The Love Story' Of Single Parents

The Love Story' Of Single Parents
Bab 68. Aku Sayang Padamu


__ADS_3

Bab 68.Aku Sayang Padamu


.


.


.


...šŸšŸšŸ...


"Ku kira, ku takkan mampu tuk sadari. Ketulusan cinta yang sempurna, dibalik semua kekurangan ini. Namun denganmu, ku tahu cinta kan mengobati, segala hampa hatiku ini. Kini ku percaya, kini ku percaya!


( Diambil dari lirik lagu D' Cinamons~ Ku yakin cinta)


.


.


Pak Joko mendengar suara ramai di ruang tamunya, ia yang baru selesai melaksanakan shalat isya kemudian menuju ruang tamu. Ia langsung berang begitu melihat Indra berdiri dirumahnya.


"Mau apa kamu kemari anak kurang ajar?"


Pak Joko langsung naik pitam, begitu melihat wajah Indra. " Masih berani kamu datang kemari!" pak Joko menunjuk muka Indra dengan penuh kemarahan, kini Indra merasakan sendiri buah kebodohannya di masa lalu.


Dibenci oleh Ayahnya.


"Ayah?" Indra bersimpuh memeluk kaki ayahnya yang tengah marah besar itu, setulus hati Indra ingin memperbaiki dirinya, dan hal pertama yang harus dilakukan adalah, meminta maaf kepada kedua orangtuanya.


Raka juga terlihat takut melihat Kakungnya emosi." Indra datang buat minta maaf yah" pak Joko menggoyangkan kakinya seolah tak mau di sentuh oleh Indra. , ia tahu anak sulungnya itu tengah menangis.


"Yah, sudah yah maafin Indra. Lihat Raka!" Bu Novi menangis melihat suami dan anaknya dalam keadaan seperti itu, " Indra sudah mendapat karmanya Yah!" Bu Novi berusaha meluluhkan hati suaminya.


"Saya malu punya anak kayak kamu!"


"Masih berani kamu kemari, hah?" Pak Joko berbicara dengan menggebu-gebu, biji matanya membulat sempurna. Definisi dari ngamuk yang sesungguhnya.


Kesalahan Indra memang sangat fatal.


"Kung ,maafin papa!" akhirnya Raka angkat bicara, entah karena dorongan apa bocah itu kini membela papanya.


"Maafin papa Raka kung!" wajah Raka sendu


, cenderung muram. Ia berbicara kedua kalinya seraya memelas kepada Kakungnya.


Indra masih terisak di bawah kaki Ayahnya, suasana mendadak hening. Pak Joko kemudian meraih tubuh Raka kedalam dekapannya. Pria tua itu menangis, ia bahkan masih bisa mengingat dengan jelas saat anaknya tanpa sehelai benangpun berada satu kamar dengan wanita lain.


Ingatannya juga kembali saat menantunya menangis, detik itu juga Pak Joko seolah menjadi orang tua yang gagal.


Ia merasa malu dengan Dhira, maka dari itu ia memberikan keputusan kepada Dhira. Ia memberikan wadah lebar bila Dhira ingin berpisah dengan anaknya yang bajingan itu.


"Ya Allah, apa dosa saya di masa silam!" Pak Joko terlihat mengusap pundak Raka.


"Hingga anak cucu saya harus jadi seperti ini!" ucapan pak Joko makin membuat semua yang disana terisak.


Pak Joko dan Bu Novi tak pernah tahu wajah ibunya Dhira. Selain karena menikah tanpa mengantongi restu dari Bu Kartika, Dhira saat itu benar-benar terputus komunikasi dengan ibunya. Ya, ibu mana yang tak sakit hati melihat anaknya lebih memilih pria lain dari pada orag yang melahirkannya ke dunia ini.


.


.

__ADS_1


Tiga puluh menit kemudian, keadaan sudah lebih kondusif. Mereka bertiga terlihat berbincang di ruang tengah. Sementara Raka dan Dea asyik berbicara. Raka senang dengan anak kecil, sementara Dea yang super cerewet itu selalu saja ingin pamer mainannya kepada orang- orang baru yang ia temui.


"Mas, kok aku gak tau kalau punya mas yang ganteng banget kayak Boboiboy" ucap Dea masih terkagum- kagum dengan Raka yang menurutnya ganteng.


" Ini kan sekarang udah tahu!" Raka tersenyum.


"Iya, tapi kok tiap Pakde telpon Dea, mas gak ada!"


"Mas lagi sekolah!" Raka terus saja meladeni celotehan Dea.


Sementara tiga orang dewasa terlihat ngobrol serius," Ayah gak nyangka Raka udah bersikap biasa sama kamu, padahal kelakuan kamu pasti bikin dia malu di sekolah!" Pak Joko menatap tajam Indra.


"Maafin Indra Yah , Bun" Indra menatap kedua orangtuanya bergantian.


"Indra sudah dapat bayaran setimpal!" Indra tersenyum getir mengingat karma dalam waktu dekat yang ia dapatkan.


"Semua orang pernah salah le, kamu sekarang harus bisa berubah. Ingat umur, ingat anak!" kali ini Bu Novi ingin berbicara dari hati ke hati.


Sejenak suasana senyap, Indra menggigit bibirnya sendiri. Ia merasa telah rugi bandar. Hal baik yang sudah ia terima , harus tergantikan dengan petaka karena ulahnya sendiri.


"Mamanya Raka apa kabar?" Pak Joko menanyakan Dhira.


"Dia baik Yah, oh iya..dia nitip ini ke Ayah sama sama Bunda" Indra sampai melupakan dua kotak titipan Dhira, untung makanan itu adalah jenis makanan yang tahan lama. Ucapan pak Joko barusan membuat ia teringat dengan oleh-oleh dari mantan istrinya itu.


Indra mengambil dua kotak kue itu, yang berada di dekat sofa ruang tamu itu. Sibuk berharu ria sampai melupakan benda penting titipan Dhira.


"Lihat ndra, bahkan saat dia sudah bukan menjadi menantu ayah, di masih ingat makanan kesukaan ayah!" Pak Joko menghela nafasnya. Ia sungguh sangat kehilangan menantu idaman.


Seberkas penyesalan menelusup ke hati Indra. apalagi, Dhira saat ini jauh lebih cantik ketimbang masih menjadi istrinya dulu. Entah mengapa, sesuatu yang sudah tak menjadi milik kita malah selalu kelihatan lebih bersinar.


"Sini, bir Bunda buka!" Bu Novi membawa dua kotak kue itu kebelakang.


"Dia lagi pergi kondangan sama temennya, kalau si Adi belum pulang tugas!" ucap pak Joko, Indra telah kehilangan banyak waktu rupanya. Melihat keponakannya yang sudah besar itu, ia menyadari bahwa ia terlalu banyak membuang waktu untuk melakukan dosa.


Ia yang melihat seorang Tiwi, istri dari seorang prajurit yang setia menanti kepulangan suaminya itu merasa malu akan dirinya. Ia juga ingat Dhira yang tak pernah mengeluh, Dhira yang jarang ia senang kan hidupnya. Ia tersenyum getir, untung saja Tuhan sudah menghukumnya. Jika tidak, entah seberapa banyak waktu yang harus hilang lagi karena ulah bodohnya .


...šŸšŸšŸ...


"Dhir ayo kita makan dulu!" Abimanyu antusias menata makanan yang ia pesan, jam telah menunjukkan pukul 20.07 ia merasa Dhira adalah miliknya malam ini.


Dhira tersenyum melihat Abimanyu yang terlihat tak ramah kepada Devan, tapi kini menjelma menjadi orang renyah.


Pria itu bagai nyala kembang api, selalu tampil energik di hadapan Dhira. " Mas, antar aku pulang ya setelah ini. Ponselku tertinggal di ruko. Raka pasti udah sampai dirumah Kakungnya"


Abimanyu menatap Dhira lembut, seolah tak rela membiarkan wanita itu pergi" Kapan Raka akan pulang?" ucap Abimanyu seraya menyuapkan makanan ke mulutnya. Ia sangat lapar , energinya habis karena digunakan menghujam tubuh Dhira.


"Besok sore, lagipula besok Shinta pasti datang pagi-pagi sekali"


"Baiklah makanlah dulu, setelah ini kita pulang!"


Tengah malam mereka benar-benar menuju ruko, Abimanyu tak ingin memaksa Dhira. Yang penting apa yang ingin di ucapkan oleh Abimanyu, sudah tersampaikan dan ia puas mendengar jawaban Dhira.


"Dhir!" ucap Abimanyu sesaat setelah ia menarik tuas handbreak mobilnya.


"Ya!" Dhira menoleh ke arah Abimanyu.


Dengan gerakan cepat Abimanyu menarik Dhira , ia melu*mat bibir Dhira yang seolah tak pernah puas untuk ia sesap. Sesaat Dhira menerima ciuman itu. Abimanyu selalu berhasil membuat dia merasa di sayangi setiap waktu.


"Udah mas, ini diluar!" ucap Dhira lirih.

__ADS_1


"Maaf, aku kok kayak gak mau pisah sama kamu ya Dhir?" Abimanyu mengusap lembut pipi Dhira.


Mereka keluar dari mobil, kemudian menuju Ruko. Saat masuk lagi-lagi Abimanyu melihat tumpukan perabot yang belum tercuci. Ia menjadi kasihan dengan Dhira, ia pasti berfikir selama ini Dhira pasti sudah kelelahan karena mengurus semuanya sendiri.


Berjanji dalam hati akan membuat hidup wanita itu lebih baik dengan caranya.


Ia mengantar Dhira masuk kedalam,hingga semua lampu ruko menyala, ada rasa tak tega membiarkan wanita itu harus seorang diri di ruko. " Aku temani kamu ya, aku kok jadi gak tega Dhir!"


Dhira melotot, " Gak usah, yang ada aku malah gak tidur kalau mau nginep sini?" ucap Dhira seraya menyalakan saklar lampu depan rukonya, yang gelap gulita karena ditinggal pemiliknya. Ditinggal karena terculik lebih tepatnya.


Abimanyu terkekeh geli, rupanya wanita pujaannya itu kini sudah pandai menebak isi hatinya dan otaknya. "Mas bisa pulang sekarang!" ucap Dhira karena ia merasa semua lampu sudah nyala.


"Kamu ngusir aku nih?" Abimanyu mendekat ke arah Dhira.


"Udah malam banget mas, mas besok pulang ya temui Oma. Kasihan!"


"Dhir!" Abimanyu menangkup wajah Dhira, ia langsung menyambar bibir itu kembali. Rasanya Abimanyu sungguh tak rela jika harus pulang dengan tangan kosong.


Ia meremas bokong Dhira yang selalu nampak utuh dalam balutan dress hijau, yang fit dibadan sintal wanita itu. Ia mengusap rambut Dhira lembut. Ciuman yang berangsur lama dan panas.


"Udah mas!" Dhira berucap dengan wajah lelah, tapi sangat menikmati.


"Besok aku carikan orang buat bantu kamu, aku gak mau kamu terlalu capek!" bisik Abimanyu setelah kegiatan berciuman mereka.


Meski teripang Abimanyu di bawah sana sudah bergejolak sedari tadi, tapi ia tak ingin memaksa Dhira. Lelaki sejati adalah yang melakukan dengan rasa suka sama suka.


"Gak perlu mas, aku bisa sendiri. Biasanya aku kerjain dini hari!" Dhira berfikir apa Abimanyu risih melihat banyak sekali perabot yang teronggok, karena belum sempat di bereskan. Memang harusnya Dhira punya karyawan lagi.


"Enggak, aku gak mau kamu capek. Aku yang bakal gaji dia. Ini perintah, gak ada penolakan!" Dhira akhirnya kalah, ia melihat mata seorang lelaki yang begitu ingin melindungi dirinya, mata lelaki yang ingin memberikan yang tebaik untuknya, sangat berbeda dengan Indra yang membuat dirinya harus cukup hanya dengan gaji yang selalu di bagi bersama gundiknya.


"Dhir!"


"Hem?"


"Aku sayang banget sama kamu!"


Suasana kembali senyap, tengah malam itu dua anak manusia saling pandang. Abimanyu kini sudah menemukan alasan dirinya untuk hidup dengan normal kembali. Ia ingin segera menjadikan Dhira sebagai nyonya Aryasatya.


Abimanyu kembali meraup bibir Dhira sekilas, kemudian ia memeluk tubuh itu. Mencium rambut Dhira penuh kasih," Besok aku minta Devan buat carikan karyawan baru!"bisik Abimanyu di sela kegiatan berpelukan mereka.


"Mas!" Dhira melepas pelukannya.


"Aku akan cari sendiri saja, jangan terlalu merepotkan Devan!" ia merasa kasihan dengan Devan, padahal untuk itulah Devan di gaji . Menuruti segala permintaan Abimanyu.


"Baiklah, tapi biar aku yang membayar orang itu. Ini juga tak ada penolakan!"


Dhira akhir mengangguk, jujur ia sudah mengantuk sekali malam itu.


"Aku pulang!" Abimanyu mengecup bibir lalu kening Dhira. Seolah rak rela bila harus berpisah.


"Kunci pintunya dari dalam, langsung masuk!" titah Abimanyu. Ia memandang punggung pria yang lekas menghilang dari pandangannya itu.


Ia tak tahu akan seperti apa hari esok, hanya berharap Tuhan masih mau membuka jalan baginya. Malang atau mujur, ia tak tahu. Tapi yang jelas, ia bahagia dengan semua perlakuan Abimanyu yang hangat itu.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2