mengorbankan perasaannya sendiri. Ia hanya ingin kesalahannya di masa lalu tak terulang, kesalahan yang membuat hati ibunya terluka.
"Mama mau ngomong apa lagi, tadi katanya ada dua hal?" Raka melepaskan pelukannya.
Dhira terlihat menyusut air matanya," besok mama akan bertunangan dengan om Arya. Mama harap, Raka mau legowo menerima semua yang akan mama jalani." ucap Dhira menahan laju air matanya.
Raka tercengang, " Apa karena Uti?"
Dhira terdiam.
"Apa karena Uti yang minta mama buat nikah sama Om Arya. Ma....." wajah Raka kini memelas.
Dhira menangis dan bolak- balik berusaha mengehela nafasnya. " Bukan, Raka gak boleh mikir jelek ke Mbah Uti. Mbah Uti cuma pingin mama bahagia" jawab Dhira .
Raka menggeleng," Mama gak bahagia kan ma?, kenapa Uti egois ma? Raka mulai tak sabar.
"Raka dengar, Raka gak boleh ngomong begitu!"
"Mama menangis karena bahagia" Dhira terpaksa berbohong, dan itu bukanlah dirinya.
...ššš...
Hari ini adalah hari yang paling di tunggu oleh Arya dan Bu Hana. Ya, mereka kini tengah berada di kediaman Bu Kartika untuk melamar Dhira secara sederhana. Raka yang berdiri disana terlihat memasang wajah datar.
Bastian juga sudah izin untuk tidak masuk kerja. Acara itu hanya dihadiri kerabat dekat saja. Shinta dan Sekar juga turut berada di sana. Menjadi penyaksi Andhira yang melangsungkan lamaran.
Tak banyak, hanya sekitar 20 orang saja.
Arya tampil ganteng malam itu, ia mengenakan batik yang membuat dirinya terlihat begitu mempesona. Sementara Andhira, terlihat memakai baju batik dengan bawahan yang senada. Ya, mereka tempo hari keluar, karena membeli beberapa perlengkapan untuk acara malam ini.
Hati Dhira benar-benar sudah mati, hilang bersama kerelaannya untuk menyenangkan hati ibunya. Bastian nampak pasrah, sebenarnya ini terlalu cepat untuk ukuran lamaran. Mengingat mereka berkenalan belum lebih dari dua bulan.
"Akhirnya ya," ucap Bu Kartika saling pandang dengan Bu Hana, mereka tersenyum penuh kebahagiaan, sesaat setelah Dhira dan Arya saling menyematkan cincin.
Namun Dhira, entahalah. Hatinya terasa hambar.
Ia kini sudah mengikatkan dirinya kepada pria yang belum ia kenal terlalu dalam. Setelah para tetua menetapkan tanggal pernikahan yang jatuh selama satu bulan lagi, mereka semua saling menikmati hidangan di kediaman Bu Kartika.
"Dhir, makasih ya udah mau nerima aku" ucap Arya, mereka kini tengah duduk berdua. Dhira hanya tersenyum, mau bagaimana lagi. Memangnya bisa apa dia.
"Aku gak sabar buat nunggu satu bulan lagi!" Arya meraih tangan Dhira, kemudian mengecupnya. Membuat Dhira agak risih dengan sentuhan Arya. Entahalah, sangat berbeda bila Abimanyu yang melakukannya.
"Emmm, aku mau ke belakang sebentar mas!" ucap Dhira beralibi, ia merasa tak nyaman saja.
Aku tahu kamu masih belum sepenuhnya nerima aku Dhir, tapi akan aku buat kamu mencintaiku? Arya bermonolog dalam hatinya, seraya memandang Dhira penuh hasrat.
.
.
.
.
.
__ADS_1