The Love Story' Of Single Parents

The Love Story' Of Single Parents
Bab 172. Touch You


__ADS_3

Bab 172. Touch You


.


.


.


...šŸšŸšŸ...


" Hasratku hanyalah untukmu, terukir manis dalam renunganku... jiwaku, jiwamu menyatu"


( Diambil dari lirik lagu Glen Fredly ~ Kasih Putih)


.


.


Dengan mengenakan jubah mandi yang membungkus tubuhnya, Sekar mengayunkan pintu itu dengan pelan. Ia menyapukan pandangannya ke penjuru kamar.


Namun kamar itu kosong melompong. Suaminya itu tak berada di sana. Kemana dia?


Tak mau memusingkan tentang keberadaan suaminya itu. Sekar menuju lemari pakaian. Ia meraih dress tidur dari sutera yang halus.


Tubuhnya kini terbalut indahnya gaun malam itu, dengan apiknya. Ia mematut dirinya di depan cermin besar meja riasnya.


Namun tak di nyana, tangan berotot dengan bulu halus yang tumbuh si lengan suaminya itu, melingkar di perut Sekar secara tiba-tiba. Entah habis bersembunyi dari mana suaminya itu.


" Mas!" Sekar merasa geli saat suaminya itu menciumi tengkuknya tanpa jeda.


" Kamu wangi banget!" Wisang masih tekun menciumi ceruk leher istrinya. Aliran listrik bagai menyengat diri Sekar. Wanita itu merasa ada gelenyar aneh yang timbul dalam dirinya.


Wisang membalikkan tubuh istrinya. Di pandanganginya wajah ayu nan manis yang membuat Wisang jatuh hati sejak kejadian ciuman nyasar di ruko Dhira beberapa waktu yang lalu.


Wisang melepas tali penutup gaun malam warna hitam yang baru saja di kenakan Sekar. Simpul tali itu terlepas dalam hitungan detik. Kini lengan kuning langsat milik Sekar kian membuat Wisang gelisah.


Wisang mencium bibir istrinya seraya tangannya terus mengusap punggung hingga bagian belakang tubuh istrinya. Kini Sekar sadar, tugasnya akan segers dimulai.


Aroma pasta gigi yang saling terhirup membuat keduanya kian terpacu. Sekar kini mengalungkan tangannya ke leher Wisang. Tak berhenti disana, ciuman mereka terus berlanjut hingga Wisang berhasil menggiring istrinya itu untuk beralih menuju tepi matras.


Pandangan Wisang sendu menatap istrinya. Pria itu terlihat melepas kaos yang ia kenakan. Guratan otot kekar , serta bentuk persegi yang timbul diatas perut Wisang membuat Sekar merinding.


Suaminya itu benar-benar terlihat sangat memukau. Tubuhnya nyaris tanpa cacat. Lengannya yang besar, bahunya yang kokoh, serta dadanya yang bidang sangat terlihat tidak mengecewakan.

__ADS_1


Ia penasaran dengan kekuatan seorang Wisang.


Wisang merayap kertas tubuh istrinya. Pria itu menciumi leher istrinya. Mengecupnya tanpa henti, membuat Sekar terserang gelombang aneh dalam dirinya.


Pandangan Wisang sendu dan menuntut, menyulut gelora panas yang kian menuntutnya. Sorot mata Wisang yang terlihat begitu berhasrat membuat Sekar paham dengan tuntutan suaminya itu.


Sulutan rasa panas itu membuat Wisang kian mendamba dan menginginkan istrinya itu. Bibir Sekar kembali ia raup dengan rakusnya. Decakan kecil bahkan terdengar keras memenuhi ruangan kamar itu. Wisang benar-benar akan memakan Istrinya malam itu.


Lidah yang saling membelit itu kian meminta tuntutan. Wisang melucuti pakaian Sekar dengan posisi bibir yang masih saling menempel. Kini dua benda milik Sekar yang membuatnya gelisah sedari waktu yang lalu, bisa ia lihat.


Masih gencar menyerang bibir Sekar tanpa perlawanan. Sekar turut terbuai akan hasrat panas yang memuncak, lalu menjadi buncahan rasa sayang yang tiada terkira.


Wisang meraup tubuh Sekar dan membenarkan posisi istrinya yang akan menguntungkan dirinya saat bercinta nanti. Kuncup dada Sekar kini ia sambar. Membuat lenguhan lolos dari bibir istrinya. Sekar merasakan tubuhnya mendadak panas. Sensasi luar biasa dari aktivitas yang di lakukan oleh Wisang itu membuatnya menggelinjang.


Wisang jago bercinta sejak dulu. Itu sudah tak bisa di ragukan lagi. Namun nampaknya, Sekar menjadi satu-satunya perawan yang akan ia sikat. Sangat tidak adil, tapi itulah kenyataannya. Wisang benar-benar menggilai tubuh istrinya itu.


Kecupan lembut dan bergairah itu masih berlanjut, menyulut serta menuntut rasa yang lebih. Puncak dada Sekar kini mengeras. Sekar tak bisa melarikan diri lagi dari suaminya itu.


Wisang melepaskan pakaian bawahnya. Kini mereka sudah sama-sama tak tertutupi oleh apapun. Wisang kembali merayap keatas tubuh istrinya usai mencampakkan dua benda yang tadi menutup bagian bawahnya.


" Aku ingin sekarang!" bisik Wisang dengan suara parau dan berhasrat. Membuat Sekar menelan ludah. Wanita itu secara alami juga menginginkan hal yang sama.


Ia menggiring tangan mungil Sekar menuju aset kebanggaan miliknya yang sudah berubah kondisi. Ia ingin menunjukkan kebanggaannya kepada istrinya itu. Sekar yang saat ini bisa menyentuh benda yang pernah membuatnya ketakutan itu, kini malah harus dibuat berpikir sejenak dan gelisah. Apakah benda sebesar itu bisa muat dan masuk kedalam miliknya yang sempit dan kecil?


Wisang membuka kaki sebelah kiri istrinya. " Bolehkah aku melakukan sekarang?" bisik Wisang kembali dengan suara parau. Penuh gelora dan bergairah.


Sekar menatap sendu wajah suaminya. Meraba rahang kokoh yang terpahat di wajah suaminya itu. Ini saatnya pikirnya. Sekar mengangguk dengan tatapan sendu dan penuh gelora.


" Aku akan pelan, aku janji!" Wisang tahu ia akan membuka segel kepemilikan. Ia takut akan menyakiti istrinya, tapi gairah yang kian mendesak tak bisa lagi ia halau.


Wisang kembali memposisikan kaki Sekar dengan mengangkatnya sebelah dan meletakkannya ke pinggangnya. Dada panas Sekar kini beradu dengan dada bidangnya yang juga sama polosnya. Membuat sengatan listrik itu kian memercikkan sulutan gelora yang begitu bergairah.


Sekar meraup punggung suaminya saat sesuatu yang besar terlihat memasuki dirinya. Mencoba menembus celah sempit yang kian terasa lembab.


Wisang menekan dan mendorong bagian itu, menghentaknya pelan. Ia kembali mencium dan meraup bibir istrinya guna mengurangi rasa sakit yang mungkin timbul akibat perbuatannya.


Seketika Sekar merasa sakit, perih dan nyeri bersarang di bagian bawahnya. Wanita itu reflek mengangkat tubuhnya sembari mencengkram kuat punggung kekar suaminya. Membuat punggung lebar dan liat milik Wisang, tertancap kuku milik Sekar. Sakit yang biasa hebat kini menyerang pangkal pahanya.


Gerakan pelan dari benda besar yang memasuki dirinya itu membuat Sekar kesulitan mengambil napas. Wisang menghentak kembali untuk kedua kalinya, dan pria itu kini berhasil menembus celah yang begitu sempit milik istrinya. Membuat Sekar menghela napas untuk sesaat.


" Terimakasih sayang sudah menjaganya untukku !" bisik Wisang saat ia menjeda aksinya. Memberi kesempatan Sekar untuk merasakan bagian dari penyatuan mereka.


Air mata Sekar lolos. Ia merasa dirinya seperti di cabik- cabik. Perih, nyeri, panas dan begitu sakit. Mengapa rasanya begitu menyakitkan padahal miliknya di bawah sana sudah begitu lembab.

__ADS_1


Wisang dengan gerakan pelan menghentak kembali tubuhnya. Mereka bersatu saat ini. Mereka benar-benar menyatu. Sesuatu yang ditahan Wisang dalam waktu yang lama kini terpenuhi sudah.


Gerakan masuk dan keluar yang awalnya sakit itu, kini berangsur menjadi sebuah rasa berbeda yang sangat menggila. Di sela hentakan yang di berikan Wisang kepada istrinya itu, ia kembali menuju puncak dada istrinya yang terlihat menggiurkan . Benda kesayangannya yang luar biasa memabukkan.


Sekar kini bisa merasakan arus memabukkan yang biasanya hanya bisa ia baca dan ia lihat dalam gambar maupun video. Rasa yang tak bisa terdefinisikan dengan gamblang, rasa yang membuatnya begitu di cintai. Apalagi perlakuan Wisang begitu lembut dan memujanya. Sekar benar- benar mendapat nafkah batin yang sempurna. Ia merasa begitu di sayangi oleh Wisang.


Tubuh Sekar kini sudah bisa menerima tempo cepat dari hujaman Wisang yang kian memanas itu. Selaras dengan suhu udara yang tergempur adegan penuh cinta mereka. Peluh nampak kentara di dahi mereka.


Wisang terus mengayun tubuhnya, membuat Sekar memejamkan matanya. Menikmati sensasi tak terdefinisikan yang baru pertama kali ia cicipi. Sekar merasa sesuatu akan meledak di bawah sana.


" Mas, aku mau...!" Sekar merasa sesuatu akan keluar dari bagian bawahnya. Membawanya menuju arus membukakan yang belum pernah ia Selami.


" Keluarkan saja sayang!" Bisik Wisang. Ia tahu istrinya itu akan sampai lebih dulu.


Sekar menyusuri otot lengan Wisang yang kekar saat bertumpu ketika menghujamnya. Ia tak mengira stamina Wisang begitu sesuai dengan postur tubuh yang dimiliki oleh suaminya itu.


" M-mas!!!" Wisang menjeda kegiatannya, membiarkan istrinya mencengkeram punggungnya saat wanitanya itu menggapai pun*cak kenik*matan dunia yang ia berikan. Tubuh Sekar bergetar, lututnya mendadak lemas. Ia mend*esah dan meng*erang dalam waktu bersamaan. Tubuhnya menegang saat itu juga.


Sekar terpuaskan meski dengan rasa bagian bawah yang semakin nyeri dan panas. Wisang tersenyum puas. Ia berhasil membuat istrinya menggapai enjoyment itu terlebih dahulu.


Sejurus kemudian, pria itu kembali mengayun. Dan dalam durasi yang masih lama ia terus menghujam tubuh istrinya itu. Tubuh yang jelas akan menjadi candu bagi dirinya.


Wisang mempercepat tempo hentakannya. Membuat tubuh Sekar turut bergerak. Otot lengan Wisang kian mengetat tatkala pria itu makin mempercepat irama permainannya. Sekar bahkan merasa dirinya tak bertulang saat itu. Ia kembali melayang menggapai langit, menembus batas keindahan duniawi yang belum pernah ia rasakan.


Tubuh Wisang menegang.


" Ahh!!!!" ucap pria itu sembari meletakkan wajahnya ke ceruk leher istrinya yang telah bersimbah keringat. Merasakan diri yang kini terbang melayang ke nirwana sumber rasa yang tiada tara.


" Aku mencintaimu sayang!" ucap Wisang di sela-sela capaiannya.


Wisang memeluk erat tubuh istrinya, begitu juga sebaliknya.


Sekar merasakan sesuatu telah meledak dibawah sana. Hangat dan begitu banyak. Wisang menciumi wajah istrinya yang terlihat begitu lelah.


Benar saja, Sekar yang baru pertama kali merasakan hal itu, harus di paksa mengimbangi stamina seorang Wisanggeni yang begitu prima.


" Makasih sayang. Istirahat dulu. Aku mau double!" ucap seorang mengecup bibir Istrinya sekilas. Membuat mata Sekar mendelik saat itu juga. Apa suaminya itu tak memiliki rasa lelah?


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2